
Nova dapat melihat pagar tinggi bewarna hitam dari tempatnya berada saat ini. Suara klakson terdengar, tepat setelah itu seseorang pria yang sudah tidak muda lagi mendorong pagar besi itu. Tubuhnya yang kecil terlihat kontras dengan besarnya pagar besi yang di dorongnya.
Nova membuka kaca jendela mobil, lalu diberikannya senyuman manis kepada satpam rumahnya yang telah membuka pagar berat itu.
Satpam itu tersenyum untuk membalas sapaan yang diberikan Nova kepadanya.
Nova keluar dari mobil setelah sebelumnya Pak Mulyo—sopir keluarga Nova membukakan pintu mobil untuknya. Dapat Nova dengar suara berderit pagar yang kembali ditutup. Nova berjalan menuju pintu bewarna putih, saat sudah sampai dibukanya perlahan pintu yang ukurannya lumayan besar itu.
Kedatangan Nova disambut hangat oleh Elis—pembantu yang sudah lama mengabdi kepada keluarga Nova.
"Selamat datang," ucap Elis sambil tersenyum lembut kepada Nova.
Nova menghentikan langkahnya, lalu mengangguk, diberikannya senyuman lebar kepada wanita paruh baya dihadapannya.
"Nona mandi dulu saja, makanannya belum jadi. Sudah saya siapkan segala keperluan Nona." Elis berkata lembut dengan kesan sopan.
__ADS_1
"Makasih, Bi. Nova ke kamar dulu kalau gitu," ucap Nova. Dilambaikannya tangan kanannya kepada Elis sambil kakinya yang perlahan berjalan menjauh.
Elis memperhatikan anak majikannya itu. Senyum masih setia bertengger di bibirnya. Elis berbalik menuju dapur saat perempuan dengan seragam SMA itu sudah menaiki tangga.
Nova berjalan perlahan, kakinya dengan telaten menaiki satu persatu anak tangga. Saat sudah sampai di lantai dua segera saja dia membuka pintu kamarnya. Nova berlari kecil menuju kasur queen size-nya. Dibuangnya asal tas ransel warna ungu itu di kasur. Tanpa berganti pakaian Nova menjatuhkan dirinya di benda persergi panjang itu, tubuhnya yang kecil sedikit terpental karena empuknya kasur. Nova merentangkan tangannya lebar-lebar, lalu memejamkan mata. Jika ditanya ke mana orang tuanya saat ini, maka Nova akan menjawab bekerja.
Seperti permasalahan orang kaya pada umumnya, atau mungkin tidak?
Kedua orang tuanya memang rajin bekerja, tetapi bukan berarti mereka melupakan anak semata wayangnya. Sejauh ini Nova tidak pernah kekurangan apapun dalam hal materi. Semua yang diminta Nova, selama itu masuk akal maka kedua orang tuanya akan menurutinya dengan senang hati.
Nilai kebersamaan yang terjalin di antara Nova dan orang tuanya terasa kurang. Nova sudah sering memintanya, nyatanya hal seperti ini rasanya sulit untuk orang tuanya kabulkan. Lebih banyak waktu yang digunakan orang tuanya untuk bekerja, seolah-olah jika tidak bekerja satu hari saja maka mereka akan jatuh miskin. Nova yang masih kecil pernah berpikiran seperti itu, bahkan sampai saat ini, saat dirinya sudah remaja. Bagaimana tidak, kedua orang tuanya berangkat kerja tepat setelah Nova berangkat sekolah dan pulang saat Nova sudah memejamkan mata. Makan bersama mungkin terjadi hanya saat pagi, malamnya dia akan makan sendirian, walaupun Elis akan berada didekatnya sampai Nova menyelesaikan makannya, tetapi tetap saja rasanya berbeda. Elis tidak bisa sekaligus menggantikan sosok kedua orang tuanya. Dapat dihitung dengan satu tangan berapa kali keluarga Nova melaksanakan makan malam bersama.
Saat ini dia sudah terbiasa, Nova sudah mencoba untuk menerimanya, tetapi Nova masih berharap agar lebih banyak waktu untuk berkumpul bersama. Nova sudah baik-baik saja. Nova sudah mengurangi untuk menuntut kedua orang tuanya agar lebih sering menghabiskan waktu dengannya. Bagaimanapun juga orang tuanya melakukan semua ini demi dirinya, untuk masa depannya. Saat itu sudah tiba, Nova akan meneruskannya dan menjaganya dengan baik, karena sudah waktunya dia yang bekerja keras untuk kedua orang tuanya. Saat itu sudah tiba, orang tuanya akan lebih sering tinggal di rumah dan waktu yang dihabiskan Nova dengan orang tuanya menjadi lebih banyak. Nova harap seperti itu.
