
Besoknya setelah ditinggal Reyhan yang pergi bekerja, Salma mendapat telepon dari Femiy. Katanya, Ryan sudah pulang ke Bandung. Dan ingin bertemu Sofia. Seperti yang sudah pernah dibicarakan, biarlah Salma yang menceritakan bahwa sebenarnya Sofia sudah lama meninggal dunia.
"Okey. Kamu, Erna sama Lilis juga boleh ikut. Bilang ke Ryan, kita ketemu di cafe yang kemarin!" perintah Salma dengan tegas.
"Iya, Kak. Nanti aku sampaiin. Udah, ya!", balas Femiy disana.
"Ya. Kakak tunggu!".
"Ya, mari! Wassalamu'alaikum!".
Salma menjawab salam penutupnya Femiy, dan menutup juga telepon ponselnya. Sekarang yang harus Salma lakukan adalah mempersiapkan diri untuk obrolan serius, agar masalah hantu kuntilanak merahnya Sofia ini cepat berakhir.
...***...
Di kantornya Reyhan...
Reyhan tengah sibuk melihat pekerjaannya. Bolak-balik matanya melihat kertas dan layar monitor komputernya. Sampai tak lama kemudian, teleponnya berbunyi. Reyhan menjawabnya dengan kata sapaan 'halo'.
Rupanya telepon dari sekretarisnya. Ia memberitahukan Reyhan bahwa ada klien yang ingin bertemu dengannya. Namun, klien itu ingin bertemu di rumahnya sendiri. Sekretaris itu memberikan alamatnya pada Reyhan. Setelah dapat, Reyhan pun segera bertindak sendiri saja. Tentu jadi sendiri, karena Dewa sudah tiada. Dialah yang biasanya menemani Reyhan untuk bertemu klien.
Di perjalanan sesuai dengan yang ada di google map, Reyhan ternyata masuk ke komplek perumahan. Kagetnya lagi, ternyata klien itu tinggal di rumah yang terbengkalai. Tapi, sekarang nampaknya bersih. Tetap tak ada yang berubah karena direnovasi, hanya perubahan rumahnya saja yang kini bersih dan terlihat ada penghuninya.
Reyhan turun dari mobilnya dan menuju ke rumah itu, meskipun dengan rasa curiga yang masih ada dalam dirinya. Rasanya, tak mungkin rumah ini bersih dalam waktu singkat. Terbengkalai bertahun-tahun, seharusnya kalau ada yang beli rumah ini bisa memakan waktu sebulan untuk membersihkannya. Namun, ini hanya memakan waktu berhari-hari sudah sangat bersih.
Aneh, 'kan?
Walaupun tubuh gemetar hebat, Reyhan mengetuk saja pintu rumah itu. Reyhan mengetuk sambil mengucapkan salam Arab pada penghuninya. Hingga keluarlah penghuni rumah tersebut, dia perempuan. Terlihat cantik, dan memakai baju daster bermotif gambar batik yang membentuk bunga. Walaupun memakai daster seperti ibu-ibu, namun terlihat dia wanita yang masih muda. Malah terlihat lebih muda daripada Reyhan atau Salma. Malahan, dia seperti seusia dengan Sofia.
"Abang siapa?" tanya wanita itu. Ucapannya...dingin juga. Terlihat judes bagi Reyhan.
Reyhan berusaha tenang, ia tahan amarah agar tidak meledak-ledak pada wanita itu. Ia pun menjawab, "Mmm...saya mau ketemu klien yang ada di rumah ini. Mungkin ayah kamu klien itu. Ada, nggak?".
Anehnya lagi, saat ditanya seperti itu, wanita itu terdiam. Dia malah membatu. Wajahnya cantik memang, tapi nampak pucat. Bibirnya juga terlihat berwarna keabu-abuan sedikit. Reyhan berpikir positif, mungkin dia sakit. Makanya dia dingin dan judes seperti itu karena sedang lemas.
Dan terdengarlah jawaban dari wanita itu, "Masuk dulu!".
