L A T T E

L A T T E
6


__ADS_3

"Fara!"


Ada yang meneriakkan nama Fara dari arah belakang.


Fara kenal dengan suara itu. Fara membalikkan badannya.


"Ah, Nino!"


Tidak.


Bukan Fara yang menjawab, melainkan Nova.


Nova yang semula hanya menolehkan kepalanya kebelakang segera saja memutar tubuhnya, lalu melangkah menghampiri laki-laki bernama Nino, seorang tersangka yang menyapa Fara.


Fara berjalan santai mengikuti Nova yang berlari kecil seperti anak TK jika bertemu seseorang yang menawarkan gendongan kepadanya; penuh antusias.


Fara melihat Nova dan Nino yang sama-sama berhenti saat jarak mereka sudah hampir dekat.


Nova menatap laki-laki yang berdiri menjulang di depannya. Nova tersenyum manis dan di balas Nino dengan senyuman yang tak kalah manis juga.


Pandangan Nino yang semula tertuju pada perempuan pendek di depannya beralih kepada perempuan lain yang baru saja disapanya.


"Ada apa?" tanya Fara kepada Nino, diberikannya senyum tipis kepada laki-laki itu.


Nino yang tersenyum lebar tiba-tiba menjadi kikuk saat Fara bertanya seperti itu kepadanya.


"Ah, itu, hanya ingin menyapa." Senyuman Nino tidak selebar sebelumnya.


Nino melihat perubahan raut wajah Fara yang semula tersenyum kembali menjadi datar seperti semula. Dilihatnya Fara yang mengangguk lalu memutar badannya.


"Nova, sebentar lagi bel." Fara menyentuh bahu Nova untuk menyadarkan temannya yang melamun menatap ke arah depan.


Nova terkejut saat sebuah tangan menepuk bahunya. Nova menolah kepada Fara selaku orang yang menepuk bahunya.


Fara menghela napas. "Ayo, sebentar lagi bel."


"Eh, iya." Nova baru tersadar. Tak lama kemudian Nova merasa malu dengan apa yang dilakukannya baru saja. Pipinya terasa panas.


Siapa juga yang tidak terpesona dengan senyuman manis milik wakil ketua OSIS di hadapannya?


Nova merasakan tangannya yang ditarik oleh tangan lain. "Iya, Fara. Tunggu."


Dengan senyum malu-malu Nova berkata kepada Nino. "Kalau begitu, kita permisi dulu. Dah Nino!" Tangan kanannya yang bebas dari genggaman Fara melambai-lambai kecil.


Setelah mengatakan kalimat itu—tanpa menunggu Nino menjawabnya—Nova langsung membalikkan badannya dan berlalu. Menyisahkan Fara dan Nino di tempat itu.


Genggaman tidak bertenaga Fara tidak mampu menahan pemilik tubuh kecil itu. Fara menatap Nova yang semakin jauh dengan tempat dirinya berdiri saat ini.


Fara menolehkan kepalanya agar dapat melihat laki-laki bernama Nino itu. Fara merasa sedikit terpesona akan sosok dihadapannya. Nino yang sedang tersenyum lebar seolah-olah memamerkan keindahan kepada Fara yang saat ini sedang menelan ludahnya.


"Duluan, Nino," ucap Fara kepada Nino. Fara menganggukkan kepalanya, lalu diberikannya senyuman tipis kepada Nino yang menatapnya.


Belum sempat Nino membalas, sosok dihadapannya sudah berbalik dan berlalu meninggalkan Nino.


Nino menatap punggung yang semakin lama semakin kecil. Tangan kanannya melambai-lambai pelan kepada sosok Fara yang berjalan menjauh dari dirinya. Senyuman Nino perlahan pudar, dan benar-benar hilang saat matanya sudah tidak mendapati sosok perempuan itu. Tangan kanannya yang berada di depan dada dia turunkan. Nino menghela napas, dia memejamkan matanya sejenak. Nino menengadahkan kepalanya, tatapannya tertuju pada langit biru dengan awan-awan putih yang berbentuk abstrak. Pikirannya berkelana.


Belum saatnya.

__ADS_1


***


Fara tiba di kelas.


Fara melihat Nova yang sudah duduk di kursi miliknya. Perhatian Nova fokus terhadap ponsel dalam genggamannya.


Fara berjalan menuju tempat di mana Nova berada. Fara menepuk bahu Nova sebagai isyarat untuk memberikan jalan menuju tempat duduknya.


Perhatian Nova yang semula tertuju pada ponsel beralih ke sosok Fara yang menjulang tinggi dihadapannya. Nova berdiri untuk mempersilahkan Fara berjalan menuju tempat di sebelahnya.


Nova menatap Fara yang sudah duduk di kursi. Nova juga ikut mendudukkan dirinya, lalu dimainkannya ponsel dalam genggamannya.


Dua orang perempuan itu sibuk dengan dunianya sendiri. Fara mengambil ponsel dari dalam ransel miliknya, dia mengumpat dalam hati saat menyadari bahwa kuota internet miliknya sudah habis dari kemarin malam. Fara akan membelinya nanti sepulang sekolah. Sedangkan perempuan satunya yang tak lain adalah Nova terlihat sibuk menonton sebuah video, tampak beberapa laki-laki berkulit putih yang menari sambil menyanyi. Nova senyum-senyum tidak jelas sambil sesekali menyenandungkan lagu dari boyband favoritnya.


