
"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu, aku benar-benar mencintai kamu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ujar Zico mengecup wajah sang istri penuh kelembutan.
"Terimakasih Mas, aku juga mencintai kamu, jangan tinggalkan aku dan Zafran, jangan berpikir untuk menduakan aku. Awas saja bila kamu berani, aku dan Zafran akan pergi jauh darimu tak akan kamu temui lagi," ancam Zahira dengan suara serak.
"Jangan mengancamku Dek, aku benar-benar takut kehilanganmu. Aku tidak akan sanggup hidup tanpamu dan Zafran," lirih Pria itu sembari memeluk Zahira dengan posesif.
"Mas, aku susah nafas," cicit wanita merasa sesak saat tangan kekar suaminya memeluk dengan erat.
"Ah, maaf Sayang, aku terlalu bahagia. Kamu jangan pernah meragukan kesetiaanku, tidak ada wanita lain selain dirimu dihatiku." Zico melerai pelukannya.
Zahira hanya mengangguk percaya. Tangannya meraih tangan sang suami, lalu memeluk dengan tubuh miring menghadap dimana Pria itu sedang duduk.
"Jangan menatapku seperti itu, Sayang, perasaanku semakin tak menentu," ujar Pria itu tersenyum lembut sembari mengusap wajah Zahira dengan tangan sebelahnya.
"Oya, aku harus beri kabar bahagia ini pada Papa dan Mama." Zico segera menghubungi kedua orangtuanya memberi kabar bahwa istrinya telah sadar.
"Mau makan apa, Sayang?" tanya Zico masih membelai sayang.
"Aku ingin makan bubur ayam, dan martabak mesir, juga martdjo," pinta wanita itu menyebutkan menu yang ia inginkan.
"Mardjo? Apa itu, Dek? Kok aku baru dengar," tanya Zico merasa aneh dengan menu yang diinginkan sang istri.
"Itu Mas, martabak djoragan yang ada di jalan tuanku Tambusai, depan terminal lama," jelas Zahira menunjukkan alamat lengkapnya dimana tempatnya.
"Kamu kok tahu, daerah sini, Dek? Bukankah kamu baru aku ajak kesini?" tanya Zico merasa heran tentang istrinya yang sudah mengenali kota bertuah ini.
"Aku kan kuliah di kota ini, Mas, di Unilak( universitas lancang kuning)."
"Ah, iya aku lupa Sayang. Oya, kamu ambil jurusan apa?" tanya Zico yang belum tahu.
"Hukum."
"Benarkah? Sudah semester berapa?"
"Sudah sidang skripsi."
__ADS_1
"Terus, gimana hasilnya?"
"Tunda, karena saat hari sidang, aku mendengar kabar bahwa kedua orangtuaku meninggal dunia," jelas Zahira dengan air mata jatuh berderai.
Zico segera berdiri dan kembali memeluk istrinya. "Ssshh... Jangan menangis, Sayang, maafkan aku sudah membuat kamu sedih." Pria itu masih berusaha menenangkan.
"Tidak, Mas, aku hanya kangen dengan ayah dan ibu. Nanti setelah sembuh, temani aku ziarah ke makam mereka ya, Mas?" pinta Zahira sembari melerai tangis.
"Pasti, Dek, aku akan menemanimu. Sebentar lagi bulan ramadhan, kita akan ziarah ke makam ayah dan ibu. Aku juga akan memohon maaf atas salah dan dosaku pada mereka," ujar Zico merasa bersalah saat mengingat kejahatannya yang menggadaikan amanah yang dipikul dipundaknya.
"Terimakasih ya, Mas, aku percaya Ibu dan Ayah pasti memaafkanmu. Kamu juga sudah tahu bahwa Ayah adalah orang yang sangat pemaaf dan penyabar," timpal Zahira mengingat sikap Ayah yang memang berjiwa besar dan pemaaf.
"Baiklah, Sayang, sebentar aku akan telpon asistenku untuk mencarikan pesanan kamu. Sudah, tidak ada lagi yang kamu inginkan?" tanya Zico memastikan.
"Tidak, itu saja Mas. Mana Zafran? Kok lama banget datangnya?" tanyanya tak sabar menahan rindu pada bayi mungil yang sudah dua bulan ini tak ia temui.