__ADS_1
Reyhan mengangguk dan masuk. Ia masuk perlahan, sambil melihat seisi rumah tersebut. Banyak perabot yang masih bagus-bagus. Tak ada yang aneh-aneh perabotannya. Artinya, memang benar kalau wanita itu sedang sakit lemas. Dan dia merasa terganggu.
Wanita itu datang sambil membawa dua cangkir teh hangat di nampan. Dia menyimpan dua cangkir teh itu di meja. Kemudian kembali masuk ke dalam rumah untuk menyimpan nampan itu. Setelah 2 detik, dia kembali lagi ke ruang tamu dan duduk di sofa tamu, yang berhadapan dengan sofa tamu tempat Reyhan duduk.
"Mau ketemu klien?" tanya wanita misterius itu.
Reyhan menjawab dengan sedikit terbata-bata karena rasa takut yang mulai tumbuh, "Mmm...i...iya. Berdasarkan alamat, klien yang...mau ketemu itu...tinggalnya...di rumah ini. Apakah...kamu klien itu?".
Tanpa respon berupa ekspresi wajah apapun, wanita yang masih misterius itu menjawab, "Iya. Itu saya sendiri.".
"Jadi, kamu mau...menjalin...kerja sama?".
"Iya."
"Kerja sama seperti apa, ya? Nama perusahaan kamu apa?".
Ada jawaban yang aneh dari wanita itu. Ia menggelengkan kepalanya perlahan dan menjawab, "Saya nggak punya perusahaan.".
"Kamu 'kan...klien-nya. Kenapa jawab begitu? Kamu kerja dimana?".
"Saya nggak kerja.".
"Mungkin kerja sama itu, bersama ayah atau suami kamu, ya?".
Dengan suara yang tetap lemas tapi juga menyeramkan, wanita itu menjawab, "Saya belum bersuami. Dan saya tak punya ayah maupun ibu.".
Reyhan semakin mengerutkan kening. Dan ia bertanya untuk yang terakhir kalinya, "Terus, kalau belum bersuami atau udah yatim-piatu, serta kamu bukan klien untuk kerja sama, apa tujuan kamu memanggil saya?".
Wanita itu menundukkan kepalanya sedikit. Dan mulai tertawa melengking, tapi juga menyeramkan. Dengan amat lantang ia menjawab, "Tujuan saya...BALAS DENDAM PADAMUUU!!!".
Reyhan kaget setengah mati. Tiba-tiba angin berhembus besar di rumah itu. Sampai-sampai semua perabotan di rumah itu terjatuh. Perabotan yang terbuat dari kaca pun pecah berjatuhan. Dilihat oleh Reyhan, wanita itu berubah menjadi sesosok kuntilanak merah. Disimpulkan dan sadar, ini adalah jebakan.
Sadar akan hal itu, Reyhan buru-buru keluar dari rumah itu. Namun, kuntilanak merah tersebut menegakkan kembali kepalanya, mengalihkan kembali perhatian ke arah Reyhan di depannya. Melihat Reyhan mau keluar, langsung saja hantu itu mengulurkan tangan kanannya lurus-lurus ke arah pintu rumah. Seketika, itu membuat pintunya tertutup rapat, dan terkunci oleh ulah gaib hantu merah itu.
Reyhan tak sempat keluar. Ia pun menggedor-gedor pintunya sambil menjerit-jerit minta tolong pada orang-orang di luar rumah itu. Reyhan melihat kembali sosok kuntilanak merah yang sudah ia tahu, bahwa itu adalah Sofia.
__ADS_1
Mata Reyhan merasa matanya kelilipan karena angin yang berhembus kencang di rumah itu membawakan debu-debu berterbangan. Ia pun di dekati oleh Sofia yang terbang cepat dan kembali mencekiknya.
Sofia menunjukkan wajahnya yang penuh dengan amarah dengan penuh luka bakar, badannya setengah hancur, tambah lagi matanya yang berwarna merah bagian irisnya dan berwarna hitam di sekeliling kelopak matanya. Rambutnya panjang dan berantakan kusut.
Reyhan dibawa terbang ke ruangan dapur dengan cara di cekik, lalu masuklah mereka ke dapur yang sudah sangat kumuh. Kuntilanak merah itu mendarat pelan, dan dengan kekuatannya ia mengangkat Reyhan. Masih dengan di cekik. Cekraman tangan di leher yang mencekik kembali membuat Reyhan terbatuk-batuk.
