Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bang Zaf bertemu Adek Zhera


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Zahira terbangun karena mendengar tangisan bayinya. Ia ingin mengambilnya tetapi tidak bisa, karena Zico tidur di sampingnya menghalangi pergerakannya. Dengan terpaksa ia membangunkan lelaki itu. Sebenarnya tidak tega karena Zico baru saja tidur setelah semalaman begadang.


"Mas Zi, bangun sebentar, Mas. Bayi kita sepertinya sudah haus ingin ASI," ucap Zahira sembari mengusap pipi suaminya dengan lembut.


"Ya, Sayang. Jam berapa ini?" tanya Zico dengan mata sepet.


"Jam setengah enam, Mas," jawab Zahira.


Terdengar suara tangisan bayi mereka semakin kencang sehingga membuat Zico bergegas turun dari tempat tidur istrinya, lalu meraih bayi merah itu di dalam boks.


"Kenapa kesayangan, Abi, Haus ya? Uuu cup cup," Zico segera menimang bayi itu sembari menyerahkan pada Zahira.


Setelah menyerahkan baby Zhera pada ibunya, Zi segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dan berwudhu untuk melaksanakan ibadah dua rakaat.


Selesai sholat, ia menghampiri istri dan anaknya yang sedang bercengkrama. Pria itu ikut bergabung sehingga membuat suasana hati wanita itu semakin bahagia.


"Sayangnya Abang Zaf tidak ada disini. Kalau ada tentu kebahagiaan kita lengkap ya, Mas," ucap Zahira tersenyum manis.


"Nanti Abang kesini sama Oma, Abang pasti senang sekali bisa bertemu sama Adek Zhera," jawab Abi sembari mengusak pipi mulus putrinya.


"Selamat pagi, Bu Zurra, Pak Zico!" sapa dua orang perawat masuk kedalam ruangan itu.


"Pagi, Sus!" jawab Zahira tersenyum ramah di balik niqabnya.


"Kita mandiin baby Zhera dulu ya, Bu," ucap perawat itu kembali.


"Oh, baik Sus." Zahira menyerahkan bayinya untuk di bersihkan oleh perawat. Sementara perawat yang satunya lagi sedang memeriksa kondisi Zahira.


"Bagaimana dengan kondisi istri saya, Sus?" tanya Zico.


"Alhamdulillah semuanya sudah baik ya, Pak. Kan Bu Zahira melahirkan secara normal, maka cepat pulih," jawab perawat itu sembari mengemas peralatannya.


"Kapan istri saya bisa pulang?"


"Kalau itu, nanti Bapak tanya sama Dokter, karena yang memberi izin dia."


"Oh baiklah. terimakasih."


"Sama-sama, Pak. Mari Bu Zurra," pamit sang perawat.


"Ya, Sus, terimakasih banyak."


Sembari menunggu baby Zhera selesai di mandikan, Zico mengambil kesempatan untuk duduk disamping istrinya.


"Mas, lapar," rengek wanita itu.


"Sabar, Dek, bentar lagi datang makanan buat kamu," jawab Zi sembari memperbaiki hijab istrinya yang sedikit kusut.


"Aku bosan makanan rumahan sakit, Mas. Rasanya hambar semua, terus nggak pake micin," celoteh wanita itu yang membuat Zico terkekeh.

__ADS_1


"Hahaha... Dasar pecinta micin. Tentu saja makanan RS tidak menggunakan micin, karena makanannya sehat," ucap Zi mengusak kepala istrinya dengan gemas.


"Ck, awas, Mas," Zahira menyingkirkan telapak tangan suaminya yang merusuh.


Zi membawa wanita itu masuk kedalam pelukannya, lalu membuka kain penutup wajahnya dan menghujani dengan kecupan berulang kali.


"Mas, udah. Nanti suster masuk," intrupsi wanita itu sembari mendorong tubuh suaminya agar sedikit menjauh.


"Biarin, habisnya aku gemas sama cewek micin ini," kelakar Zi yang mendapat cubitan dari Zahira.


"Biarin, kamu tuh ya, padahal wajah kamu juga micin. Coba aja kalau aku masak nggak pake micin, kamunya pasti protes. "Berasa ada yang kurang rasa masakan kamu" Benar nggak, Hmm!" Zahira kembali mencubit perut suaminya.


"Hahaha... Iya, Sayang. ampun!" Zico mencoba mengatur nafasnya.


"Mau sarapan apa, Sayang?" tanya Zi sembari mengecup kening istrinya.


"Bubur ayam, Mas. Tapi kuahnya banyakin, jangan di aduk. Aku nggak suka," request wanita itu.


"Oke, Sayang. Mas tinggal sebentar nggak pa-pa 'kan?"


"Iya, tapi jangan lama. Hehe." Wanita itu cengengesan.


