L A T T E

L A T T E
5


__ADS_3

"Baiklah anak-anak, kita sudahi pertemuan hari ini. Untuk tugas, kerjakan soal dari buku paket halaman 91, tulis jawabannya saja di buku tulis. Dikumpulkan saat pertemuan berikutnya. Selamat istirahat."


Setelah mengatakan kalimat itu, guru laki-laki yang mengajar pelajaran matematika itu langsung berjalan meninggalkan kelas diiringi dengan keluhan dari murid-murid kelas.


Namun, keluhan itu tidak berlangsung lama, karena bunyi bel tanda istirahat terdengar. Seketika desahan lega dan teriakan bahagia terdengar di penjuru kelas, tak lupa suara decitan antara kaki kursi dan lantai terdengar bergantian, membuat suasana yang sudah berisik menjadi semakin berisik.


Fara menatap penuh kemalasan pada buku di depannya. Segera saja Fara membereskan peralatan belajarnya. Di tangannya sekarang terdapat buku paket matematika yang sudah siap untuk masuk ke dalam tas ransel miliknya. Kadang Fara berpikir, mengapa dia diharuskan berhitung dan memahami semua ini? Bagi Fara jika tahu urutan angka dan bisa melakukan pertambahan dan pengurangan itu sudah cukup. Lagipula jika dipikir-pikir sesuatu yang dilakukannya ini tidak akan berpengaruh penting untuk kehidupan Fara pada masa mendatang. Salah, terlalu sombong kesannya jika menganggap sesuatu ini tidak penting sama sekali. Mungkin berpengaruh di kehidupan masa depannya, tetapi hanya sedikit. Sangat sedikit. Fara jamin itu.


"Fara, ayo ke kantin!" Nova berdiri, badannya dia hadapkan ke samping, tatapannya turun untuk menatap Fara.


Fara menatap mata Nova yang bersinar menyiratkan harapan.


"Malas," jawab Fara lalu memejamkan mata untuk mencoba tidur.


Tak habis akal, dengan segera Nova mengatakan kata-kata yang pasti akan disetujui oleh Fara. "Aku traktir!"


Fara mengangkat kepalanya yang semula rebahan di meja, matanya seketika membuka, senyum tipis Fara berikan kepada Nova. Langsung saja Fara berdiri, lalu berjalan meninggalkan Nova yang masih sibuk mencari sesuatu di tas ransel miliknya.


"Fara tunggu!" Nova sedikit berteriak, karena jaraknya berdiri saat ini lumayan jauh dengan Fara.


Fara yang sudah berada di luar kelas mendengar suara nyaring Nova. Fara menurut, dia menunggu Nova. Badannya dia senderkan di tembok sambil matanya yang menatap lalu-lalang orang-orang di koridor depan kelasnya.


Nova masih sibuk mencari dompet di tas ransel. Dia sedikir khawatir jika Fara tidak menunggunya. Nova kesal karena dompet miliknya tidak ada di tas. Diraba-rabanya badan mungil miliknya. Tiba-tiba tangan kirinya mendapati sesuatu yang menonjol di paha kiri atas. Nova merogoh saku roknya dan mendapati dompet miliknya di sana. Segera saja Nova memacu langkahnya untuk meninggalkan kelas. Nova tersenyum senang saat mendapati Fara yang duduk di bangku panjang pinggir koridor.


"Fara, ayo!" Nova merebut tangan kanan Fara yang bebas, karena pada saat itu tangan kiri Fara sedang dia gunakan untuk menutup mulutnya yang menguap.


Seperti hewan peliharaan yang diajak majikannya jalan-jalan keluar—Fara menurut saja—saat tangannya ditarik menjauh meninggalkan kelas.


***


Fara dan Nova sudah tiba di kantin.


Ramai.


Panas.


Fara tidak suka.


Namun, dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini; Makan dan minum tanpa keluar uang. Apalagi yang mentraktir Nova, anak orang kaya. Membuat Fara tak perlu khawatir. Mereka tidak akan jatuh miskin hanya karena anaknya mentraktir Fara makan. Katakanlah berlebihan, tetapi itulah kenyataannya.


