Kuntilanak Merah

Kuntilanak Merah
Bab XV


__ADS_3

Sesampainya di rumah Gio, Reyhan memarkirkan mobilnya dan bergegas keluar dari mobil itu. Terlihat olehnya, suasana yang cukup ramai menyelimuti rumahnya Gio yang kini tak akan ada lagi yang menempatinya karena penghuninya sudah tiada.


Reyhan dan Dewa berjalan ke rumahnya Gio. Rumah yang terdapat bendera kuning kecil itu didatangi oleh beberapa orang warga yang berpakaian baju hitam. Rupanya Gio sudah dimandikan, dan kini sedang dibacakan surah Yaa-Siin. Barulah setelah itu disholatkan di masjid, lalu dibawa ke makam yang tak jauh dari daerah ini dengan keranda.


Derry terlihat sedang duduk dengan istrinya. Istrinya yang membacakan jantungnya Al-Qur'an itu untuk jenazahnya Gio, sedangkan Derry hanya melihat jenazah sambil mendengarkan.


Biarpun jenazah sudah diobati, namun tetap saja terlihat mengerikannya luka di kepala Gio yang pecah itu. Derry menegaskan bahwa Gio mati dibunuh. Akan tetapi, hal ini masih diselidiki oleh kepolisian penyebab dibunuh dan siapa yang membunuh Gio. Namun sudah ada dugaan sementara, Gio tewas di bunuh oleh beberapa orang perampok yang mau merampok rumahnya kemarin malam.


Mendengar itu, Reyhan hanya membisu. Karena ia tahu siapa pelaku sesungguhnya atas kasus ini. Tapi, tak mungkin ia katakan karena tidak semua orang percaya adanya hantu, terutama hantu seperti Sofia ini. Dirinya yang jadi pelaku utama untuk melakukan hal terkutuk pada Sofia sewaktu dulu itu menggunakan saja ide bahwa ia tidak tahu apa-apa.


Melihat Reyhan terus diam 1000 bahasa, membuat Derry dan Dewa jadi penasaran. Ini membuat mereka menyangka kalau Reyhan sedang ada masalah.


"Reyhan! Ada apa?" tanya Dewa dengan suara sedikit berbisik.


Reyhan jadi sedikit terkejut, dan menjawab dengan tersenyum kecil dan gelengan kepala. Hanya saja, Dewa tidak terlalu percaya. Ia kembali bertanya, "Yakin nggak ada apa-apa? Wajahnya kayak yang gelisah gitu.".


"Nggak, benar-benar nggak ada apa-apa kok, Wa! Swear!", balas Reyhan dengan jari tangannya yang membentuk huruf V.


Dewa dan Derry saling beradu pandang. Tapi, akhirnya mereka acuhkan juga dengan berlagak tidak pedulikan lagi masalah Reyhan melamun tidak jelas.


...***...


Setelah pemakaman Gio, Reyhan memutuskan untuk segera pulang. Ia tak pedulikan panggilan Derry dan Dewa yang ingin bertanya lagi mengenai keadaan fisiknya yang sesungguhnya.


Akhirnya, Derry dan Dewa juga memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Derry dan istrinya pulang ke rumah dengan memakai mobil. Keduanya pulang dalam diam di dalam mobil itu.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Derry malah izin pada istrinya kalau ia mau mengerjakan tugas yang harus diberikan pada boss-nya besok di ruang kerja. Istrinya mengangguk, dan berpesan jika mau apapun tinggal panggil saja. Karena ia juga akan sibuk di dapur seperti biasa untuk memasak.


Derry mengangguk. Ia berganti pakaian di kamarnya dengan pakaian rumah biasa. Setelah itu, ia memasuki ruang kerjanya yang ada di lantai atas.


Begitu masuk, ada laptop kerja, dan beberapa map kerja yang menumpuk cukup tinggi. Kerjanya kali ini tak boleh ia tunda-tunda lagi hanya karena terlalu sering bermain-main keluar dengan Dewa, Reyhan dan Gio. Tapi sekarang kalau bermain, pasti hanya menyisakan Dewa dan Reyhan saja.


Siang hari menjelang tengah hari sekali, di pukul setengah 12 siang. Jari jemari kedua tangannya tak bisa berhenti mengetik di keyboard laptopnya. Matanya tertuju pada layar monitor dan map. Selain itu, sesekali tangan kanannya juga harus sibuk mengarahkan mouse untuk mengatur tulisan yang salah.


Tiba-tiba saja di suasana yang tengah tenang begini, Derry mendengar ada suara yang memanggil namanya, "Bang Derry!".


Suara itu kedengarannya seperti suara perempuan. Dan ia tahu, ini bukan suara istrinya. Karena suaranya berada di dalam ruangan ini, sedangkan istrinya ada di dapur di lantai bawah.


Disebabkan oleh suara itu, Derry menghentikan ketikan tangan di laptopnya. Ia mencari sumber suara dalam ruang kerjanya ini. Setelah 2 menit suara itu hilang, suara itu muncul kembali. Memanggil nama Derry.


