
"Hah!" Zahira terjingkat kaget dengan wajah berkeringat dingin. "Ti-tidak ada apa-apa Mas," jawabnya sembari menyembunyikan benda perekam itu dibelakang tubuhnya. Tentu saja sang Hakim tidak akan mempercayai kata-kata wanita yang tampak sangat mencurigakan.
"Itu apa yang ada di tangan kamu?" tanya Zi penuh selidik sembari mendekat.
"Tidak ada apa-apa, Mas," jawab Zahira masih takut dan mundur kebelakang.
"Apa sih, Dek? Kamu kok aneh begitu, emang nyembunyiin apa dari aku?" tanyanya semakin curiga.
"Nggak ada Mas," jawab Zahira sudah jelas berbohong.
"Iya, apa?"
"Nggak ada!" Zahira semakin mundur.
"Dek, ih, kamu aneh banget." Zico masih mengejar hingga wanita itu mentok di dinding.
Perlahan Pria itu membaringkan Putranya diatas ranjang, lalu mendekati sang istri yang terlihat sangat aneh gerak geriknya.
Zico mendekat hingga mengikis jarak, kedua tangannya memenjarakan tubuh ramping wanita kesayangannya yang begitu menggemaskan sikapnya siang ini.
"Dek, bisa lihat benda apa yang ada di tanganmu?" tanya Zico dengan senyum lembut.
"Nggak ada, Mas. Udah, kamu awas, aku ingin keluar," ujarnya meminta ruang.
"Berikan dulu barang bukti itu," ucap Zi menatap dengan senyum jahil.
"Ba-barang bukti apa? Nggak ada, ih, awas Mas!" Zahira mendorong tubuh Pria dewasa itu dengan gemas.
"Terus, kenapa kamu harus setakut itu, hmm?" Zico mengecup pipi Zahira dengan sayang.
"Iya, nggak ada apa-apa, Mas, ini hanya..." Zahira masih berusaha mengelak, tetapi bibirnya berhenti bicara karena Zico terlebih dahulu memeluk dan mengambil paksa benda itu.
"Mas Zi! Berikan padaku!" pekik wanita itu begitu parno sembari berusaha merebutnya.
"Handycam? ada rahasia apa didalamnya, apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Pria itu menatap curiga.
__ADS_1
"Bu-bukan Mas, aku tidak menyembunyikan apapun darimu," jawabnya serius.
"Benarkah? Lantas kenapa kamu harus takut begini?" tanyanya masih curiga.
"Siniin Mas, ndeh, ayo dong Mas, berikan padaku," lirih wanita itu memohon. Ia begitu malu seandainya Pria itu melihat adegan yang berdurasi hampir satu jam itu.
"Iya, aku akan berikan, tapi kamu harus jujur padaku dulu. Katan Dek, ada apa didalamnya," ucap Zico masih meninggikan benda itu dari jangkauan sang istri. Pikiran Pria itu sudah merewang kemana-mana.
"Baiklah, aku akan jujur, tapi kamu harus janji akan memberikannya," ujar Zahira mengalah.
"Oke, katakan?"
"Itu adalah rekaman video kita waktu di hotel," jawab Zahira tertunduk malu.
"Ka-kamu serius? Berarti kamu bohong sama aku yang katanya sudah dihapus. Ya ampun, Dek, gemas banget sama tingkah kamu itu. Yaudah biar Mas lihat dulu."
"Nggak mau! kamu udah janji. Haaa... Jangan curang Mas, aku malu!" rengek wanita sembari mencak-mencak.
"Hahaha... Kenapa harus malu, Sayang? Toh selama ini kita sudah sering melakukan adegan itu. Udah nggak apa-apa, aku ingin melihat bagaimana ekspresi wajah kamu saat itu," ujar Zi merasa mendapat tontonan bagus.
Zico hanya terpaku, bagaimana harus menyikapi. Kalau dihapus sayang banget, rasanya begitu penasaran ingin melihat. Lagian kenapa harus malu, bukankah sudah pasangan suami istri.
"Dek, dengarin Mas dulu! Mas hanya ingin lihat sebentar saja, janji, setelah itu dihapus deh," ucap Zico mengejar langkah istrinya berusaha meyakinkan.
"Nggak mau! Pokonya hapus, berikan sama aku Mas. Aku nggak percaya sama kamu!" Pinta wanita itu dengan kekesalannya.
"Sayang, aku janji akan menghapusnya, tapi aku benar-benar penasaran ingin lihat sebentar saja, nanti aku Next biar nggak terlalu tampak jelas," ujar Zico masih merayu dengan dalih dipercepat cara menontonnya.
