Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 62


__ADS_3

"Non Mila ada di kamar Ibuk, Den," jawab Bibik dengan jujur.


Adri tak lagi menjawab, ia segera melangkah naik kelantai dua menuju kamar sang Mama. Saat ia ingin membuka pintu kamar itu, sesaat ia terdiam sejenak untuk mendengarkan percakapan dua wanita yang beda generasi itu.


"Udah, Nak, Mama udah kenyang," ucap Mama menolak saat Mila masih memaksa Mama untuk menyuapinya.


"Satu kali lagi, Ma. Satu ini udah," ujarnya mengarahkan sendok yang berisi makanan itu kemulut Mama.


Dengan terpaksa Mama mengikuti keinginan anak menantunya itu. Mila tak hentinya tersenyum bahagia kepada Mama mertua yang telah sudi menerima dirinya sebagai menantu.


"Assalamualaikum..." Adri masuk dengan ucapan salam.


"Wa'alaikumsalam, Mas Adri!" ucap Mila sedikit terjingkat saat melihat kehadiran sang suami.


"Kenapa kamu tak memberiku kabar jika ingin kerumah Mama?" tanya Adri berlagak tidak tahu.


"Maaf ya, Mas, aku takut kamu akan melarang aku, tapi sekarang Mama sudah bisa terima aku kok, Mas," jelas Mila meyakinkan suaminya.


"Jadi kamu sengaja melarang Mila untuk datang kerumah Mama?" sambung Mama pada putranya.


"Ah, Mama." Adri segera menyongsong sang Mama, ia ingin meminta maaf karena selama ini hubungan mereka memang cukup renggang sejak Mama menantang hubungan mereka.


"Mama, aku minta maaf, tolong maafkan aku, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk menjauh dari Mama, aku hanya tidak ingin hubungan Mama dan Mila jadi semakin tidak baik," jelasnya sembari bersimpuh dibawah ranjang dan memeluk kedua kaki sang Mama.


Mama mengusap kepala Adri dengan lembut. Berulang kali wanita baya itu mengecupnya. Ternyata putranya masih sama seperti yang dulu, namun karena keegoisannya membuat sang anak menjadi jauh.


Mama menyadari kesalahannya yang tak bisa memahami keinginan sang putra. Padahal keinginan itu sangat sederhana, yaitu ingin direstui dengan wanita yang dia cintai.


"Jangan meminta maaf, Nak, karena semua ini adalah kesalahan Mama. Seharusnya Mama tidak melakukan hal ini padamu. Maafkan segala keegoisan Mama," lirihnya dengan uraian air mata.


Mama meraih Pria itu untuk duduk disampingnya. Dengan lembut tangannya membelai kedua pipinya. Adri memegang kedua tangan Mama, lalu mengecupnya, ia begitu rindu belaian sang Ibu.

__ADS_1


"Aku tahu Mama ingin yang terbaik untuk diriku, tapi percayalah, Ma, aku tak menginginkan apapun. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama wanita yang aku cintai. Hanya itu Ma," ucap Adri dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Mama menyadari semua itu, Nak. Sekarang Mama telah merestui hubungan kamu dan Mila, Mama akan selalu berdo'a agar rumah tangga kalian bahagia untuk selamanya," ujar Mama dengan tulus.


"Aamiin ya Allah. Terimakasih Do'anya, Mama. Aku sangat merindukan Mama." Adri membawa wanita kesayangannya itu masuk kedalam dekapannya. Sudah lama sekali ia merindukan momen seperti ini.


Mama menangis dalam pelukan anak semata wayangnya itu. Ia tak ingin lagi mengulangi kesalahan yang akan membuatnya dibenci oleh anak atau bahkan nanti di benci oleh cucu-cucunya.


Mila yang menyaksikan momen mengharu biru itu, ia juga tak kuasa menahan air mata sehingga di kedua sudut pipinya telah basah dengan tetesan cairan bening itu.


"Nak, kesinilah!" panggil Mama yang membuat Mila segera menghapus air matanya, lalu duduk disamping Mama.


"Sekali lagi Mama minta maaf ya karena telah bersikap tidak baik denganmu. Mulai sekarang kalian berbahagialah. Mama tidak akan pernah mengulangi perbuatan yang akan merugikan diri Mama sendiri. Kamu jangan takut untuk sering-sering datang mengunjungi Mama," pesan wanita baya itu pada anak menantunya.


