
Terik matahari menyambut Fara tepat setelah dirinya keluar dari kafe. Sepertinya hampir tengah hari.
Panas.
Fara sedikit menyesal karena tidak membawa jaket untuk menutupi lengannya yang terpampang jelas tak dilindungi apapun. Tanpa sadar Fara sudah berdiam diri di kafe ini selama satu jam lebih. Langsung saja Fara menyalakan motor matic miliknya dan menarik gasnya.
Asap kendaraan langsung menerpa wajah Fara, baunya yang khas itu sangat menganggu. Angin yang terasa panas mengibarkan rambut Fara yang tak dilindungi oleh helm. Fara merasakan pucuk kepalanya panas karena paparan sinar matahari siang. Gang kompleks tempat rumah Fara berada sudah terlihat, Fara membelokkan motor miliknya ke kanan.
Fara menghentikan motor, matanya melihat pagar rumah warna hitam di depannya yang tertutup. Karena malas—tanpa turun dari motor langsung saja Fara menerobos pagar yang tingginya hanya seukuran dada orang dewasa itu. Fara meringis saat suara nyaring antara ban motor dan pagar yang saling bertabrakan terdengar.
Fara memakirkan motor sembarangan di halaman rumah. kemudian mematikan mesin motornya yang menderu. Fara turun dari motor setelah sebelumnya dia mencabut kunci motor dari kontaknya. Fara berjalan santai menuju pagar untuk menutupnya. Membalikkan badan lalu menuju pintu masuk rumah.
Tanpa salam langsung saja Fara masuk. Fara disambut oleh rasa sejuk dari pendingin ruangan. Telapak kaki Fara yang polos tanpa alas berjalan pelan untuk menikmati dinginnya lantai keramik yang dia injak.
Suara nyaring dari arah dapur mengangetkan Fara yang kakinya hampir menyentuh anak tangga pertama.
“Fara, bilas muka terus cuci tangan sama kaki, ganti baju kamu juga! Jangan langsung tidur!”
Fara mendengus, sadar yang dikatakan mamanya ada benarnya.
Fara ingin langsung tidur.
Dengan malas Fara melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dan membuatnya bertemu dengan wanita yang disebutnya mama itu.
Dilla selaku ibu Fara yang sedang mencuci peralatan memasak itu memperhatikan anak bungsunya. Terlihat gadis itu berjalan malas menuju kamar mandi yang tempatnya bersinggungan dengan dapur. Dilla memperhatikan wajah putrinya yang datar dan sesekali menguap.
Tanpa menyapa mamanya, langsung saja Fara masuk ke kamar mandi. Tidak sampai lima menit Fara sudah keluar. Wajah Fara terlihat basah oleh air. Fara mengeringkan tangannya dengan kain yang menggantung di tembok dekat wastafel tempat Dilla berada. Fara melirik mamanya yang masih sibuk mencuci. Tanpa ada niat membantu, langsung saja Fara melengos setelah memastikan tangannya sudah kering. Tetes air turun dari wajah ke leher Fara saat dirinya berjalan menuju benda berbentuk balok dengan warna abu-abu.
Fara membuka lemari es lalu mengambil botol di rak samping. Tangan kiri Fara bergerak memutar untuk membuka tutup dari botol tersebut. Tanpa repot-repot mengambil gelas langsung saja Fara meminum air dingin di dalam botol berbentuk tabung itu. Hawa panas menambah kenikmatan yang Fara rasakan saat cairan itu mengalir di tenggorakannya.
Dilla sudah selesai dengan kegiatan mencuci piringnya. Dilla menggosokan tangannya pada kain bermotif bunga yang menggantung di tembok tepat dihadapannya. Setelah dirasa sudah kering, Dilla memutar tubuhnya dan langsung disuguhi oleh kelakuan putrinya yang tidak tahu diri.
"Fara! Ambil gelas sana! Jangan langsung diminum dari situ. Orang rumah nanti minum bekasmu dong!" Wajah Dilla menampilkan raut tak suka.
Fara tidak peduli.
Dirasa cukup, Fara menyudahi minumnya. Ditutupnya botol itu dengan tutup botol yang berada di tangan kirinya, lalu dikembalikan ke tempat semula botol itu berada. Fara berlalu pergi, berniat menuju kamar setelah sebelumnya menutup pintu lemari es.
