Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan

Kutukar Diriku Demi Sebuah Keadilan
Bab 27


__ADS_3

Aku tak kuasa menolak saat telapak tangannya sudah membuka kain penutup ujung kaki yang biasa aku kenakan bila berpergian. Aku mengangkat kaki membiarkan dia melucutinya, tangan sebelah kananku berpegang pada pundaknya agar aku berdiri tetap seimbang.


"Hai, Zi!" Sapa seseorang membuat aku dan dia mencari arah sumber itu. Sudah pasti orang itu memanggil namanya.


"Ah, Hen!" sahutnya masih fokus membuka kaus kakiku tanpa merasa malu atau sungkan dengan rekannya.


Setelah selesai dia segera berdiri, menghadap pada Pria yang dia panggil Hen itu. Siapakah Pria yang bersama pasangannya itu, apakah temannya? Aku hanya berdiri disamping Pak Hakim.


"Kamu?" Dia bertanya tetapi tak sanggup untuk meneruskan, dari arah matanya menuju padaku seakan minta penjelasan siapa aku.


"Dia istri aku, namanya Zahira," ucapnya memperkenalkan aku. Aku hanya mengangguk sembari tersenyum simpul, meskipun senyumku tak bisa dia lihat.


"Kamu serius?"


Plak!


Dia bertanya sembari menampar bahu Pak Hakim, hihi Lucu sekali, bukan? Entah kenapa dihatiku masih enggan memanggil namanya dengan panggilan yang biasa aku ucapkan.


"Ya seriuslah! Sejak kapan aku bicara tidak serius," jawabnya santai.


"Woi, kamu gila ya! Kenapa kamu tidak memberi kami kabar?" ucap Pria itu tampak antusias mendengar kabar prihal hubungan kami.


"Eh, ingat ya. Kamu jangan pernah bicarakan hal ini pada orangtuaku! Awas kalau kabar ini sampai ke telinga Mama, akan aku cari kamu kemanapun kamu pergi, walau sampai ke ujung dunia!" ancam Pria itu pada rekannya.


Aku bingung ada apa sebenarnya? Kenapa dia tidak ingin memberitahu orangtuanya, apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan. Apakah benar bahwa dia sudah menikah? Mendadak hatiku menjadi galau.


Kenapa perasaanku seperti ini? Tidak, tidak. Aku tidak boleh melibatkan perasaanku dalam hubungan ini. Ayo Zahira, kamu harus sadar diri, ingat bahwa tujuan dia menikahimu hanya untuk balas dendam. Jadi jangan berharap dia akan menjadikan kamu wanita spesial dalam hidupnya.


Aku melihat Pak Hakim mulia membawa temannya itu menjauh dariku, kini hanya tinggal aku dan wanita yang kuperkirakan istri Pria yang tampak akrab dengan suamiku.


"Hai, Mbak Zahira. Kenalkan aku Gita istrinya Mas Hendra, Mas Zico dan Mas Hendra sepupu," ucap wanita itu mengulurkan tangan sembari memberitahu hubungan kedua lelaki itu.

__ADS_1


"Ah, iya. Salam kenal kembali Mbak Gita." Aku segera menerima uluran tangan wanita itu dan membalas dengan senyum manis.


"Jangan heran dengan mereka, Mbak. Mereka sudah biasa bicara seperti itu, jarang sekali akur," jelasnya kembali.


"Iya tidak apa-apa, Mbak."


"Saat aku ingin menanyakan sesuatu pada Gita, tetapi kedua Pria itu sudah datang kembali menghampiri kami. Aku harus mengubur rasa penasaranku yang sedari tadi bergelayut dalam hati.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu. Selamat berlibur," seru Pria yang bernama Hendra.


"Mbak Zahira, kami duluan ya, semoga secepatnya Mas Zico membawa Mbak dan bayi mungil ini bertemu dengan eyangnya," ujar Gita pamit, tak lupa dia mengecup kedua pipi Zafran yang memang sangat menggiurkan untuk di kecup.


Aku hanya mengangguk, dan wanita itu memelukku sebelum pergi, aku merasa terharu sikapnya yang begitu hangat. Ternyata keluarganya cukup ramah dan baik.


Setelah pasangan itu pergi, dia kembali mengambil Zafran dariku. Kami kembali berjalan menyusuri pinggiran pantai. Kami duduk di bawah pohon yang teduh. Angin laut berhembus kencang.