"Mama jangan risaukan itu, aku tidak akan pernah takut untuk selalu datang kesini. Bahkan tadi aku berusaha untuk menekan rasa takut itu. Karena aku yakin bahwa Mama mempunyai hati yang lembut, aku juga tahu apa yang Mama lakukan hanya ingin melihat Mas Adri bahagia."


"Ya, kamu benar sekali, tapi kebahagiaan Adri hanya ada bersamamu. Jadi tetaplah berbahagia, Nak. Do'a Mama akan selalu mengiringi perjalanan rumah tangga kalian."


Kini pasangan itu tengah dirundung bahagia. Mereka sengaja menginap malam itu dirumah Mama untuk melepaskan rindu.


***


Jika Adri dan Mila tengah bahagia, berbeda dengan pasangan Pak Hakim Zico. Pagi ini sang istri kembali mendrama. Pasalnya dengan kandungannya yang sudah menunggu hari, namun wanita itu masih tak ingin ditinggal kerja oleh sang suami.


"Dek, hari ini jadwal aku sangat padat. Jadi aku tidak bisa pastikan untuk pulang cepat. Kamu dirumah saja ya, kasihan bayi kita kelelahan," ucap Zi masih berusaha membujuknya.


"Nggak mau, Mas. Aku tidak apa-apa, masih kuat kok duduk berlama-lama," jawabnya yang membuat Abi tak habis pikir. Kandungan Zahira kali ini benar-benar begitu manja, dia tidak bisa lepas barang sebentar saja dari pengawasannya.


Zico tak menyahut lagi, rasanya percuma saja bicara, tapi tak akan pernah di dengarkan. Zico meraih handuk yang tersampir, lalu segera beranjak masuk kedalam kamar mandi.


"Mas Zi, kamu marah sama aku, Mas?" ucap Zahira sembari mengikuti langkah Pria itu masuk kamar mandi.

__ADS_1


"Nggak, Dek," jawab Zi singkat. Tak ingin menanggapi ia segera membuka pakaian tidurnya, dan segera masuk kebilik shower.


"Ish, kok jawabnya cuma begitu, Mas?" rengek wanita itu yang ikut masuk kedalam bilik shower.


Zico yang sedang mengatur suhu air shower itu menghentikan pergerakan tangannya. "Ya ampun, Dek. Awas dulu Mas mau mandi," ucapnya meminta ibu dari anaknya itu untuk keluar.


"Nggak mau, kamu pasti lagi kesal sama aku 'kan?" tanyanya yang masih berdiri dihadapan Pria itu.


Zico menatap tak percaya, kenapa istrinya itu begitu keras kepala? Tetiba muncul ide kejahilannya.


"Kalau tidak mau keluar, ayo sini bantu untuk menyabuni punggung aku," ucap Zi meraih tangan sang istri, lalu mengarahkan pada miliknya yang sudah mengeras sempurna.


"Mas Zi! Ih, apaan sih! Ini bukan punggunglah," rutunya menatap kesal pada sang suami.


"Lagian salah sendiri, ngapain coba masuk kesini. Dengan senang hati aku melayani," ucapnya dengan senyum menggoda. Zi mendekati Zahira yang sudah mentok Kedinding kaca.


"Hehe, nggak usah Ngadi-ngadi kamu, Mas. Aku kesini bukan menginginkan hal ini," ucap Zahira sembari mendorong tubuh suaminya agar sedikit menjarak.


Zico tak menghiraukan ucapan istrinya, tatapannya membuat nyali wanita hamil itu menciut. Zahira mendorong tubuhnya sedikit lebih kuat.


"Mas Zi, nggak usah aneh-aneh deh, Mas."


"Kenapa, Sayang, kita sudah lama tidak melakukannya disini. Atau kita coba di bathtub saja. Kamu tunggu disini ya, aku akan mengisi air dan menuang sabun kesukaanmu," ucap Zi semakin membuat Zahira ingin segera kabur.


Bersambung....


Happy reading 🥰


Oya, mampir yuk ke Novel baru author


__ADS_1


__ADS_2