
Bosan. 15 menit sudah Fara menunggu, tetapi orang yang membuat janji ingin bertemu dengannya tak kunjung datang. Fara mengalihkan pandangannya dari gelas berisi ice latte ke jendela kaca di sebelahnya. Matanya menyipit saat tak sengaja terkena sinar matahari yang menembus. Dagunya ditopang. Pikirannya melayang mengingat hari itu. Hari pertama Fara bertemu dengan laki-laki itu, di kafe tempatnya berada saat ini.
***
Saat itu setelah sekolah selesai.
Gerah.
Suasana kafe yang ramai pelanggan membuat Fara tak nyaman. Jika bukan karena membalas budi kepada Nova—teman sekelasnya—karena sudah memberi contekan tugas matematika yang lupa Fara kerjakan dia tak akan mau berada di sini, di kafe yang minggu lalu baru saja buka. Letaknya yang dekat dengan rumahnya lantas tak membuat Fara senang.
Setelah 10 menit mengantre, akhirnya tiba giliran Fara dan Nova untuk memesan.
Nova mendorong bahu perempuan di sebelahnya. Fara mengerjap, atensinya yang semula tertuju pada sosok indah di depannya beralih ke samping.
Fara menatap Nova, selaku tersangka yang mendorong bahunya. “Apa?”
Nova menyodorkan daftar menu ke Fara. “Lihat ini, kamu mau yang mana?”
Fara membaca daftar menu yang masih dipegang oleh Nova, wajahnya terlihat datar dan biasa saja. Namun, pikiran Fara penuh oleh beberapa kata-kata asing yang tidak dia ketahui. Cukup lama Fara memandang kertas yang masih digenggam oleh Nova. Sampai akhirnya dengan ragu Fara menunjuk gambar gelas bewarna hitam. Namun, tiba-tiba—
“Apa ada yang bisa saya bantu?” Fara mendadak kaku mendengar suara itu. Fara mendongak, menatap laki-laki di depannya yang tadi sempat menyita perhatian Fara.
Fara melihat wajah ganteng dengan senyum tipis dan tatapan ramah yang tertuju kepadanya. Tanpa sadar Fara menahan napas lalu menelan ludah dengan susah payah. Mulutnya menutup rapat, enggan mengeluarkan suara. Dadanya tiba-tiba sesak karena jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
Dirasa tidak ada oksigen yang masuk ke paru-paru—Fara tiba-tiba tersadar saat menghembuskan napas yang sedari tadi tertahan. Wajahnya dia buang ke kiri bawah. Batinnya meronta merutuki kebodohan yang dilakukannya beberapa detik yang lalu.
Nova menatap teman di sebelahnya yang menunduk, terlihat tidak minat untuk mengeluarkan suara.
“Ada yang bisa saya bantu?” Laki-laki itu mengulangi pertanyaannya, karena menurutnya pertanyaannya yang pertama tidak dipedulikan oleh dua bocah SMA dihadapannya.
Nova sedikit terkejut karena suara yang tiba-tiba itu. Dia mendongak, lalu ditatapnya laki-laki di depannya yang masih menatap ramah sambil tersenyum tipis. Nova merasa tidak enak kepadanya. Dia tersenyum lebar sampai matanya yang kecil itu terlihat hampir terpejam.
“Tolong rekomendasikan kopi untuk seseorang yang tidak terlalu suka kopi.” Kalimat itu keluar dari bibir kecil Nova. Senyum masih terpatri di wajah Nova, tetapi tidak selebar sebelumnya. Nova sedang berbaik hati membantu teman perempuan di sebelahnya yang dia paksa untuk menemaninya di kafe ini, padahal Nova tahu Fara tidak akan menyukainya. Dia sadar diri dan sedikit merasa tak enak kepada Fara.
“Saya merekomendasikan latte. Ada susu didalamnya, sehingga rasa kopi yang pahit tidak terlalu dominan. Anda juga bisa menambah gula jika ingin lebih manis.”
