
Usai berbicara berdua dneegn putrinya. Dan Laura pun sudah memaafkan Maria, Ibu dua anak itu pamit, "Ya udah mommy turun dulu kasihan nanti Berlian nangis." Maria mengusap punggung Laura seraya mencium ujung kepala putrinya.
Laura mengangguk, "Baiklah, Mommy." sahut Laura seraya membalas pelukan Maria.
Usai berpelukan Maria pun kembali ke kamarnya.Adam sudah kembali ke kamar lebih dulu karena tidak ingin dicurigai Maria, dia sedang berbaring di ranjang sembari menonton televisi sesekali dia tertawa sendiri karena adegan lucu.
"Nonton apa kelihatannya asyik banget," Maria menggendong Berlian berjalan menuju ranjang.
"Nonton komedi. Sudah selesai?" Adam bangun dari ranjang, ia menerima Berlian dari Maria.
"Sudah, hanya saja dia masih kecewa dengan papa," ujar Maria seraya duduk ditepi ranjang.
Adam memejamkan matanya, "Sudah aku duga anak itu pasti kecewa banget dengan perbuatan aku tadi pagi," Adam mencium Berlian, "Aku akan meminta maaf ke dia tapi tidak saat ini karena aku tahu dia masih kecewa dengan aku." Adam menatap Maria.
Maria tersenyum sinis, " Aku berharap kau bisa berkata jujur kepada Laura anak itu sangat benci kebohongan. Aku pun sudah mengambil keputusan sebaiknya kau berhenti minum obat terapi dulu. Karena, selama kau minum obat itu aku selalu menjadi sasaran amarahmu." Maria berdiri ia berjalan ke arah meja rias.Tangannya menyentuh lebam di pipinya.
"Tidak bisa, jika aku berhenti aku akan kesulitan tidur lagi," sahut Adam.
__ADS_1
"Lalu? Bagaimana dengan aku?" Maria membalikkan tubuhnya dia menatap Adam. Ada kecewa di dalam matanya.
"Aku akan berusaha mengontrol diriku," sambung Adam.
"Baiklah. Aku akan mengingat janjimu ini." Maria mengambil salep lalu mengoleskan di pipinya untuk menghilangkan bekas luka dan lebam.
"Tentu kau bisa memegang janjiku." Adam membaringkan Berlian di box bayinya.Lalu ia berjalan ke arah meja rias, tangannya melingkar di leher Maria.
"Aku tidak akan menyakiti mu lagi karena aku tidak ingin kehilangan kepercayaan Laura. Kau tau aku sangat menyayangi anakmu itu seperti putri kandungku sendiri." Adam menyentuh pipi Maria lalu turun ke leher, matanya menatap wajah Maria dari pantulan cermin didepannya.
Maria bergidik ngeri suaminya itu bukan mesra tapi seperti mengancam," Baiklah." Maria berkata seraya perlahan melepas pelukan Adam, "Aku mengantuk aku butuh istirahat," ucapnya lalu berjalan ke arah ranjang. Maria segera berbaring lalu menutupi dirinya dengan selimut tebal. Matanya belum terpejam ia masih was-was kwatir Adam melakukan hal buruk terhadap dirinya.
"Ya aku sedang berusaha tidur." sahut Maria.
"Baiklah, semoga mimpi indah." Adam tersenyum sinis.
Maria tidak menjawab lagi, wanita itu menitikkan air matanya. karena sekarang dia merasa tidak aman lagi hidup bersama Adam.
__ADS_1
***
Di kamar Laura sedang berbicara dengan James melalui sambungan telepon.
"Kenapa kau mengakhiri panggilan tanpa berbicara apapun? Aaa...aku tau kau pasti merindukan aku." James tertawa dari seberang sana.
Laura mendelik, " Kau terlalu percaya diri kakak. Aku salah sambung," bohong Laura.
"Gimana kabarnya Berlian? Aku sudah merindukan bayi cantik itu." James yang kecewa karena Laura mengatakan salah sambung dia pun mengalihkan pembicaraan.
"Dia sangat pintar selama kau tidak ada di rumah. Sepertinya Berlian tidak ingin melihat wajahmu lagi," ledek Laura.
James tertawa jujur dia sangat rindu dengan Laura. Adiknya itu selalu membuat dia tertawa.
"Sepertinya aku tidak perlu membawa oleh-oleh untukmu." ujar James. Lalu cepat'-cepat James mengakhiri panggilan. Dia tidak ingin mendengar ocehan sang adik lagi.
*****
__ADS_1
Hari berlalu begitu cepat Maria yang sudah tidak tahan atas kekerasan dlaam rumah tangga yang dilakukan Adam terhadap dirinya akhirnya mengajukan perceraian ke pengadilan.