L A T T E

L A T T E
10


__ADS_3

Fara memarkirkan motornya di halaman rumah miliknya. Diikuti oleh Nino yang juga melakukan hal yang sama.


"Enggak pulang?" tanya Fara, lalu turun dari motornya.


Nino hanya tersenyum menanggapi perkataan Fara itu.


"Terserah," ucap Fara kemudian berlalu meninggalkan Nino.


Nino mengikuti Fara dari belakang, senyum selalu terpatri di wajahnya.


Fara dan Nino mengucapkan salam secara bersamaan. Tak lama kemudian, muncullah Dilla yang tersenyum hangat menyambut kehadiran keduanya.


"Wah, ada Nino! Ayo, masuk-masuk."


Fara melihat Mamanya yang tersipu seperti remaja yang dijemput pacarnya untuk kemudian malam mingguan bersama.


Nino melepas masker yang sedari tadi melekat di dagunya, dimasukkannya masker itu ke saku celana sebeleh kanan.


Nino menundukkan kepalanya, punggunggnya sedikit membungkuk untuk menyesuaikan tinggi dengan wanita didepannya, tangan kanannya menggenggam tangan kanan milik Tante Dilla. Dibawanya tangan itu menuju dahinya.


"Enggak usah Tante, Nino cuma mau nyapa Tante dan yang lainnya. Jadi, sebentar saja," ucapnya setelah selesai dengan kegiatannya.


Fara menatap dua orang yang berbeda usia itu secara bergantian, lalu mendecih. Dilangkahkannya kaki miliknya untuk masuk ke rumah.


Fara mendapati Rere yang duduk santai di sofa ruang tamu. Rere memakai kaus warna putih dan celana pendek di atas lutut. Tangan kanannya sibuk merogoh bungkusan makanan ringan, lalu setelah mendapatkan sesuatu dari dalam bungkusan itu Rere memasukkannya ke dalam mulutnya. Sedangkan tangan kirinya memegang minuman bewarna cokelat yang Fara duga itu adalah kopi. Kakaknya itu memang suka kopi tidak seperti dirinya. Tanpa memberikan sapaan, Fara melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti untuk menuju kamarnya. Namun, sebelum itu Fara teringat bahwa tas ransel dan barang yang tadi sore dibelinya dia taruh di dapur. Fara mengganti tujuan, lalu berjalan menuju dapur.


Dapat Fara lihat tas ransel miliknya masih berada di tempat yang sama saat Fara menaruhnya. Diambilnya tas itu, tatapannya sekarang tertuju kepada meja makan yang kosong. Dengan matanya Fara menelusuri seluruh permukaan meja makan.


Tidak ada. Meja makan itu benar-benar kosong.


Fara menjongkokkan dirinya. Siapa tahu ada orang yang tidak sengaja menyenggolnya dan membuat minuman itu jatuh. Kurang lebih lima menit Fara bertahan diposisi itu, tetapi matanya tetap tidak menjumpai kopi yang beberapa saat lalu dibelinya.


Fara menuju lemari es, lalu membukanya, berharap jika bungkusan itu ada di sana. Biasanya Mama selalu memasukkan makanan atau minuman yang dijumpainya di lemari es. Fara membanting pintu lemari es agar tertutup. Suasana hati Fara sedang tidak baik.


Fara yang sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kepada minuman itu tiba-tiba tersadar akan sesuatu. Segera Fara memacu langkahnya menuju ruang tamu. Fara yakin raut wajahnya saat ini terlihat tidak enak untuk dipandang.


Rere dikejutkan oleh kehadiran adik perempuannya yang tiba-tiba berdiri membelakangi televisi.


"Fara, minggir! Enggak kelihatan nih." Rere memerintahkan Fara untuk pergi dari tempatnya berdiri. Kepalanya bergerak tak teratur untuk mencari celah yang tidak berhasil tertutupi oleh tubuh Fara.


"Dapat darimana?" Fara bertanya dengan nada datar penuh emosi yang terkesan mengintimidasi.


Rere menatap Fara heran. "Eh, apanya yang dapat darimana?" Rere mengerjapkan matanya beberapa kali.


Fara menatap marah perempuan dihadapannya. Ekspresi wajahnya yang bagi Fara dibuat-buat imut terlihat memuakkan. Fara mengalihkan tatapannya yang semula tertuju kepada wajah itu ke sesuatu yang dipegang Rere di tangan kirinya.


Rere memperhatikan Fara yang menatap nyalang ke arah benda di tangan kirinya. Ditundukkannya kepalanya untuk menatap sesuatu digenggamannya. Rere tersadar, dengan panik dia menatap wajah Fara.