Suara itu hilang lagi. Namun sekitar 3 detik kemudian, suara itu terdengar menjawab pertanyaan Derry tadi, "Masa Abang lupa sama aku? Aku korbanmu! KORBAN PERKOSAANMU!".


Derry kaget setengah mati mendengar suara yang dikeraskan itu. Buru-buru ia pun keluar dari ruang kerjanya. Tak peduli laptopnya masih menyala. Namun, kesialan dialami olehnya, sama seperti Gio. Derry tak bisa keluar dari ruangan itu.


Derry berusaha membuka pintu ruang kerjanya agar bisa keluar. Tapi gagal total. Ia juga berusaha menjeritkan nama istrinya untuk menolong mengeluarkannya dari ruangan itu. Keringat dingin sudah bercucuran, suaranya mulai serak karena dipakai menjerit terus. Tangannya juga sudah pegal dan lecet karena terus memukul pintu.


Hanya tetap saja hasilnya sama. Tidak berhasil. Seolah-olah istrinya tidak mendengar apa-apa di luar sana. Derry pun mulai menyerah. Ia terduduk lemas dan mulai menangis di balik pintu dalam ruang kerja itu.


Dilihatnya perlahan ke belakang, sosok wanita berbaju merah dengan wajah pucat dan penuh dengan murka muncul. Kuntilanak merahnya Sofia telah tiba. Ia keluarkan lagi gelak tawa mengerikannya, hingga membuat Derry ketakutan setengah mati sambil menutup kedua telinganya dengan tangan.


Kuntilanak merah itu melayang cepat dan berdiri sangat dekat di depan mata kepalanya Derry. Derry melihat sosok asli kuntilanak merah itu, wajahnya adalah wajah mengerikan dari Sofia yang marah hebat padanya.

__ADS_1


"So...Sofia!" serunya sambil menunjuk dengan tubuh gemetar hebat.


Sofia tersenyum sinis dan membalas, "Akhirnya ingat juga. Ingat korban yang diperlakukan dengan amat laknat.".


Derry jadi menangis ketakutan. Ia memohon-mohon ampun pada Sofia. Saking meminta ampunan pada Sofia, ia sampai berharap pada gadis hantu itu agar jangan juga mengambil nyawanya.


"Please, Sof! Maafkan Abang dan kakakmu! Ampuni kami atas perbuatan yang...amat laknat itu! Tolong ampuni kami, maafkan kami! Jangan bunuh aku! Tolong, jangan ambil nyawaku! Please, aku mohon sama kamu! Aku mohon!".


Namun, tetap amarah Sofia tak bisa dibendung lagi. Apalagi untuk wujudnya yang sudah jadi sosok kuntilanak terganas seperti ini. Baginya, sudah tidak ada ampun lagi untuk orang yang pernah berbuat tak terhormat padanya semasa hidupnya dulu.


Kuntilanak merah itu pun mencekik leher Derry kuat-kuat, dan mengangkat badannya. Derry terbatuk-batuk keras. Saat itulah, kuntilanak merah itu mengutarakan amarahnya yang luar biasa.


"Sudah tak ada ampun lagi bagimu. Kau dan kakakku dengan yang lainnya sama saja. MANUSIA IBLIS! TUKANG TIPU!", serunya kemudian dengan suara amat lantang.


Kali ini, Sofia membunuh Derry bukan dengan dilempar ke tembok dengan keras seperti Gio. Tapi, Derry dibunuh dengan ditancapkan pisau yang Sofia gunakan sewaktu bunuh diri. Ia mengeluarkan pisau itu, dan langsung menancapkannya ke perut Derry hingga sobek besar kulitnya.


Derry rasakan sakit yang luar biasa. Dan setelah dicabut oleh Sofia, Derry mulai semakin melemah. Semakin melemah, dan akhirnya tewas dengan posisi tubuh tengkurap di lantai ruang kerjanya sendiri. Serta tewas dengan mata yang masih terbuka.


Darah pun mengalir dari perut sobeknya, sangat merah. Sofia pun menghilang terbawa angin yang masuk ke jendela yang tiba-tiba terbuka sendiri di ruangan itu. Dan segera tertutup lagi dengan sendirinya setelah sosoknya sebagai kuntilanak merah hilang total.


Istrinya Derry datang sambil memanggil namanya. Begitu masuk, ia kaget setengah mati melihat suaminya sudah tak bernyawa dengan luka yang lebih mengerikan lagi dibandingkan Gio. Tewas dengan mata terbuka dan perutnya yang terdapat sobekan besar.


Istri Derry mulai menangis setelah mengetahui bahwa suaminya itu meninggal. Ia segera meminta tolong pada para tetangganya agar membantunya mengurus Derry yang kini menyusul Gio. Tak lupa ia juga memberitahu hal ini pada Dewa dan Reyhan.


...^^^...

__ADS_1


__ADS_2