L A T T E

L A T T E
9


__ADS_3

Otak Fara mendadak kosong karena serangan yang diberikan laki-laki itu secara tiba-tiba.


Beberapa detik yang lalu saat Fara melihat laki-laki itu sebelum dirinya keluar dari kafe. Fara mendapati laki-laki itu tersenyum.


Tidak. Bukan senyuman seperti biasa khas pelayan untuk diberikan kepada pembeli. Melainkan senyum lebar yang memberikan kesan menyapa.


Fara memejamkan matanya sejenak. Saat ini pikirannya terus terpaku pada laki-laki yang tersenyum lebar kepadanya. Fara menarik napas dengan rakus lalu menghembuskannya kasar. Segera Fara menyalakan motornya dan berlalu meninggalkan kafe.


Saat ini raga Fara sudah jauh dari kafe itu. Namun, pikirannya tetap di sana. Fara menggelengkan kepalanya perlahan untuk menepis sosok laki-laki itu yang tersenyum lebar kepadanya.


Fara dapat melihat tikungan gang kompleks tempat rumahnya berada, motornya dia belokkan ke sana. Tidak sampai lima menit Fara sudah berada di depan pagar rumahnya.


Beruntungnya Fara karena saat ini pagar rumah itu terbuka lebar. Segera dia memasukkan motornya dan memakirkan sembarangan di halaman rumahnya yang lumayan luas.


Fara turun dari motor setelah sebelumnya dia mematikan motor miliknya. Dilepasnya helm yang bertengger manis di kepalanya. Helm itu Fara taruh di kaca spion sebelah kanan. Fara mengambil kantung plastik berisi minuman yang tadi dibelinya. Fara dapat melihat cairan bewarna cokelat itu karena kantung plastik pembungkusnya yang transparan. Seketika Fara dibawa mundur ke kejadian beberapa menit yang lalu. Fara kembali memejamkan mata sambil mengumamkan kata 'enyahlah' berulang kali, lalu kembali menggeleng pelan untuk mencoba mengenyahkan sosok itu di dalam pikirannya.


Fara berjalan menuju pagar rumahnya, dengan penuh inisiatif Fara menutup pagar warna hitam itu. Setelahnya dia berbalik dan berjalan menuju ke dalam rumah.


Fara mengucap salam perlahan. Tidak ada yang menjawab. Papanya akan pulang pukul lima nanti. Fara tidak tahu Rere ke mana, waktu pulang saudara perempuannya itu tidak menentu, tetapi Fara tahu jika saat ini Rere belum ada di rumah. Karena tidak ada motor milik Rere yang terparkir di halaman rumah.


Fara melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mencari Mamanya yang setiap saat selalu berada di rumah. Namun, sosok yang biasa menggunakan daster itu tetap tidak ada. Fara berjalan menuju kamar mandi, lalu mengetuk pintunya sebanyak dua kali. Pintu itu bergerak membuka dengan sendirinya. Fara memasukkan kepalanya ke dalam kamar mandi.


Nihil.


Fara mendecih, diambilnya ponsel miliknya dari dalam ransel. Fara kembali mendecih, karena teringat saat ini kuota internet miliknya sudah habis. Fara menaruh tas ranselnya di kursi. Minuman yang baru saja dibelinya dia geletakkan begitu saja di meja makan. Fara memacu langkahnya untuk keluar rumah.


Fara dikagetkan oleh kehadiran Mamanya tepat saat dia sampai di depan pintu. Fara menyodorkan tangan kanannya kepada wanita di depannya.


Dilla menerima sodoran tangan itu. Dilla memperhatikan Fara yang menundukkan kepalanya. Setelah itu, Dilla merasakan tangan miliknya dibawa menuju dahi milik putri bungsunya.


"Mama darimana?" tanya Fara setelah selesai dengan kegiatannya, diangkatnya kepala miliknya agar dapat melihat wajah lawan bicaranya.


"Habis kumpul sama ibu-ibu yang lain," jawab Dilla.


"Fara enggak lihat."


"Tadi udah Mama panggil-panggil, kamunya yang enggak noleh. Mangkannya punya telinga itu jangan buat pajangan aja!" omel Dilla panjang lebar.


Fara tidak menyadari bahwa dia melewati Mamanya saat di perjalanan pulang tadi. Fara juga tidak mendengar sapaan Mama untuk dirinya. Saat itu pikirannya masih sibuk memikirkan kejadian 'itu'.


Fara melewati Mamanya begitu saja, lalu berjalan menuju motor miliknya.


"Mau ke mana?"

__ADS_1


Fara menoleh kepada Mamanya yang belum masuk rumah. "Ada yang kelupaan tadi."


"Udah ya, Ma. Fara pergi dulu."


Pagar rumah yang sudah dibuka oleh Mamanya membuat Fara tidak perlu repot-repot untuk turun-naik motor. Segera setelah mengatakan salam Fara melaju meninggalkan rumah dan Mamanya yang masih berdiri menyaksikan kepergiannya.


Dilla menjawab salam Fara. Matanya masih terpaku pada sosok yang duduk di jok motor itu.


"Fara! Jangan ngebut!" teriak Dilla saat melihat Fara yang melaju cepat.


