
''Berlian?'' Laura menghentikan tangisnya. Dia mengusap air mata dengan punggung tangannya lalu ia pun berdiri karena pagi tadi dia ke kamar tujuannya 'Berlian' Adiknya itu telah mencuri separuh hati dan cintanya, Laura bergegas menarik handle pintu matanya tertuju di gendongan Maria.
''Di mana Berlian?'' tanya Laura. Dia mencari keberadaan bayi itu namun ia tidak menemukan Berlian.
Maria tersenyum, ia langsung memeluk Laura lalu membawa putrinya itu kembali ke kamar Laura.
''Berlian di bawah bersama suster. Mommy kesini ingin bicara berdua dengan kamu. HANYA MOMMY DAN KAMU.'' Maria menarik lembut tangan Laura meminta gadis berusia delapan belas tahun itu tidak menolak ajakannya. Sesampainya didalam kamar Maria duduk di sofa lalu ia pun meminta Laura duduk di sampingnya.
''Kalau Laura tahu mommy nggak bawa Berlian ke sini Laura nggak akan buka pintu.'' Laura pun duduk disamping Maria. Namun, karena masih kecewa Laura membalikkan tubuhnya dia duduk memunggungi Maria.
''Maafin mommy, karena sudah membohongi kamu.'' Maria merapikan rambut pirang Laura, bibir wanita paruh baya itu terus mengukir senyum. Senyum yang membungkus luka hatinya.
__ADS_1
Laura tidak menjawab dia hanya diam dan mendengar semua yang dikatakan Maria.
''Maafin papamu sayang. Papa akhir-akhir ini berubah karena efek dari obat yang papa minum di tambah lagi papa yang alkaholic membuat dia semakin tidak mengontrol diri dan hasratnya. Papamu tadi melakukan itu karena dia cemburu pagi tadi memorgoki mommy sedang menelpon dengan daddymu." Maria diam sejenak dia mencoba memberi waktu Laura untuk berbicara.
"Cemburu? Bukannya dulu dia juga melakukan hal itu dengan mommy?" Laura mengusap air mata lagi jika berbicara tentang Jackson, Laura gampang sekali menangis karena hatinya masih terluka mengenang kenangan masa lalu mereka bertiga yang manis. Dan pada akhirnya harus menelan pil pahit yaitu perceraian orang tuanya.
Maria mengangguk kali ini tangannya mengusap-usap punggung Laura mencoba menenangkan anaknya itu, "Hmm...Mommy masih ingat semua itu untuk itu Mommy minta maaf telah meninggalkan luka di hatimu. Mommy menelpon daddymu hanya untuk mengabarkan kelahiran adikmu. Tapi begitulah seorang suami, siapapun suami itu mereka pasti akan cemburu ketika dia melihat istrinya berbicara dengan laki-laki di telpon apalagi yang mommy telpon mantan suami mommy.'' Maria tau semua yang dia katakan itu tidak semuanya jujur tapi Maria berjanji dia akan menjelaskan semua itu kepada Laura atau gadis itu akan mengetahui sendiri nantinya. karena tadi pagi dia menelepon bukan mengabarkan kabar kelahiran anaknya tapi mengenai kekwatiran dia kepada Laura.
''Mengapa harus cemburu? Bukannya daddy itu mantan suami mommy? Bukannya sekarang Mommy sudah menjadi milik papa?'' Laura perlahan membalikkan tubuhnya, dia mengangkat pelan kepalanya lalu bola mata coklatnya bertemu dengan bola mata biru Maria. Keduanya mengunci pandang sebentar sorot mata keduanya seperti menjelaskan apa yang sedang keduanya sembunyikan.
Maria yang menyadari kesalahannya hanya diam tangannya meraih tangan Laura, Maria menggenggamnya sembari mengusap lembut, ''Maafin mommy. Semua yang mommy lakukan karena mommy memiliki alasan tersendiri.'' Maria juga akhirnya berurai air mata, sebenarnya dia sangat terluka mendengar ucapan Laura tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena itu Maria pun sudah mengambil keputusan saat ia datang ke kamar Laura.
__ADS_1
"Baiklah, jika mommy kesini hanya untuk minta maaf Laura sudah maafin Mommy. Tapi, Laura belum terima dengan kejadian tadi pagi. Laura kecewa dengan papa. Walaupun Laura tidak bisa berbohong, Laura sangat senang memiliki seorang ayah seperti papa yang sangat cinta Laura tanpa membedakan anak sambung dan anak kandung kepada Laura selama ini." sahut Laura.
"Iya Mommy tahu." Maria memeluk Laura. Dia juga melihat sendiri cinta, perhatian Adam untuk Laura.
"Kamu harus tetap menjadi anak manisnya mommy, karena mommy bisa mati jika masa depanmu rusak hanya karena keegoisan Mommy. Kamu mengerti?" Maria mengecup ujung kepala Laura.
Wanita paruh baya itu lega akhirnya putrinya sudah memaafkan dirinya. Kekwatiran dia tadi hanyalah kecemasan hati seorang ibu.
Laura pun akhirnya membalas pelukan Maria. Keduanya tertawa bersama.
****
__ADS_1
"Bagus...bagus.." Tanpa Maria dan Laura sadari ada seseorang yang menyaksikan keduanya dari ruang kerjanya.
"Wanita bodoh kau tidak tau tujuan aku menikahimu, 'kan? Baiklah aku suka dengan kepolosanmu, Maria." Pria itu menekan pause dia mengusap-usap bayangan Laura di layar di layar komputernya. Tidak lupa tangannya menyentuh bagian arean inti Laura walaupun hanya lewat gambar saja pria itu sudah sangat senang.