Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 38


__ADS_3

Hari ini adalah sidang putusan pengadilan negeri tentang kasus percobaan pembunuhan terhadap Ketua Hakim Zico Hamdi, namun serangan itu mengenai istrinya hingga kini masih koma. Pria itu adalah adik kandung terdakwa kasus pencucian uang yang pernah ditangani oleh Zico beberapa bulan yang lalu.


Motifnya adalah dendam dan sakit hati karena Zico menolak mentah sogokan dari mereka untuk menjatuhi hukuman ringan. Zico sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Ia ingin menjadi Hakim yang amanah.


Setelah nyata, menimbang segala bukti yang ada, maka Hakim menjatuhkan hukuman mati sesuai pasal yang berlaku, apalagi percobaan pembunuhan terhadap seorang Hakim ketua, tentu saja hukumannya tidak main-main.


Zico keluar dari ruang sidang dengan didampingi dua orang ajudannya. Pria itu segera menuju RS untuk menemani sang istri yang belum juga sadar.


"Dek, mau sampai kapan kamu tidurnya? Aku kangen banget sama suara, senyum, marah, pokoknya semua yang ada pada dirimu. Ayo dong, Sayang, bangun Dek. Anak kita sudah kangen ingin dipeluk kamu."


Zico masih selalu membujuk sang istri untuk bangun, terkadang segala cara ia lakukan memancing respon tubuh wanita itu agar cepat siuman. Tapi Zahira masih betah dalam dunianya.


"Sayang, kenapa kamu keras kepala sekali? Aku minta kamu bangun sekarang! Jika kamu tidak bangun, aku akan membawa Zafran jauh darimu. Aku akan mencarikan dia Umi yang baru," ujar Pria itu menakuti sang istri.


Zico berpikir, hanya hal itu yang selama ini membuat Zahira paling takut, yaitu kehilangan Zafran. Maka dari itu ia mencoba untuk mengatakan sedemikian, berharap wanita itu menanggapi ucapannya.


Merasa tak ada respon apapun, Zico beranjak menuju kamar mandi, sepertinya ia harus menyiram kepala agar otak sedikit lebih fresh. Selesai mandi dan berganti pakaian, Pria itu duduk di sofa sembari mengerjakan tugas-tugasnya yang di kantor.


Selama Zahira di RS, Zico menyerahkan semua tugas kantor pada asistennya, tak terkecuali tugasnya di pengadilan negeri, bagaimanapun juga ia harus konsisten sebagai seorang Hakim agung.


Saat sedang fokus menatap layar tipis itu, suara vibrasi ponselnya mengalihkan perhatian. Zico segera menerima panggilan itu. Ternyata panggilan dari pihak RS yang ada di Singapore.


Zico memutuskan untuk membawa Zahira ke luar negeri, dari informasi yang dia dapat di Singapore pengobatannya cukup bagus, tak ada salahnya mencoba demi kesembuhan sang istri.


Selesai menerima telepon, Zico menutup kembali laptopnya. Kembali mendekati bad pasien tempat istrinya terbaring. Ia menarik sebuah kursi disamping tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya disana.

__ADS_1


"Sayang, aku akan membawa kamu keluar negeri, jika disini kamu masih betah untuk tidur, semoga saja Dokter disana bisa membangunkan kamu," ujar Pria itu memberitahu sang istri untuk kepindahannya.


Zico meraih tangan pucat nan dingin itu. Berulang kali mengecupnya. "Dek, udah dong tidurnya. Aku kangen banget sama kamu, kenapa kamu tega sekali membiarakan aku dalam keresahan dan ketakutan seperti ini," curhat Pria itu pada sang istri dengan kepala menunduk, dan bertumpu pada besi pembatas tempat tidur.


Saat Pria itu masih larut dengan perasaannya sendiri, terasa tangan Zahira menggengam tangannya. Seketika wajahnya mendongak melihat apa yang baru saja ia rasakan, Zico terkesiap melihat kenyataan yang ada dihadapannya, lalu menatap wajah sang istri.


Perlahan mata itu terbuka dan mengerjap dengan pelan. Zico masih terpaku melihatnya, ini rasanya bagaikan mimpi.