Hanya sebentar setelah teriakan itu Dilla sudah tidak mendapati sosok anak gadisnya.


***


Fara memakirkan motornya dipinggir trotoar. Dengan masih menggunakan seragam sekolah dan sandal jepit sebagai alas kakinya Fara berjalan menuju konter pulsa di depannya.


Fara mendapati sosok lain yang berdiri di sebelahnya. Fara meliriknya sebentar, tatapannya tertuju kepada bed di lengan kanan atas orang itu. Sosok berjenis kelamin laki-laki itu ternyata berasal dari sekolah yang sama seperti dirinya. Tatapan Fara naik ke wajah laki-laki itu, siapa tahu laki-laki ini salah satu kenalannya. Fara mendapati wajah yang setengahnya tertutup oleh masker. Fara mengalihkan pandangannya. Dia tidak tahu rupa seorang dibalik masker itu.


"Pulsa lima puluh ribu." Fara memperlihatkan nomor ponselnya agar dapat dicatat oleh pemilik konter pulsa ini.


"Bang, pulsa saya belum masuk nih."


Fara menolehkan kepalanya cepat saat mendengar suara yang tak asing baginya. Tak lama kemudian laki-laki itu juga ikut menolehkan kepalanya. Saat ini mata keduanya saling bertatapan.


"Fara!" Nino menurunkan maskernya sampai dagu. Terlihat wajah tampan itu dengan senyuman khas miliknya.


Fara tersenyum tipis, lalu mengangguk.


"Wahhh, kita bertemu lagi." Nino tersenyum semakin lebar, matanya telihat mengecil saat dia melakukannya.


Fara tertegun oleh senyuman itu.


Entah mengapa senyuman Nino saat ini mengingatkannya kembali kepada laki-laki di kafe yang tiba-tiba tersenyum seperti 'itu' kepadanya.


Tanpa sadar Fara membandingkan keduanya.


Wajah Nino yang tersenyum dan wajah laki-laki itu yang tersenyum.


Bohong rasanya jika wajah Nino yang tersenyum saat ini tidak membuat Fara terpesona. Nino yang saat ini, terlihat indah. Tidak, bahkan Nino sudah terlihat indah sejak pertemuan pertama mereka.


Laki-laki di kafe itu pun sama. Saat melihatnya yang selalu tersenyum formal untuk kepentingan pekerjaannya dan melihatnya yang tiba-tiba tersenyum tulus kepada Fara merupakan sesuatu yang luar biasa. Mereka berdua benar-benar terlihat indah di mata Fara. Nino yang manis saat tersenyum dengan lesung pipi miliknya serta laki-laki itu yang tampan saat tersenyum lebar, meninggalkan kesan formal yang melekat pada dirinya.


Namun, ada sesuatu yang berbeda.

__ADS_1


Nino tidak bisa membuat Fara merasakan gejolak yang sama seperti saat dirinya berada dekat dengan laki-laki pekerja kafe itu.


"Fara?"


Fara tersadar dari pikiran panjangnya saat dirasakan sesuatu yang menepuk bahu kirinya.


Nino melihat Fara yang terus menatapnya. Entah mengapa Nino merasa ...


... tidak nyaman? Seperti ada sesuatu yang berbeda dari respons tubuhnya.


"Sudah masuk nih Mas, coba cek pulsa." Suara penjual itu tiba-tiba masuk di antara keduanya.


Nino menatap sebal laki-laki kurus diseberangnya, sedangkan Fara mengatupkan kembali bibirnya yang ingin mengeluarkan kata.


"Punya Mbaknya juga udah masuk."


Fara merasakan ponsel di saku rok miliknya bergetar. Diambilnya benda pipih itu dari sana. Dapat Fara lihat pesan dari operator yang memberitahu bahwa pengisian pulsa telah berhasil.


Fara menyerahkan sejumlah uang kepada laki-laki pemilik konter pulsa itu.


"Pas ya Mbak uangnya."


Fara mengangguk lalu mengucapkan terima kasih.


Fara berjalan meninggalkan konter pulsa untuk menuju motor yang terpakir dipinggir trotoar. Sepanjang perjalanan itu Fara melihat bagian belakang tubuh Nino yang berdiri tak jauh dari motor milik Fara.


"Ngapain?"


Nino tekejut karena suara yang tiba-tiba dari arah belakangnya. Nino membalikkan badannya agar dapat melihat Fara.


"Enggak ngapain-ngapian," jawab Nino.


"Berdiri gitu." Fara berjalan menuju motor miliknya, lalu menaikinya.


"Kalau udah tahu kenapa nanya?" Sewot Nino kepada Fara, tangannya meraih helm yang menggantung di kaca spion motor miliknya, lalu memaikanya di kepala.


"Basa-basi aja," jawab Fara tak peduli. Dinyalakannya motor miliknya. Fara sudah siap untuk pergi.


"Eh, eh, tunggu, Fara!" Dengan gopoh Nino segera menaiki motornya, dinyalakannya motor itu lalu menyusul Fara yang sudah melaju terlebih dahulu.


Dan tanpa sadar, Fara tersenyum tipis.


***

__ADS_1


__ADS_2