
Setelah bercerita, Gio malah mentertawakan. Reyhan jadi mengeluh kesal melihatnya, "Kok malah ketawa, sih? It's really-really serious."
Gio menghentikan tawanya dan meminta maaf. Kemudian ia membalas, "Iya-iya aku percaya. Cuman menurut aku, itu bisa jadi halusinasi kamu aja karena jadi kepikiran terus."
"Ini bukan halusinasi, Brow! Ini nyata aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. It's true!"
"Okey, okey kalau emang itu nyata. Makanya lain kali berdoa kalau lagi sendiri gitu. Pasti nggak akan kepikiran lagi."
Reyhan jadi membatu, seperti jadi tak berdaya. Memang susah kalau mengajak serius orang seperti Gio. Padahal dia korban pertama nanti.
Hanya saja, kalau dipikir-pikir dengan akal yang lebih bagus, bisa jadi apa yang Gio katakan itu ada benarnya juga. Bisa jadi, Reyhan terus kepikiran. Dia jadi terus memikirkan hal itu semenjak adanya foto Sofia yang misterius di kamarnya hari itu.
...***...
Kalau sudah diberitahu tapi tak mudah percaya, baiklah. Tak masalah untuk Reyhan. Yang jelas, ia sudah mengingatkan Gio agar berhati-hati jika dirinya sedang sendiri. Karena (seperti yang sudah kita ketahui) diantara 4 pemuda ini, hanya Gio yang masih bujang.
Reyhan sampai di rumah menjelang adzan magrib berkumandang. Mobilnya sudah masuk garasi dengan cepat. Di waktu sudah masuk garasi, Reyhan terdiam sejenak. Barulah 5 detik kemudian ia keluar mobil.
Masuk ke rumah, ia mengucapkan salam pada penghuni rumah. Salma dan Bi Zizah menjawab salamnya. Setelah bersalaman tangan, Salma mengajak ngobrol suaminya itu di sofa. Reyhan yang semula mau masuk kamar, jadi membatalkan niat itu dan duduk di sofa bersama istrinya.
Setelah Reyhan duduk, Salma langsung ke titik pembicaraan, "Gini! Aku udah lapor tentang bunuh dirinya Sofia ke polisi."
Reyhan kaget mendengarnya. Ia pun bertanya, "Hah, polisi? Kenapa nggak tanya aku dulu?".
"Maaflah, aku nggak bilang-bilang kamu dulu! Soalnya, pasti nggak akan kamu izinkan untuk hal ini."
"Emang iya nggak boleh. Lagian, ngapain harus lapor polisi? Apa hubungannya?".
"Lho, emang kenapa? Penyebab dia bunuh diri itu harus tahu penyebabnya, dong! Bukan kepo atau apa. Tapi, ini supaya bisa menenangkan Sofia 'disana'. Akang gimana sih?".
Mampus! Kalau pakai polisi, bisa-bisa Reyhan, Gio, Derry dan Dewa masuk penjara. Artinya, Gio bisa tewas di penjara karena dendamnya Sofia padanya, yang juga jadi pelaku pemerkosaan itu.
Tentu harus tahu penyebab Sofia tewas semaunya sendiri itu. Karena itu cara mati yang bukan hanya tidak wajar. Tapi sudah termasuk melawan Tuhan. Sudah mendahului kehendak-Nya berupa kematian di waktu sebelum Tuhan memanggilnya.
Namun jika sudah diketahui, Reyhan dan teman-temannya bisa kena. Mereka dapat penjara di alam dunia. Belum lagi dapat penjara di akhirat kelak, alias neraka. Apalagi, dapat penjara di alam akhirat waktunya selama-lamanya. Bukan bertahun-tahun atau seumur hidup lagi.
Reyhan pun terdiam. Sampai-sampai Salma memanggilnya, malah diacuhkan. Hingga Reyhan beranjak dari tempat duduknya dan berjalan dengan langkah seperti raksasa yang sudah mengamuk hebat. Ia berjalan marah ke kamarnya, dan menutup pintu kamar dengan bantingan yang keras.
Salma yang mendengarnya hanya mengelus dada sambil mengucap kalimat istighfar tiga kali dengan suara lembut, dan susulan gelengan kepala. Ia jadi merasa aneh dengan suaminya. Dan mulai datang kalimat yang ada di dalam pikirannya:
__ADS_1
'Sepertinya ada yang tidak beres dengan dia!'
...***...
Sementara itu, Gio berada di sebuah bar. Ia sedang asyik mengobrol dengan seorang gadis yang berbadan seksi terbuka. Tak hanya itu. Ia memakai perhiasan emas berupa gelang di tangan kanannya. Bahkan, ia juga memakai anting yang panjang menggantung di kedua telinganya.
Keduanya asyik bercanda tawa. Dan keduanya menari berdansa asyik meriah. Gio ada di bar ini tidak dengan Derry dan Dewa, termasuk juga Reyhan. Gio berdansa sambil mengajak gadis itu minum wine yang ia masukan ke mulutnya langsung dari gelas.
Sementara Gio minum langsung dari botolnya. Ia minum sampai benar-benar bergerak tak karuan, dan keluar dari area musik DJ itu. Ketika sudah mabuk cukup berat, terlihat olehnya dari kejauhan.
Seorang wanita usianya kira-kira seusia dengannya. Wanita itu memakai pakaian seksi juga. Namun, ia tak memakai perhiasan. Wanita itu mengulurkan tangan, dan mengacungkan jari telunjuknya. Ia pun ayun-ayunkan telunjuk itu pada Gio.
