L A T T E

L A T T E
16


__ADS_3

Nino melihat punggung yang tampak tidak asing. Nino tersenyum kecil, batinnya bersenandung ria, setengah berlari dikejarnya sosok yang berjarak lumayan jauh di depannya. Diperhatikannya surai hitam yang bergerak kecil seirama dengan hentakan kaki pemiliknya. Nino menggenggam rambut panjang yang diikat kuncir kuda itu, lalu menariknya perlahan, yang seketika itu juga membuat si pemilik terpaksa mendongak. Nino tersenyum lebar kepada Fara yang saat ini menatapnya malas.


"Yo!" sapa Nino kepada perempuan yang rambutnya ditarik.


Fara menatap wajah yang tersenyum tanpa dosa di atasnya.


"Lepas!" perintah Fara kepada tersangka yang menarik rambutnya.


Nino tidak ada niat untuk melaksanakan perintah dari Fara. Dieratkannya genggaman tangannya di surai panjang itu—saat didapatinya Fara yang menggeliat berusaha melepaskan diri.


Tiba-tiba dari arah belakang muncul Bayu yang menepuk bahu Nino. Membuat Nino meloncat tertahan dan hampir melepaskan genggamannya pada rambut Fara.


"Kaget, sialan." Nino menoleh kepada tersangka yang menepuk bahunya.


"Jangan ninggalin kalau gitu," ujar Bayu selaku orang yang menepuk bahu Nino.


Tatapan Bayu yang semula tertuju kepada Nino beralih turun menuju tangan Nino yang terlihat menggenggam sesuatu. Matanya mengikuti sesuatu bewarna hitam itu, sampai tibalah pada wajah seorang perempuan yang sedang mendongak ke atas.


"Asyik! Berantem nih!" seru Bayu senang sambil matanya yang bergantian melihat Nino dan Fara.


Fara melirik pemilik suara itu sebentar, lalu beralih ke Nino. Dapat Fara lihat dagu dan hidung bangir Nino dari bawah sini. Diatatapnya wajah itu lama, wajah yang sedang menatap objek di sampingnya.


Nino mengalihkan perhatiannya yang semula pada wajah Fara ke wajah menyebalkan di sampingnya.


"Enggak usah alay," ucap Nino, tangannya yang bebas bergerak untuk menyingkirkan tangan Bayu yang bertengger di bahu miliknya.


Fara memperhatikan wajah Nino cukup lama. Tangan kanan Fara yang semula berada di samping tubuhnya terangkat menuju ke atas, lalu mendarat kasar di setengah wajah Nino. Bunyi tamparan terdengar, belum cukup hanya menampar, tanpa ragu Fara mencengkeram wajah indah itu. Kebetulan sekali kuku jarinya belum dipotong, membuat serangan Fara pada wajah Nino semakin sempurna. Dapat Fara rasakan genggaman pada rambutnya yang longgar. Fara terus melakukannya sambil bibirnya yang tersenyum jahat dan matanya yang menatap senang.


Nino merasakan tangan yang menampar pipinya. Tidak hanya itu, Dapat Nino rasakan kuku-kuku yang menekan pipi dan juga dahinya. Dilihatnya wajah licik penuh kesenangan di bawah. Menanggapi serangan kuku yang tiba-tiba itu—genggaman tangan miliknya pada rambut Fara yang semula longgar—menjadi erat. Kali ini tidak hanya menggenggam, tetapi juga menarik surai hitam itu.


"Kalian, udah dong! Malu dilihatin orang-orang." Nova yang sedari tadi hanya diam memperhatikan tiba-tiba angkat suara.


Pasalnya banyak pasang mata menatap kelakuan dua orang beda kelamin didekatnya ini. Walaupun orang-orang hanya menatap sekilas tetap saja mereka tetap melihat kelakuan absurd Fara dan Nino. Tak jarang bunyi tawa terdengar atau tatapan aneh diberikan untuk dua orang yang sedang adu fisik ini.