Saking tak kuat dan sakitnya, Reyhan sampai menjulurkan lidahnya sambil terbatuk-batuk. Dengan kekuatan yang masih tersisa, Reyhan bicara padanya, "So...Sofia! Maafkan...Kakak! Ampun! Am...puni...Kakak!".
Sofia sudah sangat marah luar biasa. Ia menurunkan kakaknya dan membalas, "Maaf? Maaf dan ampun baru minta saat aku sudah meninggal? BARU MENYESAL SEKARANG? HAH?!".
Sofia pun menampar kakaknya cukup keras. Kerah baju Reyhan ditarik lalu dibentak lagi oleh Sofia, "Tahu tidak? BETAPA SAKIT HATINYA AKU DIBEGITUKAN! TAHU TIDAAAK?!!!".
Reyhan gemetar. Ia juga mulai menangis. Ia menjawab dengan anggukan dan kata "Iya". Sofia mencekik kakaknya dan dengan bentakan bertanya, "TAHU TIDAK, ADIK SENDIRI BISA HAMIL ANAK KAKAKNYAAA?".
"Iya-iya-iya. Iya, aku tahu, Sof. Aku tahu," jawab Reyhan dengan ketakutan. Ia lancar bicara karena Sofia tidak keras mencekiknya. Ia mencekik biasa hanya untuk mengangkat tubuh kakaknya.
"Tahu tapi kurang ajar! KU BUNUH KAUUU!!!".
Saat Sofia akan menampar Reyhan dengan keras agar Reyhan terlempar, tiba-tiba terdengar suara dari pintu masuk rumah ini, "SOFIAAA!!!".
Sofia melihat ke belakang, ternyata ada Salma bersama Erna dan Lilis. Ketiganya mendobrak pintu dengan bantuan para warga tetangga dan Pak RT, yang juga ikut. Namun mereka melihat dari luar saja karena takut. Sedangkan Salma, Erna dan Lilis masuk.
Salma masuk ke dapur dengan 2 sahabat Sofia itu. Dengan sedikit kepanikan, ia meminta dengan baik-baik agar hantu adik iparnya itu menurunkan Reyhan perlahan. Jangan dengan kekerasan.
Sofia tak mau menurut. Ia ungkapkan rasa sakit hatinya, "Kak Salma tahu sakitnya di begitukan, bukan?! Apalagi oleh saudara kandung seperti ini!".
"Iya, Kakak tahu, Sayang. Kami yang perempuan tahu seberapa sakitnya di berlakukan seperti itu. Apalagi dari keluarga kita sendiri. Tapi tolong! Maafkan dia, ampuni dia! Jangan dendam dengan cara seperti ini. Apalagi sampai membunuhnya.".
"Benar, Sofia. Biar bagaimanapun juga, dia kakak kamu. Tolong, maafkan dia! Jangan terulang lagi merenggut nyawa orang lain!" tambah Lilis ikut menasehati.
Sofia masih marah juga. Tak berhasil juga untuk menyadarkannya. Ia pun berkata, "Kalian tak akan mengerti perasaan Ryan. Dia lebih sakit lagi dengar aku diberlakukan kejam begitu. Kalau aku hamil, dia harus tanggung jawab. HARUS TANGGUNG JAWAB!".
Sofia menjerit kata itu sambil mengarahkan pandangannya pada Reyhan. Tentu maksudnya adalah Reyhan yang bertanggung jawab. Sofia pun membenturkan kepalanya Reyhan ke tembok dengan keras.
Dan setelah Reyhan jatuh dengan kepalanya yang sudah berdarah, Sofia menarik kerah baju Reyhan kembali. Gadis hantu itu menjerit lagi, kini dengan kata-kata ancaman, "AKAN KU BUNUH KAKAK JAHANAM INI!".
__ADS_1
Tepat saat Sofia akan membunuh Reyhan seperti cara ia membunuh Gio, terdengar suara seseorang memanggil namanya lagi. Kali ini, ini suara laki-laki. Ketika dilihat, ternyata dia adalah...
...^^^...