
Setelah Laura pergi, Adam pun kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan sarapan yang tadi ia hentikan sebentar, di ruang makan masih ada James yang menikmati makanan yang dibawa Laura tadi.
"Papa...Laura benaran udah pergi?" tanya James.
"Hmmm... makanya lain kali kalau adikmu ke sini itu kamu jangan mancing dia untuk marah terus. Kasihan adekmu, pergi dengan perasaan kesal, itu nggak baik." Adam menarik kursi lalu ia mendudukan pantatnya diatas kursi. Dia pun melanjutkan makannya yang masih ada di piringnya.
"Ya, maaf. James pikir dia tidak marah karena biasanya dia senang di bercandain." James meraih cangkir lalu menegak air mineral hingga tandas, cangkir itu masih James pegang sambil melihat gambar yang dilukis di cangkir itu, " Tumben sensitif mungkin lagi datang bulan," gumam James.
"James?!" seru Adam. Ia menatap tajam James.
"Ya...ya..ya...James bingung diantara aku dan Laura siapa sih yang jadi anak kandung papa?" protes James.
Karena semenjak Laura masuk dalam kehidupan Adam, Pria paruh baya itu sangat menyayangi Laura hingga kadang James pun cemburu melihat kasih sayang yang diberikan Adam untuk Laura yang menurut James sangat berlebihan.
♥️♥️♥️♥️
Hari pun berganti hari Laura semakin sibuk karena selain menyelesaikan ujian skripsinya Laura harus bekerja.paruh waktu di perusahaan.
__ADS_1
Namun, itu tidak pernah merubah jadwal berkunjung Laura. Gadis berambut pirang itu masih mengunjungi Jackson dan Adam dua kali dalam seminggu, seperti biasa Laura terus mengunjungi Adam dan Jackson bergantian. Laura melakukan itu karena dia ingin membalas semua kebaikan Adam yabg telah menyayangi dia sebagai anak sambung dengan tulus. Laura juga bahagia karena akhirnya sudah mengakhiri hubungan dengan Leon sebagai pasangan kekasih.
Wanita cantik itu tetap fokus bekerja hingga ia pun bisa menabung. Tanpa terasa Laura sudah menyelesaikan kuliahnya. Laura menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang sangat bagus.
"Mommy...doain Laura ya semoga apa yang direncanakan Laura berjalan dengan lancar." Sebelum pergi Laura meminta doa dari Maria.Karena, hari ini Laura mulai bekerja dikantor nya sendiri yang dibangun satu bulan lalu bersama Jackson sang ayah. Hari ini baru mulai beroperasi Laura sangat bahagia karena wanita itu sangat menyukai bidang properti seperti Jackson sang ayah.
"Pasti dong sayang, doa mommy selalu yang terbaik untukmu. Semoga sukses ya sayang," ucap Maria. Dia menyentuh kedua pipi Laura, bibirnya mengukir senyum bahagia wanita yang usianya sudah setengah abad itu mencium kening Laura, " Sukses ya nak."
"Thanks mommy," sahut Laura dia pun mencium pipi Maria bergantian.
Selesai berpamitan Laura bergegas masuk ke mobilnya karena ini hari pertama dia bekerja sebagai direktur Laura harus menjadi contoh yang baik untuk karyawannya.
"Pagi, ibu." sapa sekuriti itu.
"Pagi, juga. Gimana semua sudah datang?" tanya Laura sedikit gugup. Dia menatap gedung itu lalu menghela napas gadis itu mulai melangkahkan kakinya masuk lobby menuju lift khusus pimpinan perusahaan.
Laura masuk ke dalam lift dia menyenderkan tubuh langsingnya di kaca lift matanya memandang seisi kantornya melalui kaca lift.
__ADS_1
"Hmmm...semoga aku bisa memimpin perusahaan ini dengan baik karena selain perusahaan ini milik aku. Banyak yang bergantung hidup di perusahaan ini." gumam Laura seraya menatap salah satu cleaning servis yang sedang membersihkan kaca dinding perusahaan.
Ting...
Lift pun berhenti Laura bergegas keluar dari lift ia berjalan menuju ruangannya yang terdapat di lantai delapan itu. Di sana sudah ada seorang sekretaris cantik yang sedang duduk menunggu Laura.
"Pagi ibu," sapa Sekretaris pribadi Laura.
"Pagi, sory aku telat sepertinya." Laura membuka pintu ruangannya.
"Belum ibu," sahut sekretaris itu sopan.
Laura membuka pintu ruangannya dia melangkah masuk di ikuti sekretaris dari belakang.
"Hari ini Nona ada pertemuan dengan Klien dan pemilik hotel King, di restoran xx." ucap Sekretaris itu.
Laura menghela napas, karena dia tau siapa pemilik hotel King.
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih," ucap Laura
"Saya permisi," pamit sekretarisnya yang bernama Clara.