
Fara duduk di bangku panjang pinggir koridor. Kakinya dia luruskan, tatapannya tertuju kepada sepatu warna hitam yang dipakainya. Saat ini dia sedang menunggu Nova menyelesaikan piket kelas.
Fara menguap, padahal 50 persen waktunya di sekolah digunakan untuk tidur. Sepertinya semakin banyak Fara tidur, maka semakin mengantuk dirinya. Dipejamkannya mata miliknya, semilir angin menerpa halus dirinya. Terasa sejuk saat angin itu membelai lembut beberapa bagian tubuhnya yang tidak tertutupi oleh seragam sekolah. Suasana koridor yang sepi membuat Fara semakin larut oleh rasa kantuknya.
***
Nova menaruh sapu di belakang pintu, tanda jika dia sudah selesai melaksanakan piket. Nova berpamitan kepada teman-temannya yang masih ada di kelas, kakinya melangkah keluar menuju tempat Fara menunggunya.
Nova menolehkan kepalanya ke samping, netranya mendapati Fara yang sedang memejamkan mata. Nova heran, padahal Fara sudah cukup tidur saat jam kosong tadi. Mungkin cukup menurut Fara dan Nova itu berbeda. Kelakuan Fara sudah menjadi suatu kejutan tak terduga bagi Nova. Walaupun sebenarnya Fara hanya merasa harus memanfaatkan keadaannya saat ini dengan sebaik mungkin, Nova sedikit paham akan hal itu, setelah satu tahun ini mereka selalu bersama.
"Fara, bangun!" Nova mengguncang kasar bahu Fara.
Secara perlahan Fara membuka kelopak matanya, lalu menguap. Jemarinya menggaruk kepala miliknya dengan gerakan tak teratur.
Fara menatap Nova yang berdiri di depannya. Segera saja dia berdiri, dirasa tubuhnya kaku karena posisi tidur yang kurang nyaman—Fara merenggangkan tubuhnya. Didorongnya tubuh itu ke atas, sambil kedua tangannya yang telentang kesamping. Fara kembali menguap, kali ini dia menutup mulutnya yang terbuka lebar.
Tanpa di komando, kedua murid SMA itu mulai melangkahkan kakinya menjauhi ruang kelas. Perbedaan tinggi terlihat jelas saat keduanya berjalan bersebelahan.
"Lama ya nunggunya?" Nova menatap Fara yang menjulang tinggi di sampingnya.
Fara mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Nova. "Ngapain minta ditunggu?"
Nova tersenyum lucu. "Enggak ada alasan khusus sih," jawabnya tanpa beban.
Fara hanya diam. Fara menyesali keputusannya yang memilih menunggu.
Keduanya terus berjalan, sambil diiringi oleh ocehan Nova yang tidak ada habisnya.
***
Nino mendapati seorang gadis yang dikenalnya, tanpa basa-basi Nino segera menghampirinya.
"Fara!" sapanya ringan. "Kita bertemu lagi." Diberikannya senyuman manis kepada perempuan yang disapanya.
Fara menatap Nino lalu mengangguk pelan untuk menanggapi sapaan Nino kepadanya.
Nova memperhatikan keduanya secara bergantian. Nino yang tersenyum manis dan Fara yang datar seperti biasa.
"Hai, Nino." Merasa tidak dipedulikan—Nova berinisiatif menyapa terlebih dahulu.
"Eh, hai juga," jawab Nino gelagapan, senyuman yang awalnya tampak manis itu berubah menjadi kaku dan canggung.
Sejenak suasana di antara ketiganya mendadak hening. Sampai akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh Nova yang berpamitan karena jemputannya sudah tiba.
Fara melambaikan tangan kanannya pelan kepada Nova yang berlari kecil menuju mobil BMW warna hitam.
__ADS_1
Fara menghentikan lambaian tangannya saat mobil itu melaju dan menghilang dari pandangannya.
Perhatian Fara tertuju kepada laki-laki didepannya. "Enggak pulang?" tanya Fara basa-basi.
"Pengennya sih gitu," jawab Nino sambil memasang ekspresi masam.
"Ekskul?" Fara melangkahkan kakinya menuju parkiran sepeda motor.
