L A T T E

L A T T E
12


__ADS_3

Fara menjatuhkan dirinya di kasur. Saat ini posisinya tengkurap, kedua Tangan Fara memeluk sebuah bantal sambil wajahnya yang dibenamkan di benda empuk itu. Fara memainkan kakinya asal. Matanya dia pejamkan. Fara sedang memikirkan ulang kejadian yang baru saja terjadi. Tanpa sadar Fara menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Fara membalikkan badannya saat dia rasa badan miliknya sudah terasa pegal dengan posisi itu. Fara membuka matanya, tatapannya tertuju pada langit-langit kamar yang bewarna putih. Direntangkannya tangan miliknya lebar-lebar. Pikiran Fara masih melayang jauh ke kejadian itu.


Walaupun Fara terlihat seperti orang yang masa bodoh, tetapi dia selalu memikirkan setiap tindakan yang dia perbuat. Seperti saat ini, Fara sedang mempertanyakan pada dirinya sendiri: apakah tindakannya saat itu tepat?


Kejadian itu terjadi secara refleks. Fara tiba-tiba merasa tidak terima. Fara yang cinta damai dan cenderung menghindari pertengkaran malah dengan sengaja menyulut api amarah. Mungkin semua ini terjadi karena orang yang membuat masalah adalah Rere. Seseorang yang membuat kehidupan Fara sedikit tidak menyenangkan.


Ada kalanya pada saat itu Fara beripikiran jahat: Selagi Rere—kakak perempuannya melakukan perbuatan tercela, maka dirinya tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja. Fara merasa harus memperlihatkan kejelekan Rere kepada orang tuanya.


Kira-kira seperti itulah pikiran jahat Fara saat mendapati Rere mencuri sesuatu milik Fara.


Dendam?


Rasa tidak suka?


Benci?


Atau iri?


Entahlah.


Bagi Fara perasaan seperti itu masih tampak kabur. Fara tidak tahu apa yang benar-benar dirinya sendiri inginkan.

__ADS_1


Fara merasa dirinya saat ini berada pada perasaan yang sangat kompleks. Fara tidak menyukai saudara perempuannya itu, tetapi ada sesuatu yang memaksanya untuk berhenti tidak menyukai Rere.


Sesuatu itu bernama "ikatan".


Fara dan Rere adalah saudara, memiliki hubungan darah, dan hubungan ini tidak bersifat sementara, tetapi selamanya. Tidak mungkin diputuskan begitu saja seperti orang berpacaran, serta tidak akan kedaluwarsa seperti hubungan pertemanan.


Ibarat seseorang yang sering disakiti oleh orang lain yang dicintainya, tetapi seseorang itu masih setia berada didekatnya dan selalu, setiap saat mencintainya; tidak peduli seberapa sering Rere membuatnya menangis, jengkel, bahkan dimarahi karena sesuatu yang tidak Fara lakukan, tetap saja Fara tidak bisa benar-benar membenci Rere.


Fara berpikir ini sebuah naluri yang selalu ada pada setiap hubungan persaudaraan. Seburuk apapun saudaramu dia tetap saudaramu. Fara bisa memutuskan hubungan pertemanannya dengan Nova maupun Nino, karena mereka sejatinya hanya orang lain bagi Fara. Tidak ada hubungan darah. Fara juga mengenal mereka berdua beberapa tahun belakangan ini, itu pun karena tetangga dan satu sekolah, jika tidak seperti itu maka Fara tidak akan pernah bertemu dengan mereka. Sedangkan Rere? Fara sedari kecil bersamanya bahkan mereka berada pada rahim yang sama. Tidak ada istilah "jika ini dan itu" di antara keduanya. Tanpa repot-repot berkenalan, Fara dan Rere tetap dan memang bersaudara. Fara tidak bisa bahkan mustahil memutuskan hubungannya dengan Rere. Tidak ada hubungan persaudaraan yang nantinya akan menjadi mantan. Mereka selamanya akan tetap menjadi saudara.


Sekali lagi.


Karena Fara dan Rere terikat, dengan kuat dan tidak mungkin terkerat.


Kemungkinan besar, iya.


Fara sadar, tidak sepantasnya dia tidak menyukai Rere. Bukan salah Rere jika dia lebih pintar dari Fara. Fara tahu jika Rere hanya melakukan sesuatu yang sesuai dengan posisinya saat ini. Rere adalah seorang anak yang mau tidak mau harus membuat bangga orang tuanya, serta dia adalah seorang kakak yang harus bisa menjadi teladan yang baik untuk Fara, selaku adiknya. Namun, Rere itu tetap saja seorang manusia biasa. Sekeras apapun Rere berusaha, dia tidak akan sempurna. Dibalik semua prestasi dan pencapainnya, Rere tetap saja memiliki kekurangan.


Mungkin permasalahannya ada pada Fara. Menurut sudut pandang Fara, Rere sudah selayaknya bersifat seperti kakak terhadap adiknya. Rere tidak pelit, setelah mendapatkan uang hasil kerja, tak jarang Rere memberinya uang jajan atau mentraktirnya makan. Rere juga pernah memeluknya yang menangis karena kalah dalam lomba menggambar saat SD dulu. Rere juga mengajari dirinya yang bodoh dalam hal berhitung dengan telaten. Fara tidak menolak perlakuan baiknya, Fara menganggap itu sesuatu yang memang dilakukan kakak terhadap adiknya.


