
Mila hanya berdiam diri dikamar, wanita itu enggan untuk bergerak. Perasaannya masih entah. Tak tahu harus bagaimana menyikapi hal ini. Ada rasa kecewa atas sikap kedua orangtuanya, namun apa yang dikatakan oleh Ayah dan Ibu memang benar, menikah tanpa restu orangtua tidak akan bahagia.
"Mila!" panggil Ibu dari luar sembari mengetuk pintu kamar anak gadisnya.
"Iya, Bu!" Dengan malas-malasan wanita itu membukakan pintu kamarnya.
"Ibu boleh masuk?" tanya wanita baya itu, ia tahu bahwa anak gadisnya sedang bersedih hati.
Mila hanya mengangguk, Ibu masuk duduk di bibir ranjang. Mila hanya diam, sisa air mata masih tampak di netranya.
"Onang, marah sama Ibu dan Ayah?" tanya wanita baya itu pada Putri sulungnya.
"Ah, ti-tidak Bu," jawab Mila sembari menunduk.
"Onang, Ayah dan Ibu hanya ingin yang terbaik untuk dirimu. Kami tidak ingin melihat kamu menderita," ujar Ibu sembari memeluk anak gadisnya.
"Iya, Bu, Onang ngerti," jawab Mila dengan lirih
Setelah merasa lebih tenang, Ibu kembali keluar dari kamar Mila. Sebenarnya tak tega dengan kesedihan putrinya, tapi lebih baik sedih sekarang daripada nanti setelah menikah.
Sementara itu Adri yang baru saja sampai di kediaman orangtuanya kembali terkena cecaran pertanyaan dari sang Mama. Pria itu berusaha untuk tenang, ia tak ingin membuat suasana semakin panas.
"Jawab, Adri! Kamu kemana? Kenapa kamu tidak pulang satu minggu ini?" tanya Mama masih mengintrogasi.
"Aku ke Sumbar, Ma, aku mengantarkan Mila pulang," jawab Pria itu dengan jujur.
"Bagus! Mama sudah bilang, sampai kapanpun Mama tidak akan pernah merestui kamu dengan wanita miskin itu!" sentak Mama berapi-api.
"Emang kenapa jika dia miskin, Ma? Apakah ada larangannya bila sikaya dan simiskin menikah? Apa yang salah? Dimata tuhan kita semua sama, Ma. Aku mohon, tolong Restui kami," ujar Pria itu, dari nada tinggi kini mulai melunak demi melenturkan hati sang Mama.
"Tidak! Sampai kapanpun Mama tidak akan pernah merestui hubungan kamu dan wanita itu!" tegas wanita itu.
Adri menatap wanita yang telah melahirkannya itu. Tak habis pikir kenapa sikapnya dan Mama bertolak belakang. "Baiklah, aku juga tegaskan pada Mama, aku tidak akan menikah dengan wanita manapun, selain Mila!" balas Pria itu tak kalah tegas.
__ADS_1
Adri segera beranjak meninggalkan kediaman orangtuanya. Pria itu ingin pulang kekediamannya sendiri. Niat awal tak ingin berdebat, tetapi sikap Mama yang begitu keras membuat emosinya tak dapat ditahan.
Begitulah hari-hari yang dilalui oleh Adri maupun Mila. Adri masih berusaha membujuk Mama agar bisa merestui, namun sampai saat ini tak jua ia dapatkan.
"Tak terasa sudah enam bulan berlalu, Adri merasa lelah, hatinya mulai menyerah, ia sudah tak ingin lagi memaksakan kehendak. Pria itu hanya berserah kepada Allah. Jika jodoh, Allah pasti mempunyai cara untuk mempertemukan mereka kembali.
Hari-hari yang di lalui Pria itu terasa hampa tanpa kehadiran sang kekasih. Biasanya saat dia sedang rehat tugas, maka akan mendatangi kantin dimana wanita itu bekerja. Namun setelah hal itu terjadi, Mila tak lagi di perbolehkan untuk bekerja di sana, karena kedua orangtuanya tidak percaya bila mereka tak bertemu dan kembali merajut kasih.
Lima bulan tak ada komunikasi membuat hati Mila sudah mulai terbiasa tanpa kabar dari Adri, Mila juga sudah pasrah dengan hubungannya. Gadis itu sudah mulai ikhlas bila hubungan mereka berakhir.
Saat gadis itu sedang melamun, vibrasi ponselnya mengusik lamunan. Mila segera melihat siapa orang yang menghubunginya. Mbak Amera, majikannya di kota Duri, yaitu yang mempunyai kantin di PT PHR.
"Assalamualaikum, Mbak."
"Wa'alaikumsalam, Mila apa kabar?" tanya wanita itu di seberang telpon.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja Mbak."
"Mil, Mbak minta tolong, kamu bantu Mbak untuk satu bulan ini ya? Mbak benar-benar repot," ujar wanita itu.
"Iya, Mbak tahu, tapi untuk kali ini saja Mbak minta tolong banget, menjelang Mbak dapat anggota baru," ujar Mbak Amera.