Dilla memperhatikan Fara. Dilla merasa jengkel karena diabaikan.
"Sudah makan kamu?" tanya Dilla mencoba sabar dengan kelakuan putrinya.
Fara berhenti melangkahkan kakinya. Lehernya memutar ke belakang untuk menatap Mamanya. "Sudah"
"Makan di mana? Kamu ini sudah tahu Mama masak, masih makan diluar aja." Dilla semakin merasa jengkel karena merasa usahanya tidak dihargai.
Fara menghela napas, membalikkan badannya lalu menatap mamanya. Wajahnya menunjukkan ekspresi malas. "Di rumah. Sebelum Fara keluar. Makan masakan Mama."
Dilla mengganti ekpresi wajahnya yang menunjukkan kekecewaan menjadi ekspresi marah. Matanya menatap tajam Fara. "Itu sarapan Fara! Bukan makan siang!"
"Fara makannya setengah sepuluh," jawab Fara dengan tidak tahu diri.
"Itu kamunya aja yang bangun kesiangan. Lagian perawan kok bangunnya jam segitu. Seharunya itu bangun subuh, bersih-bersih rumah, terus ke dapur bantu Mamanya masak. Bukan malah ngebo!" omel Dilla menggebu-gebu, telunjuk tangan kanannya diarahkan kepada Fara yang hanya berjarak tiga langkah dihadapannya.
Fara semakin heran. Topik awalnya itu makan mengapa menjadi status Fara yang masih gadis?
"Malas Mama, Fara ngantuk mau tidur." Fara menanggapi omongan panjang lebar mamanya. badannya sudah siap berbalik, tetapi suara mamanya yang tidak santai menghentikannya.
"Makan Fara!" Dilla tetap teguh dengan pendiriannya; menyuruh Fara makan.
"Malas. Ngantuk. Mau tidur." Begitu pula dengan Fara yang tidak mau kalah.
__ADS_1
"Kamu ini, disuruh makan susahnya minta ampun! Padahal bukan disuruh cari uang! Kamu itu seharusnya bersyukur, diluar sana masih ba—"
"Iya! Fara makan. Mana makanannya." Bukan bermaksud tidak sopan karena memotong perkataan Mamanya, hanya saja Fara lelah dengan omongan Mamanya yang semakin lama, semakin ke mana-mana.
"Tunggu, kamu duduk dulu, Mama ambilin." Dilla tersenyum menang, kemudian berlalu mengambilkan makanan untuk Fara.
Fara mendudukkan diri di kursi meja makan. Dia menghela napas. Batinnya menggerutu.
Mengapa hari ini sangat menyebalkan?
***
Dilla mentapa Fara yang masih terpejam. Posisinya telentang di kasur dengan kedua tangan yang berada di atas kepala. Mulutnya sedikit terbuka dan dadanya naik turun dengan teratur.
Terhitung sudah seperempat jam dia berada di sini untuk membangunkan perempuan dihadapannya.
Seketika api amarah berkobar dalam diri Dilla.
Dilla sudah mencoba berbagai cara untuk membangunkan putri tidur ini. Mulai dari memanggil-manggil namanya, berteriak panik mengucapkan kebakaran, menggelitik pingganggnya, menampar-nampar pipinya, menarik bantalnya sampai menarik turun celana yang dipakainya. Namun, tetap saja. Anaknya itu tidak bangun.
Jika sudah begini, Dilla akan menggunakan cara itu.
Dilla menarik napas, kedua tangannya bergerak menuju pergelangan kaki Fara lalu digenggamnya kaki itu.
Dilla menarik kaki Fara, membawanya turun menuju lantai.
Bunyi jatuh lalu disusul oleh rintihan kesakitan terdengar. Dilla tersenyum puas dengan aksinya yang berhasil.
Fara memegang kepalanya yang membentur lantai. Untung saja lantai tempatnya jatuh dilapisi karpet yang lumayan tebal.
Fara menguap lebar, punggung tangan kanannya mengusap-usap matanya.
Fara menatap objek yang menjulang tinggi di depannya. Fara kembali menguap, ditaruhnya kepala itu ke pinggiran kasur. Dengan posisi duduk, Fara berniat melanjutkan tidurnya.
Dilla yang tidak tahan langsung mencubit pipi Fara.
Fara seketika tersadar, tangannya bergerak untuk menghentikan cubitan mamanya di pipi. "Mama, sakit."