Hari ini memang hari keberuntungan Fara.


Ditengah-tengah ramainya kantin seperti ini, Fara menjumpai sebuah bangku yang masih kosong, seolah-olah bangku itu ada hanya untuk menunggu Fara memakainya.


Fara menarik tangan Nova untuk mengikutinya menuju bangku itu.

__ADS_1


Saat sudah sampai segera saja mereka duduk.


"Kamu mau apa? Aku pesankan." Nova berdiri dari posisi duduknya, terlihat sudah siap untuk menerima perintah dari Fara.


Fara menatap Nova. "Aku saja yang beli, sini uangnya." Fara yang masih tahu diri segera menyodorkan tangan kanannya kepada Nova.


Nova menatap tangan Fara yang melayang di udara. Nova membenarkan posisinya yang setengah berdiri menjadi duduk. Tangan kanannya merogoh saku rok bagian kiri, dikeluarkannya dompet kecil warna putih berbentuk karakter kucing. Nova mengambil sebuah lembaran di sana.


Fara melihat telapak tangannya yang semula kosong tiba-tiba dihiasi sesuatu yang tipis dan bewarna biru. Fara tersenyum, langsung saja Fara memasukkan uang itu ke dalam saku seragam di sebelah kiri.


Suara kursi plastik yang beradu dengan lantai keramik terdengar karena pergerakan Fara dari posisi duduk ke posisi berdiri.


Fara membalikkan badannya ke kanan, sudah siap untuk pergi meninggalkan Nova. Namun, baru satu langkah Fara tersadar akan sesuatu. Fara menolehkan kepalanya kepada Nova yang terlihat sibuk dengan ponsel miliknya.


"Nova, kamu pesan apa?"


***


Kedua tangan Fara sibuk membawa nampan berisi berbagai macam makanan miliknya dan milik Nova. Sebuah tantangan bagi Fara untuk membuat dua gelas es teh manis dan satu mangkuk bakso ini tidak tumpah.


Fara mengumpat saat seseorang menyenggol bahu kanannya. "Sial!"


Fara melirik bed di lengan kanan pelaku yang menyenggol bahunya. Untung saja makanan dan minumannya tidak tumpah, jika tumpah Fara akan meminta dibelikan yang baru. Tidak peduli walaupun sang pelaku sudah berulang kali mengucapkan permintaan maaf. Tanggung jawab untuk kesalahan yang dilakukan itu harus.


Bed di lengan kanan atas itu tertulis angka romawi 10. Fara tersenyum sinis. Langsung saja Fara menatap wajah perempuan di depannya. Raut mukanya dia buat sejahat mungkin. Fara melihat perempuan itu yang salah tingkah dan berulang kali mengucapkan kata 'maaf'. Fara yang tidak berniat merespons ucapan perempuan itu segera saja berlalu.


Nova segera menyimpan ponsel miliknya ke saku rok sebelah kanan setelah matanya melihat semangkuk bakso dan segelas es teh manis tersaji dihadapannya.


"Makasih, Fara." Senyum manis terpasang di wajah Nova yang memang cantik.


Fara mengangguk sambil tangannya menyodorkan uang kembalian kepada Nova.


Nova yang masih tersenyum manis itu mengambil uang yang disodorkan Fara kepadanya, lalu menyimpannya di saku seragam miliknya.


Fara tiba-tiba penasaran.


Mengapa Nova yang ayu rupawan, baik perangainya dan pintar otaknya serta banyak hartanya ini mau-mau saja berteman dengan Fara yang seorang masyarakat biasa. Benar-benar biasa.


"Nova, kenapa mau berteman denganku?" Fara bertanya untuk mengutarakan rasa penasarannya.


Nova yang mendengar pertanyaan itu sedikit terkejut. Sedetik kemudian Nova paham maksud Fara menanyakan hal itu.


"Kenapa? Enggak boleh?" Tangan kanan Nova menyuapkan setengah iris bakso ke mulutnya, lalu mengunyahnya.


