
Aku hanya diam membatu, keringat dingin bercucuran didahi. Bagaimana aku bisa tidur jika tubuhnya begitu nempel di dipunggungku. Pria ini benar-benar meresahkan.
"Tidurlah. Apa yang kamu pikirkan," ucapnya begitu dekat di telingaku sehingga hembusan nafasnya menyapu leherku.
"Bagaimana aku bisa tidur jika kamu seperti ini," jawabku sembari menarik diri agar menjauh.
"Kenapa memangnya denganku, apa yang salah?" tanyanya kembali, seakan kami adalah pasangan harmonis yang penuh kemesraan.
"Mas, sumpah aku tidak nyaman seperti ini," rengekku penuh rasa gusar.
"Benarkah? Tapi dulu saat kamu datang padaku, kamu nyaman-nyaman saja, bahkan menikmati sentuhanku."
Aku segera menarik diri dengan kuat dan menjauh darinya. Ku ubah posisi tubuh menghadap padanya. Kini tatapan kami bertemu, dia menatapku begitu tajam seakan tidak rela melepaskan aku.
"Kapan kamu melihat aku nyaman saat disentuh olehmu? Apakah kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu, hatiku hancur, aku jijik dengan segala sentuhan Pria sepertimu, aku bagaikan menggengam bara api. Andai saja dirimu adalah hakim yang amanah, mungkin aku tidak perlu berkorban sejauh itu. Dengan kecuranganmu membuatku juga melakukan segala cara demi mendapatkan keadilan untuk kedua orangtuaku, meskipun harus menukar dengan tubuhku.
Tak terasa cairan bening menetes disudut mata, hatiku kembali nyeri saat mengungkit masalalu yang menyakitkan itu. Dia tidak tahu bagaimana aku berjuang untuk terlepas dari hal yang begitu mengguncang jiwa.
Dia segera duduk, menatapku dengan dalam, tangannya terulur ingin menyentuh wajahku, tetapi aku segera menyembunyikan dibalik bantal. Aku tidak mau lagi disentuh olehnya.
Beberapa menit, aku mendengar tapakan langkah, dan terdengar pula suara putaran kenop pintu menuju balkon. Aku menyingkirkan bantal penutup wajah, dan mengintip dengan perlahan. Ternyata dia duduk disana seorang diri.
Entah apa yang sedang dia pikirkan disana, aku duduk perlahan mencari posisi nyaman dengan bersandar pada Headboard, menatap langit-langit kamar itu. Aku tidak tahu bagaimana hubungan ini kedepannya.
__ADS_1
Aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi, kenapa Tuhan mempertemukan aku kembali dengannya. Apakah aku bisa bahagia hidup dengan Pria yang tak aku cintai?
Seharusnya aku tidak boleh meragukan segala sesuatu yang telah Allah tetapkan dalam hidupku. Aku harus menerima dengan ikhlas. Selagi dia memperlakukan putraku dengan baik, apa salahnya aku juga mencoba untuk menjadi istri yang baik meskipun aku tidak mempunyai perasaan apapun.
Ah entahlah, aku tidak ingin terlalu berpikir jauh, bagaimana jika dia tak menginginkan hal itu dariku. Aku ikut saja apa maunya, asalkan dia tak menyakiti anakku. Semua butuh waktu untuk proses perbaikan hati yang sudah rusak.
Lama aku duduk sendiri dalam keseorangan, rasa kantuk mulai merajai, aku kembali berbaring memeluk Zafran dengan lembut. Tak perlu lama aku sudah berada di alam mimpi.
[POV Zico Hamdi]
Perasaan bahagia menghampiri saat dia memanggilku dengan panggilan "Mas" Rasanya hormon kebahagiaanku membubung keluar. Bolehkah aku untuk berekspektasi sedikit saja, berharap wanita yang berstatus sebagai istriku ini juga mempunyai perasaan padaku walaupun tidak banyak.
Terlalu bahagia sehingga aku ingin sekali lagi dia mengucapkan hal itu. Ya, meskipun nada bicaranya masih jutek, sungguh tak mengurangi rasa bahagiaku dalam hati. Tetapi aku yang selalu menjunjung tinggi nilai egoku, maka tidak akan pernah memperlihatkan padanya rasa bahagia itu.
Ah, bolehkah aku menjadi lelaki yang sedikit posesif? Aku rasa tentu saja boleh, karena aku berhak atas dirinya sekarang. Andai saja dulu aku tahu bahwa wanita yang bernama Azzurri itu adalah dia, maka aku tidak akan membiarkan dia menikah dengan Pria lain, tak akan aku biarkan dirinya disentuh oleh Pria itu.
Tetapi semua sudah berlalu, sekarang dia sudah menjadi milikku seutuhnya, aku tidak akan membiarkan mantan suaminya itu mengambilnya kembali dariku. Aku akan berusaha menyingkirkan Pria itu dari hati istriku.
