
"Ada apa ini?"
Untuk kedua kalinya kalimat yang sama terlontar pada hari ini. Yang berbeda kalimat itu diucapkan oleh Abhipraya selaku ayah Fara dan Rere, serta suami dari Dilla.
Dilla tersadar dari lamunan kesedihannya, segera dia membalikkan badannya dan tersenyum lembut kepada suaminya. Tangannya meraih tangan Abhipraya untuk kemudian ditaruhnya di dahi miliknya.
Fara mengikuti apa yang dilakukan Mamanya, lalu disusul Rere.
"Ah, maaf. Papa sudah daritadi? Mama enggak kedengaran," ucap Dilla merasa bersalah. Wajahnya terlihat menyesal.
"Enggak, barusaja kok," jawab Abhipraya kalem untuk menenangkan istrinya.
"Ada apa ini? Tumben kok enggak berisik seperti biasanya?" Abhipraya mengulangi pertanyaannya.
Fara diam. Dia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan papanya. Fara akan menjawab jika pertanyaan itu benar-benar hanya tertuju kepadanya.
Rere yang biasanya selalu semangat untuk menjawab juga diam. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Rere tidak mau jika papanya juga memarahinya. Dia takut, papanya saat marah itu menyeramkan.
Melihat kedua anaknya yang hanya diam Dilla berinisiatif untuk menjawab, " Enggak berisik apanya. Ini tadi cuma kebetulan lagi diam aja, kehabisan bahan obrolan." Dilla tertawa pelan agar pria dihadapannya percaya akan apa yang dikatakannya barusaja.
Fara menatap Mamanya. Jelas-jelas tertawa itu hanya dibuat-buat, karena terlihat kaku dan canggung. Mata itu juga masih menatap sedih.
Rere mengangkat kepalanya dengan tiba-tiba. Dia terkejut. Rere kira Mamanya akan mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya, ternyata tidak. Mamanya berbohong kepada Papa untuk dirinya, tetapi jika dipikir-pikir papanya saat ini baru pulang kerja, lalu papanya yang sudah lelah disuguhkan oleh pertengkaran kakak-adik, apalagi permasalan pertengkaran itu hanya karena sebuah minuman. Bisa-bisa papanya langsung meledak. Rere tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi nanti jika papanya sudah marah.
Abhipraya mengangguk-angguk paham, senyum tipis diberikannya kepada Dilla dan anak-anaknya. Matanya menatap bergantian tiga orang perempuan yang memiliki hubungan darah itu.
Dilla mengambil alih tas yang digenggam oleh Abhipraya. "Papa pasti lelah. Mandi dulu saja," ucap Dilla lembut. Senyum manis diberikan kepada suaminya.
Abhipraya hanya mengangguk.
Tatapannya yang semula tertuju kepada Dilla berganti ke Fara. "Fara, temui Nino cepat. Enggak baik membiarkan tamu sendirian begitu," ucap Abhipraya tegas kepada anak bungsunya.
Fara hanya mengangguk untuk menanggapi perkataan papanya itu.
Setelah mengatakan itu, Abhipraya pergi dari ruang tamu, disusul oleh Dilla yang mengikutinya dari belakang.
Fara memperhatikan keduanya. Fara menyudahi kegiatannya saat sosok orang tuanya sudah hilang tertelan oleh pintu. Tatapan Fara tertuju kepada Rere yang juga menatapnya dengan tatapan murka. Fara heran, mengapa perempuan itu terlihat marah dan tidak terima?
Sangat kekanak-kanakan sekali. Batin Fara.
Fara menaikkan sebelah alisnya. "Cih, pencuri," ucap Fara meremehkan lalu pergi menuju teras depan rumah tempat Nino berada.
Rere menatap Fara tidak suka. Dibuangnya bungkusan camilan di tangan kanannya pada meja di depannya. Rere menatap minuman di tangan kirinya, lalu dengan kasar dan sedikit menekan ditaruhnya wadah berisi kopi itu meja. Dia sudah tidak minat lagi. Rere berdiri dari duduknya, dimatikannya televisi yang masih menyala, dengan cepat dan menghentak dilangkahkannya kaki miliknya untuk menuju kamar.
***
__ADS_1
Fara mendapati Nino yang sedang duduk. "Nino."
Nino mendengar namanya disebut. Nino mendongakkan kepalanya. Matanya menangkap Fara yang berdiri dengan ekspresi datar di wajahnya.
"Fara!" Nino sedikit berteriak. Dengan cepat dia berdiri, lalu melangkah untuk mendekati Fara.
Mata Fara melebar, dia sedikit terkejut dengan teriakan Nino barusan.
"Ah, maaf. Refleks tadi." Nino menyadari nada suaranya yang terlampau keras, sampai membuat perempuan dihadapannya itu sedikit berjengit.
"Apa?" Fara menatap Nino. Wajah manis milik Nino tampak dihiasi oleh raut kekhawatiran.
"Gimana-gimana? Aman kan?" Nino bertanya kepada Fara dengan gopoh.
"Apanya?" Fara menatap Nino bingung.
Nino menjadi gemas sendiri oleh perilaku perempuan di depannya ini. Tidak tahukah jika Nino ini mencemaskannya?