"Eh, itu, anu, ini ya?" Rere gelagapan, diliriknya minuman yang tinggal setengahnya saja itu.


Mana tahu Rere jika minuman yang saat ini diminumnya adalah milik Fara! Rere melirik Mamanya yang masih tertawa riang bersama Nino di teras rumah untuk mencari pertolongan.


Fara diam; menunggu Rere untuk berbicara.

__ADS_1


"Dapat dari meja makan." Rere menghindari kontak mata dengan Fara saat mengeluarkan kalimat tersebut.


"Itu punya Fara!" Fara setengah berteriak, telunjuknya mengarah kepada wadah berisi ice latte yang ada digenggaman Rere.


Nino menghentikan tawanya begitu juga Dilla saat bunyi teriakan tertangkap oleh indra pendengaran mereka.


Dilla melirik ke dalam sebentar, lalu kembali kepada Nino yang menatap bingung dirinya.


Dilla tersenyum canggung. "Sebentar ya, Nino."


Nino mengangguk. Dapat Nino lihat Dilla yang masuk ke rumah.


Dilla mendapati kedua putrinya di ruang tamu. Fara yang terlihat marah dan Rere yang terlihat gugup.


"Ada apa ini?" tanya Dilla, membuat perhatian kedua perempuan itu beralih kepadanya.


"Rere minum minuman Fara tanpa izin dari Fara." Fara mengutarkan permasalahannya cepat, nada suaranya sudah kembali seperti semula; datar. Fara tidak ingin didahului oleh Rere. Dia tidak ingin Rere mengatakan hal yang tidak-tidak dan dapat merugikan Fara. Lagipula yang salah di sini adalah Rere bukan Fara.


Rere menatap Fara. Wajahnya terlihat tidak terima, padahal Fara mengatakan yang sebenarnya.


"Fara dia kakakmu jangan panggil nama saja." Dilla menatap Fara tegas.


Fara diam. Fara tidak peduli akan status dirinya terhadap Rere saat ini, dia benar-benar dongkol. Mengapa juga dia harus peduli dengan panggilan seorang pencuri?


Dilla mengalihkam tatapannya yang semula tertuju kepada Fara ke Rere yang duduk di sofa.


"Rere, kalau tahu itu bukan punyamu kenapa diminum? Seharusnya kalau kamu mau ya minta izin dulu sama yang punya minuman." Dilla berkata tak kalah tegas kepada Rere.


Rere menatap Mamanya tidak terima. "Emang kalau Rere minta izin ke Fara bakal dibolehin? Lagipula salah siapa juga naruhnya sembarangan, mana Rere tahu kalau punya Fara. Rere kira enggak ada yang punya. Jadi, ini enggak sepenuhnya salah Rere!" ucap Rere panjang lebar.


Dilla menghela napas. "Tetapi itu tidak mengubah fakta kalau minuman itu bukan punya Rere kan?" Dilla mencoba memberi pengertian Rere dengan hati-hati, agar tidak menimbulkan salah paham. Baik itu bagi Rere maupun Fara.


Dilla tidak tahu apakah perannya sebagai orang tua yang menasihati anaknya ini sudah benar atau tidak. Sudah adil atau malah sebaliknya? Dilla tidak tahu. Namun, Dilla selalu berusaha yang terbaik untuk keduanya. Mungkin pada sudut pandang anak-anaknya Dilla ini orang tua yang cerewet dan mudah emosi, tetapi tidak kurang-kurang dirinya memberikan kasih sayang kepada keduanya. Menjaga hubungan keduanya selayaknya kakak dan adik, melerai saat mereka mulai bertengkar, kemudian kembali bercanda dan bersenda gurau bersama. Sebagai Ibu itu adalah momen paling berharga untuk Dilla, melihat keduanya tumbuh bersama. Namun, entah mengapa momen-momen itu sudah jarang terlihat olehnya. Jujur saja, Dilla merasa sedikit sedih, padahal mereka dulu saling menatap dan sangat dekat, tetapi sekarang menjadi saling membelakangi dan menjaga jarak.


Saat-saat seperti ini Dilla sangat berharap keduanya yang saling mengobrol sambil sesekali tertawa, bukannya saling memaki dan membentak.


"Ya terus kalau Rere izin bakal dibolehin?" teriak Rere tiba-tiba.


Dilla terdiam karena teriakan Rere. Dadanya terasa sesak karena dibentak oleh anak perempuannya sendiri.


