L A T T E

L A T T E
15


__ADS_3

Hari ini seperti hari-hari pada umumnya; kegiatan yang sama dari dimulainya bangun tidur, lalu bersiap untuk sekolah, kemudian sarapan, setelah itu berangkat ke sekolah.


Dapat Fara lihat gerbang hitam besar yang menjulang tinggi dari tempatnya berada saat ini. di sekitarnya banyak orang dengan seragam yang sama dengannya, ada yang berjalan, menaiki alat transportasi seperti sepeda dan motor, lalu ada yang di antar oleh tukang ojek atau salah satu anggota keluarganya.


Fara menguap, udara pagi yang terasa lembut ini membuatnya mengantuk. Fara mengurangi kecepatan motornya saat melewati gerbang yang membuatnya berpindah dari dunia luar ke dunia lain yang disebut sekolah. Fara melihat Pak Hari—Satpam sekolahnya yang sedang sibuk membalas sapaan para murid, senyum senantiasa terpatri di wajahnya yang keriput karena usia yang sudah tidak muda lagi.


Fara tetap melanjutkan perjalanannya menuju tempat parkir. Saat sampai di tempat parkir segera saja Fara memarkirkan motornya di tempat yang masih belum terisi oleh kendaraan lain. Fara turun dari motor, lalu berjalan santai menuju kelasnya yang berada di lantai dua.


Fara merogoh saku roknya saat dirasakan ada yang bergetar di dalam sana. Terpampang nama "Nova" di sana. Fara tertawa saat melihat stiker yang dikirim Nova kepadanya, membuatnya menarik perhatian sebagian orang yang masih berada di tempat parkir. Jari Fara bergerak untuk mengetikkan balasan. Fara menghentikan langkahnya saat terdapat panggilan masuk yang terpampang di layar ponsel miliknya. Fara merapatkan dirinya ke tembok agar tak menghalangi orang-orang lain yang berjalan, lalu menerima panggilan itu, didekatkannya telepon genggam miliknya ke telinga, seketika itu juga sebuah suara terdengar.


***


Nino menatap tidak suka objek di depannya. Dipukulnya objek itu sebagai pelampiasan atas perasaan kesalnya. Padahal dia yang ceroboh karena lupa mengisi bensin untuk motor semata wayangnya ini. Dia lupa, seharusnya setelah membeli pulsa kemarin Nino sudah merencanakan untuk mampir ke pom bensin, namun apa daya. Hanya karena Fara yang tiba-tiba muncul di hadapannya seketika saja membuat rencananya berserakan lalu pergi meninggalkan otaknya. Entah kenapa fokusnya saat itu hanya tertuju kepada sosok Fara.


Ugh, menyebalkan.


Sumpah serapah sudah Nino lontarkan, baik secara batin maupun lisan. Nino merogoh saku celana kainnya. 15 menit lagi kegiatan belajar di sekolah dimulai. Tangannya bergerak menuju salah satu aplikasi chat, jarinya bergerak cepat di sana, dengan tidak sabar Nino menekan ikon berbentuk telepon yang berada di pojok kanan atas.


"Fara, Fara!" ucap Nino tidak santai pada orang diseberang sana.


"Udah berangkat?" lanjut Nino yang masih tidak santai.


"Tumben? Balik lagi dong."


Dapat Nino dengar suara Fara yang sedikit keras dari biasanya.


"Motor ku enggak ada bensinnya."


Nino mendapat balasan atas ucapannya.


Nino kembali menelan kata-kata yang akan dikeluarkannya—saat tiba-tiba—panggilan itu di putus secara sepihak oleh Fara. Nino menurunkan ponselnya dari telinga, lalu berlari keluar dari kediaman miliknya.


***


Fara menerima panggilan yang ternyata dari Nino. Suara Nino yang menanyakan dirinya sudah berangkat ke sekolah terdengar setelah sebelumnya nama miliknya disebut dua kali.

__ADS_1


"Gak!"


