Ku Akhiri Hidup Ayah Tiriku

Ku Akhiri Hidup Ayah Tiriku
Bab 24


__ADS_3

Plak...


Laura berlari masuk ke kamarnya ia pun menutup pintu dengan sangat kasar.


Gadis itu berlari menuju ranjang sesampainya di ranjang ia menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Laura kesal juga kecewa mengapa Maria pun mengikuti permainan Adam? Hingga ia ditegur pihak keamanan? Sementara tadi Laura menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya, Maria terkapar di lantai mulut dan hidungnya pun mengeluarkan darah segar.


"Mommy..." teriak Laura kesal. Laura berbaring tengkurap, kedua kakinya ia banting-banting diatas ranjang serta tangannya juga memukul-mukul bantalnya, Laura melakukan itu melampiaskan emosinya.


"Kakak, harus mengetahui perbuatan Papa ini," gumam Laura.


Merasa tidak puas Laura bangun lagi dia meraih ponselnya yang terletak diatas nakas dekat ranjangnya. Laura menggeser layar ponselnya setelah menemukan nomor James, Laura mendial lalu saat panggilan tersambung cepat-cepat ia mengakhiri lagi.


James hanya menghela napas karena ia setelah ia menjawab panggilan dari Laura justru panggilan itu berakhir, dia pikir sang adik kangen dengan dirinya.


"Nanti aja deh aku telpon lagi." James yang sangat sibuk mengembalikan Ponselnya ke dalam kantong celananya.


''Argh...bodoh sekali ngapain aku menghubungi dia? Dia itu anak dari si bren*gsek sia*lan itu! Tentu dia pasti lebih percaya papanya daripada aku." Laura menaikkan satu sudut bibirnya. Karena, tidak mengontrol emosi dia hampir saja mengatakan kejadian itu kepada James. Ya putra dari Adam itu saat ini sementara berada luar kota mengikuti kegiatan kampus.


"Baiklah, aku akan mengikuti dramamu." gumam Laura. Seraya melemparkan ponselnya sembarangan diatas ranjangnya.


Laura bangun ia berjalan ke arah sofa lalu mendudukkan tubuhnya di kursi empuk itu. Laura menyalakan televisi dengan volume sangat kencang kemudian ia meraih microfon yang disimpan diatas meja depan Laura duduk, gadis itu mulai bernyanyi sembari berjoget di kamarnya hingga sore.

__ADS_1


****


Maria dan Adam sudah duduk di meja makan keduanya belum makan masih menunggu Laura untuk makan malam bersama. Namun, yang di tunggu sedang terlelap di dalam kamar efek kelelahan konser mini di kamar miliknya. Ibu dua anak itu mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan namun tidak menemukan sosok gadis cantik itu.


"Pelayan Laura belum keluar dari kamarnya?" tanya Maria.


"Belum. Nona Laura dari pagi sampai sekarang belum keluar dari kamarnya," jawab pelayan itu.


"Terima kasih.Nanti tolong bawakan makanan ke kamarnya saja," suruh Maria.


"Baik, Nyonya." sahut pelayan itu.


Adam yang melihat kesedihan diwajah Maria, dia menggeser kursinya Adam baru saja melangkah ke anak tangga dengan cepat Maria mencegahnya.


"Biar saja dia butuh waktu sendiri. Ayo kita makan, nanti selesai makan aku yang ke kamarnya. Ada yang harus aku bicarakan berdua dengan Laura," sela Maria.


"Baiklah jika kau berpikir begitu," sahut Adam. Ia kembali duduk di kursinya.


Adam dan Maria mulai makan bersama tanpa ada suara obrolan kecuali dentingan sendok dan garpu, alat makan yang mereka gunakan.


Maria yang masih kecewa terhadap Adam lebih banyak diam. Dia akan bicara kecuali Adam mengajaknya berbicara atau menanyakan sesuatu hal.

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️


Setelah makan malam Maria memanggil suster untuk menjaga Berlian sebentar. Suster membawa Berlian ke ruang tamu karena dia tidak nyaman menjaga Berlian di kamar milik Maria dan Adam.


Maria berjalan ke lantai dua. Sesampainya di kamar Laura, Maria mengetuk pintu kamar Laura.


Tok...tok...tok...


"Sayang...buka pintunya mommy mau bicara denganmu, Nak." seru Maria dari depan pintu Laura.


Namun, tidak ada sahutan dari dalam kamar. Maria kembali mengetuk sedikit lebih keras lagi, " Sayang buka pintunya ada yang harus mommy bicarakan dengan kamu, Nak." seru Maria lagi.


"Tidak Mommy. Laura mohon jangan ganggu Laura dulu."Laura yang mendengar suara ibunya ia bangun dari ranjang lalu berjalan menuju pintu tangannya hendak menarik hendle pintu namun ia urungkan lagi niatnya karena tidak mau melihat wajah Adam atau pun Maria. Laura masih sangat kecewa.


Laura menjatuhkan tubuhnya dilantai dia memeluk erat kedua lututnya lalu wajahnya ia sembunyikan di dalam lututnya seraya menangis.


"Mommy tahu kamu sedang menangis. Ayolah nak jangan seperti anak kecil, kamu sudah dewasa sudah kuliah berarti kamu sudah mengerti kan tentang kejadian tadi pagi?" Maria belum menyerah dia masih berusaha membujuk Laura.


"Karena Laura mengerti maka Laura berani bertindak." sahut Laura.


"Baiklah. Mommy tau kamu kecewa dengan papa.Mommy mohon buka pintunya dulu Mommy tidak sendirian tetapi ada Berlian." Maria tau senjata untuk meluluhkan hati Laura yaitu Berlian.

__ADS_1


__ADS_2