
Ayah dan ibu terduduk lemas diatas sofa yang ada diruang tamu itu. Hati mereka hancur saat mengetahui anak gadisnya telah hamil diluar nikah. Tak tahu harus bagaimana, emosipun tak akan menyelesaikan masalah.
Mereka menyadari bahwa ini semua bukan kesalahan dari pasangan itu, mereka juga salah akan hal ini. Karena telah menghalangi niat baik anaknya yang ingin melakukan ibadah dengan cara membuat hubungan mereka menjadi halal.
Ayah menghela nafas dalam, meskipun berat, ia tak mempunyai pilihan lain, yaitu harus segera mungkin menikahkan putrinya. Meskipun tanpa restu calon besannya.
"Persiapkan diri kalian, nanti malam kalian harus segera menikah," ujar ayah datar dengan raut wajah kecewa.
Adri dan Mila saling pandang. Mila tak kuasa menahan air matanya, ia segera bersimpuh di kaki ayah dan ibu untuk memohon maaf atas apa yang telah terjadi pada dirinya saat ini.
"Ibu, Ayah, maafkan Onang, maaf bila Onang sudah membuat ayah dan ibu kecewa. Hiks Hiks..." Tangis wanita itu pecah sembari memeluk kaki ibu.
Ibu menyusut air matanya yang sedari tadi mengalir. Tak bisa berbuat apa-apa selain merestui dan memaafkan. Seburuk apapun prilakunya dia tetap anaknya, darah dagingnya yang tak akan mungkin bisa ia campakkan.
"Bangunlah, Nak, ayo duduk disini." Ibu membantu Mila untuk duduk disampingnya.
"Sudah, jangan menangis lagi, ibu sudah memaafkan kamu, ini semua bukan kesalahan kamu. Kami sebagai orangtua juga salah karena begitu teguh dengan pendirian sehingga kami lupa akibat yang akan terjadi, ya, inilah akibatnya," ujar ibu menyadari kesalahannya.
__ADS_1
Adri menunduk dan segera memohon maaf pada kedua orangtua calon istrinya itu. Hatinya juga diliputi oleh rasa bersalah yang begitu besar. Karena ia menyadari kesalahan ini adalah dirinya yang membuat. Namun tak bisa berbuat apa-apa karena semua telah terjadi, ia benar-benar tak ingin berpisah dari sang kekasih.
Malam itu juga ijab qobul dilangsungkan. Meskipun beragam macam kicauan dari tetangga dan sanak saudara, namun Ibu dan Ayah tak lagi ambil pusing. Bagi mereka yang penting pasangan itu segera menjadi halal.
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
"Sah!"
Ucapan syukur mereka serukan bersama, dan dilangsungkan dengan bacaan Do'a oleh pak penghulu. Setelah itu Adri menyematkan cincin kawin pada Mila. Adri dan Mila tampak berkaca-kaca. Tak menyangka pada akhirnya mereka menjadi pasangan suami istri dengan cara seperti ini.
Adri mengecup kening istrinya dan mendekap dengan erat. "Maafkan aku telah membuat kekacauan seperti ini dalam keluarga kamu, Sayang," lirihnya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Mila.
"Sudah, Mas, jangan bicara seperti itu. Semua telah terjadi, aku sudah ikhlas menjalani semuanya. Kita akan selalu bersama untuk selamanya," bisik Mila menenangkan hati suaminya yang masih diliputi oleh rasa bersalah.
"Terimakasih, Dek. Aku janji akan selalu membahagiakan kamu dan anak-anak kita kelak. Kamu jangan pernah takut ya, hanya kamu prioritasku," janji Pria itu yang membuat Mila mengangguk bahagia.
__ADS_1
Semua tamu sudah pulang, kini hanya tinggal keluarga itu yang masih berada di ruang tamu. Mila dan Adri hanya terdiam duduk. Sementara ayah dan ibu hanya saling pandang, entah apa yang ada dalam pikiran mereka.
"Adri, besok pagi bawalah Mila bersamamu. Kalian harus pergi dari kampung ini. Ayah dan ibu tak ingin mendengar bermacam cacian dan hinaan pada kalian berdua. Pergilah untuk sementara waktu. Jika ada waktu biarkan kami yang berkunjung kesana," jelas ayah yang membuat hati pasangan itu semakin ngilu dan sedih.
Mila hanya bisa menangis tertunduk. Tak tahu harus berbuat apa. Ia benar-benar telah membuat ayah dan ibu malu.
"Sudah, Nak, jangan sedih. Ibu dan ayah sudah memaafkan kalian berdua, jadi kamu jangan banyak pikiran. Kamu harus fokus dengan kandungan kamu," ujar ibu membawa putrinya dalam dekapan.
"Maafkan Onang, Bu, maaf, sudah mencoreng arang diwajah ibu dan ayah," ucap wanita itu dengan tersedu sedan.
"Sudah, Nak, jangan bicara seperti itu. Semua sudah terjadi, tak ada yang harus disesali."
Ibu dan ayah berusaha untuk menenangkan anak perempuannya. Mereka berusaha agar tetap terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya mental mereka juga sangat terguncang dengan kejadian ini. Namun demi melihat anak dan menantu agar tetap bahagia maka mereka berusaha untuk tetap kuat dan tegar.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1