"Enggak, ada rapat OSIS." Nino mengikuti Fara, disejajarkannya langkah miliknya agar dapat berjalan bersebelahan dengan Fara.
Fara mengangguk-angguk. "Kenapa ikut?" tanyanya heran.
"Rapatnya belum mulai kok." Nino memberikan jawaban yang tidak berhubungan dengan pertanyaan yang ditanyakan Fara.
Sepasang manusia itu masih berjalan. Suara sepatu yang menghentak pelan ke tanah terdengar jelas. Keduanya diam, tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata.
"Fara, lapar," keluh Nino tiba-tiba.
Tangan Fara yang akan meraih helm terhenti. Dirogohnya saku rok sebelah kanan miliknya. Saat sudah mendapat apa yang diinginkannya dengan perlahan Fara menggenggam tangan kanan Nino. Diangkatnya tangan itu sampai sebatas perut dengan posisi telapak tangan yang menghadap ke atas. Fara menaruh sesuatu yang tadi diambilnya dari saku rok di telapak tangan Nino.
Nino menatap telapak tangannya yang terisi oleh tiga buah permen kacang kesukaan Fara. Perhatian Nino yang semula tertuju pada telapak tangan miliknya berganti kepada Fara.
Fara memakai helmnya, lalu mengeluarkan motornya dari jajaran motor-motor lainnya.
Digenggamnya permen kacang itu lalu digerakkan tubuh miliknya sampai sekiranya tidak menghalangi Fara.
Fara menaiki motor miliknya, tak lama suara mesin motor terdengar.
"Duluan, Nino." Fara menoleh kepada Nino yang berada di sampingnya.
Nino mengangguk, lalu tersenyum. "Hati-hati."
Fara tersenyum tipis dan segera berlalu dengan motor yang dikendarainya.
Dalam sekejap Nino sudah tidak menjumpai sosok perempuan itu. Nino menundukkan kepalanya. Nino tersenyum lebar saat mendapati tiga buah permen kacang di atas telapak tangannya.
Mana kenyang kalau begini.
***
Semilir angin menerpa. Fara merasakan sedikit kesejukan di sore yang panas. Fara menghentikan motornya saat melihat lampu lalu lintas yang menyala merah. Pandangannya tertuju kepada hilir mudik berbagai alat tranportasi di depannya. Perhatian Fara teralih ke samping kanannya. Di sana terdapat remaja laki-laki dengan pakaian yang jauh dari kata layak, kulitnya gelap karena seringnya terpapar sinar matahari, rambutnya acak-acakan, menunjukkan bahwa pemiliknya tidak merawatnya dengan baik, tangannya memegang ukulele, dipetiknya ukulele itu sembarangan sambil mulutnya menyanyikan sebuah lagu yang tidak Fara tahu, nada lagu yang terdengar tidak beraturan serta suara milik remaja laki-laki itu kurang enak didengar telinga. Terlihat pengemudi sepede motor itu memberikan recehan untuk remaja laki-laki yang "menghiburnya" tanpa diminta. Dengan segera dia—pengamen itu membungkuk kecil lalu memasukkan recehan hasil kerjanya ke dalam saku celana kotor miliknya, setelahnya dia berlalu dari sana dan berjalan menuju pengemudi lain untuk melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
Miris.
Dari proporsi tubuhnya Fara menduga— seharusnya—remaja laki-laki itu duduk di bangku SMP. Di usianya yang masih muda keadaan memaksanya untuk melakukan hal seperti itu. Jika sedang untung mungkin dia bisa makan tiga kali sehari seperti orang kebanyakan, tetapi setiap manusia memiliki pasang-surutnya sendiri, bisa jadi seharian ini dia tidak makan, lalu saat malam menjelang dia akan tidur hanya beralaskan kardus di depan rumah tidak berpenghuni, tidak ada ruang yang membatasi udara dingin untuk menerpa tubuh itu. Fara harus bersyukur karena bisa makan tiga kali sehari tanpa bekerja keras dan dapat tidur di kasur dalam ruangan.