Fara menatap Rere nyalang, sedangkan yang ditatap hanya menunduk diam.


Rere terkejut dengan apa yang dilakukannya beberapa detik yang lalu. Dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Saat ini Rere tidak berani menatap mamanya.


Suasana di ruang tamu itu mendadak hening. Hanya suara dari televisi yang terdengar. Tidak ada yang berniat mengeluarkan sepatah kata.


***


"Ya terus kalau Rere izin bakal dibolehin?"


Nino merasa tidak enak karena tanpa sengaja mendengar semuanya. Nino tidak terlalu tahu keluarga Fara itu seperti apa. Yang Nino tahu, Fara memiliki seorang Kakak perempuan bernama Rere, dan seorang ibu yang penuh perhatian serta seorang ayah. Tidak seperti Tante Dilla, Nino jarang bertemu dengan Om Abhi, jadi dia tidak terlalu mengenal kepribadian ayah Fara. Namun, pada beberapa kali pertemuan Nino cukup tahu, bahwa Om Abhi adalah sosok yang disiplin dan sedikit menakutkan.


Nino benar-benar bingung. Dia memikirkan tindakan apa saja yang harus dilakukan.

__ADS_1


Apakah dia harus pulang tanpa pamitan? Atau tetap di sini sesuai permintaan Tante Dilla?


Nino bergerak gusar, telunjuknya mengetuk-ngetuk paha kanannya, dan matanya terpejam.


"Nino?"


Nino dikejutkan oleh suara berat yang memanggil namanya.


"Iya?" Nino memiringkan kepalanya ke kanan, tatapannya tertuju kepada pria dengan setelan kantor yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


Tak lama, Nino tiba-tiba bangkit dari duduknya. Sangking terbawa lamunannya Nino sampai tidak mendengar bunyi motor milik Om Abhi.


Sambil tersenyum kaku Nino menghampiri pria—yang ternyata Ayah Fara itu. Nino melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya kepada Ibu Fara saat berjumpa tadi.


"Daritadi?" Abhipraya bertanya kepada pemuda yang membungkuk untuk menyalaminya.


Nino menegakkan badannya. "Enggak, baru saja kok Om." Diberikannya senyum khas milik Nino kepada Om Abhi.


"Faranya mana?" tanya Abhipraya lagi. "Dasar anak itu, temannya bertamu kok dibiarin sendirian." Lanjut Abhipraya.


Nino mendadak salah tingkah, dia bingung harus menjawab seperti apa.


"Eh, tadi udah ditemani kok. Faranya lagi ngambil minuman buat Nino." Bohong Nino kepada orang tua di depannya.


"Oh, gitu. Ya sudah kamu duduk dulu, nanti Om panggilkan Fara, suruh cepat-cepat nemuin kamu." Abhipraya menepuk bahu kanan Nino pelan, lalu berlalu untuk masuk ke rumah.


"Om, masuk dulu ya Nino." Pamitnya kepada pemuda yang menjadi teman anaknya itu.


Nino mengangguk sambil tersenyum ramah.


Matanya memperhatikan Om Abhi yang berjalan menuju pintu masuk rumah. Dan tiba-tiba Nino kembali teringat. Bahwa suasana di dalam sedang tidak baik-baik saja.


Gawat.


Nino kembali sibuk memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Om Abhi yang lelah karena barusaja pulang bekerja, lalu dihadapkan oleh pertengkaran kedua anaknya.


Benar-benar gawat.


Nino sudah memberitahu kan? Om Abhi itu sedikit menakutkan. Mengapa Nino bisa berkata seperti itu? Karena Nino pernah melihat dan mendengar Om Abhi yang mangatai Fara saat teman perempuannya itu tidak sengaja menumpahkan minuman yang diperuntunkan untuk dirinya. Iya! Padahal hanya karena minuman yang tumpah, secara tidak sengaja pula, gelas tempat minuman itu pun tidak pecah, tetapi Fara mendapat kata-kata yang tidak mengenakkan. Apalagi saat ini, dengan suasana seperti ini. Apa yang akan terjadi kepada Fara nanti?


Sial.


Nino mendadak khawatir.


***


Abhipraya mengucapkan salam, tetapi tidak ada yang membalas. Dilihatnya istri dan anak-anaknya yang berkumpul di ruang tamu. Abhipraya sedikit heran dengan suasana yang hening ini. Tidak biasanya, pikir Abhipraya.


Dilangkahkannya kaki miliknya untuk mendekati ketiga perempuan itu.


"Ada apa ini?"

__ADS_1


***


__ADS_2