
Reyhan mengetahui kematian Derry. Ia kaget juga. Baru saja Gio meninggal, sekarang secepat itu setan merah itu membunuh korban berikutnya, Derry. Reyhan tidak langsung bergerak secepatnya untuk melayat. Ia berdiam diri dulu di sofa.
Namun, ia bergegas ke kamarnya. Dan foto itu kembali lagi ada di meja riasnya. Foto itu utuh, benar-benar utuh tanpa ada luka sobekan sedikitpun. Reyhan semakin bergetar hebat. Ia jadi takut luar biasa. Sangat sulit dipercaya, ini tidak berhasil juga membuat Sofia tidak mengganggunya.
"Lebih baik aku buru-buru," katanya setelah melihat foto itu. Ia bergegas mengambil kunci mobil dan pergi ke rumah Derry.
...***...
Sesampainya di sana, Reyhan mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ternyata ada Dewa yang baru datang. Ia turun dari motor ojek online (Dewa punya mobil. Namun ia sering menggunakannya untuk pergi ke kantor).
Segera saja keduanya menuju rumahnya Derry yang sudah dipasang bendera kuning. Terlihat sudah ramai ada banyak orang datang melayat ke rumahnya Derry.
Keduanya masuk sambil mengucapkan salam. Istrinya Derry menjawab salam, lalu meminta Dewa dan Reyhan untuk duduk sebelah jenazah Derry. Sama seperti saat melihat jenazahnya Gio, keduanya melihat Derry yang sudah berbadan kaku, matanya tertutup rapat, lubang hidungnya yang sudah ditutupi gumpalan kapas kecil.
Reyhan tidak menangis. Ia berusaha menahan emosi karena ulah adiknya yang meskipun sudah jadi hantu, tapi tetap ini sudah terlewat batas. Adiknya sudah membunuh 2 sahabatnya sejak kuliah itu. Dan pandangannya tertuju ke arah Dewa yang sedang mengobrol dengan istrinya Derry.
__ADS_1
Ia sudah menduga, Dewa pasti akan jadi korban berikutnya. Kemudian setelah Dewa tewas, giliran dirinya sendiri yang akan jadi korban. Bahkan, mungkin nyawa juga akan melayang.
Memikirkan hal itu, Reyhan memutuskan untuk pulang. Dewa dan istrinya Derry merasa aneh dengan Reyhan. Dewa pun menanyakan alasan Reyhan pulang secepat itu. Padahal, keduanya belum mengaji surah Yaa-Siin untuk Derry, serta mensholatkan dan kemudian ikut mengiringi jenazah Derry ke pemakaman umum.
Reyhan menjawab dengan sedikit gemetar, "Mmm... tiba-tiba aku inget, ada urusan sama Salma. Aku bakal kirim surah Yaa-Siin di rumah kok. Udah ya, Wa! Aku duluan!".
Meskipun masih merasa aneh, heran dan curiga, namun Dewa akhirnya membalas dengan mengangguk dan mengingatkan Reyhan agar berhati-hati.
"Kalau ada apa-apa, kasih tahu aku!" tambahnya dengan sedikit tegas.
Segera saja Reyhan berlari ke mobilnya dan masuk. Namun di mobilnya, Reyhan melamun sejenak. Ia merasa kalau sekarang teror Sofia sudah terlewat batas memang baginya. Namun karena penakut, Reyhan tak tahu harus berbuat apa.
Akhirnya, ia nyalakan mesin mobilnya dan injak gas membawa mobilnya pergi. Di perjalanan, tiba-tiba hujan gerimis turun. Udara yang cukup dingin pun mencekam tubuhnya Reyhan. Karena sedikit kedinginan, ia sampai bersin dua kali. Padahal AC mobil sudah ia matikan juga.
Reyhan berusaha untuk tidak mempedulikan apa yang akan terjadi kemudian. Bahkan, ia tak pedulikan ada suara seorang wanita seusia Sofia yang memanggil namanya.
__ADS_1
Dengan wajah yang mulai diselimuti amarah, Reyhan menggas mobilnya jadi berada dalam kecepatan cukup tinggi. Hingga akhirnya, sampailah dia di rumahnya. Begitu sampai rumah, ternyata sudah ada Salma dan Bi Zizah. Salma menanyakan kemanakah Reyhan selama ini.
Reyhan menjelaskan semuanya. Ini tentunya juga menjadikan Salma bingung. Bagaimana bisa, baru saja ada kasus orang meninggal tanpa pelaku pembunuh yang pasti, sekarang ada lagi kasus yang sama? Walaupun motif pembunuhannya berbeda.
"Sebenarnya ada apa sih? Dan korbannya, kenapa bisa dua temanmu, Kang?" tambah Salma dalam pertanyaannya.
"A...aku juga nggak tahu," jawab Reyhan dengan suaranya yang masih gemetar.
Salma terduduk di sofa. Wajahnya terlihat ikut kebingungan. Padahal, kasus ini bisa ditangani polisi. Namun karena ini ada hubungannya dengan hal-hal mistis yang masih belum diketahui Salma dan orang lainnya selain Reyhan, jadi ini bisa ditangani oleh seorang dukun atau paranormal.
Reyhan pun masuk ke kamar. Ia terduduk sejenak di kasur, dan melihat meja riasnya. Masih. Masih ada fotonya Sofia. Foto itu masih ada dalam pigura. Piguranya ikut utuh lagi. Berdiri rapi di meja rias itu.
Reyhan pun segera mengambil pigura itu. Ia lepas fotonya Sofia dari pigura tersebut, lalu memiliki sebuah ide untuk bisa memusnahkan foto itu. Cuman ada satu cara lagi tentunya. Yaitu...
...Dibakar!...
__ADS_1
...^^^...