"Sejuk banget ya anginnya, seperti angin kiriman mertua," celetukan dengan tersenyum manis menatapku.


"Ya, mertua aku yang sudah ada di syurgalah. Apalagi seorang ustadz, pasti kirimannya segera disampaikan pada menantunya yang banyak dosa sepertiku, agar aku segera sadar. Ah, Terimakasih kiriman angin yang sejuk ini Ayah Ali."


Aku hanya melongo mendengar celotehan Pria yang duduk disampingku. Kenapa menggemaskan sekali ucapannya.


"Yakin Ayah mau memberimu kiriman angin sesejuk ini. Kalau ayah yang kirim pasti bukan angin selembut ini. Tetapi angin put ing beliung sekalian, biar kasih pelajaran pada menantu yang tak amanah seperti kamu, Mas," timapalku mendadak sensi.


"Astaghfirullah, sadis amad harapannya, Dek, jika beliau masih hidup, beliau pasti akan memaafkan aku. Karena aku tahu Ayah kamu adalah orang yang baik, tidak pandai pendendam, tidak seperti putrinya," balasnya yang membuat aku menatap malas.


"Ya, aku mengambil pelajaran dari kisah ayah dan ibu, lihatlah mereka terlalu baik pada orang, hingga akhirnya mereka menutup mata dengan cara yang menyedihkan. Bahkan sudah matipun beliau masih saja dizolimi oleh orang-orang yang berkuasa. Kamu pernah berpikir, nggak? bagaimana hancurnya hatiku saat itu, orang yang menjadi perwakilan tangan Tuhan, tetapi dia mengingkari sumpahnya."


"Dek, please. Jangan ungkit hal itu lagi. Aku mengakui bahwa aku salah, tolong maafkan kesalahanku," lirihnya memohon.


Aku menghela nafas dalam, rasanya sungguh sakit bila mengingat hal itu kembali. Tetapi semua sudah berlalu, aku sebagai manusia biasa harus belajar untuk melupakan dan memaafkan. Aku hanya diam menatap lurus kedepan mengamati deburan ombak.

__ADS_1


"Kenapa diam saja, apakah kamu masih menyimpan dendam padaku?" tanya Pria itu memutus lamunanku.


"Apa bedanya kamu dan aku, bukankah kamu juga melakukan hal yang sama. Kamu menikahiku juga karena balas dendam, bukan?"


"Kenapa kamu semudah itu menyimpulkan?"


"Tapi semua kata-kata itu keluar dari mulut kamu sendiri, Mas."


"Kamu salah, Za, aku sebenarnya..."


"Zahira!" panggil seseorang memotong pembicaraan Pak Hakim.


Sontak aku dan Pak Hakim mencari sumber suara itu. Aku terkejut sehingga tanpa sadar berdiri seketika, karena melihat kehadiran Pria yang telah begitu baik padaku.


"Mas Adri! Ya Allah, nggak nyangka bisa ketemu disini, Mas," seruku merasa sangat senang bisa bertemu kembali dengan seseorang yang kuanggap sebagai dewa penyelamat saat aku dalam kesusahan.


"Zahira, kamu kemana saja. Kenapa pergi tidak pamit padaku? Apa yang terjadi, Za?" tanya Mas Adri mendekati aku, tepatnya dia berdiri dihadapan aku dan Mas Zico.


"Apakah ini bayi kamu?" tanya Mas Adri menatap Zafran yang berada dalam gendongan Mas Zico.


"Ah, iya Mas, namanya Zafran."


Mendadak kedua Pria itu saling pandang dengan tatapan yang tak bersahabat. Aku bingung sendiri harus bagaimana menjelaskan. Sedangkan Mas Zico tahunya Mas Adri adalah mantan suamiku.


Suasana yang adem mendadak menjadi panas kerontang saat melihat duo lelaki yang kuperkirakan sebaya itu. Tatapan mereka begitu tajam. Aku melihat air wajah suamiku sudah berubah muram, tak seramah tadi. Sementara Mas Adri menatap dengan santai, tetapi tidak bersahabat.


Ya Allah, tamat riwayatku. bagaimana caranya aku menjelaskan pada dua Pria ini. Mas Adri Pria yang juga pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Huff, ayo tenang Zahira, kamu pasti bisa, kamu tidak bisa lagi lari dari masalah ini.


Bersambung....


Nb. Jangan lupa dukungannya ya, biar author semangat Update 🙏🤗

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2