
Begitu masuk rumah, Reyhan mengucapkan salam. Seisi rumah menjawab salamnya. Namun, ia hanya mendapati sang istri dan pembantunya yang ada di ruang TV. Salma sedang menonton TV, sedang Bi Zizah menyapu.
Setelah menerima salaman tangan Salma, Reyhan menanyakan adiknya. Salma menjawab singkat, "Dia di kamarnya."
Reyhan mengangguk paham. Kemudian dengan jalan sedikit lamban sambil membawa tas kerjanya, ia berjalan ke kamarnya. Reyhan masuk dan menutupi pintu kamar. Setelah itu, ia menghela nafas, lalu melemparkan tas kerjanya ke kasur.
Reyhan pun terduduk di kasur. Ia duduk di sebelah tas kerjanya. Tanpa ia sadari, kembali lagi terpikirkan olehnya tentang ajakannya Gio barusan. Parah, parah sekali!
"Apa-apaan sih hari ini? Udah bohongin Salma sama Sofia, udah tahu mau ke tempat itu. Tapi, masih nyangka yang begituan," gumamnya menyesali perbuatannya tadi sore.
Reyhan berusaha kembali untuk mengabaikannya. Ia pun berdiri dan mengganti baju kerjanya dengan baju rumahan biasa. Setelah mengganti pakaian, ia pun keluar kamar sambil membawa baju kerjanya.
Ketika melihat Bi Zizah, segera saja ia memintanya untuk mencuci baju kerjanya. Agar bisa dipakai untuk Sabtu depan. Bi Zizah yang akan memulai mencuci piring di dapur mengangguk, pertanda menurut. Baju itupun ia berikan pada Bi Zizah.
Setelah Bi Zizah ke dapur, Reyhan mendekati Salma yang masih asyik menonton TV. Salma melihat kedatangan suaminya itu dan bertanya, "Udah makan?".
Reyhan menjawab dengan anggukan kepala. Keduanya sama-sama menonton TV. Ketika itulah, Sofia turun ke lantai bawah. Ia akan memberitahu Reyhan dan Salma tentang dirinya yang akan mengadakan acara kemah di Tangkuban Parahu dalam perayaan hari Pramuka nasional.
Keduanya pun mengizinkan. Tak lupa dengan nasihatnya Reyhan, "Tapi jangan nakal, ya! Kalau berfoto, jangan mencar! Harus tetap dengan grup kamu dengan kakak pembinanya."
"Gampang! Itu bisa diatur," balas Sofia dengan cerianya.
"Kapan pulangnya?" tanya Salma.
"Kemahnya 5 hari. Sabtu depan pulang."
"Ya udahlah. Tapi, ingat pesan Kakak tadi, ya! Kalau mau selfie, jangan pisah sama grup dan kakak pembinanya! Harus izin dulu kalau perlu."
__ADS_1
"Iya, Kak Reyhan! Tenang aja, semuanya udah aku atur mau ngapain aja disana."
Reyhan mengangguk. Sofia pun kembali ke lantai atas. Kini, Sofia mendapatkan kesenangan. Jika Ryan pergi ke Jakarta, maka Sofia akan kemah di alam bebas daerah gunung. Walaupun memakan waktu hanya berhari-hari, tapi itu sudah cukup baginya untuk bahagia.
...***...
Besoknya, Sofia bersalaman dengan kedua kakak dan bibi pembantunya. Sekali lagi, Reyhan memberikan nasihat yang sama seperti tadi malam.
Sofia jadi sedikit muak dengarnya. Ia pun membalas, "Kak Reyhan cemasan banget ya orangnya! Udah nggak usah khawatir! Aku nggak akan selingkuhi Ryan kok. Ada Ryan pun, aku nggak akan 'main' yang begituan. Percaya, deh! Aku bakal nggak kenapa-kenapa."
Reyhan tertawa dan mengaku bahwa ia hanya sekedar bergurau. Ia juga menambahkan, "Gitu aja kok emosi. Ya udah, hati-hati! Pulangnya juga cepat, ya! Jaga juga ucapan kamu!"
"Ashiap, deh!"
Sofia mencium tangan Reyhan dengan kasih sayang dan kesopanan dirinya sebagai adik yang menghormati sang kakak. Sofia pun pergi menjauhi keluarganya menuju ke sekolah.