__ADS_1
Fara kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Bunyi klakson terdengar tak sabaran, ternyata lampu lalu lintas sudah menyala hijau. Fara menarik gas motor miliknya, lalu melesat maju membelah ramainya jalan raya.
***
Fara membelokkan motornya ke kafe tempat pujaan hatinya berada. Letak kafe yang sejalan dengan rumahnya menjadi suatu keberuntungan bagi Fara.
Fara mematikan mesin motor miliknya, lalu dilepaskannya helm itu dari kepala. Tangannya meraih kaca spion kanan untuk diarahkan agar menyorot wajahnya.
Fara melihat replika dirinya sendiri di kaca spion itu. Wajahnya kucel dan berminyak karena aktivitas seharian. Rambutnya jauh dari kesan rapi, ikatan rambutnya turun yang menyebabkan beberapa helai rambutnya terlepas.
Fara menarik tali rambut miliknya, menyebabkan rambut lurus sepinggang itu tergerai indah. Hanya sebentar, Fara mengumpulkan rambutnya dalam genggam tangan miliknya. Diikatnya rambut itu sehingga membentuk seperti ekor kuda. Fara mengambil tisu dalam saku seragam miliknya. Diarahkannya tisu itu kepada wajah, lalu dengan perlahan Fara menggosakkan tisu itu ke seluruh permukaan wajahnya.
Setidaknya tidak terlalu parah seperti sebelumnya.
Batin Fara sambil memandang sosok dirinya yang berada di kaca spion motor.
Fara turun dari motor, lalu melangkahkan kakinya ke pintu masuk kafe. Tangannya meraih gagang pintu yang terbuat dari aluminium, lalu membukanya perlahan.
Udara dingin dari pendingin ruangan terasa menyejukan diri Fara yang lama berada di jalanan. Fara menarik napas panjang untuk menyelami bau kopi yang semerbak.
Fara berjalan menuju meja bar tempat laki-laki yang ingin ditemuinya berada.
"Hallo, selamat sore. Ingin pesan apa?" tanya laki-laki itu kepada Fara, senyuman ramah khas pelayan untuk diberikan kepada pelanggan bertengger indah di bibirnya.
Fara terpesona akan senyuman itu, dia diam beberapa saat, tanpa diperintah jantungnya sudah memompa dengan cepat. Setelah berhasil menguasai dirinya, Fara menelan ludah, lalu tersenyum tipis. "Tolong, ice latte satu." Pintanya kalem.
Laki-laki itu menunduk sebentar untuk mencatat pesanan Fara.
"Minum di sini atau untuk dibawa pulang?" Laki-laki itu menatap Fara.
Fara merasakan kakinya yang lunak seperi puding saat tatapan itu terpaku kepada dirinya. Fara menetralkan napasnya yang memburu, suaranya sedikit bergetar saat berkata, "Dibawa pulang."
Laki-laki itu mengangguk pelan, lalu mengatakan nominal yang harus dibayar Fara.
Tangan Fara melayang di udara. Otaknya membayangkan sesuatu yang lain saat akan mengambil uang kembalian dan struk yang disodorkan laki-laki itu. Dengan perlahan dan hati-hati Fara mengambilnya. Tatapannya tertuju kepada wajah tampan laki-laki dihadapannya. Entahlah, Fara tidak tahu sudah berapa kali dia mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini.
"Permisi?"
Fara tersadar akan apa yang sudah dilakukannya saat suara berat itu terdengar. Fara yang malu segera memalingkan wajahnya dan merebut kasar sejumlah uang dan kertas pemberian laki-laki itu.
"Terima kasih," ucap Fara pelan lalu segera berlalu meninggalkan tempat itu.
Segera setelah pesanan miliknya sudah jadi Fara melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kafe. Digenggamnya batang aluminium itu. Namun, sebelum benar-benar pergi, dengan perlahan Fara menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat laki-laki itu berada. Fara terkejut, dadanya sesak oleh jantung yang memompa cepat. Bernapas pun rasanya susah. Saat ini keadaan Fara tak karuan. Dengan cepat dibukanya pintu itu, kemudian berlalu keluar untuk meninggalkan tempat yang berpotensi buruk terhadap kesehatan jantungnya.
***
__ADS_1