"Sabar ya, sebentar lagi Mama dan Papa datang."
Zico segera menghubungi asistennya untuk dimintai membelikan semua pesanan istri tercinta. Tak berselang lama, terdengar pintu ruangan itu terbuka. Ternyata Papa dan Mama sudah datang.
"Alhamdulillah, Papa senang sekali melihat kamu sudah sadar, Nak, cepat pulih ya, kita akan segera pulang," timpal Papa mengusap kepala anak menantunya dengan lembut.
"Terimakasih ya, Pa, Ma. Mana Zafran?" tanya Zahira mencari keberadaan putra kecilnya.
"Ini Zafran." Mama memberi ruang pada pengasuh bayi mungil itu untuk berjalan menyerahkan pada Uminya.
Zahira menatap wajah sang putra, seketika senyum bahagia membingkai di bibirnya. Bayi itu tampak begitu gemoy. "Anak Umi apa kabar, Nak, Umi kangen banget sama kamu Sayang." Zahira memeluk bayinya dan memberi kecupan tak henti-hentinya.
"A-apakah aku masih bisa memberinya ASI Ma?" tanya Zahira pada Mama.
"Tidak, Nak, kamu sudah dua bulan tak memberinya ASI, jadi sudah tidak bagus lagi, tidak apa-apa, sekarang dia sudah minum sufor. Alhamdulillah cocok dengannya. Kamu jangan khawatir ya," jelas Mama menghibur hati wanita itu.
"Selama itukah aku tidak sadarkan diri?" tanya wanita itu menatap semua orang yang ada diruangan itu.
"Iya, Sayang, maka dari itu aku memintamu untuk segera bangun, kamu begitu betah tidur begitu lama," jawab Zico.
__ADS_1
"Padahal aku merasa hanya sebentar Mas."
"Itu hanya perasaan kamu saja. Sudah dua purnama kami tak melihat senyum kamu."
"Bagaimana dengan orang yang telah mencoba untuk membunuh kamu Mas, apakah sudah ditangkap?" tanya Zahira baru mengingat kejadian itu kembali.
"Kamu tenang saja, dia telah dihukum mati," jelas Zico.
"Apa motifnya, Mas?"
"Karena dendam dan sakit hati, sebelumnya mereka mencoba untuk memberikan sogokan padaku untuk menjatuhi hukuman yang ringan, tetapi aku tak mau, maka mereka tidak terima dan berniat ingin membunuhku.
"Astaghfirullah, kamu harus waspada Mas, jangan sampai terjadi kembali."
"Iya, Sayang, aku akan selalu waspada."
Zahira kembali fokus pada putranya, rasanya masih belum puas untuk memeluk dan mengecup pipi gembul bayi itu.
Sudah cukup lama mereka disana Papa dan Mama pamit pulang. Karena tidak baik untuk bayi terlalu lama di ruangan itu.
"Za, Mama dan Papa pulang dulu ya, kamu cepat pulih. Mama sudah tak sabar menunggu kedatanganmu. Banyak hal yang ingin Mama ceritakan. Kamu jangan banyak fikiran, Zafran baik-baik saja sama Mama," ucap wanita baya itu pamit pada anak menantu satu-satunya.
"Baik, Ma, Terimakasih Mama sudah merawat Zafran, maaf jika Zafran merepotkan Mama dan Papa," jawab Zahira merasa tidak enak.
"Jangan bicara seperti itu Nak. Mama tidak merasa direpotkan sama sekali. Mama sangat bahagia merawatnya. Dia adalah cucu kesayangan kami."
Setelah kedua orangtuanya pulang, kini tinggal pasangan itu. Zico kembali mendekat pada istrinya. Pasangan itu saling melempar senyum.
"Makan lagi, Sayang," ucap Pria itu sembari menyalin martabak mesir yang belum sempat dimakan oleh sang istri karena sungkan ada kedua orangtuanya.
"Masih kenyang, Mas, nanti saja," jawab Zahira ingin kembali berbaring.
"Kok nanti, Dek, katanya pengen banget. Ayo makan dulu. Kamu harus banyak makan biar cepat pulih," Zico masih memaksa agar istrinya makan kembali.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