
"Sabar, Nak, kamu harus kuat demi Zahira dan anakmu. Kamu tidak boleh lemah," ujar Papa memberi nasehat dan dukungan.
"Sabar Sayang Mama," cicit Mama juga memeluk putra semata wayangnya.
"Aku takut sekali terjadi sesuatu pada istriku, Ma. Dia mengorbankan nyawanya demi keselamatan aku. Kenapa tidak aku saja yang terluka," gumam Pria itu dalam tangis, meskipun selama ini sikapnya yang terkenal dingin dan cuek, tetapi sekarang sosok itu hilang seketika. Ia terlihat sangat rapuh.
Zico mengambil Zafran dari gendongan sang Mama, dengan penuh kasih sayang Pria itu menimang bayi kesayangan. "Maafkan Abi ya, Nak, ini semua karena Abi sehingga membuat Umi mendapat imbasnya.
Zico segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kantor polisi, ia segera menghubungi penyidik senior untuk segera menangani kasus pencobaan pembunuhan terhadap dirinya.
Sebagai seorang Hakim, Zico sudah bisa menebak dari pihak kasus mana yang ingin balas dendam dengannya. Zico meminta polisi segera menyelidiki orang yang dia curigai.
Kini Zahira telah dipindahkan ke ruang rawat. Wanita dua puluh lima tahun itu tak merespon apapun. Semua tubuhnya terpasang segala alat medis. Zico menatap sedih, perlahan tangannya terulur mengusap kepalanya dengan lembut.
"Sayang, maafkan aku," lirih Pria itu dengan bibir bergetar.
"Zahira, kamu cepat bangun ya, Nak, jangan lama-lama tidurnya," ucap Mama juga memberi semangat pada wanita cantik itu. Ini pertama kali Mama melihat wajah cantik sang menantu saat cadarnya dibuka.
Keluarga Hamdi Wijaya sedang dirundung duka setelah kejadian yang membuat menantu satu-satunya terbaring tak berdaya di RS. Keluarga besar itu sangat sedih melihat kondisi wanita yang telah mampu meluluhkan hati Putra tunggal mereka yang selama ini sangat acuh bila disinggung tentang sebuah hubungan.
Zico benar-benar berada di kubangan kesedihan, Hakim itu tampak begitu rapuh bila melihat kondisi sang istri. Namun ia harus kuat demi Zafran yang sangat membutuhkan kasih sayang darinya.
Siang ini Zico mendatangi lapas dimana pelaku yang melumpuhkan istrinya telah berhasil diamankan. Pria itu melihat wajah asli pelaku itu yang kemaren tidak jelas karena mengenakan topi.
"Ternyata kau? Breng sek! Beraninya kau membuat istriku menjadi korbannya!" Zico meraih kerah kaus oblong yang berwarna orange itu dengan rahang mengeras.
"Hng! Kenapa wanita bodoh itu datang melindungimu. Seharusnya kaulah yang mati! Dasar Hakim munafik!" balasnya dengan senyum sinis.
"Kau, beraninya mengatakan istri bodoh!"
__ADS_1
Dug!
Zico menarik rambut Pria itu dan membenturkan di jeruji besi sehingga Pria itu mengerang kesakitan.
"Zi, tolong tahan emosi kamu," ujar temannya seorang penyidik yang sedang menangani kasus ini.
Zico menghela nafas dalam dan melepaskan pegangannya dengan kasar. "Heh, kau dengar! Aku pastikan nyawamu akan melayang!" ancamannya sebelum meninggalkan tahanan itu.
"Hahaha... Silahkah. Aku berharap wanita bodoh itu juga segera mati!" teriak Pria itu membuat darah Zico naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya dia menghukum dengan tangannya sendiri.
"Ayo, jangan di dengarkan," ucap sahabatnya yang bernama Azzam.
"Aku mau kamu menyelesaikan semua berkas-berkas dan segera limpahkan ke pengadilan," ucap Zico pada sahabatnya.
"Baiklah, secepatnya akan aku selesaikan."
Zico segera menuju RS dimana sang istri dirawat. Ia tidak membiarkan perawat untuk mengurus Zahira, karena ia tak ingin orang lain melihat tubuh istrinya yang sangat pemalu itu.
"Belum, Nak. Belum ada perubahan," jawab Mama sedih.