Rasanya, Reyhan mengkhawatirkan kepergiannya Sofia, seperti seorang ibu dan ayah yang berpisah dengan anaknya ke luar negeri untuk sekolah, kuliah atau bekerja. Padahal, Sofia berkemah tidak berlangsung lama. Tidak memakan waktu bertahun-tahun, serta masih di Jawa Barat. Jadi, kenapa harus cemas?
Sesampainya di rumah, Reyhan memasuki kamarnya dan merebahkan diri ke kasur. Bukan karena kesepian karena adiknya pergi. Tapi karena merasa bosan. Ada istrinya belum tentu menghibur dirinya.
Sampai pada akhirnya, ia teringat tentang ajakannya Gio kemarin malam. Seingatnya, biasanya orang yang semacam Gio, Derry dan Dewa lebih sering melakukannya di hari libur seperti hari Minggu ini. Muncullah ide tersebut. Ide untuk mencoba apakah memang itu lebih menyenangkan untuk mengisi luang waktu yang membosankan seperti ini.
"Kayaknya, emang bisa jadi benar juga. Nggak ada salahnya kalau aku coba sekali-kali," gumamnya.
Segera saja ia ambil ponsel dan mencari nomor seseorang. Ia mencari nomornya Gio. Setelah menemukan, ia segera menghubunginya. Dan mengajak Gio untuk pergi lagi ke tempat yang kemarin. Tak lupa juga untuk mengajak Derry dan Dewa.
"Gila! Kamu yakin, Brow? Nanti sok jadi ustadz lagi kayak kemarin," tanya Gio tak percaya.
__ADS_1
"Benar, aku nggak bohong. Abis, aku lagi benar-benar bosan, nih!" jawab Reyhan dengan suara sedikit lirih karena merasa sangat bosan.
Di seberang sana, Gio tertawa dan membalas, "Ya udah kalau gitu. Kita kumpul di sana jam setengah 9 nanti, ya! Aku bantu istriku belanja dulu buat makan siang nanti."
"Ya. Aku yang ajak Derry-lah. Kamu yang ajak Dewa."
"Siap 86, Brow!".
Keduanya saling mengucapkan salam penutup dan menutup telepon masing-masing. Reyhan pun menyimpan kembali ponselnya ke meja dan beranjak dari tempat duduknya di kasur. Ia keluar dari kamar lalu mengambil handuk. Sekarang saatnya ia mandi di kamar mandi yang ada di kamarnya.
Sebelum mandi, ia menyiapkan bajunya dulu untuk pergi. Tak lupa juga pakaian dalam, jam tangan serta ponsel dan dompet. Barulah ia mandi. Mandinya memang memakan waktu cukup lama. Tapi, akhirnya ia bisa keluar juga dari kamar mandi setelah mandi selama 10 menit lamanya.
Reyhan memakai pakaian dalam, baju dan celana jeans panjangnya. Tak lama ia memakai parfum dan menyisir rambut. Ia juga menjadikan wajahnya jadi setampan mungkin dengan kosmetik khusus laki-laki tentunya. Tidak mungkin ia pakai milik Salma.
Selesai juga. Dirinya jadi harum, cukup menggoda juga. Reyhan memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam saku celananya. Tak lupa ia membawa kunci mobil. Saat melihat Salma yang sedang menyapu, segera di dekatinya untuk minta izin pergi keluar.
"Kang mau kemana?" tanya Salma memastikan.
"Ada acara sama Gio. Nggak lama kok. Sebelum dzuhur juga udah ada di rumah," jawab Reyhan santai.
Tak terlalu yakin akan jawaban suaminya seperti punya firasat, Salma ragu untuk mengizinkan suaminya keluar bersama teman-temannya.
Namun, akhirnya ia mengizinkan. Dengan syarat, Reyhan benar-benar menepati janjinya untuk tidak keluar lama-lama. Supaya ia benar-benar sudah ada di rumah sebelum waktu sholat dzuhur tiba.
Reyhan pun pamit. Ia mengecup kening istrinya dengan ucapan salam. Kemudian pergi ke garasi untuk mengambil mobilnya dan segera berangkat ke tempat yang kemarin ia kunjungi bersama Gio dan yang lainnya.
...^^^...
__ADS_1