"Yang di sana, jangan dilihat aja dong!" seru Nova kepada laki-laki dengan rambut curly.


Bayu menatap perempuan pendek berwajah imut yang terlihat tidak asing. Bayu memiringkan wajahnya ke kanan sambil menatap intens perempuan di depannya. Alisnya saling mendekat dan dahinya berkerut, pertanda dirinya sedang serius memikirkan sesuatu.


Nova menatap tidak paham laki-laki berambut curly itu. Dilihatnya bed yang terpasang di lengan atas sebelah kanan milik laki-laki itu.


"Kamu sekelas kan sama Nino? Bilangin dong suruh berhenti!" ucap Nova setengah panik.


Bayu masih bergeming dengan tatapan yang masih tertuju kepada perempuan dengan rambut sebahu itu, terlihat enggan menanggapi perkataan gadis yang tingginya hanya sebatas dada Bayu.


Nova menyerah terhadap laki-laki itu, juga terhadap Fara yang terlihat semakin ganas, dia menghela napas dan berlalu menuju bangku pinggir koridor. Nova mendudukkan dirinya di sana sambil memperhatikan Fara dan Nino yang masih saling berperang.


Bayu mengikuti Nova. Dirinya juga mendudukkan pantatnya di bangku panjang itu, tepat di samping gadis itu duduk. Dapat Bayu lihat dari ekor matanya, sosok gadis itu yang sedang memperhatikannya.


"Jangan!" seru Bayu tiba-tiba.


Nova yang (sepertinya) tertangkap basah sedang memperhatikan wajah laki-laki di sampingnya itu seketika terkejut, dengan cepat ditolehkannya kepalanya kembali kepada Fara dan Nino yang masih bertengkar lumayan jauh di depannya.


Nova tiba-tiba penasaran, mengapa laki-laki itu mengatakan kata seperti itu dengan suara yang lumayan keras.


Nova bertanya, "Jangan kenapa?" Tatapannya tetap lurus, sangat enggan melihat lawan bicara di sampingnya.

__ADS_1


"Aku sudah suka orang lain," jawab Bayu kalem, dilihatnya wajah gadis itu, raut bingung tercetak jelas di wajah cantiknya.


Nova terdiam, otaknya merespons lambat kalimat yang dikatakan laki-laki itu. Nova tenggelam dalam pikirannya, tidak paham dengan jalan pikiran seorang yang duduk di sebelahnya. Tiga menit berlalu dengan keheningan di antara kedunya. Nova yang sedang mencerna kalimat laki-laki itu; Bayu yang sedang bengong menatap apa saja yang masuk dalam lingkup penglihatannya.


"Ew, narsis. Aku gak se-putus asa itu sampai suka sama kamu!" kata Nova yang sudah paham maksud kalimat yang diutarakan laki-laki itu.


Bayu mengangguk paham. "Alhamdulillah," ucapnya penuh rasa syukur.


"Bayu, temen sebangkunya Nino. Banyak yang bilang mirip Nicholas Saputra—"


"Mirip da—" Potong Nova tiba-tiba.


"Rambutnya." Lanjut Bayu menyelesaikan perkataannya.


"Oh," jawab Nova tidak peduli.


Bayu memberikan tangan kanannnya kepada perempuan yang berada di sampingnya.


Nova melirik tangan yang sedang melayang di udara, tangan yang menunggu tangan lain untuk menyambutnya.


"Nova," ucap Nova lalu menjabat uluran tangan dari Bayu.


"Nova aja?" tanya Bayu sambil tangannya masih berjabat tangan dengan Nova, dapat Bayu rasakan tangan Nova yang kecil dan lembut itu pada genggaman tangannya, terasa pas!


"Novaya. Enggak usah tanya 'Novaya aja?' lagi!" kata Nova sebal, lalu ditariknya kasar tangannya yang masih berjabatan dengan tangan besar itu.