"Makanya mandi!" Dilla sedikit mengendurkan cubitannya di pipi Fara, tetapi tetap memastikan rasa sakitnya masih terasa.
"Iya, Fara mandi. Udahan nyubitnya." Fara menepuk-nepuk lengan bawah mamanya yang menggantung.
Dilla melepaskan cubitannya di pipi Fara. Memperlihatkan warna merah yang tertinggal di sana. Dilla menghela napas. Tatapannya melembut.
Fara segera berdiri, mukanya masam. Fara menatap mamanya tidak suka.
Dilla mengelus pipi Fara yang menjadi korban keganasan tangannya. Dilla tersenyum menenangkan lalu berlalu meninggalkan Fara sendirian di kamar.
Fara masih memasang ekspresi masamnya. Kaki kirinya sudah naik kembali ke kasur, tetapi tiba-tiba—
"Fara, mandi! Jangan kembali tidur!" Suara Mama dari lantai bawah terdengar keras dan mengancam.
Fara menghela napas.
Sial.
***
Bagi Fara saat-saat semua anggota keluarganya berkumpul adalah saat yang paling tidak diinginkannya.
Seperti saat ini.
__ADS_1
Makan malam.
Bukan berarti Fara tidak menyukai keluarganya. Bukan berarti Fara tidak tahu rasa bersyukur karena keluarganya masih lengkap dan sehat-sehat saja. Juga bukan karena keluarganya yang tidak harmonis dan penuh masalah. Hanya saja jika bisa dia ingin menghindari saat-saat seperti ini, tetapi kenyataannya keluarga ini selalu menyempatkan makan malam bersama. Dan Fara, selaku anggota keluarga mau tidak mau harus terlibat.
Fara hanya ingin menjaga perasaannya agar tetap damai. Karena seringkali saat-saat seperti ini dapat menyiksa batin Fara.
"Bagaimana kuliahnya sayang?" Suara berat terdengar, memecahkan suasana yang semula sunyi.
Fara memasukkan potongan ayam goreng ke mulut, lalu mengunyah makanannya dengan nikmat. Fara hanya diam, sibuk dengan makanannya. Toh! Papanya bertanya kepada perempuan yang duduk disampingnya.
"Lancar Pa! Mungkin tahun depan Rere sudah bisa wisuda." Perempuan dengan rambut ikal yang panjangnya mencapai punggung itu tersenyum setelah memberikan jawaban.
Pemilik suara berat yang tak lain adalah ayah Fara hanya mengangguk-angguk. Tatapannya dialihkan ke perempuan yang rambutnya diikat model ekor kuda. "Fara, contoh Kakakmu itu. Dua puluh satu tahun sudah jadi sarjana." Abhipraya selaku kepala keluarga dan laki-laki satu-satunya di keluarga ini memberi wejangan kepada anak bungsunya.
"Hm. Masih mungkin." Fara membalas cuek perkataan papanya. Bagi Fara perkataan itu hanya masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri.
Abhipraya melirik Fara yang sedang mengunyah makanannya. "Nilai kamu itu diperbaiki, sudah SMA kelas dua, enggak lama lagi ujian. Enggak malu kamu, nilai matematika selalu dapat di bawah delapan. Rere saja tidak pernah, selalu membanggakan."
Tidak lengkap rasanya bagi Abhipraya jika tidak membanding-bandingkan kepintaran anak-anaknya.
Bagi Fara nilai kebersamaan yang "terjalin" saat berkumpul dan mengobrol seperti ini menjadi tercemar karena kata-kata papanya yang—menurut Fara—terkesan memihak pada satu sisi yang tak lain adalah kakak perempuannya.
Fara sudah mencoba berulang kali untuk berpikir positif bahwa kalimat berat sebelah yang keluar dari mulut papanya merupakan bentuk penyemangat untuk dirinya. Namun, semakin lama semakin memuakkan. Fara juga bukan golongan manusia yang mudah termotivasi hanya dengan kata-kata seperti itu.
