
Fara membuka matanya perlahan, lalu menguap. Diraihnya ponsel yang tergelatak tepat di sebelah kepalanya.
Fara menyipitkan matanya saat benda pipih itu menyala, cahayanya terasa kurang nyaman untuk mata Fara yang baru bangun tidur. Fara melihat jam digital di ponsel miliknya. Waktu menunjukkan pukul 17.30, yang artinya Fara bangun tepat waktu. Dengan perlahan Fara mengangkat tubuhnya, posisinya yang semula tidur menjadi duduk. Fara kembali menguap, membuat rasa malas semakin menjadi dalam dirinya. Dengan berat hati Fara turun dari ranjang tempat tidurnya. Setengah sadar Fara berjalan menuju kamar mandi. Fara memutar knop pintu dihadapannya. Kaki Fara merasakan dinginnya lantai kamar mandi yang sedikit lembap. Segera setelah itu, Fara memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam kamar mandi dan bergegas untuk membersihkan diri.
***
Fara menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk. Tangan kanannya meraih gagang pintu lemari, lalu membukanya. Dibiarkannya handuk warna maroon itu menggantung di kepalanya. Tangannya bergerak untuk mengambil sebuah kaus. Fara menutup pintu lemari pakaiannya saat urusannya sudah selesai. Fara melangkahkan kakinya menuju ranjang tempat tidur. Ditaruhnya handuk yang lembap itu pada senderan kursi tepat disebelahnya. Fara menggeletakkan begitu saja kaus yang terlipat rapi itu di kasur. Tangannya bergerak untuk untuk melepaskan kaus yang saat ini melekat di tubuhnya. Fara mengambil kaus yang tergelak di kasur setelah sebelumnya memasukkan kaus yang baru saja dilepasnya itu di wadah pakaian kotor. Dipakainya kaus bewarna putih dengan motif sablon warna hitam yang berbentuk tanda centang kecil tepat di dada sebelah kirinya.
Fara mengambil sisir yang tergelatak di meja. Di sisirnya perlahan rambut lurus warna hitam yang setengah basah itu. Dirasa sudah cukup rapi, Fara menyudahi kegiatannya. Ditaruhnya kembali sisir itu ke tempat semula.
Dengan masih memakai celana training yang sama Fara berjalan menuju pintu, lalu membukanya. Fara keluar melanjutkan perjalanannya setelah sebelumnya dia menutup pintu kamarnya. Kaki Fara dengan perlahan melangkah menuruni satu persatu anak tangga. Saat sudah sampai di anak tangga terakhir, segera saja Fara berbelok untuk menuju meja makan.
Fara mendapati papanya yang duduk sambil memainkan ponsel. Didekatnya terdapat cangkir berisi cairan yang Fara duga adalah teh hangat buatan mamanya. Fara selalu datang setelah papanya. Tidak pernah dia datang sebelum papanya datang. Padahal hanya makan, tetapi papanya selalu hadir lebih awal dari waktu yang ditetapkan.
Fara mendudukkan dirinya di tempat yang biasa dia gunakan. Seperti biasa, tidak ada obrolan di antara Ayah dan Anak itu. Fara merasa canggung dengan orang tua laki-lakinya, maka dia diam saja. Lagipula tidak ada bahan yang dapat dibicarakan. Fara bukanlah tipe anak yang dengan semangat menceritakn seluruh kegiatan sekolahnya, dan sepertinya papanya tidak akan tertarik dengan segala kegiatan Fara.
Abhipraya mengambil cangkir yang berada didekatnya. Disruputnya teh hangat itu perlahan, sambil matanya yang tetap terpaku pada layar ponsel. Ditaruhnya cangkir itu kembali ke tempatnya, tak lama kemudian telinga Abhipraya menangkap bunyi kursi yang ditarik. Abhipraya melirik sebentar Fara yang sudah duduk. Tidak ada obrolan di antara keduanya. Anak bungsunya itu selalu terlihat menjaga jarak dengannya. Ya, bukannya bagaimana. Hanya saja mereka seperti bukan Ayah dan Anak. Saling menanyakan kabar saja hampir tidak pernah. Abhipraya baik-baik saja dengan sikap Fara yang seperti itu, asalkan anaknya itu tidak melawannya dan membuat dirinya marah. Abhipraya sendiri juga seorang yang tidak banyak bicara, dia tidak pandai mencari topik untuk memulai. Tahu kan apa yang terjadi jika kedua orang yang tidak banyak bicara dipertemukan? Tentu saja, diam dan menunggu seseorang lain yang akan mencairkan suasana.
Namun, "seseorang lain" itu belum juga hadir di antara Fara maupun Abhipraya.
Sebenarnya Abhipraya heran, tidak biasa putri sulungnya itu datang paling akhir. Abhipraya juga tidak mendapati Rere yang biasanya membantu istrinya di dapur. Abhipraya hanya diam, dan berpikir bahwa anak pertamanya itu sedang sibuk dengan urusan kuliahnya karena sudah mendekati kelulusan.