Namun, seperti satu koin dengan dua sisi yang berbeda, Rere juga memiliki kepribadian yang lainnya. Dari apa yang Fara lihat selama 17 tahun menjadi saudaranya, Rere itu adalah sosok yang ambisius, Rere itu ingin menang sendiri, dia tidak ingin disalahkan. Rere itu selalu ingin perhatian, dia harus selalu bersinar. Fara kadang berpikir: apakah Rere itu sengaja melakukan ini semua agar membuat Fara iri? Segera setelah memikirkan itu, Fara akan dengan cepat menyangkalnya. Untuk apa juga Rere berusaha keras hanya karena agar membuat Fara iri. Terlihat tidak masuk akal. Lagipula Fara juga tidak sepintar Rere. Fara bukanlah saingan yang sepadan bagi Rere. Yang ada Fara iri kepada Rere bukan sebaliknya. Iya, Fara akui dia iri dengan kakak perempuannya itu. Dari dirinya masih anak-anak sampai sekarang yang sudah remaja. Bagaimana tidak? Rere banyak memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Fara: Kepintaran, paras yang rupawan, dan kepribadian yang easy going. Rere juga seenaknya, terbukti dia yang mengambil milik Fara tanpa izin sehingga menimbulkan pertengkaran yang baru-baru ini terjadi.


Dari semua sifat buruk yang dimiliki Rere, ada satu yang paling Fara tidak suka. Rere itu tukang ngadu kepada orang tuanya, apalagi yang diadukan kadang tidak sesuai dengan fakta yang ada. Jika ada kejadian yang berpotensi membuatnya menjadi tersangka, Rere tidak segan untuk berbohong demi menyelamatkan dirinya sendiri. Tidak peduli, itu berdampak buruk bagi orang lain. Yang terpenting dia lepas dari tuduhan tersangka.

__ADS_1


Ck, Sangat menyebalkan.


Fara yang saat itu masih duduk di sekolah dasar sering tiba-tiba diomeli oleh Mamanya karena sesuatu yang tidak Fara lakukan, jika sudah begitu Fara hanya diam sambil terus mengingat-ingat sesuatu itu, sampai Fara muak sendiri dan berakhir dengan matanya yang terpejam karena mengantuk.


Fara kembali menghela napas berat. Dia berhenti memikirkan sosok Rere.


Fara bangun dari tidurnya. Dia belum berganti seragam. Fara berjalan menuju samping lemari pakaiannya. Fara membuka satu demi satu kancing seragam warna putih lalu melepaskannya. Diraihnya kaus abu-abu polos yang tergantung di gantungan baju tepat di sebelah lemari pakaiannya berada. Fara menghabiskan kurang lebih lima menit untuk mengganti pakaian. Saat ini dia menggunakan kaus yang tampak sedikit kebesaran di tubuhnya serta celana training warna hitam yang panjangnya di atas mata kaki.


Fara membalikkan badan, lalu berjalan menuju kasurnya. Direbahkannya kembali tubuh miliknya.


Tiba-tiba wajah Mama yang sedih setelah dibentak oleh Rere terbayang. Jika dipikir-pikir—bisa jadi—orang tua mereka yang membuat Fara tidak menyukai Rere. Perlakuan orang tuanya terhadap Rere dan Fara yang berbeda adalah penyebabnya. Apalagi orang tuanya laki-lakinya. Apakah papanya itu tidak menyukainya karena dirinya yang bodoh? Atau memang papanya itu tidak sadar akan sesuatu yang diperbuatnya? Fara rasa tidak. Tidak masuk akal rasanya jika orang dewasa melakukan sesuatu hal seperti itu dengan tidak sengaja, lagipula papanya sudah sering melakukannya. Fara juga tidak pernah mendapati Rere yang terkena omelan mama. Mungkin Rere pernah kena, tetapi pada saat itu dirinya tidak ada di rumah. Ya, mungkin saja seperti itu.


Fara sudah memberitahu bukan? Tidak sepantasnya Fara tidak menyukai Rere. Seharusnya Fara tidak menyukai perlakuan kedua orang tuanya. Namun, tidak sesederhana itu. Bisa juga kejadian ini diibaratkan seperti ini: jika Rere tidak ada, orang tuanya akan berlaku adil karena Fara tidak memiliki saudara, dan Fara menjadi anak tunggal. Atau yang lebih realistis. Rere adalah anak pertama, tidak mungkin Fara lahir menjadi Rere. Maka dari itu, mengapa orang tuanya tidak memiliki Rere saja sebagai anak tunggalnya, dengan kata lain, tidak ada dirinya.


Fara tidak menyesali takdir yang ditentukan oleh Tuhan untuk dirinya. Menyesal pun tidak ada gunanya dan hanya menambah dosa saja. Fara lebih memilih berdamai dan berusaha menerimanya.


Jangan salah kira. Ada saatnya Fara mengeluh, dan terkadang menyalahkan keadaan. Fara sebagai manusia pasti pernah merasa lelah dan muak. Itu semua masih manusiawi, selama tidak dalam kurun waktu yang lama.


"Haaaa ...." Fara menarik napas perlahan, lalu mengehembuskannya.


Fara menatap jam dinding, ada waktu 30 menit yang bisa Fara gunakan sesuka hati. Segera saja Fara memejamkan matanya. Fara menguap beberapa kali. Dengan perlahan alam bawah sadar menyambutnya. Tidak sampai 10 menit, Fara sudah tertidur pulas.


***

__ADS_1


__ADS_2