Pria itu tak pantas untuk dicintai oleh istriku. Pria bodoh yang telah menyia-nyiakan wanita seperti Zahira, aku akan mengambil hatinya dan anaknya. Tetapi jujur, aku merasa ada yang mengganjal dalam hati saat menatap wajah Zafran, kenapa rasanya wajah bayi mungil itu menyerupai wajahku saat bayi.
Aku sempat berpikir bahwa bayi itu milikku, ah, tapi rasanya itu tidak mungkin. Mana mungkin Zahira bisa hamil hanya melakukan sekali saja denganku. Lagipula jika benar, tidak mungkin Zahira menutupi dariku.
Selesai makan, aku beranjak menuju ruang kerja, aku membiarkan istriku yang keras kepala itu kembali ke kamar. Aku menyibukkan diri dengan email-email yang masuk. Sudah beberapa hari ini aku mengabaikan perusahaan demi membersamai wanita keras kepala itu.
__ADS_1
Aku tidak terlalu khawatir, karena semua masih bisa ku atasi melalui sekertaris pribadiku. Tetapi tugasku di Pengadilan Negri tidak bisa kuabaikan selain mengajukan cuti untuk satu minggu ini.
Terkadang aku tersenyum mentertawakan diriku sendiri yang kini seperti orang bodoh demi wanita yang menyembunyikan kecantikan di balik cadarnya itu. Aku yang selama ini tak pernah tertarik dengan wanita manapun sehingga desas-desus miring acap kali menghampiri, mereka meragukan kejantananku, tetapi sejak kehadiran Zahira dalam hidupku, dan saat dia datang memberikan aku rasa yang memabukkan, maka mulai saat itu aku tidak bisa melupakannya barang sedetikpun, hingga takdir mempertemukan aku kembali dengannya. Dan tentu saja aku tidak akan rela melepaskan dia kembali dari hidupku, aku sangat menggilainya.
Aku sengaja belum memberitahukan kepada Mama dan Papa prihal hubunganku dan Zahira yang sudah menjadi pasangan suami istri. Aku akan memperkenalkan Zahira pada kedua orangtuaku bila aku telah berhasil meluluhkan hati wanita itu.
Mungkin ini akan menjadi suatu kejutan untuk kedua orangtuaku, aku sudah membayangkan bagaimana ekspresi wajah Mama saat mengetahui bahwa anaknya yang disangkakan berkelainan itu, kini sudah mempunyai istri. Apalagi jika aku berhasil membuat wanita itu mengandung benihku.
Ah, ya ampun Zico. Sadar, jangan terlalu tinggi berhayal, sekarang pikirkan bagaimana cara membuat wanita itu agar hatinya sedikit melunak. Ingatlah, wanita itu tipe keras kepala. Jika kamu paksa dia akan semakin keras jatuhnya pasrah dengan kebencian dan amarah yang menyala. Jika dilembutkan, dia akan melawanmu dengan apa yang menurutnya benar.
Aku larut dalam lamunan, sehingga aku mengabaikan pekerjaanku begitu saja. Aku masih memikirkan cara untuk mendapatkan hati istriku yang keras kepala itu.
Merasa tak mendapat ide, aku menyudahi lamunan dan segera beranjak menuju kamar, sepertinya aku harus mencari tempat tidur untuk menghilangkan segala lelah hari ini setelah menghadapi banyaknya kegiatan yang cukup menguras pikiran dan tenaga.
Saat masuk, aku melihat wajah cantik natural itu tidur begitu lelap, ku amati wajah kedua insan yang aku sayangi. Ah, andai saja hatimu sama dengan hatiku, Dek, maka aku adalah orang yang paling bahagia.
Aku mengambil posisi berbaring di belakangnya, semula aku tak ingin mengganggu ketenangan istriku, tetapi pesonanya itu yang membuat nalarku tak bisa sinkron dengan hati.
Aroma tubuhnya menggetarkan hatiku, tanpa sadar aku segera memeluknya dari belakang. Aku menikmati keringat dipadu dengan parfum yang menempel di tubuhnya membuat anggota tubuhku merespon dengan baik, apalagi senjata andalanku yang sering mendapatkan fitnah karena disangka tak tertantang dengan wanita cantik diluaran sana.
Tapi lihatlah sekarang, dia begitu sensitif saat bersentuhan dengan wanita ini. Rasanya kepalaku mulai kliyengan saat tak mendapatkan perlawanan. Tidak, tidak. Aku tidak boleh memaksanya, aku tidak ingin dia semakin membenciku. Bersabarlah wahai engkau anak kecil, ada masanya kamu melalui lorong itu.
Bersambung.....
__ADS_1
Happy reading 🥰