
Sudah satu bulan lamanya Adri dan Mila menjalani rumah tangga tanpa restu dari sang Mama. Wanita baya itu bertambah kesal saat mengetahui bahwa putranya telah melangsungkan pernikahan dengan gadis yang tak ia sukai.
"Aku berangkat ya, Sayang, kamu dirumah jangan banyak pikiran, jangan kemana-mana," pesan Adri sebelum berangkat.
"Ya, Mas. Kamu hati-hati kerjanya ya, hari ini jauh lokasinya?" tanya Mila pada sang suami.
"Iya, Dek, ada dua Rig yang beroperasi daerah balam. Mungkin aku pulangnya agak malam," jelas Pria itu memberitahu lokasi yang akan ia kunjungi.
"Yaudah, kamu hati-hati ya, jangan lupa safety."
"Siap, Bu komandan!" selorohnya sembari mengecup kening dan bibir wanita kesayangannya itu.
Setelah melepaskan kepergian suaminya, Mila Kembali masuk kedalam kamar. Seperti niat yang telah ia tanamkan dalam hati, yaitu ia berniat untuk mengunjungi kediaman Mama mertua yang kini sedang sakit.
Mila ingin bicara pada Mama, meskipun tak akan diterima kehadirannya, namun sebagai seorang menantu ia harus menghormati dan menyayangi, karena bagaimanapun juga dialah wanita yang telah melahirkan lelaki baik itu.
Mila memesan taksi online untuk menyambangi kediaman Ibu mertuanya. Setibanya disana ia disambut dengan baik oleh Art rumah itu.
"Bik, Mama mana?" tanya Mila sembari menenteng buah-buahan untuk Mama.
"Ibu ada dikamar, Mbak," jawab Bibik tersenyum ramah.
"Baiklah, kalau begitu aku naik keatas dulu ya." Mila segera naik kelantai dua menuju kamar Mama.
Tok! Tok!
"Masuk!" titah wanita itu yang belum tahu siapa yang ingin masuk.
"Assalamualaikum, Mama," ucap Mila berusaha mengukir senyum manis, meskipun dihatinya sedang diliput rasa takut. Namun ia hilangkan demi ingin membangun silahturahmi yang baik dengan wanita yang telah melahirkan suaminya yang cukup sempurna baginya.
"Wa'alaikumsalam..." Mama menjawab seadanya.
"Untuk apa kamu datang kesini?" tanya Mama dengan nada tak suka.
"Aku ingin jenguk Mama, apakah Mama sudah makan? Oya, aku bawa kue kesukaan Mama. Mama cobain ya," ucap wanita itu berusaha untuk membujuk.
"Tidak usah. Aku tidak suka!" tolak Mama menatap tak suka.
__ADS_1
"Mama harus cobain, biar Mama cepat sembuh. Mana tahu setelah makan kue bawaan aku Mama bisa sembuh."
"Untuk apa kamu repot-repot datang kesini? Apakah kamu ada niat tertentu?" tanya wanita baya itu curiga.
"Tentu saja aku mempunyai niat tertentu, yaitu biar Mama cepat sembuh. Biar Mama punya energi untuk memarahi aku lagi. Pokoknya kalau Mama sembuh aku akan mengunjungi Mama setiap hari, aku ikhlas dimarahi Mama asalkan Mama tidak membenciku," ucap wanita hamil itu tersenyum lembut sembari duduk di bibir ranjang.
Mama tak lagi menyahut, namun tatapannya tak mampu ia ekspresikan. Mila membuka cup cake yang tadi ia beli, lalu memotongnya dan menaruh kedalam piring kecil.
"Ayo Mama cobain, Mama pasti suka," ucapnya masih berusaha membujuk.
"Aku tidak mau!" tolak Mama dengan menahan sendok yang mengarah ke mulutnya.
Mila masih tersenyum sembari menaruh piring itu diatas nakas. Ia menatap wajah wanita yang sudah banyak berjasa dalam melahirkan dan membesarkan sang suami.
"Ma, aku tahu Mama tidak menyukai aku sebagai menantu Mama. Tapi, tolong beri aku waktu untuk menjadi menantu yang seperti Mama inginkan. Coba katakan padaku, Ma. Apa yang harus aku lakukan untuk Mama?" tanya Mila menatap sedih.
