
Fara tersadar dari kilas balik saat mendengar bunyi yang tertangkap oleh indra pendengarannya. Ponsel milik Fara menyala, menandakan ada pesan masuk. Fara mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di meja, lalu membacanya sekilas. Ternyata hanya pemberitahuan sisa kuota. Fara menatap malas layar ponsel, karena menyadari kuota internet miliknya akan segera habis.
Hampir saja tangannya melepas ponsel yang kembali Fara taruh di meja, bunyi kembali terdengar. Notifikasi dari salah satu aplikasi chat muncul di layar depan.
Nama Nova terpampang jelas di sana.
***
Nova tiba-tiba terbangun karena lapar. Dia bangun dari posisi berbaringnya menjadi duduk ditepi kasur. Nova menguap, telunjuknya bergerak untuk mengucek mata kirinya. Setelah kantuknya sudah lumayan mereda langsung saja dia berdiri. Nova mengumpulkan kedua tangannya di atas kepala, badannya dia tarik ke atas, membuat kaus croptee miliknya ikut naik dan menampilkan perut ramping dengan kulit putih, kedua kakinya berjinjit yang membuatnya beberapa centi lebih tinggi. Setelah dirasa otot-otot miliknya sudah sedikit lemas Nova menghentikan kegiatannya.
Sedikit membungkukan badan, dengan tangan kanannya Nova meraih benda pipih dengan bagian belakang bewarna merah muda. Dinyalakannya ponsel itu, tetapi nihil. Ponsel yang sudah kehabisan baterai itu ditaruhnya kembali ke tempat asal. Masa bodoh dengan ponsel, untuk saat ini dia harus makan!
Kaki pendeknya berjalan menuruni satu persatu anak tangga. Saat sudah sampai di lantai satu, langsung saja Nova menuju ke ruang makan. Di sana dia disambut oleh Elis—pembantu rumah tangga di rumahnya.
“Bibi masak yang Nova pesan kemarin kan?” Matanya menyiratkan harapan.
“Iya, Bibi panaskan dahulu ya,” jawab Elis dengan senyuman di wajahnya.
Nova segera mendudukan dirinya di kursi. Sedangkan Elis berlalu untuk menuju dapur.
Tak lama Elis kembali dengan kedua tangannya yang memegang nampan berisi makanan. Elis menunduk, menatap piring bersisi nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang dan segelas susu putih hangat. Dia tersenyum tipis. Senyumnya semakin lebar saat mendapati anak majikannya yang menunggu di meja makan. Terlihat kepalanya yang bergerak tak teratur sambil mulutnya yang membuka kecil. Sayup-sayup dia dapat mendengar alunan lagu yang dinyanyikan oleh perempuan itu.
Nova menghentikan nyanyiannya saat melihat Elis yang berjalan menuju dirinya. Senyum lebar langsung timbul di wajahnya. Senyumannya semakin lebar, saat Elis dengan perlahan meletakkan piring berisi nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang pesanannya kemarin. Tangan kanannya dengan segera meraih sendok.
“Bagaimana?” tanya Elis kepada gadis di depannya yang sedang memakan masakannya dengan lahap.
Nova membalas dengan acungan jempol tangan kirinya, karena mulutnya penuh oleh nasi goreng.
Elis yang melihatnya hanya tersenyum senang.
***
Nova sudah tidak lapar dan hatinya senang karena masakan Elis yang enak.
Nova duduk di pinggiran kasur miliknya. Tangannya meraih ponsel yang baru saja dia charge lalu menyalakannya. Tak butuh waktu lama, wajah tampan Kim Seok-jin terlihat jelas memenuhi layar ponselnya.
Nova terkejut.
Tidak. Bukan karena wajah Jin yang sangat tampan.
Dia terkejut saat melihat jam digital di ponselnya yang menunjukkan pukul 10.36
Gawat!