Cukup. Berhenti membahas tentang keluarganya.
__ADS_1
Nova membuka matanya perlahan, lalu mengerjapkannya beberapa kali. Nova meraih tas ransel yang letaknya tak jauh dari dirinya. Dibukanya resleting bagian paling depan tasnya. Nova merogoh-rogoh bagian itu, lalu mengeluarkan benda yang diinginkannya dari sana.
Nova menyalakan ponselnya, lalu menekan salah satu aplikasi chat, dia berniat untuk untuk mengirim pesan kepada Fara. Hanya centang satu warna abu-abu yang didapat, yang artinya Fara tidak menyalakan data ponselnya.
"Ah, Fara tadi bilang kalau kuotanya habis," ucap Nova pada dirinya sendiri.
Bayangan wajah Fara terlintas dalam pikirannya. Selama Nova bersekolah dari sekolah dasar sampai saat ini dirinya sudah di sekolah menengah atas hanya Fara yang benar-benar berteman baik dengannya. Nova banyak mengalami masa-masa tidak menyenangkan saat sekolah dahulu, setidaknya sampai bertemu dengan Fara.
Nova yang dahulu banyak memiliki teman. Banyak orang yang ingin berkenalan dan menjalin sebuah hubungan dengannya, baik itu hubungan pertemanan biasa atau hubungan lainnya yang lebih dari teman. Menyenangkan memang, saat memiliki orang-orang yang menemaninya ke mana-mana. Namun, semua itu tidak berjalan sesuai apa yang Nova inginkan. Teman-temannya atau lebih tepatnya orang-orang yang berlagak menjadi temannya itu hanya memanfaatkan status Nova yang merupakan anak orang kaya. Mereka berpikir jika berteman dengan Nova, maka status sosialnya akan terangkat atau ada yang lebih sederhana, mereka ingin menguras habis uang jajan Nova untuk kesenangan mereka.
Pernah suatu hari tak sengaja Nova memergoki salah satu teman SMP‐nya yang membicarakan dirinya di belakang, tentang betapa Nova yang sombong padahal semua kekayaan yang dirasakannya ini milik orang tuanya bukan Nova. Mereka juga mengatai dirinya yang sok cantik dan suka mencari perhatiaan kepada para laki-laki. Padahal mereka juga ikut menikmati uang milik Nova, segela pemberian Nova selalu mereka terima dengan senang sampai tak tersisa, popularitas mereka juga terangkat dengan adanya Nova di dalam kelompoknya. Segera setelah kejadian itu, Nova bercerita kepada Elis sambil menangis histeris. Keesokan harinya Nova sudah tidak bersekolah di sana, karena ternyata Elis menceritakan kejadian yang Nova alami kepada kedua orang tuanya. Nova berhenti berteman dan berkirim pesan dengan mereka. Nova juga mengganti nomor ponselnya karena sudah tidak tahan dengan pesan berisi omong kosong mereka. Nova tidak tahu bagaimana dan tidak peduli dengan nasib mereka.
Jika para perempuan banyak yang memanfaatkan hartanya saja, lain halnya dengan para laki-laki.
Sedari dia masih duduk di sekolah dasar banyak yang memintanya menjadi pacar, saat ditanya mengapa, mereka akan menjawab bahwa Nova itu cantik. Nova yang mengetahui alasan mereka, maka dengan senang hati akan menolaknya. Jika Nova jelek maka mereka tidak mau menjadikannya kekasih bukan? Nova tidak suka dengan laki-laki yang hanya memandang fisiknya saja, seolah-olah yang bagus dari Nova hanyalah wajahnya. Nova juga manusia, dia memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan jika Nova sudah menolaknya, mereka akan berseru mengatakan bahwa Nova itu sok jual mahal, atau kata-kata lain seperti: mentang-mentang memiliki wajah cantik sehingga dengan sombong menolak mereka atau bahkan ada yang berkata bahwa wajahnya saja yang cantik, tetapi perilakunya buruk. Nova tak habis pikir, ada apa dengan para laki-laki itu? Nova juga tidak mau menerima seseorang yang tidak Nova sukai.
__ADS_1
Atas kejadian-kejadian itu, Nova jadi sedikit trauma untuk berteman dengan orang lain. Sampai suatu hari Fara datang dan membuktikan arti pertemanan yang sebenarnya untuk Nova. Fara tulus berteman dengannya, tidak karena harta Nova yang banyak, tidak juga karena wajah Nova yang cantik. Bagi Nova, memiliki Fara saja sebagai sahabat sudah cukup, Nova tidak ingin yang lainnya, jika bisa Nova harap hubungannya dengan Fara dapat terjalin selamanya.
***