Kuntilanak Merah

Kuntilanak Merah
Bab XVIII


__ADS_3

Sebelum pergi untuk menemui teman-temannya Sofia, Salma izin dulu untuk pergi pada Reyhan. Reyhan mengizinkan, asalkan sebelum magrib sudah ada lagi di rumah. Salma menurut. Kebetulan ia akan mengadakan pertemuan itu di sebuah cafe yang tidak akan jauh dari komplek perumahan tempat rumah mereka huni itu.


Salma pun memesan ojek online motor agar cepat sampai disana. Ini supaya cepat saja, dan untungnya, ojek itu masih berada di komplek perumahannya. Jadinya dekat, tak perlu menunggu waktu lama. Setelah menunggu selama setengah menit pun sampai juga ojek online itu.


"Ke cafe ini ya, Mang!" pinta Salma pada tukang ojol itu.


"Iya, Neng. Saya tahu, dekat ini kok," balas tukang ojol itu.


Salma pun pamit pada Bi Zizah dan menaiki motor ojol tersebut, lalu keduanya pun segera meninggalkan rumah.


Di tengah perjalanan, Salma terdiam. Tak mengatakan sepatah katapun. Di tambah dengan teringatnya kisah yang sesungguhnya dialami oleh Sofia sebelum ia meninggal tragis. Sungguh ngeri bin menyedihkan.


...***...


Di sebuah cafe yang berbeda, Reyhan sudah banyak menceritakan apa yang selama ini ia alami, selama Sofia bergentayangan menjadi sosok kuntilanak merah. Karena itulah kenapa ia tidak berlama-lama saat menjelang pemakamannya Derry. Demikian juga dengan matinya Gio yang tak wajar, sebagai korbannya Sofia yang pertama.


Dewa teringat jelas atas apa yang terjadi dengan Sofia sebelum memutuskan untuk mati sebelum waktunya untuk mati yang sudah ditetapkan Tuhan datang. Ia jadi bergetar hebat, karena termasuk juga sebagai pelaku pemerkosaannya. Bahkan hingga saat ini, masih dijadikan hal yang misterius untuk para warga yang tahu berita ini yang masuk lewat internet.


Ya, kisah tewasnya Sofia dengan cara bunuh diri karena diperkosa itu masuk ke internet. Juga tewasnya Gio, jadi populer dibicarakan di sosial media. Mulai dari Facebook, Twitter, termasuk juga YouTube. Entah siapa yang menyebarkannya hingga menjadi berita yang merajalela seperti itu.


"Rey! Kalau udah gitu gimana? Bisa-bisa, aku benar-benar jadi korban berikutnya!" tanya Dewa dengan sedikit panik.

__ADS_1


Reyhan meminum kopi susunya itu. Kemudian menyimpan cangkirnya dan menjawab, "Kamu jangan terlalu takut! Mending kita sama-sama untuk jujur aja ngaku sama istri kita masing-masing. Jadi, nggak akan dilaporkan ke polisi.".


Mendengar itu, Dewa jadi terkejut dan membalas, "Woi! Kalau istriku tahu, nanti aku diceraikan!".


"Jamin, nggak! Dia akan terima semuanya. Pasti!".


Nampaknya, Dewa tak menyetujui kata-kata Reyhan barusan. Ia tetap merasa ketakutan. Hingga akhirnya saat akan meminum kopi susunya yang sama juga dengan Reyhan, tiba-tiba ada suara perempuan menjerit.


Suara itu menjerit penuh amarah dengan mengatakan, "SIAP-SIAP KAMU YANG MATI! KAMU YANG MATI BERIKUTNYA!". Jeritan itu berganti menjadi suara tawa melengking yang amat dahsyat mengerikannya.


Saat mencari-cari sumber suaranya, betapa terkejutnya Dewa karena di dekat salah satu jendela terdapat sosok kuntilanak merah itu. Dewa sangat ketakutan, bahkan sampai keringat dingin bercucuran deras di tubuhnya.