"Mama pulanglah. Aku yang akan menjaga Zahira disini," ujar Zico meminta Mama untuk pulang dan istirahat. Dalam hal ini keluarga itu tak ingin menitipkan Zahira pada perawat saat mereka sibuk dengan aktivitas. Mama Dian mengorbankan waktunya untuk menjaga menantunya.
Mama Dian tampak begitu menyayangi Zahira, mungkin karena dia sudah lama menginginkan seorang menantu dan cucu, maka setelah mengetahui semuanya dia begitu bahagia. Namun kebahagiaan itu hanya sebentar, pada akhirnya wanita Sholeha itu harus menjadi penghuni kamar pasien dalam waktu yang lama.
"Kamu tidak apa-apa Mama tinggal pulang?" tanya Mama pada putranya.
"Tidak apa-apa, Ma, tapi nanti tolong bawa Zafran kesini. Aku sangat merindukannya."
"Baiklah, Mama akan membawa Zafran kesini nanti malam bareng Papa," ucap Mama mengiyakan permintaan anaknya.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah memberi pengawasan pada kamar ini? Jangan sampai lengah lagi Zi, Mama tidak mau terjadi sesuatu padamu dan juga Zahira, dengan profesimu sebagai seorang Hakim, akan banyak orang yang tidak suka. Kamu harus waspada!" tekan Mama tampak begitu khawatir.
"Sudah, Ma, aku sudah meminta ajudanku untuk berjaga dua puluh empat jam dikamar ini."
"Baiklah, kalau begitu Mama pulang dulu." Wanita baya itu segera meninggalkan kamar rawat anak menantunya.
Setelah Mama pergi, Pria itu berjalan mendekati bad pasien tempat istrinya terbaring tak berdaya, ia menatap dengan dalam. Sebuah kecupan mengawali pertemuannya setelah seharian beraktivitas diluar sana.
"Selamat sore, Sayang, bagaimana kabar kamu sore ini? Apakah kamu masih betah tidur? Kamu tidak ingin bangun, lihatlah putramu, dia sudah rindi padamu, Dek," ucap Zico menggengam tangan mulus Zahira.
Berulang kali Zico mengecup tangan hingga wajah Zahira, wanita itu masih enggan untuk merespon segala sentuhan dari suaminya. Akhirnya Zico memutuskan untuk membersihkan tubuh istrinya dengan mengelap menggunakan handuk kecil.
Selesai mengurus sang istri, Zico duduk mengistirahatkan tubuhnya diatas Sofa yang ada di kamar rawat itu. Sebenarnya tubuh tidak terlalu lelah, tetapi hati dan pikirannya yang bermasalah. Zico begitu mengkhawatirkan keadaan Zahira, setiap malam matanya enggan terpejam, rasa takut selalu bergelayar dalam hati. Ia takut bila wanita yang amad dicintainya sewaktu-waktu pergi meninggalkannya.
Tak terasa sudah satu bulan Zahira dalam koma, wanita itu masih betah di alamnya sendiri, sebenarnya ia berusaha untuk naik kepermukaan alam kesadaran, tetapi rasa sakit menghalanginya untuk membuka mata, Zahira hanya mampu mendengar segala curahan hati dari orang yang dicintainya.
Pagi ini Zico menyambut kedatangan bayinya yang sudah berumur enam bulan. Bayi itu sudah begitu aktif. Karena Uminya tak bisa lagi memberi ASI maka Zafran harus pindah ke sufor. Alhamdulillah sufornya tak bermasalah, Zafran terlihat begitu sehat dan pintar.
"Hai, anak Abi udah ganteng banget. Kangen ya, sama Umi. Ayo sini, kita sapa Umi dulu ya," ucap Pria itu mengambil Zafran dari gendongan pengasuhnya.
"Assalamualaikum Umi, Zafran datang jengukin, Umi jangan tidur terus, ayo bangun dong. Zafran udah kangen banget nih," ucap Zico membawa wanita itu yang masih betah dengan tidur panjangnya.
"Apakah belum juga ada kemajuan?" tanya Papa
"Belum, Pa."
"Apa lebih baik kita cari RS terbaik diluar negeri?" tanya Papa memberi solusi
"Aku sedang cari informasi Pa, Jika sudah menemukan, aku akan bawa Zahira keluar negeri," jawab Zico memang mempunyai niat yang sama dengan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