
Di cafe tempat Salma berada...
Sekarang tinggal menunggu kedatangannya Erna, Lilis, Femiy dan Rena. Keempatnya sudah janjian di cafe ini untuk bertemu setelah di beritahukan oleh Salma lewat pesan chat WhatsApp tadi. Untunglah keempatnya ada waktu kosong. Jadi mereka bisa ketemuan.
Setelah ditunggu selama 2 menit, akhirnya datang juga 4 gadis yang akan lulus SMA itu ke cafe yang sudah di datangi oleh Salma. Salma yang selama ini menunggu sambil meminum secangkir teh hangat di kursinya.
"Maaf, Mbak Salma! Kami nunggu Femiy kelamaan soalnya," kata Lilis menjelaskan alasan keterlambatan dirinya dan teman-temannya datang.
"Nggak apa-apa. Belum sampai sejam ini," balas Salma santai.
"Btw, ada apa Teh Salma? Apa kita mau ngomongin soal kematiannya Sofia?" tanya Erna.
Salma meminum tehnya dan menjawab dengan kata "ya" sambil mengangguk.
"Emang, Sofia lakuin itu karena apa?" tanya Femiy sedikit tak sabar.
Salma menghela nafas panjang. Kemudian ia ceritakan mimpi yang ia alami saat tidur siang tadi. Dimana ia bertemu Sofia di puncak gunung, lalu menceritakan semuanya. Semua kebohongan tentang Reyhan, serta pengakuan Sofia sendiri bahwa dialah yang membunuh Gio, Derry dan Dewa.
Lilis dan teman-temannya yang lain sangat terkejut. Yang mengejutkannya lagi adalah pengakuan Sofia yang saking cintanya pada Ryan, ia ikhlas melepas nyawanya sendiri di kamar supaya Ryan tidak kecewa bahwa dirinya Sofia itu telah dinodai, hingga akhirnya jadi hamil di luar nikah. Apalagi, ia hamil anak kakaknya sendiri, keponakannya sendiri.
Salma juga memberitahu kalau Sofia ini matinya sebelum hamil. Intinya, Sofia mati karena tak ingin hamil di luar nikah. Hamil keponakannya sendiri. Jika itu terjadi, dikhawatirkan Ryan akan kecewa dan meninggalkannya. Karena itulah, kenapa gadis itu bunuh diri.
"Ya Allah! Kasihan amat Sofia!" seru Erna terharu.
"Ngeri juga, ya! Sampai dia nekat gitu hanya agar Ryan nggak tahu persoalan ini," tambah Lilis dengan sedikit merinding.
"Tapi biar gimanapun juga, Ryan bakal tahu hal ini," tambah Rena.
__ADS_1
"Benar. Namun, Teteh juga udah kenal lama tentang Ryan. Dia pasti tidak akan marah dan mengerti," balas Salma.
"Teteh udah laporkan ke polisi, kalau pelaku yang memerkosa Sofia adalah kakaknya sendiri?".
"Belum. Bagi Teteh, ini masih belum saatnya. Tapi insya Allah, secepatnya akan segera melaporkannya."
"Iya, Teh. Tapi kalau butuh bantuan untuk hal semacam ini, insya Allah kami siap."
Salma tersenyum dan mengangguk sekali. Dan sekarang mereka harus memberitahukan Ryan tentang kematiannya Sofia. Femiy mengatakan bahwa kebetulan Ryan akan pulang besok pagi-pagi dari Jakarta. Jadi, keputusan sudah deal. Salma akan menemui Ryan besok, dengan bantuan teman-temannya Sofia ini.
...***...
Gio sudah pergi. Disusul Derry dan Dewa. Reyhan jadi berdiam diri setelah pulang dari pemakaman Dewa. Rasa marah muaknya sudah semakin memuncak. Ia pun melihat ke meja rias. Benar saja, ada fotonya Sofia.
Padahal, sudah ia sobek sampai benar-benar hancur jadi butiran-butiran kertas yang sangat kecil. Bahkan (seperti sudah kita ketahui) sudah ia bakar sampai kertas foto itu benar-benar jadi abu kertas. Namun, kali ini muncul lagi.
Reyhan melihat foto adik kandungnya yang tersenyum itu. Dengan geram ia berkata pada foto itu, "Mau kamu apa sih sebetulnya, Sof? Balas dendam, iya? Kenapa nggak sekalian juga aku kamu bunuh? Takut? Hah!?".
Lanjut lagi Reyhan tertawa. Ia malah tertawa seperti orang sakit jiwa. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Terdengar suara tawa khas hantu wanita itu. Suaranya amat melengking lantang dan menakutkan.
