
Laura tersenyum dia menoleh ke belakang bibirnya tersenyum saat matanya bertemu dengan mata Adam, " Kuliah dong Pa, Laura kesini ada kabar baik buat papa kalau Laura sekarang sudah diterima kerja paruh waktu di perusahaan design interior." ucap Laura berbinar-binar.
"Papa, kakak James Uda pergi kuliah?Tumben nggak kelihatan," tanya Laura seraya meletakkan makanan di piring yang dibawakan pelayan tadi. Ia mengedarkan pandang ke sekitar ruang makan namun sama sekali tidak menemukan James.
"Wow selamat sayang." Adam menarik kursi dia duduk di samping Laura seraya tersenyum, matanya menatap Laura penuh damba tapi gadis itu sama sekali tidak menanggapi reaksi Adam.Karena, bagi Laura, cintanya kepada Adam hanya sebatas ayah tiri dan anak tidak lebih dari perasaan itu.
"Papa..belum jawab pertanyaan Laura, kemana kakak James?" lanjut Laura lagi saat Adam hendak menyentuh tangannya. Laura menyingkirkan tangannya perlahan menjauh dari Adam.
"Aaa...papa sampai lupa..."
"Kenapa? kangen aku?"Potong James sebelum Adam menyelesaikan ucapannya. James berjalan keluar dari kamar dia yang sudah bangun dan sedang bermain games di kamarnya mendengar suara percakapan Laura dan Adam akhirnya memutuskan keluar dari kamarnya ikut bergabung di ruang makan.
"Nah...yang dicari keluar juga dari pertapaannya." Adam membalikkan tubuhnya dia menatap James lalu melihat ke arah Laura sembari tertawa.
__ADS_1
"Kangen? Nggak lah aku hanya merindukan papa bukan kakak," sergah Laura. Ia melipat kedua tangannya di dada seraya mendelik.
"Ya...ya...nggak kangen tapi nyariin beda-beda tipis ya." James terkekeh, dia melihat semua makanan yang tersusun rapi di meja makan. Rindu akan masakan dulu mereka bersama. James pun segera mengambil piring di kabinet lalu datang kembali duduk di meja makan. Tanpa permisi James pun segera mengambil makanan lalu meletakkan diatas piringnya.Pemuda itu mengabaikan tatapan kesal Laura.Sementar Adam tersenyum melihat kedua anaknya itu mulai bertengkar lagi. Suasana di mana dulu mereka masih berkumpul Laura dan James sama sekali tidak pernah akur tapi bukan berarti tidak saling menyayangi. Bagi Laura dan James perdebatan itu membuat hubungan keduanya semakin akrab.
"Kepedean sekali," gumam Laura.
"Makan." tawar James. Ia memilih mengabaikan gumaman Laura, dia menyendok makanan lalu menyuapkan ke mulutnya, "Hmmm....enak bangat. Siapa yang masak? Bunda?" tanya James.
"Aku." sahut Laura.
"Udah tau masih aja nanya." cebik Laura.
"Pengen tau aja bisa jujur apa nggak?" James terus menikmati makanan yang dibawah Laura.
__ADS_1
"Terserah kakak aja. Papa segeralah makan sebelum makanannya di habiskan sama tirex." suruh Laura.
"Kamu nggak ikut makan?" tawar Adam seraya mengambil makanan dan meletakkan diatas piringnya.
"Laura Uda sarapan dirumah. Ya udah Laura ke kampus dulu nanti kapan-kapan Laura mampir lagi." pamit Laura seraya melayangkan kecupan di pipi Adam.
Sementara James yang berharap di cium Laura justru mendapat juluran lidah dari Laura, " Ogah aku cium kakak. Bye..." ucap Laura lalu ia pun pergi meninggalkan ruang makan berjalan ke pekarangan rumah tempat mobilnya parkir tadi.
Adam seger berlari menyusul Laura, yang hendak membuka pintu mobil.
"Sayang...maafin kakakmu.Dia bicara begitu karena sangat kangen dengan dirimu." ujar Adam.
"Iya pah, Laura tahu. Laura ngga marah Hanay saja Laurahampir telat. Laura berangkat dulu Pah." pamit Laura.
__ADS_1
"Baiklah. Hati-hati di jalan sayang." pesan Adam.
Laura pun segera masuk ke dalam mobil. Dia menginjakkan pedal gas mobil Laura mengendarai mobil keluar dari pekarangan rumah Adam menuju kampus. Karena, nanti setelah pulang dari kampus Laura akan mulai bekerja paruh waktu.