Nova ingat jika dia memiliki janji bertemu dengan Fara. Namun, itu berlaku untuk setengah jam yang lalu. Kemarin malam dia meminta Fara untuk menemaninya nongkrong di kafe yang kemarin mereka kunjungi. Dia merasa sangat bersalah, ditambah tidak adanya pesan beruntun atau panggilan tak terjawab dari Fara. Nova merutuki kebodohannya yang mengira saat ini masih pukul sembilan. Makanan yang dicernanya baru saja seketika membuatnya mual. Nova membasahi bibirnya dengan air liur. Dia sedikit panik.
Namun, tunggu dahulu.
Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di otak Nova.
Apa Fara benar-benar datang?
__ADS_1
Karena kemarin saat Nova memintanya, Fara berulang kali menolak, tetapi di akhir Fara menerima ajakan Nova. Maka dari itu dapat disimpulkan Fara datang. Nova tahu Fara bukanlah orang yang suka omong kosong. Ucapannya selalu sesuai dengan tindakannya.
Yang menjadi beban pikiran Nova sekarang adalah—
Apa Fara menunggunya?
Setahu Nova, Fara adalah manusia cinta damai yang tidak suka hal-hal repot. Fara tidak suka sesuatu yang tidak pasti. Bukankah menunggu merupakan suatu yang tidak pasti, karena Fara tidak tahu orang yang ditunggu benar-benar datang atau tidak. Namun, lagi-lagi kembali ke kesimpulan pertama. Fara bukanlah orang yang suka omong kosong. Jika dia berkata ‘aku akan datang’ dia pasti akan datang, jika dia berkata ‘aku tidak akan datang’ dia benar-benar tidak datang. Dan Fara menyetujui ajakan Nova. Itu berarti Fara datang dan menunggunya? Atau Fara percaya bahwa Nova akan datang, maka dari itu dia menunggunya?
Entahlah.
Nova tidak tahu, memahami Fara itu susah. Yang terpenting saat ini dia harus memberi kabar kepada Fara.
***
Jempol Fara bergerak untuk menekan notifikasi tersebut.
Maaf, aku baru bangun. Kemarin malam habis maraton nonton drama korea.
Kalimat itu diakhiri dengan emoticon menangis. Selesai membacanya, Fara mendecih. Fara melihat waktu yang tertera di bagian atas sebelah kiri ponsel miliknya. Sudah terlambat lebih dari 30 menit dari waktu yang dijanjikan. Fara jengkel dibuatnya. Kedua jempol miliknya menekan-nekan benda persegi digenggamannya, merangkai kata di sana.
Ya, terus?
Di lain tempat.
Nova tidak tahu bagaimana emosi Fara saat ini. Yang dia tahu, Fara masih berada di kafe itu dan sedang menunggunya. Perasaan Nova semakin tidak enak karena rasa bersalah. Apalagi Fara hanya menjawab seperti biasa. Tidak ada emoticon seperti yang biasa dia lakukan saat berkirim pesan.
Sudah hampir pukul sebelas. Akhir pekan Papa pasti bermain golf bersama teman-temannya, dan beliau sudah berangkat dari dua jam yang lalu. Mama juga tidak ada, dan Nova tidak tahu Mamanya itu ke mana.
Kan ada Pak Mulyo?
Nova lupa, jika dia memiliki sopir keluarga yang akan dengan senang hati mengantarnya ke mana pun dia mau. Namun, secepat dia lupa secepat pula dia ingat bahwa Pak Mulyo sedang mengantar Mama pergi entah ke mana. Nova hampir menangis, saat jempolnya mengetikkan balasan kepada Fara.
Pak Mulyo kayaknya nganterin Mama, Enggak tahu kemana. Kelihatannya belum pulang.
***
Pak Mulyo kayaknya nganterin Mama, Enggak tahu kemana. Kelihatannya belum pulang.
Jari tangan Fara terangkat sedikit dari layar ponsel. Saat ini dia sedang memikirkan sesuatu untuk membalas kalimat Nova di room chat mereka.
Naik taksi online.
Hanya ide itu yang terlintas di otak tidak genius milik Fara
Enggak ah, takut.
Fara sudah memperkirakan jika Nova akan menolak mentah-mentah ide itu, tetapi Fara tetap mendecih sebagai bentuk untuk menyuarakan kejengkelan yang semakin lama semakin membuncah.