Bisa-bisanya manusia satu ini menyuruh Fara untuk menjemputnya. Tentu saja tanpa pikir dua kali Fara akan menolaknya. Jika motor bisa berjalan dengan air bukannya bensin maka tanpa pamrih dan dengan senang hati Fara akan menjemput laki-laki itu. Dan sayang sekali Fara ini juga bukan Nova yang akan mengirimkan sopir pribadi hanya untuk menjemput seorang teman yang motornya kehabisan bensin sehingga tidak dapat datang ke sekolah. Fara ini hanyalah siswi SMA biasa yang uang sakunya harus bisa jadi uang bensin juga.


"Dih, itu urusanmu." Segera setelah mengatakan itu, Fara mematikan panggilan secara sepihak, lalu kembali melangkahkan kakinya untuk menuju kelas.


***


"Kiri, Mas." Ucap seorang laki-laki SMA kepada sopir angkot yang sedang asyik menyanyikan lagu dangdut.


Nino menatap gerbang sekolahnya yang semakin lama semakin terlihat kecil. Nino juga merasa bahwa angkot tumpangannya ini belum berhenti. Nino tersadar akan sesuatu. Ditatapnya kepala bagian belakang sopir angkot itu.


"Oi! Mas! Kiri Mas!" ucap Nino sedikit berteriak.


Nino tidak peduli dengan penumpang lain yang mungkin terganggu oleh suara teriakkannya. Yang dia pedulikan saat ini adalah gerbang sekolah yang hampir ditutup oleh satpam sekolahnya.


"Eh, iya-iya. *Sepurane, Mas."


Nino menatap tidak suka laki-laki di depannya. Dengan cepat diberikannya sejumlah uang kepada sopir angkot itu. Nino turun dari angkot, lalu memacu kakinya untuk berlari secepat mungkin. Nino tidak memedulikan keringat yang mulai keluar membasahi seragam sekolahnya, yang penting dia harus sampai sebelum pagar besar itu ditutup.


"Pak Hari, tunggu Pak!" teriakan Nino menggelegar di sepanjang jalan raya, membuatnya menarik perhatian beberapa orang yang berpapasan dengannya, termasuk Pak Hari yang dengan besar hati menunda untuk menutup gerbang sekolah.


Nino merasakan jantungnya berdegup kencang. Bahu dan dadanya naik-turun secara cepat. Nino bernapas pendek-pendek. Mulutnya sedikit terbuka untuk mendapatkan oksigen lebih bagi paru-paru miliknya.


Tidak lama kemudian Nino menegakkan badannya, lalu menghembuskan napas panjang. Nino menolehkan kepalanya kepada Pak Hari yang sudah selesai menutup pagar besar itu.


"Makasih ya, Pak!" ucap Nino sambil tersenyum lebar. Diberikannya dua jempol kepada satpam sekolah itu.


"Iya, sama-sama. Lain kali jangan diulangi lagi, kalau ketahuan guru bisa repot," ujar Pak Hari sambil berjalan menuju pos jaga.


"Enggak lagi-lagi kok, Pak. Motor saja kehabisan bensin, jadi terpaksa naik angkot. Sopir angkotnya juga disuruh berhenti malah bablas terus." Nino menjelaskan tanpa diminta.


"Iya-iya. Sudah sana, keburu bel masuknya bunyi." Usir Pak Hari secara lembut.


"Siap."

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak," Lanjut Nino.


Nino berlalu setelah sebelumnya sudah mendapatkan anggukan dari Pak Hari. Langkah kakinya lebih cepat dari biasanya. Selama perjalanan menuju kelas dia terus-menerus bersyukur karena belum terlambat, bersamaan dengan rasa syukurnya dia juga mengeluh karena hampir terlambat. Nino tidak ingin namanya hadir dalam buku piket keterlembatan. Gelar murid baik-baiknya akan tercemar jika itu sampai terjadi. Tunggu, ini berbeda dengan dirinya saat SMP. Jika dahulu dia berusaha menjadi sempurna dan melakukan berbagai hal baik agar menjadi pusat perhatian dari lingkungan di sekitarnya, maka sekarang Nino akan berusaha sesuai kemampuannya. Nino yang sekarang melakukannya untuk dirinya sendiri bukan agar orang lain menghormatinya atau memandangnya tinggi. Ya, kalau ingin menjadikan penggemar atau teladan sih tidak masalah, Nino tidak bisa membuang potensinya yang satu itu. Dia juga sadar banyak orang lain yang memiliki potensi yang sama atau melebihi dirinya, dan jika dipikir-pikir kembali dirinya yang dahulu itu terlihat kekanak-kanakkan sekali.


