Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 57


__ADS_3

Demi memenuhi keinginan Mila, Adri mengikuti saran pemilik toko oleh-oleh itu, ia mencari penginapan yang dekat. Lagipula hari sudah malam, kondisi Mila juga kurang sehat.


"Sayang, ayo istirahat," ujar Adri mempersilahkan Mila untuk merebahkan diri diatas ranjang hotel itu.


"Gadis itu hanya terdiam di tempatnya berdiri, tak tahu harus berbuat apa, ia takut Adri akan mengulangi perbuatannya.


"Jangan takut, Dek, aku tidak akan melakukannya kembali sebelum kamu sah menjadi istriku. Apa yang pernah kuperbuat hanya karena aku takut kehilanganmu," jelas Pria itu yang sudah bisa membaca pikiran calon istrinya itu.


Mila menghela nafas berat. Ya, sebenarnya ia percaya dengan Pria itu, namun alasan yang dikemukakan oleh Adri membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Ditambah sekarang tidak tahu dengan kondisinya. Apakah benar ia sedang hamil? Ah, entahlah.


Mila naik keatas ranjang, segera merebahkan diri untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Adri yang duduk diatas bibir ranjang mengelus rambut sang kekasih dengan lembut.


"Jangan takut ya, maaf jika perbuatan aku sudah menghilangkan rasa percaya kamu," lirih Adri yang ikut merebah disampingnya. "Aku tahu perbuatan aku sangat tercela, Dek, tapi sungguh aku tak bisa berpisah darimu," ungkapnya sembari memeluk Mila dengan erat.


Mila tak kuasa menahan air matanya, tak pernah berpikir hal seperti ini harus terjadi padanya. Kenapa rasanya sulit sekali mendapatkan restu orangtua sehingga lelaki itu mengambil jalan pintas.


"Aku cemas, Mas. Bagaimana jika benar aku hamil?" tanya wanita itu dengan lirih. Ia memutar tubuhnya menghadap pada sang kekasih sehingga matanya yang basah membuat Adri segera menyusut.


"Sayang, jangan terlalu banyak pikiran, aku sudah katakan bahwa kita akan segera menikah. Sudah ya, jangan menangis lagi. Jika benar kamu hamil, maka itu akan berdampak buruk pada bayi kita," ujarnya sembari mengusap perut datar Mila.

__ADS_1


"Mas, aku ingin membuktikan kebenarannya, kita cari bidan di daerah sini yuk," ajak Mila yang sangat penasaran dengan kondisinya saat ini.


"Kamu yakin? Kalau memang benar, kamu tidak boleh panik ya?"


"Baiklah, aku janji tidak akan melakukan itu," jawab Mila sudah pasrah dan ikhlas menerima kehadiran bayi itu diwaktu yang belum tepat.


"Oke, ayo kita pergi sekarang." Pria itu membantu wanitanya untuk bangun.


"Kenapa ke Bidan, Dek? Kenapa kita tidak ke RS saja?" tanya Adri masih fokus mengendarai mobilnya


"Rumah sakit jam segini nggak ada Dokter kandungan lagi, Mas. Lagian kita hanya cek hamil. Bidan juga bisa," jelas Mila.


Tak terlalu jauh, setelah menanyakan pada salah satu warga dimana praktek Bidan, akhirnya pasangan itu sampai juga di tempat itu.


"Silahkan, Bu, apa yang bisa saya bantu?" tanya Bu Bidan dengan ramah mempersilahkan Adri dan Mila untuk duduk.


"Ah, begini Bu Bidan, saya tiba-tiba merasa pusing dan mual. Dan saya sudah telat satu minggu," jelas Mila sebenarnya sangat malu, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan menganggap bahwa mereka sudah pasangan suami istri.


"Baiklah, mari kita tespeck dulu ya."

__ADS_1


Mila mengangguk paham apa yang dijelaskan oleh Bu Bidan, ia segera masuk kamar mandi dan menampung urinenya untuk memastikan bahwa dirinya hamil atau tidak.


Pasangan belum halal itu menatap dengan seksama saat benda pipih itu di celupkan kedalam urine yang telah ditampung.


Seketika mata Mila melebar sempurna saat melihat strip dua muncul di alat penguji kehamilan itu.


Mila menutup mulutnya tak kuasa menahan rasa syok melihat kenyataan yang ada. Adri segera merengkuh bahu sang kekasih. Ia tahu Mila masih tak percaya.


"Bagaimana dengan hasilnya Bu Bidan?" tanya Adri ingin mendengar penjelasan Bu Bidan.


"Alhamdulillah, hasilnya positif ya. Selamat ya, Pak, Bu," ujar Bidan itu memberi selamat.


"Ah, ya terimakasih, Bu Bidan."


Adri segera membayar biaya pemeriksaan itu, dan membawa Mila beranjak kembali ke hotel tempat mereka menginap. Wanita itu masih diam, ia tidak tahu harus bagaimana mengeksprersikan perasaannya saat ini.


"Dek, apakah kamu tidak menginginkan bayi itu?" tanya Adri menatap entah pada wanita yang ada disampingnya. Bukankah tadi dia sudah berjanji tidak akan menyesali jika mengetahui yang sebenarnya.


Bersambung ...

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2