Terus?
Butuh waktu sedikit lama, sampai akhirnya ponsel milik Fara kembali berbunyi. Tanda jika Nova membalas pesan dari Fara.
__ADS_1
Maaf, Fara. kita enggak jadi bertemu hari ini. Selain enggak ada yang ngantar, aku barusan dapat pesan dari Mama, suruh siap-siap buat nemenin dia ke acara pernikahan temannya.
Fara menghela napas, hanya bisa pasrah.
Ya sudah, enggak papa.
Jika sudah begini mau bagaimana lagi? Tidak mungkin Fara yang hanya teman sekelas memaksanya untuk lebih mementingkan janji bertemu dengan dirinya dan menolak permintaan orang tua Nova.
Huhu, beneran enggak papa kan? Maaf ya, Fara. Jangan marah, kapan-kapan aku traktir makanan deh. Yang ini janji!
Iya, sana siap-siap.
Oke, aku siap-siap dulu. Bye, Fara. Nanti aku chat lagi.
Bye.
Obrolan mereka berakhir dengan chat dari Fara yang hanya dibaca oleh Nova. Fara menatap nanar ponsel, lalu mencoba meredam rasa jengkel yang tidak berguna ini. Setelah keluar aplikasi, Fara menaruh kembali benda persegi panjang itu ke meja dengan keadaan yang masih menyala.
Fara menghela napas. Walaupun Fara sudah tidak ingin marah, tetapi rasa dongkol itu masih ada. Padahal Nova yang membuat janji, Nova juga yang seenaknya membatalkan.
Menyebalkan.
Perasaan Fara masih berat. rasa tidak terima itu ada. Setidaknya jika tidak jadi bertemu segera beritahu dirinya lebih awal. Sehingga Fara tak harus menunggu dan berakhir menyedihkan seperti ini. Fara tidak bermaksud berlebihan. Masalahnya hari ini adalah akhir pekan. Hari libur!
Fara sudah merelakan hari libur miliknya yang berharga. Fara sudah merelakan rencana kegiatan akhir pekannya. Fara merasa menyia-nyiakannya.
Sangat disayangkan.
Fara membayangkan dirinya yang masih tidur dan baru bangun jika merasa lapar. Kemudian, menghabiskan waktu di kamar seharian dengan rebahan sambil menonton beberapa anime atau film yang telah dia unduh bajakan, serta ditemani keripik kentang dan susu kotak yang baru Fara beli kemarin dan berujung terkena omelan Mama. Sangat menyenangkan kecuali satu hal di bagian terkena omelan. Sampai tiba-tiba malam itu—Fara dengan berat hati harus menerima ajakan atau lebih tepatnya paksaan Nova melalui chat untuk bertemu dengannya di kafe ini—yang akhirnya tidak terlaksanakan. Waktu itu, katanya dia ingin melihat wajah kakak ganteng yang melayani mereka kemarin.
Fara memegang gelas plastik yang isinya berkurang seperempat. Fara memandang gelas itu lama dengan pikirannya yang menerawang jauh. Bunyi es batu yang saling berbenturan terdengar saat Fara mengangkat gelas plastik itu dan meninggalkan jejak basah air yang berbentuk bulat tidak sempurna di tempat awal gelas itu berada.
Namun, jika diingat-ingat lagi Fara belum melihat laki-laki itu sedari tadi, melihat "kakak ganteng" yang menjadi alasan Nova memaksa dirinya untuk bertemu di kafe ini. Alasan sama yang membuat Fara menyetujui ajakan Nova, dari awal kedatangannya sampai sekarang yang sudah terhitung sekitar 60 menit, laki-laki yang diberi julukan "kakak ganteng" oleh Nova itu belum juga terlihat. sedikit kecewa saat tadi mengetahui sosok di balik meja kasir itu bukan laki-laki yang sama yang melayani Fara dan Nova kemarin.