Kuntilanak merah itu menunjuk dengan telunjuk tangan kanan ke arahnya sambil tersenyum sinis. Ia juga mengatakan, "Bang Dewa! Siap-siap mati sekarang. Jangan harap bisa hidup besok!". Setelah berkata begitu, tawanya terdengar kembali.


"Kenapa, Wa?" tanya Reyhan penasaran.


"Rey! Kun...merah...belakang...kau!" jawab Dewa terbata-bata. Tubuhnya masih gemetar ketakutan.


Mendengar jawaban itu, Reyhan jadi terkejut. Ia pun mendekati Dewa dan menenangkan sahabatnya itu. Dan mengatakan mungkin sosok itu sudah pergi ketika hendak dilihat oleh mata kepalanya sendiri.


Dewa kembali melihat ke jendela. Benar saja, kuntilanak merah itu sudah menghilang. Ia jadi sedikit tenang dan kembali menikmati secangkir kopinya.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba tubuhnya di peluk dari belakang. Ternyata kuntilanak merah itu yang memeluknya. Dengan tawa yang amat mengerikan dan bisa membuat gendang telinga seseorang itu jadi pecah, ia berkata, "Bang Dewa juga bersalah. Jadilah korbanku! Sebentar lagi.".


Tawanya terdengar kembali, kemudian perlahan menghilang. Setelah itu, tiba-tiba Dewa menjatuhkan cangkir kopinya dan berteriak ketakutan, hingga membuat seisi cafe jadi terkejut, termasuk juga Reyhan.


Dewa pun beranjak dari tempat duduknya dan bergegas pergi dari tempat itu. Reyhan menyusulnya cepat-cepat sambil memanggil. Akan tetapi, tetap saja tak ada respon dari Dewa. Pria itu tetap berlari dengan panik hingga ke tempat parkir mobil.


Secepat kilat juga Dewa memasuki mobilnya, dan menyalakan mobil lalu bergegas pergi dari tempat itu. Ia tak mempedulikan Reyhan yang menyusul sambil memanggil-manggil namanya dan menanyakan penyebabnya.


Dewa membawa mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia tak akan mempedulikan polisi yang memanggilnya nanti karena membawa kendaraan ngebut. Tak peduli juga jika lampu merah menyala.


Sementara Reyhan menyusulnya dengan mobil juga. Walau menyusul, namun ia tetap berhati-hati membawa mobilnya. Untungnya, dijalan sekarang tak ada polisi.


Di mobil Dewa, langsung saja sosok kuntilanak merah itu muncul dari belakang dan mencekiknya sekuat mungkin. Sampai Dewa memuntahkan darah merah yang mengalir dari mulutnya. Tawa khasnya tetap terdengar. Bercampur juga dengan rasa marah yang amat mengerikan akan penuhnya rasa dendam yang tinggi.


Itu menjadikan Dewa mengemudikan mobilnya jadi tak tentu arah (atau biasa dibilang ugal-ugalan). Sampai akhirnya, tak bisa terhindar lagi kecelakaan yang amat besar. Mobilnya menabrak sebuah pohon yang cukup besar dan rindang, membuat mobilnya Dewa hancur di bagian depan.


Begitu sampai di keramaian karena kecelakaan tragis itu, Reyhan keluar mobil dan tak heran lagi melihatnya. Dugaannya tepat bahwa itu kecelakaan besar yang menimpa Dewa. Kepalanya pecah. Darahnya mengalir deras dari kepala dan keluar juga dari hidung serta mulutnya. Dewa pun segera di bawa ke rumah sakit untuk diotopsi.


Tanpa berlama-lama lagi, Reyhan segera menghubungi istrinya Dewa. Kemudian ia susul ambulance yang membawa sahabatnya itu. Di perjalanan, Reyhan merasa sudah mulai muncul rasa muak atas ulah hantu adiknya itu. Nanti akan ia tantang.


"Awas kamu, Sofia! Kamu udah ambil nyawa 3 sahabat Kakak! Akan aku balas kamu, dengan cara apapun juga. Lihat aja nanti, tunggu pembalasan Kakak! Tunggulah!" serunya dengan berbicara sendiri sambil menyetir mobilnya.

__ADS_1


...^^^...


__ADS_2