Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 54


__ADS_3

Adri tersenyum gemas mendengar ucapan wanita itu. "Mana mungkin aku melakukan hal itu disini, Dek. Mending aku bawa kamu kerumah kembali," jawab Adri membuat Mila menatap tajam.


"Hehe, canda Sayang, aku tidak akan pernah melakukannya bila tak mendesak. Karena aku kehabisan cara untuk menghadapi kamu," jelas Pria itu dengan serius.


"Mas, kamu tidak akan pernah meninggalkan aku 'kan?" tanya Mila cemas.


"Aku berani bersumpah demi apapun, Dek, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Aku benar-benar ingin membina rumah tangga bersamamu, kita akan membesarkan buah cinta kita hingga menua bersama," ungkap Pria itu dengan serius.


Mila tersenyum lega mendengar ungkapan Pria itu. Entah kenapa sejak kejadian malam kemarin membuat hatinya selalu diliputi rasa takut. Ya, ia takut bila sewaktu-waktu Adri pergi meninggalkan dirinya yang sudah rusak masa depannya.


"Sudah, kamu jangan takut ya. Katakan apa yang perlu aku lakukan untuk membuatmu percaya?"


"Kenapa kamu tidak mampu meminta restu dari Mama kamu Mas? Bagaimana jika nanti setelah menikah beliau masih tak bisa menerima kehadiranku?" tanya Mila dengan raut wajah sendu.


"Aku akan membawamu pergi dari sini, Dek, aku tidak akan membiarkan Mama menyakiti dirimu. Tak mengapa bila Mama membuangku sebagai seorang anak. Sungguh aku tak mampu memenuhi permintaannya. Biarlah aku pergi, bukan niatku untuk melawan dan menjadi anak tak berbakti. Tapi aku juga berhak untuk bahagia."


Mila menatap sedih mendengar curahan hati sang kekasih, segitu besar pengorbanannya demi mempertahankan cinta mereka. Ia juga merasa serba salah.


Cukup lama pasangan itu ngobrol, hingga tak terasa hari sudah larut malam. Adri menyudahi obrolan mereka, karena ia akan kembali ke lokasi untuk mengawasi Rig pengeboran yang sedang beroperasi di lapangan.


"Tidur ya, jangan banyak pikiran. Jangan meragukan perasaanku padamu. Hanya namamu yang menempati hatiku," ujar Pria itu sebelum beranjak.


Mila hanya mengangguk percaya dengan segala ucapan Pria itu. Jejak sayang ia dapatkan dari sang kekasih sebelum beranjak meninggalkan dirinya.


"Hati-hati dalam bekerja ya, Mas," pesan Mila menyalami tangan kekasihnya.


"Ya, Sayang. Masuklah, segera istirahat. Jangan lupa dimakan cemilan dan buahnya. Kalau sudah beraksi obatnya segera telpon aku," ucap Adri masih mengguraui sang kekasih.


"Mas Adri!" sentak wanita itu dengan kesal sembari memukul bahunya dengan gemas.

__ADS_1


"Hahaha... Bercanda, Sayang. Yaudah, aku pergi ya." Pria itu menggusal mahkota wanita itu dengan lembut dan segera beranjak memasuki mobilnya.


Mila juga masuk dan menempati kamarnya untuk segera mencari kenyamanan menemui mimpinya. Rasanya begitu lelah hari ini, yaitu bukan lelah fisik saja, tapi hati dan pikiran juga lelah.


Disebuah rumah mewah yang ada disebuah kompleks elite. Malam ini terjadi drama yang membuat otak Zico pusing tujuh keliling menghadapi kelakuan sang istri yang sudah beberapa hari ini bersikap aneh.


"Mas Zi, bangun Mas! Aku pengen martabak manis," seru Zahira membangunkan suaminya yang serba mendadak meminta sesuatu di tengah malam.


"Apa sih, Dek? Aku ngantuk banget. Jam berapa ini kamu minta martabak," gumam Pria itu dengan suara berat.


"Mas, aku pengen martabak. Pokoknya aku maunya sekarang, Titik."


Zico membuka matanya dengan sempurna saat mendengar suara sang istri yang sudah mulai ngegas dan menampakkan taringnya. Kalau wanita itu sudah merajuk, maka alamatlah kapalnya tak akan berlayar selama satu minggu.


