
Tewasnya Gio diketahui oleh tetangganya keesokan harinya saat setelah pulang sholat subuh di masjid. Tetangganya melihat Gio dalam keadaan sudah mati dengan sangat tidak wajar. Tambah lagi lukanya menyisakan darah yang deras merah peka. Bahkan bisa membuat air kolam renang rumahnya jadi tercampur dengan darahnya.
"Astagfirullah! Siapa yang membunuh Mas Gio sekejam ini, ya?" tanya salah seorang warga.
"Nggak tahu. Kasihan banget, ya! Darahnya aja sampai ngalir ke kolam renangnya, kayak sungai ke laut," jawab warga lainnya.
Pak RT yang melihat hal itu, segera meminta warganya untuk segera mengurus jenazahnya Gio. Para warganya menurut. Mereka pun mengangkat jenazahnya Gio dan sebagiannya membersihkan darah Gio, terutama yang ada di kolam renangnya juga.
Salah satu warga menghubungi temannya Gio. Ini juga atas perintahnya Pak RT setempat. Yang dapat informasi yang pertama atas kematiannya Gio adalah Derry.
...***...
Kebetulan ini hari Minggu. Jadi Reyhan berniat untuk membaca buku di ruang keluarga. Ia membaca dengan ditemani suara musik yang disiarkan oleh radionya. Ia di rumah sendirian, karena Bi Zizah dan Salma seperti biasa setelah sarapan, melakukan belanja ke pasar.
Ponsel pun berdering. Kebetulan ponselnya ada di dekat dirinya. Reyhan melihat siapa yang meneleponnya. Entah kenapa, dirinya kaget setengah mati melihat yang meneleponnya adalah Derry. Firasatnya seperti mengatakan, akan ada berita buruk yang didapatnya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Reyhan menjawab telepon Derry. Ia sapa dengan panggilan 'halo' dan ucapan salam.
Derry menjawab salamnya Reyhan dengan suara yang sedikit terbata-bata. Terbata-bata, gemetar ketakutan dan panik.
__ADS_1
"Reyhan! Kamu ada di rumah nggak?", tanyanya kemudian.
Reyhan mengerutkan kening. Bingung. Tapi ia menjawab, "I...iya, ini aku. Emang kenapa, Der?".
"Kamu...kamu harus ke rumah Gio. Sekarang juga. Jangan lupa ajak Dewa!".
"Gio? Emang Gio kenapa?".
Namun sialnya, Derry malah dengan terburu-buru memutuskan telepon. Reyhan berkali-kali memanggil. Dan ketika dilihat, ternyata sudah diputus oleh Derry.
Mulailah muncul rasa kalau Sofia benar-benar menepati janjinya, walaupun ia sudah jadi sosok makhluk halus. Korban pertamanya sungguh-sungguh Gio. Reyhan pun terduduk lemas di sofa.
Reyhan segera mengambilnya. Tapi, kini dengan amarah yang tinggi. Ia pecahkan pigura foto adiknya itu. Lalu diambilnya lembar foto yang ada di dalamnya. Kemudian ia sobek-sobek sampai benar-benar jadi serpihan-serpihan kertas yang lebih kecil lagi.
Setelah melakukan itu, Reyhan tertawa. Ia tertawa penuh kemenangan dan berkata, "Foto kamu udah Kakak sobek, Sof! Lihat! dengan begitu, kamu nggak bisa muncul lagi! NGGAK AKAN BISAAA!!!".
Ia pun mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk mandi tentunya. Tentu harus melayat sahabatnya yang telah meninggal dunia dengan tragis itu. Keanehan pun terjadi lagi.
Begitu keluar kamar mandi, Reyhan yang bersiul itu kaget. Melihat pecahan kaca beling pigura fotonya Sofia tiba-tiba saja hilang. Tak hanya itu. Serpihan-serpihan kertas sobekan fotonya Sofia juga lenyap begitu saja tanpa meninggalkan jejak.
__ADS_1
Namun, Reyhan tidak ketakutan. Ia malah seperti menantang adiknya itu. Karena ia tahu, pasti karena ulahnya Sofia, "Ajaib! Kamu kemanain foto sama pigura itu, Sof? Hah!? Kemanain? Jawab Sofia! JAWAB!".
Setelah bicara tak jelas dan belum ada jawaban juga, Reyhan tersenyum penuh kemenangan. Seolah-olah dia yang menang untuk ini. Ia pun memakai baju koko dan membawa peci.
Baru saja mau keluar kamar, tiba-tiba di kamarnya terdengar suara jeritan yang berkata, "JANGAN MUNAFIK!". Kemudian disusul suara gelak tawa khas yang mengerikan lagi.
Reyhan pun kembali gemetar. Gemetar panik, hebat sampai bercucuran air keringat dingin. Dan munculah kembali, sang ratu hantu terseram itu, kuntilanak merah.
"Hah, Sofia!" seru Reyhan sambil menunjuk. Terlihat hantu itu melirik lagi, masih dengan wujud yang sama. Sangat mengerikan.
Sofia pun melayang mendekati kakaknya. Ia kembali mencekik leher kakaknya. Sambil mencekik ia berkata, "Siap-siap untuk korban berikutnya!".
Reyhan yang merasa cekikan dilehernya kini lebih sakit lagi dibandingkan yang pertama kali, bertanya di tengah suara terbata-batanya, "Si...siapa?".
Sofia melepaskan cekraman tangan ke lehernya Reyhan, dan menarik kerah baju kakaknya. Matanya yang merah amat menyeramkan itu pun menjawab, "Kak Derry!".
Reyhan kaget lagi setengah mati. Ia berusaha mencegah adiknya melakukan itu, tapi gagal lagi. Reyhan dilepaskan kerah bajunya, dan adiknya pergi dengan tawa jahatnya yang amat melengking dan menyeramkan gila itu.
Reyhan yang sudah dijatuhkan ke lantai, jadi semakin takut. Ia sudah tahu kalau Gio tewas karena adiknya. Tapi masih kurang jelas bagaimana ia membunuhnya. Entah seperti apa juga ia membunuh Derry nanti.
__ADS_1
...^^^...