Bayu merasakan tangannya yang kosong, karena genggaman yang terlepas tiba-tiba.


"Hem, panggilannya Nova ya." Bayu mengangguk-anggukkan kepalanya, berlagak sok seperti ilmuwan.


"Daripada itu, mereka masih belum selesai ya?" tanya Nova frustrasi.


Nova melakukan hal yang sama seperti Bayu, kemudian mengikuti laki-laki itu untuk menuju "pertunjukkan" di depannya.


***


"Jangan rusak wajah tampan ini, sialan!" seru Nino emosi. Tangan kanannya manarik kasar surai hitam milik Fara, yang seketika membuat posisi kepala gadis itu semakin mendongak ke atas.


"Lepasin rambutnya kalau gitu, ******!" seru Fara tidak kalah emosi. Tangannya yang berada di wajah Nino semakin menekan dalam, membuat laki-laki itu memejamkan matanya sejenak.


Nino merasakan wajahnya yang perih oleh serangan kuku milik Fara, tangan kirinya yang bebas terangkat menuju tangan Fara yang bertengger di wajahnya. Ditamparnya tangan Fara dengan keras, berharap dengan itu Fara kesakitan dan melepaskan cengkeramannya. Namun, harapan tinggallah harapan, kenyataannya Fara semakin menguatkan cengkeramannya pada wajah berharga miliknya.


Fara merasakan lehernya yang linu oleh tarikan tangan Nino pada rambutnya, juga kepalanya yang berdenyut akibat siksaan fisik yang dilakukan Nino kepadanya. Dapat Fara rasakan tamparan pada tangan kanannya yang bertengger manis di setengah wajah Nino, membuat senyuman jahat di bibirnya seketika hilang begitu saja, raut wajahnya yang semula senang berubah menjadi jengkel.


Nino, anjing!


Ditekannya lebih dalam wajah itu dengan kuku miliknya, masa bodoh jika wajah rupawan itu nantinya akan berubah menjadi buruk rupa.


Fara, sialan!


Padahal niat Nino hanya ingin menjahili Fara, mengapa sampai menjadi seperti ini? Lama-lama Nino menjadi sebal juga. Tidak hanya menampar, Nino menaikkan levelnya menjadi mencubit daging tangan Fara.


"Sial, wajah berhargaku," racau Nino tidak terima.


"Bodoh, bodoh. Siapa peduli," sahut Fara tidak santai.

__ADS_1


Fara tetap mempertahankan tangannya walaupun rasa sakit akibat cubitan dan tamparan Nino berulang kali dia rasakan.


Nino semakin kalap, ditariknya rambut Fara sampai ke level maksimal. Tampaknya dirinya sudah lupa dunia, sudah lupa jika seseorang yang disakiti ini adalah Fara.


Ugh, Sial!


Fara sudah tidak tahan. Amarahnya sudah memuncak, dadanya kembang-kempis karena rasa jengkel yang menggebu. Otaknya sudah tidak dapat berpikir jenih, yang Fara rasakan hanyalah perasaan ingin menghajar dan memaki teman laki-laki yang merangkap tetangganya ini. Di antara rasa marah dan putus asa-nya, Fara meluncurkan serangan terakhirnya. Ditekannya semakin dalam wajah Nino, tanpa ragu dan penuh keyakinan.


"Sakit, bego!" Tanpa sadar Nino mengumpat.


Fara menurunkan tangannya yang menjadi pelaku kekejaman dirinya pada wajah Nino.


Nino merasakan rasa sakit pada pipi dan juga dahinya berangsur-angsur hilang saat tangan Fara dengan tiba-tiba menyingkir dari wajahnya.


Fara memutar badannya ke kanan, membuat pandangannya yang semula tertuju pada wajah babak belur Nino teralihkan pada lantai keramik warna putih dibawahnya. Dapat Fara rasakan genggaman Nino yang mengendur di rambutnya. Didorongnya dada Nino kasar yang seketika membuat Fara bernapas lega, karena terlepasnya tangan laknat milik Nino itu pada rambutnya.