"Nggak, cuma dua puluh menit," jawab Zi sudah bersiap.


"Dua puluh menit lama banget, Mas, mau ngapain aja kamu diluar?" tanya Zahira curiga.


"Masya Allah, ya nggak ngapa-ngapain, Dek. Mana tahu banyak pembeli yang antri jadinya kan harus nunggu dulu," jawab Zi semakin heran melihat tingkah istrinya yang semakin hari semakin tidak mau ia tinggalkan.


"Loh, Pak Iwan kan dirumah, Sayang," jawab Zi.


"Ya nggak apa-apa, tinggal suruh beli bubur terus anterin ke RS," timpalnya.


"Kamu ini kenapa sih, Dek? Kok sekarang aneh banget," ucap Zi kembali mendekati wanitanya.


"Nggak pa-pa, Mas. Emangnya kenapa dengan aku? Kamu nggak suka ya Mas, jika aku terlalu manja?" tanya Zahira menatap manik indah pria itu.


"Bukan tidak suka, Sayang. Tapi rasanya aneh saja. Karena dulu kamu tidak seperti sekarang ini," jawab Zi jujur. Sedikit kurang nyaman karena sikap istrinya kelewat posesif.


"Yaudah, kalau begitu aku minta maaf, sana pergi beliin aku bubur ayamnya," jawab Zahira santai. Namun, Zico tahu dibalik sikap acuh wanita itu tersirat makna yang tertentu.


"Kamu marah, Sayang?" tanya Zi menatap dalam.


"Kamu ini gimana sih maunya, Mas? kamu nggak suka aku terlalu kelewat manja, sekali aku turuti, kamu malah bilang aku marah. Ya nggaklah, mana ada aku marah," ujar wanita itu acuh.


"Serius nggak marah?" tanya Zi sedikit cemas.


"Nggak, Mas. Udah sana, aku sudah lapar," jawabnya dengan senyuman.


"Oke, Sayang. Pergi bentar ya Janji nggak akan lama," ucap Zi.

__ADS_1


"Lama juga nggak pa-pa, Mas."


Zico kembali berbalik menatap wajah sang istri. Rasanya lebih seram lagi bila sikap wanita itu berubah menjadi dingin.


"Dek, jangan gini dong." Zico segera menghubungi Pak Iwan, yaitu supir pribadinya untuk membelikan pesanan sang istri.


"Kok nggak jadi?" tanya wanita itu.


"Nggak, aku disini saja nemenin kamu," jawab Zi sembari menikmati kopi yang tadi ia pesan di kantin.


Zahira tersenyum samar melihat raut wajah suaminya. "Siapa suruh minta aku acuh," gumamnya dalam hati.


"Mau mandi, Sayang?" tanya Zi mendekati bad pasien.


"Hmm, kayaknya kesempatan mandi sebelum baby Zhera datang," jawab Zahira.


"Sebentar aku atur suhu air mandi kamu dulu ya." Pria itu segera masuk kedalam kamar mandi, tak berselang lama sudah kembali untuk membantu sang istri memapahnya.


Selesai mandi, suster datang membawa baby Zhera. Zahira menerimanya dengan senyum senang.


"Terimakasih, suster. Sekarang Adek Zhera sudah wangi dan cantik," ucap Zahira.


"Sama-sama. Kalau begitu saya keluar dulu ya, Bu."


"Ya, Sus, mari!"


Zahira segera memberi bayinya ASI. Sementara Zico sibuk dengan Mack books di pangkuannya.


Saat pasangan itu sibuk dengan aktivitas masing-masing, terdengar ucapan salam dari putra sulungnya.


"Assalamualaikum, Abi, Umi!"


"Wa'alaikumsalam, hai, Abang Zaf sudah datang!" seru Zico menghentikan pekerjaannya, lalu menyongsong putranya segera menggendong dan menghujani dengan kecupan di wajah mungilnya sehingga membuat bocah itu terkekeh.


"Abi, lepas. Abang mau lihat dedek bayi," rengeknya.


"Zico, lepaskan. Zaf ingin lihat adiknya," ucap Mama memukul bahu putranya.


"Hahaha... Baiklah, Sayang. Ayo kita lihat dedek bayi." Zico segera membawa Zafran bertemu dengan adiknya yang sedang menikmati ASI sang Ibu.


Zahira tersenyum bahagia menyambut kedatangan putra sulungnya, tak lupa memberi kecupan terlebih dahulu di kedua pipi gembul bocah itu.


Zafran sejenak terdiam saat mengamati makhluk mungil yang ada dalam pangkuan sang Ibu.


"Hei, kenapa diam? Ini adek Bang Zaf," ucap Zico membuyarkan lamunan bocah itu."


Seketika bocah itu tersenyum, lalu mencoba menoel pipi lembut adiknya. Zafran masih malu-malu untuk menyayangi sang adik.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2