Ya, dia seakan-akan meminta agar Gio mendekatinya. Gio terpana, dan pastinya menuruti keinginan wanita itu. Dengan berjalan tak tentu arah karena mabuk, Gio akhirnya sampai juga di pelukannya wanita itu.
"Mabok ya, Mas?" tanya wanita tak dikenal itu manja.
Gio menoleh ke arah wanita yang masih misterius itu, dan menjawab dengan sedikit senyuman, "Ah! Nggak, Cantik! Aku bisa kendalikan kok. Santai aja!".
Wanita itu tersenyum. Kemudian ia dan Gio berjalan bersamaan. Keduanya keluar bar, dan menuju ke area parkir mobil. Gio membawa wanita itu ke dalam mobilnya.
Gio segera memasuki mobilnya, dan mobil pun dinyalakan. Karena sudah biasa membawa mobil dalam keadaan setengah sadar seperti ini, ia bisa mengeluarkan mobilnya dari tempat ia parkir.
Dengan bantuan tukang parkir, Gio mengeluarkan mobilnya. Setelah itu, barulah ia tinggalkan bar dan memberikan uang tip pada tukang parkir itu sebanyak seribuan. Dan Gio menyetir sambil mengajak gadis di sebelahnya itu mengobrol.
"Baru diputusin tadi," jawab wanita itu dengan suara yang dibuat sedih. Murung.
"Cowok payah! Cewek secantik kamu malah diputusin."
"Kamu bisa aja. Nanti bini kamu marah, lho!".
"Nggak usah worry! Aku belum kawin. Serious!".
"Pantas kamu santai-santai aja."
Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya sampailah mereka di rumah. Gio memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Ia tinggal sendirian di rumah mewahnya ini. Kedua orang tuanya sudah meninggal dan ia anak semata wayang.
"Kamu sama aku aja disini! Kamu pasti suka," kata Gio sambil mengajak wanita cantik itu ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di dalam garasinya.
"Rumah kamu mewah, ya!" seru wanita itu memuji.
__ADS_1
"Ah, ini belum seberapa."
Sampai saat akan berduaan di dalam kamar ketika Gio hendak membuka baju untuk memulai aksi biadab itu, wanita itu malah meminta sesuatu. Ia malah minta berenang di kolam renang yang ada di belakang rumahnya Gio ini.
"Hah, renang? Tengah malam gini?" tanya Gio kaget tak percaya.
"Iya. Kita lakukannya di kolam. Mau, ya? Please!" jawab wanita itu dengan tambah manja.
Mau/tak mau, Gio pun menuruti keinginan wanita yang cantik misterius, tapi manja ini. Ia pun meminta wanita itu untuk menunggu di area kolam renang sana. Dan memerintahkan agar ia tidak boleh pergi kemanapun.
Wanita itu senang bukan kepalang, ia menuruti memakai anggukkan kepalanya dengan penuh semangat yang tinggi. Wanita itu pergi ke kolam renang yang ada di halaman belakang rumah Gio.
Lalu Gio masuk ke rumah dan membuka bajunya. Kemudian menukar celananya dengan celana khusus untuk renang. Setelah itu, Gio mengambil handuk dan pergi ke kolam renang miliknya yang tidak terlalu luas itu. Disebelahnya ada kolam ikan.
Mulailah berduaan sambil berenang dengan mesra. Akan tetapi, hal tak menyenangkan terjadi. Inilah momen menegangkan yang ditunggu-tunggu juga. Bagi wanita ini.
Tiba-tiba wanita ini mencekik Gio dengan amat geramnya. Ia marah besar. Gio sudah terbatuk-batuk dan merasa kesakitan di lehernya. Bahkan, ia merasa tulang lehernya seperti sudah mau patah.
Anehnya, wanita ini berkata, "Masih belum menyesal? Sudah memperkosa aku tapi masih belum menyesal, malah tambah tak karuan? HAH?!".
Gio jadi bertanya, "Mak... maksud kamu apa? Si...siapa kamu sebenarnya?".
Wanita itu pun berubah jadi sosok kuntilanak merah. Wajahnya yang putih pucat dan badannya yang setengah hancur dengan baju daster berlengan panjang berwarna merah peka.
Saking marahnya, ia memperlihatkan wajahnya sambil bertanya dengan menjerit, "MASIH TAK KENAL AKU? JANGAN PURA-PURAAA!!!".
Gio melihat kuntilanak merah yang melepas cekikan tangannya dari leher Gio itu, yang sekarang mendekatkan diri pada Gio dengan saking marahnya.
Gio jadi kaget setengah mati melihat sosok asli kuntilanak merah ini.
"So...Sofia!".
Sofia tertawa dengan suara khas seramnya. Ia kembali mencekik leher Gio, kini dengan cekraman yang sangat keras. Gio semakin kesakitan, hingga ia mati-matian melepas cekikan itu sambil meminta ampun pada Sofia.
Namun, Sofia sudah semakin marah. Naasnya lagi, Sofia berkata dengan suara keras, "Tiada ampun lagi bagimu!". Lalu dilemparkannya diri Gio hingga membentur tembok rumahnya dengan keras.
Kepalanya Gio pecah hebat. Darah merah mengalir deras hingga ke kolam renang rumah. Nyawanya sudah pasti tidak tertolong lagi. Gio benar-benar tewas terbunuh oleh kuntilanak merah Sofia sebelum masuk ke balik jeruji besi.
Melihat Gio sudah tak bernyawa lagi, Sofia tertawa lagi dan menghilangkan diri. Satu korban benar-benar sudah dijanjikan Sofia untuk ia bunuh. Bunuh dengan sangat tragis dan mengerikan.
__ADS_1
Siapa lagi korban Sofia berikutnya???
...^^^...