"Bagaimana jika aku menginginkan agar kamu pergi dari kehidupan Adri?" ucap Mama yang membuat Mila terdiam sejenak.
"Baiklah, jika itu yang Mama inginkan. Tapi beri aku waktu hingga anakku lahir ya, Ma, aku berjanji akan pergi dari kehidupan Mas Adri untuk selamanya. Andai aku bisa meminta saat aku melahirkan nanti, sekiranya Tuhan Sudi untuk mengambil nyawaku, agar Mas Adri kembali pada Mama. Andai Tuhan mengabulkan doaku, tolong jaga anakku, Ma, Mama boleh benci aku, tapi tolong benci anakku juga," Mila dengan deraian air mata.
Seketika Mama menatap haru pada anak menantunya itu. "Kenapa kamu berdo'a buruk seperti itu?" tanya Mama tak mengerti.
"Apakah kamu benar-benar menyayangi anak Mama?" tanya Mama dengan nada lembut.
"Aku sangat menyayangi Mas Adri, Ma. Tolong jangan benci aku, Ma, aku akan melakukan apa saja untuk Mama asalkan jangan minta aku untuk pergi meninggalkannya," ujar wanita itu kembali sembari menangkup kedua telapak tangannya.
Dengan perlahan wanita baya itu menggenggam tangan Mila. "Nak, maafkan Mama, maaf karena Mama sudah menghalangi kebahagiaan kalian. Mama sadar bahwa kebahagiaan anak Mama ada bersamamu," ucap Mama menitikkan air mata.
Mila menatap tak percaya, rasanya seperti mimpi mendengar ucapan Mama. Ia berusaha untuk meyakinkan hati bahwa apa yang baru saja ia dengar bukanlah mimpi.
"Apakah Mama sudah bisa memaafkan aku?" tanya Mila ingin meyakinkan sekali lagi.
"Kamu tidak salah, Nak, Mama yang harus meminta maaf. Sekarang Mama sudah merestui kalian. Mama berdo'a semoga rumah tangga kalian bahagia untuk selamanya."
Mila tak kuasa menahan tangis harunya. Ia kembali menumpahkan air mata "Mama, terimakasih banyak, Ma. Hiks... Kenapa ini masih berasa mimpi," ucap wanita itu dalam tangisnya.
Mama memeluk anak menantu satu-satunya. Ia mengusap dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Jangan menangis, Nak. Ini bukan bukan mimpi. Mama telah menyadari kesalahan Mama. Berbahagialah, mulai sekarang kamu jangan banyak pikiran, kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik, biar cucu Mama lahir dengan sehat."
Mila tak bisa berkata apa-apa, ia hanya mengangguk dan tersenyum bahagia dalam pelukan Mama mertua.
Sementara itu sehabis magrib Adri baru saja sampai dirumah. Pria itu segera masuk menuju kamar.
"Sayang, aku pulang," serunya saat masuk. Namun terlihat sepi, lampu kamar juga tak menyala. Adri segera menghidupkan lampu itu, tak terlihat ada orang dikamar itu.
"Bik! Bibik!" Panggil Adri pada Art.
"Ya, Pak?" tanya wanita baya itu.
"Istri saya mana, Bik?"
"Bu Mila tadi pagi pergi, Pak."
"Pergi? Pergi kemana, Bik?" tanya Adri tampak cemas.
"Kata Bu Mila kerumah mertuanya," jawab Bibik dengan jujur.
"Mertua? Maksud Bibik kerumah Mama?" tanya Adri memastikan.
"Benar, Pak."
Adri segera menghubungi Mila dengan perasaan kacau. Ia takut jika Mama akan berbuat sesuatu padanya.
"Ya Allah, kenapa tidak diangkat sih!" Pria itu kembali meraih kunci mobil, dan segera memacu kendaraannya menuju kediaman orangtuanya.
Setibanya disana Adri segera masuk bahkan ia sampai lupa mengucapkan salam.
"Mila! Sayang!" panggilnya dengan langkah lebar.
"Den, Adri!" ucap Art saat melihat majikan laki-lakinya.
"Buk, mana istri aku?" tanya Adri masih dengan rasa takut.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