Fara mengangkat sebelah alisnya saat mendengar jawaban Nova atas pertanyaannya.

__ADS_1


"Penasaran saja," jawab Fara cuek. Fara mengendikkan bahunya, lalu memasukkan batagor ke dalam mulutnya yang terbuka lebar.


Nova tersenyum tipis. "Fara itu apa adanya, segala sesuatunya enggak pernah dibuat-buat. Perkataanmu juga selalu terus terang. Ya, walaupun keterusterangannya itu kadang bikin sakit hati."


Nova mengaduk-ngaduk kuah baksonya. Pikirannya menerawang, mengingat-ingat perilaku Fara selama satu tahun ini menjadi temannya.


"Oh." Fara yang tidak menduga jika jawaban Nova seperti itu hanya bisa mengangguk-angguk sambil terus melanjutkan makannya.


Suasana tiba-tiba menjadi canggung.


Fara yang tidak bisa memulai obrolan hanya bisa diam, mulutnya sibuk mengunyah terang bulan mini rasa cokelat dan kacang kesukaannya. Sedangkan Nova yang biasanya meramaikan suasana juga hanya bisa diam sambil terus memakan bakso yang belum habis sedari tadi. Nova sedikit malu dengan pengakuannya baru saja, apalagi respons Fara yang biasa saja saat Nova mengatakan kalimat yang bersifat memuji itu.


Keheningan yang lumayan lama itu berakhir karena Nova yang tiba-tiba bersuara.


"Rafi nembak aku," ucap Nova kepada Fara.


"Rafi? Siapa?"


Fara tidak terkejut, baginya ini merupakan hal yang lumrah. Sudah banyak yang menyatakan perasaan kepada Nova, tidak jarang pula dia dijadikan perantara diantaranya. Fara tidak terlalu mengambil pusing. Tergantung dengan suasana hatinya, jika saat itu Fara ingin melakukannya maka akan dia lakukan dan jika Fara tidak ingin melakukan permintaan itu maka akan Fara tolak.


"Kapten ekskul futsal." Nova menyedot es teh manis miliknya.


Aku mengangguk-angguk. "Terus?"


"Aku tolak." Nova menatap Fara serius.


"Kenapa? Buruk rupa?" balas Fara sedikit menggoda Nova.


Nova itu cantik, didukung juga dengan kepribadiannya yang murah senyum, ramah, dan baik hati. Jika berjalan bersebelahan dengannya, Fara merasa menjadi pengawal seorang putri kerajaan. Menurut Fara wajah Nova itu masuk kategori cantik yang imut dengan mata monolid serta kulit yang putih khas orang cina. Satu-satunya kelebihan Fara dari Nova hanyalah tinggi badannya. Nova tergolong pendek untuk ukuran anak kelas 2 SMA.


Raut wajah Nova yang serius berubah menjadi sebal. "Enggak kok, ganteng malah. Malas saja, enggak kenal satu sama lain, terus tiba-tiba nembak, kan aneh. Tambah aneh lagi kalau aku nerima dia."


Fara hanya diam sambil menyedot es teh miliknya sampai habis tak tersisa. Walaupun terlihat tidak peduli Fara sebenarnya mendengarkan.


Nova tidak sakit hati karena sifat Fara yang seperti itu, dia sudah biasa dan Nova tahu Fara sebenarnya mendengarkan.


"Fara, aku sudah selesai. Ayo kembali ke kelas." Nova yang sudah berdiri, melihat Fara.


Fara sedang memasukkan es batu sisa yang belum mencair ke dalam mulutnya.


Nova menatap Fara yang sedang mengunyah es batu. "Fara, itu air mentah."


Fara yang melihat Nova sudah berdiri langsung saja ikut berdiri. Tangan kanannya dia angkat, lalu Fara mengacungkan jempol untuk merespons perkataan Nova.


Nova segera menarik tangan kiri Fara, lalu membawanya untuk meninggalkan kantin.

__ADS_1


***


__ADS_2