Suaranya kembali memenuhi indra pendengaran Fara, membuatnya bergidik karena perasaan asing yang tiba-tiba menyapa. Fara mendongak, lalu memandang laki-laki itu. Lagi-lagi bahunya tegang. Jantungnya memacu lebih cepat dari biasanya sampai-sampai dia khawatir jika Nova dan laki-laki itu mendengar suara jantungnya yang berdetak keras. Fara merasa hati dan pikirannya tidak sejalan. Hatinya berkata bahwa dia tertarik dengan sosok tinggi di depannya, tetapi pikirannya terus menolak rasa asing yang muncul. Fara menghela napas perlahan lalu kembali menunduk, untungnya kali ini Fara tidak lupa untuk bernapas.
Panggilan Nova menyadarkan Fara dari perang antara hati dan pikirannya. “Fara, mau pesan yang itu atau yang lain?”
“Yang itu saja, jangan terlalu manis,” jawab Fara yang sudah menegakkan kepalanya kembali, tatapannya dialihkan agar tak melihat wajah laki-laki dengan senyum tipis serta mata yang tertuju padanya.
Segera laki-laki itu mencatat pesanan mereka. Tatapannya tertuju kepada benda sejenis komputer yang bertengger di meja. Telunjuknya bergerak bebas di sana; membuat gerakan menekan.
“Oke. Satu kopi cokelat dan satu kopi latte. Dibawa pulang atau minum di sini?”
__ADS_1
“Minum di sini,” jawab Nova cepat.
Fara mengatupkan bibirnya. Baru saja dia ingin menjawab agar minuman itu dibawa pulang, tetapi perempuan di sampingnya ini mendahuluinya.
Diliriknya Nova. Batinnya sudah menyumpah serapah perempuan itu, tetapi mulutnya hanya bisa diam. Sebagai gantinya tatapan tidak suka Fara berikan kepada Nova yang tersenyum manis.
Tatapan tidak suka yang Fara berikan kepada Nova terhenti karena suara laki-laki dibalik meja bar itu.
“Totalnya empat puluh tiga ribu rupiah.” Tangan laki-laki itu berhenti di udara untuk menerima uang yang diberikan Nova.
Fara memperhatikan gerak-gerik tangan laki-laki itu. Lengan bawahnya yang tidak tertutupi oleh lengan baju terlihat. Telapak tangannya besar, pasti menyenangkan jika jari-jari tangan itu bertaut dengan jari-jari tangan milik Fara. Fara terus memperhatikan, sampai tangan laki-laki itu kembali terangkat untuk memberikan struk dan uang kembalian kepada Nova.
“Silakan ambil pesannya di sebelah sana,” ucap laki-laki itu sambil tangannya yang menunjuk ke samping.
“Terima kasih.” Nova mengangguk kecil lalu menoleh kepada Fara. Tangannya mengenggam pergelangan tangan Fara.
Fara hanya diam sampai tarikan di pergelangan tangan menyadarkannya yang melamun memikirkan ulang kejadian dari awal dia di kafe ini sampai saat ini, serta respons tubuhnya yang aneh saat berhadapan dengan laki-laki itu.
Sedikit tak rela, langkahnya berjalan mengikuti Nova ke tempat yang tak jauh dari tempat laki-laki itu berada, di atas tempat itu menggantung papan kayu dengan tulisan ‘Take Order’. Lagi-lagi mereka mengantre. Ingin sekali Fara berjongkok untuk saat ini, tetapi hanya ingin. Tak akan Fara lakukan, karena dia masih memiliki rasa malu.
“Kakak tadi ganteng ya!” seru Nova tiba-tiba.
Fara mengangguk dengan batinnya mengatakan ‘iya’ dengan semangat.
Be Happy!
Fara merasa tersindir setelah membaca kata itu.
Fara berhenti melihat tulisan tangan itu karena tiba-tiba pergelangan tangannya kembali di genggam oleh Nova.
***
Dua perempuan dengan seragam SMA itu masih berdiri. Salah satunya yang memiliki rambut panjang sebahu dengan ujung ikal terlihat berdiri di depan seorang perempuan lain yang rambutnya terikat dengan model ekor kuda.
Fara merasakan genggaman pada tangannya mengendur untuk sesaat, sampai tiba-tiba kembali erat. Fara kaget dibuatnya. Dengan tergesa, Nova menarik Fara ke bangku di pojok dekat jendela yang baru saja ditinggal oleh seseorang yang duduk di sana.
Nova duduk terlebih dahulu, disusul Fara. Posisi mereka berhadapan. Sinar matahari menembus jendela kaca, membentuk beberapa garis cahaya yang bersifat sementera di meja persegi tempat mereka berada.