"Fara."


Nova yang sudah menyelesaikan tontonannya menatap Fara yang sedang merebahkan kepala di meja. Posisi kepala Fara menghadap Nova, mata itu terlihat terpejam.


"Hm." Fara menjawab panggilan Nova seadanya. Fara bosan dan rasa bosan ini membuatnya mengantuk.


"Fara, kamu kelihatannya sudah kenal lama dengan Nino," ucap Nova. "Kalian teman masa kecil?" tanya Nova kepada Fara.


Fara membuka matanya. Dia menatap Nova. Tangannya menutup mulutnya yang menguap.


"Enggak," jawab Fara ambigu.


"Yang mana yang enggak?" tanya Nova kembali sambil matanya mengerjap-ngerjap bingung.


"Kita bukan teman masa kecil." Fara mengklarifikasi jawabannya.


"Terus?" Nova mengambil napas sejenak. "Kalian kelihatannya sudah saling kenal sejak lama."


Nova mengangguk-angguk paham.


"Nino di SMP gimana? Gantengnya kayak di SMA enggak?"


Fara menjawab pertanyaan Nova dengan anggukan.


"Terus, Fara sama Nino pas SMP gimana?" Nova memberikan pertanyaan lainnya.


"Ha?" Fara tidak paham.


Nova tersenyum gemas. "Maksudnya, Fara deket enggak sama Nino pas SMP?"


"Dekat gimana?" tanya Fara memastikan.


"Ya, hubungan Fara sama Nino itu apa?" Nova kembali bertanya.


"Enggak ada," jawab Fara apa adanya.


"Benaran? Kalian kelihatannya akrab gitu."


Fara menatap Nova heran. "Kenapa ngotot banget daritadi?"


Nova yang ditanya seperti itu seketika menjadi salah tingkah. Diberikannya senyuman canggung kepada Fara.


"Penasaran saja dan heran juga. Kenapa Nino kok bisa kenal sama perempuan kayak Fara yang anti bersosialisasi."

__ADS_1


Fara terdiam setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Nova. Jika dipikir perkataan Nova ada benarnya.


Bisa-bisanya Nino yang masih SMP itu mau-maunya berteman dengan Fara.


Fara baru sadar juga jika kehidupannya dikelilingi oleh orang-orang "tidak biasa".


"Gimana Fara? Kamu sama Nino waktu SMP?" Nova kembali menanyakan pertanyaan yang sama, karena tidak yakin dengan jawaban Fara sebelumnya, tangannya mengguncang bahu Fara, menuntut jawaban dari teman dekatnya itu.


Fara tersadar dari pikirannya yang mengingat ajakan Nino untuk berteman saat mereka masih SMP.


"Teman," jawab Fara.


"Katanya enggak ada," protes Nova.


"Oh, aku salah pengertian," ucap Fara yang tidak dihiraukan oleh Nova.


Nova mengangguk-angguk. Tak lama dia teringat sesuatu. "Fara pertanyaanku ada yang belum kamu jawab."


"Yang mana?" tanya Fara malas.


"Yang, Nino waktu SMP gimana," jawab Nova.


Fara menghela napas. "Sama kayak SMA."


"Jelasin dong." Nova merengek karena jawaban Fara yang tidak memuaskan rasa ingin tahunya.


"Ya sama. Populer, teladan, baik hati, dan ganteng." Fara menjawab dengan penuh kejujuran.


Nino itu populer. Wajahnya enak dipandang, tidak jelek, juga tidak terlalu ganteng. Kulitnya kuning langsat khas orang indonesia. Gantengnya Nino itu memiliki daya tarik tersendiri. Fara lebih suka menyebutnya manis daripada ganteng, apalagi jika Nino tersenyum dan menampakkan lesung yang dalam di kedua pipinya, didukung juga dengan kepribadiaannya yang ramah dan suka menolong. Tak heran jika banyak murid-murid perempuan yang menjadikan Nino tambatan hati dan juga guru-guru yang menjadikan dia murid kesayangannya. Nino juga murid yang aktif, terbukti dengan dia yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua OSIS.


"Pesonanya sudah bersinar sejak dulu." Nova menanggapi jawaban Fara yang sebenarnya masih kurang memuaskan. Nova ingin jawaban yang detail, tetapi dia sadar diri jika yang menjawab itu Fara.


Fara mengangguk setuju.


"Oh, iya, Fara!" Nova sedikit berteriak.


Fara mengurungkan niatnya yang ingin merebahkan kepalanya di meja.


"Apalagi?" Fara bertanya muak.


Nova tersenyum karena tanggapan Fara yang seperti itu. Dia sudah terbiasa.


"Kemarin aku chat kamu, kenapa enggak di balas?"


"Kuotaku habis."


Nova mengangguk-angguk paham.


"Fara, belnya sudah bunyi, jangan tidur." Nova memberitahu sesuatu yang Fara sudah tahu.


Fara tidak peduli dengan kalimat yang diucapkan Nova.


Fara menatap ketua kelas yang bediri di depan papan tulis. Ketua kelas itu menulis sesuatu di papan tulis putih itu.


Belajar sendiri. Guru-guru sedang rapat. Dimohon tidak berisik.


Fara tersenyum senang.

__ADS_1


Hari ini benar-benar hari keberuntungannya.


***


__ADS_2