"Yaudah, sini biar aku yang mutarin," Zahira meminta alat perekam video itu.
"Hahaha ... Aku nggak percaya, nanti kalau sudah ditangan kamu pasti dihapus permanen," kekeh Pria itu merasa curiga melihat gerak gerik sang istri yang mencurigakan.
"Nggak Mas, aku tuh mana pernah bohong seperti kamu," balas Zahira menatap masih dengan wajah cemberut.
"Siapa bilang kamu tidak bohong, nyatanya video ini masih kamu simpan, katanya sudah dihapus," jelas Pria itu.
__ADS_1
"Ya kali aku percaya begitu saja dengan kamu, Mas, waktu itu aku belum tahu niat dan tujuan kamu yang sebenarnya, makanya aku berbohong," ungkapnya jujur.
"Nih, tapi janji ya, Sayang?" ujar Zico menyerahkan benda itu.
"Iya, tapi nggak boleh lama, hanya sebentar."
"Baiklah, kalau begitu ayo kita ziarah ke makam ayah dan ibu," ajak Zico tak ingin membuang waktu, karena hari sudah mulai beranjak petang, tak baik juga membawa anak bayi ke makam bila terlalu sore.
Pasangan itu segera menuju TPU dimana tempat Ayah dan Ibu dimakamkan. Zahira berjalan terlebih dahulu menuju rumah terakhir kedua orangtuanya. Wanita itu duduk diantara makam ayah dan ibunya.
"Assalamualaikum, Ayah, Ibu. Tak terasa ya, sudah hampir dua tahun kita tak lagi bertemu. Aku sangat merindukan Ayah dan Ibu. Sudah dua kali ramadhan kita tak bersama, berbahagialah di alam sana, aku hanya bisa mengirim Do'a, semoga Allah limpahkan rahmat-Nya, dan dilapangkan kubur ayah dan ibu."
"Oya, Bu, Yah, aku ingin memperkenalkan kedua lelaki kesayanganku. Lihatlah bayi mungil ini, dia adalah cucu Ibu dan Ayah, dan Pria yang tampan itu adalah suamiku, mungkin Ayah dan Ibu sudah tahu siapa dia. Aku percaya Ayah dan Ibu pasti sudah memaafkannya, karena dia begitu menyayangi aku."
Zahira memperkenalkan kedua lelaki itu pada kedua orangtuanya. Rasa sedih dan haru begitu terasa. Zico segera berjongkok disamping sang istri untuk menyapa kedua almarhum mertuanya.
"Assalamualaikum, Yah, Bu, izinkan aku menantu kalian yang banyak dosa ini memohon maaf, maafkan kesalahanku yang pernah melukai perasaan anak Ayah dan Ibu sehingga suatu hal terjadi diantara kami, yang sebenarnya sangat bertolak dengan hati kecilnya. Tapi aku berjanji akan menebus segala kesalahanku, aku akan membahagiakan Zahira, tolong ridhoi pernikahan kami," ucap Pria itu pada kedua batu nisan itu.
Setelah menyapa dan memperkenalkan diri pada kedua orangtuanya, pasangan itu mengakhiri dengan membaca Yasin dan mengirimkan Do'a.
Selesai ziarah kubur, kini mereka mencari sebuah hotel tempat menginap, karena hari sudah cukup sore, jadi mereka memutuskan untuk menginap satu malam.
Setibanya di hotel, Zahira segera bersih-bersih dan melaksanakan sholat magrib secara bergantian, karena bayi mungil itu tak bisa dibiarkan sendiri tanpa pengawasan.
Selesai sholat, Zahira kembali merapikan peralatan ibadahnya. Sementara Zico masih sibuk dengan pangeran kecil mereka yang sudah mulai aktif.
Zahira ikut merebah di samping bayi mungil itu. Tak terasa matanya sangat berat ingin segera menemui mimpi. Tanpa sadar wanita itu sudah terlelap, mungkin karena lelah di perjalanan.
Zico mengingat benda perekam video itu ada di tas selempang sang istri, Pria itu segera mengambilnya dan mengisi daya terlebih dahulu, menjelang terisi, ia segera membuatkan sufor untuk Zafran yang sudah mulai rewel bertanda bahwa bayi itu sudah mengantuk.
Zico menimang Zafran dengan lembut sehingga bayi itu mulai terlena, dan terlelap dengan tenang. Seketika senyum Pria itu mengembang.
"Hah, akhirnya anak dan ibunya sudah terlelap. Kini giliran aku yang beraksi," ujar Pria itu tersenyum sumringah.
Bersambung.....
__ADS_1
Happy reading 🥰