Mila terdiam sejenak, rasa tak enak untuk menolak, namun harus bicara apa pada Ibu dan Ayah.
"Bagaimana, Mila?" tanya Mbak Amera masih nada memohon.
"Ah, ba-baiklah Mbak. Tapi sesuai janji Mbak Ame ya, aku hanya bisa bantu satu bulan ini," ujar Mila menyanggupi permintaan Mbak Amera.
Mila segera bicara pada Ibu dan Ayah tentang niatnya yang ingin kembali bekerja di tempat semula, dan tentu saja kedua orangtuanya sangat keberatan, tetapi Mila berusaha untuk meyakinkan bahwa dirinya hanya merasa tidak enak pada mantan majikannya yang lama.
"Baiklah, jika memang begitu katamu, tapi ingat Onang, kamu harus bisa jaga sikap, jangan pernah memulainya Kembali bila kamu tak ingin kecewa dan terluka!" tegas Ayah memperingati.
"Baik, Yah, Onang paham," ujar gadis itu mengerti dengan nasehat sang Ayah.
__ADS_1
Gadis itu segera bersiap untuk berangkat ke Riau menaiki travel yang akan mengantarkannya ke kota Duri. Mila sudah bertekad untuk tak lagi bawa perasaan bila bertemu dengan Adri. Bagaimanapun ia harus bisa menjaga perasaannya agar tak lagi menjalin hubungan.
Pagi ini Adri sudah bersiap berangkat kerja, yaitu menuju lokasi pengeboran minyak yang ada di kilometer sepuluh Rangau. Pria itu tak sempat sarapan, karena buru-buru karena ada sedikit masalah di lapangan.
Sudah beberapa bulan Pria itu tak pernah pulang kekediaman orangtuanya, karena tak ingin lagi berdebat dengan sang Mama. Adri menempati rumahnya sendiri, lebih nyaman tak lagi mendengar ocehan wanita baya itu.
Siang selesai dari lokasi, Adri mendatangi kantin Mbak Amera, seperti biasa yaitu untuk mengisi kampung tengahnya yang sudah minta untuk di kenyangkan. Kantin itu memang sudah biasa di singgahi oleh petinggi-petinggi dari PT PHR (Pertamina Hulu Rokan)
"Mbak, seperti biasanya ya," ujar Adri memesan makanan dengan menu kesukaannya.
"Baiklah, tanggu sebentar ya Mas Adri." Perempuan itu segera menyediakan makanan untuk Bapak HES yang sudah duduk tenang di meja pojok.
"Mil, tolong anterin makanan ini untuk yayangmu ya," ujar Mbak Amera mengguraui Mila, wanita itu memang belum tahu prahara hubungan yang terhalang Restu orangtua.
Seketika jantung Mila berasa ingin lompat saat melihat sosok Pria yang sebenarnya jauh dilubuk hatinya sangat ia rindukan. Mila berusaha untuk menekan perasaannya, ia sudah berjanji untuk tak lagi terbawa perasaan.
"Silahkan Mas," ucap Mila menyajikan makanan itu dimeja. Seketika tangan Pria itu berhenti saat sedang berselancar di Dunia Maya.
"Mila!" serunya dengan raut wajah begitu kaget, tangan Pria itu sudah bergerak ingin menyentuh tangan Mila.
"Maaf Mas, tolong jangan sentuh aku," ujarnya membuat rasa kecewa dihati Adri.
"Mila, kenapa bicara seperti ini? Aku tahu kamu pasti masih sangat merindukan aku 'kan?" ujarnya menebak dengan benar, tetapi gadis itu sangat pandai menyembunyikan perasaannya.
"Tidak Mas, aku sudah tak punya perasaan apa-apa lagi padamu. Hubungan kita sudah selesai. Aku sudah di jodohkan oleh kedua orangtuaku," ujarnya membuat Adri tak percaya sembari menggelengkan kepala.
"Tidak! Aku tidak percaya jika kamu sudah bertunangan dan melupakan aku!" sanggah Adri tak percaya dengan ucapan Mila.
"Tapi memang kenyataannya begitu Mas. Toh sudah beberapa bulan aku menunggu, tapi kamu tidak berhasil mendapatkan restu dari Mama kamu 'kan? Jadi aku harus menerima pinangan lelaki lain," jelas wanita itu berbohong dengan perasaan kecewa.
"Dek, aku tahu bahwa aku memang belum berhasil mendapatkan restu Mama, tapi aku sungguh tak bisa harus melepaskan dirimu. Tolong, tolong jangan menikah dengan orang lain, menikahlah denganku, aku berjanji akan membahagiakan kamu,"
"Maaf, Mas, aku tidak bisa!" Mila segera meninggalkan Pria itu dengan hati yang masih kecewa.
__ADS_1
Mendadak selera makan Pria itu hilang. Tak tahu harus berbuat apa. Perasaannya bercampur baur. Hatinya gundah gulana.