Nino merasakan dirinya yang terdorong, tanpa dapat dicegah genggaman 'tak bertenaga milik tangannya yang berada di rambut Fara terlepas begitu saja. Namun, tidak hanya genggaman tangannya saja yang terlepas, ada sesuatu lainnya yang ikut terlepas. Dihadapan Nino sekarang tersaji sebuah fenomena langkah yang memanjakan mata.


"Eh, udahan nih. Gak asyik lagi dong!" seru Bayu yang tiba-tiba hadir di antara keduanya.


"Enggak waras kamu ya," sahut sebuah suara dari arah belakang, yang tak lain adalah Nova.


Bayu tidak memedulikan ejekan Nova terhadap dirinya. Dihampirinya Nino yang diam mematung.


"Oi, No! Roh kamu enggak keluar kan?" tanya Bayu konyol.


Sedangkan Bayu yang berusaha menyadarkan Nino maka Nova segera menuju kepada Fara. Nova sedikit terkejut oleh sosok Fara dihadapannya.


Setelah sepersekian detik Nova sudah sadar dari rasa terkejutnya.


"Fara, enggak papa kan? Ada yang sakit? Mau ke UKS dulu?" tutur Nova beruntun.


Keheningan terjadi di antar keempat manusia itu: Fara yang berusaha meredam perasaan marahnya, Nova yang menunggu Fara mengeluarkan kalimat, dan Bayu yang sedang mengguncang-guncang bahu Nino, serta Nino yang kata Bayu roh-nya pergi dan tinggal badan saja.


Bayu mengikuti arah pandang Nino. Raut kagum 'tak dapat Bayu hindari saat menatap objek yang berdiri di depannya.


"Hoho!" seru Bayu yang kehabisan kalimat untuk mengomentari sosok di depannya. Bayu berjalan ke tempat Fara berada.


Ketiganya saat ini sedang dihadapakan sebuah pemandangan yang tidak seperti biasanya. Sebut saja ini sesuatu yang langka. Sosok Fara yang biasanya mengikat rambutnya—saat ini—rambutnya tergerai indah begitu saja. Sosoknya yang selama ini selalu terlihat tomboy dan tidak peduli akan penampilan langsung berubah menjadi gadis cantik dengan surai hitam lurus yang menjuntai sampai punggung.


Bayu merangkul leher Fara saat dirinya sudah berada di samping gadis itu.


"Makan yok! Aku traktir," ucap Bayu tiba-tiba. Tangannya yang bebas bergerak menuju pucuk kepala Fara, menepuknya pelan dan terkesan penuh perhatian.


"Ayoklah!" seru Fara yang sudah melupakan rasa marahnya. Siapa yang akan menolak makanan? Gratis pula.


Bayu menuntun Fara untuk berputar balik sambil tangannya yang masih setia memeluk leher Fara.


"Kantin, kita datang!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Bayu segera menarik lengan bawah Fara dan berlalu pergi meninggalkan Nino dan Nova.


"Eh, kok ditinggalin sih!" protes Nova tidak terima.


"Nino, ayo susul mereka ke kantin!" ajak Nova kepada Nino yang memiliki nasib sama seperti dirinya.


Dirasa tidak mendapati jawaban atau respons tubuh dari lawan bicara—Nova menolehkan kepalanya ke samping untuk menatap sosok Nino yang setengah wajahnya "hancur". Dilihatnya Nino yang diam mematung dengan tatapan lurus ke depan. Nova menggenggam lengan bawah Nino, membuat orang yang digenggam tangannya itu terkejut karena sentuhan yang tiba-tiba pada salah satu anggota tubuhnya.

__ADS_1


Nova tersenyum lebar. "Ayo, susul Fara sama Bayu ke kantin!"


***


__ADS_2