Kuntilanak Merah

Kuntilanak Merah
Bab X


__ADS_3

Setelah asar, Salma memanggil Sofia ke lantai atas. Saat itu, Reyhan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ia sibuk membaca korannya, dengan dua telinganya yang ditutupi headset untuk bisa dengarkan radio dari ponselnya.


Sesampainya di depan kamarnya Sofia, Salma mengetuk pintu kamar itu. Ia ketuk sambil memanggil-manggil nama sang adik iparnya. Setelah dipanggil berulang kali tak ada jawaban, Salma jadi mengerutkan keningnya. Tak biasanya Sofia seperti ini.


Biasanya, walaupun Sofia selalu menutup kedua telinganya dengan headset juga (untuk dengarkan musik dari ponselnya), tapi telinganya selalu masih utuh mendengarkan panggilan orang lain dari luar kamarnya, walaupun panggilannya harus dari lantai atas juga.


Bingung, heran dan curiga mulai muncul, Salma pun membuka pintu kamar itu perlahan. Dan akhirnya, setelah ia buka total pintu itu, ia terkejut setengah mati. Hingga jeritan terdengar sampai keluar rumah.


Dilihatnya Sofia sudah tengkurap tak bernyawa di karpet lantai kamarnya. Darah sudah banyak keluar dan nyaris menggenangi tubuh Sofia. Tangan kanannya sudah lemas memegang pisau yang tajam.


Panik hebat, Salma segera memanggil Reyhan dan Bi Zizah. Dua orang yang ia panggil pun segera ke atas. Terlihatlah apa yang Salma maksud. Bi Zizah mulai ikut menangis sambil berusaha membangunkan Sofia. Keduanya berharap Sofia hanya terluka besar, dan bisa diselamatkan jika dibawa ke rumah sakit.


Tapi ternyata, dugaan yang tepat adalah dugaan yang pertama. Sofia dinyatakan telah tiada. Mendengar itu, Reyhan jadi kaget setengah mati. Ia tak menyangka, kejadian terkutuk yang ia lakukan bersama 3 sahabat kerja sejak kuliahnya itu bisa membuat adiknya seperti dalam cerita orang lain atau di film-film. Jadi memilih jalan haram, bunuh diri.


Reyhan membatu. Ia pun kaget ketika namanya dipanggil Salma dengan jeritan. Istrinya memerintahkan untuk memanggil para warga membantu agar jenazah Sofia segera diurus.


Reyhan menurut. Ia segera sigap memanggil para warga tetangga untuk membantunya mengurus jenazah Sofia. Tak lupa ia juga undang Pak RT, Pak RW dan ustadz di daerahnya.


...***...


Isak tangis terdengar. Semua diundang ke rumahnya Sofia. Selain tetangga, teman-temannya Sofia dari sekolah juga datang. Beberapa orang guru dan kepala sekolahnya Sofia juga turut hadir. Termasuk juga teman-temannya Reyhan. Mereka sudah diminta Reyhan untuk berlagak pura-pura tidak tahu.


Erna, Lilis, Femiy dan Rena tak bisa menahan lagi air mata mereka. Isak tangis terdengar diantara keduanya. Padahal keduanya baru bermain bersama lagi, setelah sibuk belajar semenjak duduk di bangku SMA kelas 3 ini. Apalagi sekarang menjelang kelulusan. Menjelang Ujian Nasional, tapi sahabat terbaik mereka malah pergi dengan kematian yang dikategorikan sebagai 'mati tak wajar' ini.


Lilis menangis histeris. Ia pun dipeluk oleh Rena, sambil dielus-elus terus. Menenangkan. Rena hanya terdiam, tak mau bicara. Ia hanya meneteskan air mata saja. Sedangkan Femiy menangis terisak-isak sambil mengelus badan sahabatnya yang sudah ditutupi kain batik berwarna coklat itu. Sementara Erna terdiam sama sekali. Ia berusaha kuat menerima kepergian sahabatnya itu ke 'alam sana'. Meskipun air matanya menetes tak henti-henti, ia tak peduli.

__ADS_1


Suara orang menangis dan membaca kitab suci Al-Qur'an surah Yaa-Siin yang terdengar saat ini. Salma dan Reyhan tak ikut membaca. Reyhan berusaha biasa saja menghadapi nasib naas adiknya, yang kini menyusul kedua orang tua keduanya. Ia mengelus istrinya yang menyandar ke pundak kanannya.


Reyhan mulai menyesali perbuatannya. Tapi, entah kenapa air matanya tidak juga mau menetes. Tidak seperti yang lain. Bahkan ia kalah dengan istrinya sendiri. Padahal, dirinya kakak kandung Sofia. Namun, yang menangis hebat malah kakak ipar adiknya.