Tidak seperti Fara yang mengetahui mengapa Rere belum juga turun untuk makan—Fara biasa saja, tidak heran. Dia cukup paham mengapa Rere melakukan hal ini.
__ADS_1
Fara mendapati Mamanya yang membawa wadah penuh berisi nasi. Segera saja Fara berdiri untuk membantu membawa yang lainnya. Fara berjalan menuju dapur yang letaknya tidak terlalu jauh dari meja makan. Diambilnya sepiring penuh tempe goreng dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mengambil piring lain berisi telur asin yang sudah lepas dari cangkangnya dan terbagi menjadi dua.
Fara berapapasan dengan mamanya yang sudah kembali lagi ke dapur untuk mengambil makanan yang lainnya. Ditaruhnya kedua piring berisi lauk-pauk itu ke meja makan. Fara masih tidak mendapati kehadiran Rere di meja makan. Fara tak ambil pusing, dia segera kembali ke dapur untuk mengambil materi lainnya.
Tangan Dilla penuh dengan semangkuk besar rawon. Fara yang lagi-lagi berpapasan dengan mamanya dapat mencium bau sedap yang menguar dari kuah rawon yang dibawa mamanya.
Fara mendapati empat tumpuk piring dengan empat sendok yang berada di piring paling atas. Di sampingnya ada semangkuk kecil sambal dan semangkuk kecil lagi kecambah. Fara mengambil setumpuk piring.
"Biar Mama saja, kamu bawa sambal sama kecambahnya," ucap sebuah suara tiba-tiba.
Fara menengok ke belakang, dan mendapati mamanya yang mengulurkan tangan kepadanya. Fara memindahkan barang dari tangannya ke tangan mamanya.
Dilla tersenyum sebentar kepada Fara, setelah itu dirinya berlalu pergi dari sana.
Fara masih belum mendapati Rere di meja makan. Fara meletakkan kedua mangkuk kecil itu di meja, menatanya agar tidak terlalu banyak memakan tempat.
Fara berjalan menuju kursi tempat duduknya. Namun, sebelum pantatnya benar-benar menyentuh busa kursi—ucapan Papa menghentikannya.
"Fara, panggil kakakmu. Suruh turun, sudah waktunya makan."
Fara menatap papanya sejenak. Tanpa membantah Fara segera berlalu untuk memanggil saudara perempuannya. Fara biasa saja, dia tidak jengkel, mungkin hanya malas.
Fara menaiki anak tangga satu persatu. Saat sudah sampai di lantai dua Fara segera menghampiri pintu yang berada tepat di sebelah kamarnya. Fara mengetuk pintu berbahan dasar kayu itu sebanyak dua kali, tidak ada yang diucapkannya. Fara menunggu orang di dalam ruangan itu membuka pintu.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup lama menunggu, Fara kembali mengetuk pintu itu secara konstan dan tidak berhenti, seolah-olah menantang, siapa yang akan menyerah terlebih dahulu. Apakah Fara yang akan kelelahan sebelum Rere membuka pintunya? Atau Rere yang jengkel lalu membuka pintunya karena bunyi ketukan yang terus-menerus terdengar?
Dan pemenangnya adalah ...
... tentu saja, Fara.
Rere menatap tidak suka makhluk yang berdiri dihadapannya. Sedangkan Fara menatap datar Rere yang memasang ekspresi kesal di wajahnya.
"Makan. Disuruh Papa," ucap Fara, lalu segera pergi dari sana.
Rere menatap punggung Fara, lalu mendecih. Sebenarnya dia tidak ingin makan, rasanya tidak nafsu. Lebih baik dirinya tidur, tetapi Rere tidak seberani itu untuk melawan perintah papanya. Rere keluar dari kamarnya. Ditutupnya pintu itu dan segera melangkahkan kakinya menuju ke arah yang sama seperti Fara.
Fara dan Rere sudah tiba di tujuan. Keduanya langsung duduk pada tempatnya masing-masing. Fara menatap lapar makanan yang tersaji di meja makan. Sedangkan Rere yang semula cemberut sudah tersenyum lebar.
"Maaf, Rere keterusan ngerjain tugas tadi, sampai enggak ingat waktu," ucap Rere yang tentu saja berbohong.
"Iya, tidak papa. Tapi jangan dijadikan kebiasaan. Harus tahu waktu, kapan waktunya istirahat, kapan waktunya bekerja." Abhipraya berkata penuh pengertian kepada Rere.
Rere mengangguk mengerti sebagai jawaban.
"Ayo, makan! Rere udah laper!" seru Rere yang lagi-lagi berbohong. Senyuman masih setia bertengger di bibirnya sedangkan matanya tampak (sok) asyik menjelajah ke segala jenis makanan di meja makan.
Segera setelah Rere mengatakan kalimat itu, semua orang yang berada di meja makan dengan bergantian mengambil nasi serta lauk-pauknya.
__ADS_1
***