"Iya, baiklah Sayang, aku mau cari kemana keinginan kamu tengah malam begini?" ungkapnya dengan mata yang masih sangat berat.


"Nggak mau tahu, yang penting aku inginnya sekarang. Kamu mau, nanti anak kamu ileran?" tanya Zahira pada suaminya. Niatnya belum mau kasih tahu, tapi melihat raut wajah malas suaminya membuatnya tak mampu untuk tak memberitahu.


"Hmm, aku serius, Mas. Aku sedang hamil," jawab Zahira jujur sembari mengambil benda pipih yang bergaris dua, lalu menyerahkan pada Zico.


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya Zafran punya adik. Semoga dapat cewek biar cantik seperti kamu, Sayang," ujarnya kegirangan. Pria itu tak henti-hentinya memberi kecupan diwajah sang istri.


"Yaudah, sana cariin keinginan anak kamu, Mas," pinta Zahira pada suaminya.


"Baiklah baiklah, Sayang. Aku akan mencarikan untuk kamu sekarang." Zico mengusap perut datar istrinya untuk membawa calon bayinya bercakap-cakap. "Anak Abi pengen martabak manis ya, tunggu sebentar ya, Nak. Abi akan Carikan buat kamu dan Umi."


Zico segera turun kebawah. Tak lupa untuk meminta penjagaan pada ajudannya. Ya, pasangan itu sudah pindah di kediamannya sendiri. Mereka hanya ingin mencoba untuk hidup mandiri. Sebenarnya Mama dan Papa sedikit keberatan, namun mereka paham bahwa anaknya sudah mempunyai keluarga sendiri.


Dengan bersusah payah Pak Hakim mengelilingi kota bertuah itu untuk mendapatkan keinginan sang istri. Akhirnya tak sia-sia, martabak manis sesuai keinginan wanita itu telah ia dapatkan.

__ADS_1


"Abi pulang!" seru lelaki itu memasuki kamarnya.


"Dapat Mas?" tanya Zahira tersenyum senang mendapati suaminya sudah membawa keinginannya.


"Dapat dong, buat istri dan anak aku apa yang tak bisa aku dapatkan," tuturnya menyombongkan diri.


"Hihi... Makasih Abi Sayang," balas Zahira tak kalah manis.


"Sama-sama. Ayo dimakan, jangan lupa cuci tangan dan baca bismillah," ujar Zi membukakan kotak martabak manis itu kekasih halalnya.


Zahira segera menuju kamar mandi untuk mencuci tangan sebelum menyantap makanan manis itu. Wanita dua puluh lima tahun itu duduk bersandar disamping suaminya, dan segera mengambil potongan martabak itu lalu memasukkan kedalam mulutnya.


"Gimana, Sayang, Enak?" tanya Zi meminta pendapat.


"Biasa saja rasanya, Mas. Nggak ada yang spesial. Kamu beli dimana sih Mas?" tanya Zahira datar saja.


"Masa sih, Dek? Coba aku makan," ujar Zi penasaran, ia juga ikut memasukkan potongan makanan manis itu kedalam mulutnya. "Enak kok, manisnya tidak terlalu, kejunya juga banyak. Coklatnya melimpah." Zico memberi penilaian atas makanan itu sesuai yang dirasakan oleh Indra perasa.


"Enggak enak, udah nggak mau lagi. Yaudah, Abi saja yang makan," balas Zahira pada suaminya.


"Tapi ini masih banyak, Dek. Ih, kamu gimana sih? Tadi katanya pengen banget!" protes Pria itu yang merasa istrinya tak menghargai usahanya di tengah malam buta.


Zahira menatap wajahnya suaminya yang tampak kekesalan disana, tiba-tiba saja jiwa sensitifnya meronta. Hatinya sedih karena Pria itu marah padanya.


"Kamu kesal sama aku, Mas? Kamu nggak ikhlas melakukannya untuk anak kamu. Hiks..." Wanita itu menangis menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya.


"Eh, eh. Kok nangis Sayang? Enggak, aku sama sekali nggak kesal kok. Mana mungkin Abi kesal. Abi senang dan ikhlas melakukannya buat kamu," ujar Pria itu masih berusaha membujuk.


Bersambung.....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2