Reyhan menghentikan tawanya. Lehernya ia gerakkan agar kepalanya bisa melihat ke depan-belakang dan kanan-kirinya. Ia cari-cari sosok Sofia. Suara tawa itu masih terdengar di kamarnya.
Namun karena rasa marah yang sudah meninggi, pria jangkung itu menjerit, "JANGAN HANYA KETAWA AJA! KELUAR KAMU KALAU BERANI! KELUAR KAMU SOFIA! KELUAAAR!!!".
Tetap saja, tak ada wujudnya kuntilanak merah itu. Yang ada hanya suaranya Sofia yang tertawa. Mendengar itu, Reyhan semakin geram. Kepalanya sudah mendidih api kemarahan yang semakin menjadi-jadi. Ia kembali menjerit, "Dimana kamu, Sofia? DIMANA KAMUUU???".
Suara tawa itu berhenti. Reyhan jadi tersenyum karena merasa ia menang. Namun saat akan keluar kamar, tiba-tiba saja pintu kamarnya tertutup dan terkunci dengan sendirinya. Reyhan berusaha untuk membuka pintu kamar itu. Tapi hasilnya nihil.
__ADS_1
Ketika melihat ke belakangnya, terlihatlah sosok kuntilanak merah Sofia. Wajahnya pucat, badan yang setengah hancur, matanya yang dikelilingi warna hitam melingkar di kelopak matanya serta iris mata yang berwarna hitam setengah merah. Amarah yang tinggi pada Reyhan terlihat sekali.
Ini bisa dibilang senjata makan tuan. Reyhan yang berniat untuk menakuti Sofia, sok berani, justru malah dia yang masih saja tetap takut melihat Sofia yang sering dilihatnya berwujud hantu wanita yang langka itu (emangnya fosil, ya).
Sofia pun berjalan perlahan mendekati Reyhan. Nyali keberanian Reyhan kini sudah semakin menciut. Adiknya berjalan dengan tangan yang ia ulurkan dua-duanya untuk mencekik leher Reyhan. Sementara badan Reyhan sudah berlutut jatuh. Badannya pun sudah basah kuyup karena keringat dingin.
Setelah berada di dekat Reyhan, kuntilanak merah itu mencekik Reyhan sekuat mungkin. Reyhan kembali terbatuk-batuk seperti orang tersedak. Rasanya, lehernya terasa seperti akan patah. Seperti akan memisahkan kepala dengan badannya.
"Nantang? Sekarang siapa yang lebih penakut? Siapa?" tanya Sofia dengan suara marahnya. Ia mencekik kakaknya sampai mengangkat badan Reyhan.
"Am...ampun, Sofia! Ampun!" jawab Reyhan dengan suara yang kini melemah.
Sofia terdiam, lalu menurunkan tubuh Reyhan dan melepaskan cekikan tangan di lehernya Reyhan. Ia berniat pergi. Tapi sebelum itu, ia merendahkan tubuhnya dan bicara.
"Siap-siap besok! Dapat 100%. Dapat kesialan hingga bisa tewas.".
Sofia pun tertawa seram lagi, dan mulai transparan hingga akhirnya hilang. Reyhan menggenggam leher dengan tangan kanannya, dengan ketakutan yang masih luar biasa. Sungguh setengah mati kesekian kalinya ia dicekik oleh hantu adiknya sendiri.
Ini menjadikan dirinya teringat masa lalunya. Ia ancam Sofia, lalu melakukan hal yang amat keji, gila dan tak karuan. Reyhan mulai menjerit sejenak. Ia menyesali perbuatannya. Namun, mungkin itu belum cukup bagi Sofia agar bisa tenang di 'sana'.
"Sekarang harus gimana? Gio udah nggak ada. Derry sama Dewa juga ikut! Hummm!!!" serunya mengeluh kesal.
Rasanya ini benar-benar menjadikannya seperti orang stress. Seperti orang gila. Awalnya ingin Reyhan mengakhiri saja hidupnya, menyusul tiga sahabatnya yang telah pergi itu. Tapi, ia pun sadar itu bukan ide yang bagus juga.
Reyhan jadi cemas jika Salma tahu, bahwa dialah yang melakukannya bersama teman-temannya. Ia tak tahu tentunya, bahwa Salma sudah tahu. Yang masih ia tahu pastinya, Salma sudah melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib.
Kalau saja Reyhan mengakuinya sekarang juga, polisi pasti akan segera mengincarnya dan masuk ke balik jeruji besi. Tapi jika dipikir-pikir, lebih baik ia mengakui akan hal itu. Sekarang muncullah pertanyaan yang menurutnya bisa berakibat sangat fatal:
__ADS_1
...Bagaimana jika Ryan sebagai kekasihnya Sofia tahu hal ini???...
...^^^...