Mungkin ini hanya pembelaan terhadap diri Fara yang tidak pintar. Namun, mengapa pelajaran berhitung yang satu ini selalu diagung-agungkan dan menjadi titik acuan untuk menyatakan bodoh atau tidaknya seseorang? Jika seorang tidak pandai berhitung mereka langsung diakui bodoh, begitu sebalikanya, jika seorang pandai berhitung mereka langsung diakui genius. Siapa tahu seorang itu ahli di bidang yang lain. Bisa saja seorang itu memiliki keahlian berpendapat atau mengungkapkan isi pikirannya dengan lugas. Atau memiliki fisik kuat dan stamina yang lebih sehingga membuatnya selalu mendapatkan nilai tinggi di bidang olahraga. Bukankah semua orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing?
Fara tidak suka dengan pemikiran orang tua laki-lakinya yang sempit dan selalu berpacu kepada kekurangan Fara. Papanya seolah-olah mengharuskan Fara untuk bisa dan bisa tanpa memedulikan kelebihan lain yang Fara punya. Fara tahu jika orang tua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, tetapi belum tentu yang terbaik menurut papanya adalah yang terbaik untuk Fara.
Fara sudah muak berusaha memaksa dirinya agar bisa menjadi yang diinginkan papanya. Fara sadar dia tidak bisa, kemampuannya hanya sebatas itu saja. Disaat-saat seperti itu Fara mempertanyakan kemana perginya pepatah "Hasil tidak akan mengkhianati usaha"? Nyatanya saat ini hasil tidak hanya menghianati usaha Fara melainkan hasil menolak usaha Fara. Fara bukannya pesimis, dia hanya mencoba realistis terhadap dirinya sendiri. Maka dari itu Fara sadar diri bahwa bidang ini tidak cocok dengan dirinya, Fara tidak ingin mencurahkan segalanya hanya demi keinginan Papanya yang egois. Fara merasa dia harus melakukan sesuai dengan keinginannya. Memang kewajiban anak untuk mematuhi perkataan orang tuanya, tetapi anak juga memiliki hak untuk memilih ingin seperi apa kedepannya.
Fara berhak atas dirinya.
Maaf saja, Fara bukanlah kakaknya yang ambisius dan selalu ingin menjadi nomor satu. Fara juga tidak haus perhatian maupun pencapaian. Bagi Fara melakukan sesuatu yang dia inginkan dan sesuai dengan kemampuannya adalah yang terpenting.
"Fara sudah selesai makannya." Fara berdiri dari duduknya lalu berlalu ke wastafel untuk mencuci peranti makannya.
lima menit berlalu, Fara kembali dan pamit untuk pergi ke kamar. "Fara mau ngerjain tugas."
Fara berbohong.
Tidak ada tugas, karena dia sudah menyelesaikan semuanya kemarin malam. Fara hanya ingin menghindari topik pembicaraan yang nantinya akan menyiksa batin miliknya.
Abhipraya hanya mengangguk singkat. Mamanya mengizinkan sambil menggerutu. Sedangkan Rere selaku Kakak perempuan Fara menatapnya sambil tersenyum.
"Mau Kakak bantu?" tanya Rere kepada adik perempuannya.
"Enggak. Fara bisa sendiri." Segera setelah mengatakannya, Fara berlalu pergi menuju kamar miliknya yang berada di lantai dua.
Rere hanya menatap datar punggung adiknya yang menjauh. Rere kembali memakan makanannya yang tersisa.
Sebagai kakak, Rere ingin menjadi contoh yang baik untuk adiknya. Rere tahu jika Fara membencinya, karena orang tua mereka yang selalu membanding-bandingkan mereka. Namun, Rere juga tidak ingin sesuatu seperti ini menjadi alasan untuk membuatnya berhenti mencapai puncak. Rere adalah seorang yang ambius, alasan keadialan dalam hubungan persaudaraan seperti ini tidak akan menghentikannya. Maka dari itu dia mencoba biasa saja, seolah-olah bahwa dirinya memang seperti yang papanya bicarakan. Pintar dan selalu menjadi kebanggaan orang tua.
Seharusnya Fara tidak berhak membencinya.
Rere tidak melakukan kesalahan apapun. Rere hanya melakukan apa yang memang harus dia lakukan sebagai anak. Bukan salah Rere jika dia lebih cemerlang daripada Fara. Jika ada sesuatu yang perlu dikritik adalah perlakuan papa dan mamanya terhadap Rere dan Fara, bukan dirinya.
Hubungan saudara ini tidak sesederhana yang Rere bayangkan.
Setidaknya bagi mereka berdua.
***
__ADS_1