Fara meminum ice latte yang berada digenggaman tangan kanannya. Fara ingin pulang lalu tidur. Namun, tiba-tiba tanpa sengaja ekor matanya menangkap keberadaan laki-laki yang menjadi alasan Fara datang ke kafe ini. Segera saja Fara mengakhiri sesi minumnya dan mengangkat kepalanya. Tatapan Fara langsung tertuju pada objek yang lumayan jauh di depannya.
Laki-laki itu keluar dari sebuah ruangan, Fara tidak tahu ruangan apa itu, lebih tepatnya Fara tidak peduli. Fara terus menatap laki-laki itu untuk memperhatikan gerak-geriknya. Kedua tangan laki-laki itu berada di bagian belakang tubuhnya, tampak mengikat tali apron. Kakinya terus melangkah menuju ke tempat pertama kali Fara melihatnya. Saat sudah sampai, laki-laki itu menepuk bahu teman laki-lakinya yang mengisi tempat itu sedari tadi.
Kedua laki-laki itu terlihat membicarakan sesuatu yang diakhiri dengan anggukan dan berlalunya laki-laki yang bahunya ditepuk. Sejenak Fara memperhatikan laki-laki yang berlalu menuju ruangan yang sama tempat kemunculan pujaan hatinya.
Fara kembali fokus ke tujuan awal, yaitu memandang laki-laki yang disukainya. Tanpa sadar Fara tersenyum tipis, melihat tubuh tinggi laki-laki dibalik meja panjang tersebut. Fara terus menatapnya, lalu menilai tampilannya. Kaus oblong polos warna abu-abu dengan panjang lengan yang hanya sampai di pertengahan atas, dan tidak melebihi siku. Di atas kaus tersebut terdapat apron bewarna hitam yang menjuntai sampai pahanya. Celana jeans warna hitam melekat sempurna di kaki jenjang laki-laki itu. serta sneakers warna putih sebagai pelindung kakinya.
Fara menopang dagu, menikmati keindahan yang ditawarkan secara percuma. Gejolak di dalam dada Fara semakin menggebu saat pandangannya mengarah ke wajah tampan itu. Fara berhenti sejenak, lalu menunduk. Kurva yang terbentuk di bibirnya dia hapus. Tangan kanan Fara meraih sesuatu yang basah di meja. Fara menyedot cairan yang ada di dalamnya, sudah tidak dingin karena es batu yang mencair seluruhnya. Sambil meminum minumannya, Fara kembali menegakkan kepalanya, lalu menatap wajah laki-laki itu yang tersenyum tipis melayani pelanggan.
Rambut laki-laki itu ikal bewarna hitam dan dibiarkan panjang sampai melebihi telinga, tetapi masih di atas bahu. Warna kulitnya masuk kategori putih untuk ukuran orang Indonesia. Alis laki-laki itu tidak terlalu tebal, tetapi melengkung dengan sempurna. Matanya tidak besar dengan ujung yang meruncing indah, laki-laki itu juga memiliki lipatan mata yang dalam. Hidungnya mancung. Bibir laki-laki itu seperti bibir orang kebanyakan, dengan philtrum bulat. Di antara bibir dan hidungnya ditumbuhi oleh kumis tipis sehingga menambah kesan dewasa. Dagu laki-laki itu runcing. Serta lehernya yang panjang dengan tonjolan yang akan bergerak naik-turun jika dia berbicara.
Fara merasakan dadanya membuncah. Jantungnya berdegup kencang dengan ritme yang cepat. Fara memilih menyudahi kegiatan menatap rupa laki-laki itu. Dengan cepat Fara menghabiskan minuman yang sedaritadi sudah dia sedot.
Fara mengemasi barang-barang miliknya. Sambil berdiri, Fara memakai tas slempang kecil warna hitam dibahunya. Fara melangkah dengan ritme yang sedikit cepat menuju pintu keluar yang berhadapan langsung dengan tempat laki-laki itu berdiri. Fara menahan napas saat tangannya membuka pintu kaca itu, jantungnya masih saja berdegup kencang. Dengan cepat dia segera keluar dari tempat yang memiliki kadar oksigen rendah itu.
***
__ADS_1