Fara menyingkirkan bungkus plastik sedotan bekas orang yang menempati bangku ini sebelumnya. Lalu mendongak untuk menatap Nova yang sudah meminum minumannya dengan rakus.
“Fara, ini enak banget, kamu harus coba!” Nova menyodorkan minuman miliknya kepada Fara.
Fara hanya menggeleng; tanda tak ingin.
Nova menaruh minumannya di meja, tangannya bergerak untuk mengambil minuman milik Fara yang belum tersentuh sejak mereka duduk di kursi ini. Nova menyobek plastik sedotan itu, lalu membuangnya asal di meja. Tangan kirinya mengenggam minuman milik Fara, sedangkan tangan kanannya menggenggam sedotan bewarna hitam.
__ADS_1
Fara hanya memperhatikan Nova yang mengangkat tangan kanannya ke udara lalu turun ke benda di tangan kirinya, Nova melubangi plastik penutup itu dengan sedotan. Kemudian, tanpa izin Nova langsung meminum kopi milik Fara.
Dasar! Batin Fara mencemooh kelakuan Nova.
“Ini juga enak, coba deh!” Mata Nova berbinar saat mengatakan kalimat itu.
“Untukmu saja,” balasku cuek. Selain karena sudah diminum oleh Nova, Fara juga tidak ingin. Dia tidak suka minum kopi.
“Enggak, kamu harus coba! Rekomendasi kakak ganteng tadi memang tepat.”
Perkataan Nova yang polos itu mengusik Fara, rasa asing itu kembali muncul, padahal hanya julukan saja yang didengar Fara dari mulut Nova. Telinganya mendengar yang secara reflek otaknya langsung membayangkan sosok "Kakak Ganteng" itu.
Fara menatap Nova sejenak, lalu turun pada benda yang berada di tangan kanan Nova. Tangannya bergerak mengambil gelas itu. Dengan yakin Fara langsung menyedot cairan bewarna cokelat tersebut. Nova hanya tersenyum dan kembali sibuk dengan minuman miliknya.
Rasa pahit sekaligus manis serta sedikit creamy dari susu dirasakan Fara saat minuman itu sampai ke indra perasanya. Disusul rasa dingin yang menjalar di tenggorokan Fara.
Tidak buruk.
Terus Fara sedot cairan itu, hingga tersisa setengah. Lama-lama enak. Apalagi kopi ini rekomendasi dari laki-laki itu.
Mengingat laki-laki itu, jantung Fara kembali berdetak cepat. Fara melepaskan pagutan pada sedotan bewarna hitam itu. Netranya bergerak untuk memperhatikan tempatnya berada saat ini.
Tembok di tempat ini bewarna krem, dengan beberapa hiasan pigura bewarna cokelat, terdapat beberapa poster yang salah satunya bergambar teko dengan latar belakang bewarna hitam. Fara juga dapat melihat tanaman sejenis pakis bewarna hijau dalam pot yang menggantung di beberapa bagian tembok. Lampu-lampu dengan kubah warna hitam yang melapisinya menggantung di atas setiap bangku. Meja kecil berbahan dasar kayu berbentuk persegi. Kursi bewarna hitam yang dilengkapi dengan senderan. Serta lantai vinyl bewarna cokelat gelap dengan motif kayu. Bau kopi dapat Fara cium diseluruh ruangan ini. Tak lupa musik yang mengalun dengan volume rendah memberikan kesan yang menenangkan. Sederhana dan membuat nyaman.
Fara terus memperhatikan. Matanya sampai pada pintu tempat keluar-masuk satu-satunya yang terbuat dari kaca. Dengan perlahan Fara menolehkan lehernya dari pintu ke sosok laki-laki di balik meja bar itu. Laki-laki itu terlihat sibuk melayani pelanggan, senyum tipis terpatri di wajah gantengnya. Bagi Fara, bukan suasana kafe yang membuatnya betah di sini, bukan juga dekorasi kafe yang estetik. Melainkan laki-laki itu.
Fara terus memperhatikan, menatap objek bergerak itu lebih lama dari objek-objek sebelumnya.
Fara menarik sedikit sudut bibirnya ke atas.
Fara menyukainya.
***
__ADS_1