"Om Abhi enggak marah?" Jelas Nino.
Fara paham apa maksud Nino pada pertanyaan sebelumnya.
"Enggak," jawab Fara tanpa beban.
Nino memejamkan mata lega mendengar jawaban Fara.
Nino melunturkan senyuman dibibirnya saat merasakan sesuatu menyentuh pipi sebelah kiri miliknya. Dengan perlahan matanya membuka. Pandangan Nino melirik ke bawah untuk mengikuti tatapan Fara. Nino mendapati sebuah tangan yang menyentuh lembut pipinya. Terasa sedikit hangat dan lembap. Tubuh Nino mendadak kaku. Jantungnya berdetak cepat. Keringat dingin mulai keluar. Nino mengatur napasnya agar tetap teratur. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Nino kembali memejamkan mata, mencoba menikmati sentuhan Fara di pipinya.
Fara mengalihkan tatapannya yang semula tertuju pada tangan kirinya di pipi Nino ke wajah pemuda itu. Nino masih memejamkan mata. Raut khawatir sudah hilang dari wajah itu. Dapat Fara lihat, bibirnya yang berangsur-angsur melengkung ke atas, lalu menghasilkan sebuah senyum tipis yang semakin memanjakan mata Fara.
Fara tersenyum. Dia menyudahi kegiatannya menyentuh Pipi Nino.
Nino kembali membuka matanya, karena sentuhan itu yang sudah tidak dia rasakan di pipinya. Kecewa dirasakan Nino saat ini. Namun, semua itu tergantikan oleh wajah yang tersenyum tulus kepadanya.
Ini Nino tidak salah lihat kan?
Fara sedang tersenyum lebar kepada dirinya!
Nino berasa mengalami fenomena yang langkah. Empat tahun mereka berteman, jarang sekali dirinya melihat Fara yang tersenyum. Mungkin selama empat tahun itu, jumlah senyum yang diberikan Fara untuknya bisa dihitung dengan jari tangan saja.
Nino masih menatap wajah Fara. Sangat disayangkan jika raut wajah Fara yang saat ini diabaikan begitu saja.
Ah, Beginikah rasanya disenyumi oleh seseorang yang cuek dan selalu berwajah datar.
Sungguh.
__ADS_1
Membuat jantung tak karuan.
"Thanks, Nino," ucap Fara tulus. Senyumannya semakin lebar. Fara merasa harus berterima kasih pada laki-laki yang telah repot-repot mencemaskan dirinya.
Nino mendadak salah tingkah oleh "serangan" lain dari Fara.
"Eh, kenapa terima kasih?" tanya Nino setelah berhasil menguasai kembali jiwa dan raganya.
Fara tidak menjawab, hanya senyum yang masih bertahan di bibirnya.
Nino yang tidak mendapatkan jawaban dari Fara hanya bisa pasrah.
"Ya sudah, aku pulang dulu Fara. Bilangin ke Tante Dilla sama Om Abhi ya." Nino melangkahkan kakinya dan melewati Fara.
"Hm," jawab Fara yang sudah kembali ke mode datar. Fara mengekori Nino.
Nino menaiki motor miliknya, lalu memakai helm. Dinyalakannya motor warna hitam dan oranye itu.
Fara memperhatikan Nino yang memutar balik motornya. Sedikit berlari, Fara menghampiri Nino yang sudah berada di depan pagar rumahnya.
Nino mengurungkan niatnya untuk pergi dari sini. Dia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Oh, iya. Fara," ucap Nino sambil kepalanya yang menoleh ke kiri agar dapat melihat wajah lawan bicaranya.
"Apalagi?" Fara bertanya dengan nada jenuh yang sangat kentara.
Nino hanya tersenyum mendengar pertanyaan dan nada yang keluar dari mulut Fara.
"Makasih permennya, walaupun enggak bikin kenyang," jawab Nino. "Kalau gitu, dah. Sampai ketemu besok, di sekolah." Lanjutnya.
Fara mengangguk. "Hati-hati."
Nino hanya tersenyum, lalu melaju dengan motornya untuk pergi dari rumah Fara.
Fara melihat punggung itu sebentar, lalu menutup pagar rumahnya. Segera setelah selesai dengan kegiatannya Fara berjalan untuk masuk ke rumah.
Fara mendapati makanan ringan yang dimakan Rere tergeletak di meja ruang tamu, disebelahnya ada kopi yang Fara beli untuk (seharusnya) diminum oleh dirinya. Fara menatap minuman itu sejenak, lalu melanjutkan perjalanannya menuju kamar.
***
Pikiran Nino terus terpenuhi oleh wajah Fara yang tersenyum lebar kepadanya. Nino terus tersenyum, sambil menggumamkan lagu selama perjalanannya menuju rumah.
Saat itu Fara benar-benar berbeda. Coba saja jika Fara selalu seperti itu, mungkin banyak yang jatuh cinta kepadanya.
Nino melepas helm yang bertengger di kepala. Saat ini dia sudah sampai kediamannya. Tangan kirinya dia bawa menuju pipi sebelah kiri miliknya, sambil masih duduk di atas jok motor, Nino menengadah. Tatapannya tertuju kepada langit senja. Nino tersenyum lebar.
__ADS_1
Cantik.
***