Perjalanan ke makam pun dimulai dan berjalan lancar. Tak ada hambatan seperti hujan. Cuaca juga cerah biasa. Tidak terlalu terik. Matahari tidak terlalu ganas. Yang memakai payung saja masih bisa dihitung dengan jari.


Tak lama mereka sampai juga di TPU. Lubang untuk makamnya Sofia ditemukan juga, tak jauh dari gerbang masuk/keluar TPU. Makamnya berada di sebelah makam ibunya. Keranda mayat pun diturunkan dengan sopan dan pelan. Selimut penutup keranda di buka bersama penutupnya, serta serbet di penutup jenazah di buka dengan sangat pelan.


Jenazah Sofia yang dibungkus kain kafan itu di masukkan ke liang lahat dengan perlahan dan sopan, kemudian dibuka ikatan talinya. Kayu pun diturunkan untuk menutup jenazahnya, dan tanah kubur coklat tua itu di hamburkan ke liang lahat dengan sekop. Dilakukan berulang kali, sampai liang lahat itu benar-benar sudah tertutup.


Batu nisan ditancapkan di atas tanah yang menutup kepala dan kaki jenazah. Bunga pun ditaburkan, lalu dimulailah doa yang dipimpin oleh ustadz langsung, tak lama setelah sedikit ceramah dari beliau. Suara mengaminkan pun terdengar.


Pemakaman berakhir. Semuanya bubar meninggalkan tempat itu, termasuk 3 sahabatnya Sofia dan Reyhan. Kini yang tersisa hanya Reyhan, Salma dan Bi Zizah.


Salma menangis tersedu-sedu sambil mengelus batu nisan yang bertuliskan identitasnya Sofia. Mulai dari nama lengkap, marga, hingga tanggal lahir dan wafatnya. Reyhan melihatnya malah dengan perasaan campur aduk. Ya, sejujurnya ada perasaan yang bercampur aduk yang ada. Antara rasa sedih dan cukup senang. Sedih karena adiknya mati mengenaskan, senang karena tak ada lagi yang mengaturnya.


...***...


Begitu melihat meja riasnya setelah memakai baju, alangkah terkejutnya dia karena ada fotonya Sofia yang sedang tersenyum sendiri. Ia melihat foto adik kandungnya yang sedang tersenyum sambil menggayakan telapak tangan kanannya membentuk huruf V dan kepalanya miring sedikit ke kiri.


Itu foto sewaktu Sofia ikut Reyhan dan Salma ke Bali, karena ketika itu Sofia tengah liburan kenaikan ke kelas 3 SMA. Akan tetapi, bagi Reyhan ini adalah kejanggalan.


Karena foto itu harusnya ada di kamarnya Sofia.


"Kenapa foto ini ada disini? Bukannya, foto ini adanya di kamar Sofia?" tanya Reyhan heran.

__ADS_1


Butuh sekali jawaban, Reyhan memanggil Salma. Istrinya yang masih berpakaian muslimah dan berhijab itupun datang. Ketika datang, ia menanyakan tujuan Reyhan memanggilnya.


"Kamu...kamu yang nyimpen foto Sofia disini, ya?" Reyhan malah balik bertanya.


"Hah!? Masa ada foto Sofia dikamar kita? Kalau ada, pasti foto dia sama kita, 'kan?!" Salma ikut bingung.


"Nah, itu dia! Tapi, ini ada foto waktu dia sendirian, lho!".


"Coba mana fotonya!".


Reyhan mengambil foto itu dan menyerahkannya pada Salma. Salma mengambil dan melihatnya. Ia ingat juga. Foto itu memang harusnya ada di kamarnya Sofia sendiri.


"Kok bisa disini, ya?" Salma balik bertanya.


"Ikh, kenapa kamu malah nanya lagi! Aku udah tanya tadi, kamu yang nyimpen foto ini di kamar kita, bukan?" Reyhan mulai sedikit menggeram.


"Kalau aku nggak balik nanya, berarti aku emang nyimpen foto ini di kamar kita. Ngerti, nggak?"


Reyhan memahaminya. Ia pun mengangguk dan mulai halus lagi. Lalu segera dipanggilnya Bi Zizah, dan menanyakan hal yang sama saat pembantu itu datang.


Jawabannya pun sama dengan Salma, bukan dirinya yang menyimpan foto itu. Reyhan mengangguk paham dan meminta Bi Zizah dan Salma untuk meninggalkannya di kamar.


Aneh bukan?


Kalau begitu, siapa yang menyimpan foto Sofia di kamar Reyhan dan Salma itu???

__ADS_1


...^^^...


__ADS_2