Setelah kisah hidup Nino ini dan perubahannya terserah kalian jika menganggapnya omong kosong dan terlihat naif, pendapat kalian itu milik kalian, tetapi jangan memaksakannya kepada orang lain. Sedangkan Nino sendiri menganggap serangkaian kejadian yang dialaminya ini adalah perwujudan dari sikapnya yang semakin terlihat dewasa. Sisi baik lainya dari pengalaman hidupnya ini Nino juga bisa lebih menghargai suatu hubungan yang terjalin antara dirinya dan orang lain, tidak sekeder memanfaatkan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri.


Nino tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan; terkejut dan merasa aneh dengan pemikirannya yang tiba-tiba seperti itu. Ingin tertawa rasanya, tetapi dia tahan karena di sekitar koridor masih ada beberapa siswa-siswi yang berlalu-lalang.


Nino menambah kecepatan kakinya saat suara bel terdengar. Tidak sampai satu menit dia sudah sampai di kelasnya. Harga dirinya sebagai ketua kelas tertampar saat melihat teman-teman sekelasnya yang sudah duduk rapi di tempat masing-masing dan hanya satu bangku saja yang masih kosong. Ya! Bangku miliknya. Nino mengatur napasnya sejenak. Kaki miliknya membawanya masuk kelas, dengan wajah datar dirinya berjalan melewati murid lain untuk menuju bangkunya. Nino segera mendudukkan diri saat sampai pada tujuan.


Tidak ada yang menghujat.


Nino memejamkan matanya, bibirnya tersenyum lega; bersyukur karena pikiran buruknya tidak menjadi kenyataan. Bukan bermaksud berlebihan, jujur saja baru kali ini dia hampir terlambat masuk sekolah selama perjalanannya menjadi siswa. Nino melepas tali ransel di pundaknya sambil bersenandung pelan sebagai bentuk perayaan atas kedatangannya ke sekolah.


"Wah, telat."


Nino berhenti bersenandung, senyum menghilang dari bibirnya, dibukanya mata miliknya yang sedari tadi terpejam, lalu ditatapnya makhluk hidup yang saat ini sedang duduk bersila di atas kursi.


"Bukan telat, tapi tepat waktu." Nino membalas perkataan teman sebangkunya itu.


Bayu—teman sebangku Nino mengangguk-angguk paham. Ditatapnya Nino yang juga sedang menatapnya.


"Hampir telat," balasnya cepat.


"Tepat waktu!" seru Nino tidak mau kalah.


Bayu mengalihkan perhatiannya dari wajah Nino yang kusut ke murid lain yang ada di depannya. Membuatnya dapat melihat bagian belakang murid itu yang ditumbuhi rambut warna hitam.


"Yang udah di sini sebelum bel masuk bunyi diem aja kalau gitu."


Bayu tersenyum penuh kemenangan saat tidak terdengar balasan dari ucapannya baru saja. Ditatapnya kembali Nino yang raut mukanya terlihat bete.


Nino menatap tidak suka Bayu, lalu mendecih pelan. Nino memalingkan wajahnya ke mana saja, asal tidak menatap wajah penuh kepuasaan teman sebangkunya itu.


Bayu yang masih ingin meledek Nino segara mengurungkan niatnya saat terdengar suara dari speaker kelas yang menyuruh untuk berdoa, sebelum kegiatan belajar mengajar di mulai.

__ADS_1


***


*maaf


__ADS_2