"Sayang, kamu sudah bangun, Alhamdulillah ya Allah. Kamu benar-benar sudah bangun Dek?" tanya Pria itu masih belum percaya, tangannya membelai anak rambutnya yang sedikit berantakan. Berulang kali memberi kecupan diwajah pucat itu.


"Sayang, sebentar aku panggil Dokter ya," ucapnya hampir lupa untuk memeriksa kondisi sang istri, karena saking bahagianya.


"Dok, istri saya sudah sadar, tolong periksa," ucap Pria itu pada sang Dokter yang berjalan mengikutinya masuk keruang rawat.


"Sebentar saya periksa dulu ya, Pak." Dokter itu segera memeriksa kondisi Zahira dengan seksama. Senyum tipis membingkai di bibir seorang Dokter perempuan yang selama ini menangani Zahira.


Zahira menggelengkan kepala. "Tidak Dok," lirihnya dengan suara begitu pelan.


"Syukurlah, jika merasakan sesuatu beritahu saya ya, Bu," jelas Dokter sembari membuka oksigen.


Zahira mengangguk pelan, dan dibarengi ucapan terima kasih oleh Zico pada sang Dokter.


"Terimakasih, Dok, akan saya beritahu jika istri saya merasakan sesuatu," ujar Zi pada Dokter.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Mari." Dokter segera meninggalkan kamar rawat itu.

__ADS_1


Setelah Dokter pergi, kini tinggal pasangan itu. Zico berjalan mendekati sang istri dengan senyum bahagia. Pria itu duduk mendekatkan kursinya pada lebih merapat pada tempat tidur.


"Sayang, aku senang banget setelah dua purnama kamu tak melihat dunia ini," ujar Zico sembari mengecup kening dan bibir sekilas. Rasanya sudah rindu sekali dengan bibir mungil itu.


"Mas, Zafran mana?" tanya Zahira begitu pelan hampir tak terdengar.


"Zafran ada sama Mama, Sayang, nanti aku minta Mama bawa kesini. Kamu jangan khawatir, Putra kita baik-baik saja," jelasnya meyakinkan wanita kesayangannya.


"Kamu tidak akan membawanya jauh dariku kan?" tanyanya membuat Zico tersenyum.


"Ternyata kamu dengar apa yang aku katakan, kalau kamu masih betah tidur, maka aku akan melakukannya," ucap Pria itu masih mengguraui wanita cantik itu.


"Silahkan kamu cari wanita lain, tapi jangan ambil Zafran dari aku," ucapnya dengan wajah sendu.


Zico menatap wajah Ibu dari anaknya, mana mungkin dia mau mencari wanita pengganti, sampai kapanpun hanya dialah wanita yang menempati hatinya.


"Sayang, kenapa kamu begitu pasrah? Apakah kamu tidak mencintai aku? Tak ada terlihat rasa cemburu diwajahmu," tanya Pria itu sembari mengecup punggung tangan istrinya.


"Aku tidak bisa menahan dirimu, Mas, karena aku sadar telah mengabaikan kewajibanku selama ini sebagai seorang istri. Kamu berhak menentukan kebahagiaanmu," lirihnya dengan mata berkaca-kaca. Tak bisa dipungkiri bahwa rasa cinta sudah tumbuh pada Pria yang begitu penuh perhatian dan kasih sayang, dirinya juga dapat merasakan betapa sabarnya sang suami mengurus selama dirinya terbaring di RS.


"Dek, aku ingin sekali melihat dan mendengar kata-kata cemburu dari bibirmu. Entah kenapa aku merasa sampai saat ini cintaku masih bertepuk sebelah tangan, apakah semua yang kamu lakukan hanya bentuk kewajiban dan tanggung jawab saja?" tanya Zico salah persepsi pada wanita cantik itu.


Zahira meraih tangan suaminya yang tampak begitu sedih dan berharap. "Mas, aku mencintai kamu, kamu jangan salah mengartikan sikapku yang tampak acuh seolah tak berharap. Semua aku lakukan karena sengaja membentengi diri sendiri, aku takut suatu saat kamu pergi meninggalkan aku. Karena aku merasa kita tidak sepadan. Aku hanya seorang anak yatim-piatu, sedangkan kamu, kamu adalah seorang Pria yang mempunyai kekuasaan, dan hubungan kita juga berawal dari sebuah kesalahan. Hatiku masih ragu bila kamu benar-benar mencintai aku dengan tulus."


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2