L A T T E

L A T T E
4


__ADS_3

Tidur Fara terusik oleh suara ringtone alarm ponselnya. Tangan Fara bergerak tak teratur untuk mencari benda pipih yang masih mengeluarkan bunyi.


Fara terus mencari dengan mata terpejam.


Di mana sih? batin Fara gemas.


Tidak lama kemudian—


Dapat!


Ternyata ponselnya berada tepat di sebelah kanan perut Fara.


Fara merasakan ponsel dalam genggamannya bergetar. Sedikit perih dirasakan saat cahaya ponsel itu menyelinap masuk melalui celah mata Fara yang masih setengah membuka. Segera saja Fara menggeserkan jempolnya ke layar kaca dihadapannya.


Fara mendorong tangannya ke atas bersamaan dengan kaki miliknya yang didorong ke bawah; merenggangkan otot-otot tubuh yang kaku.


Masih dalam posisi tidur telentang, Fara menatap langit-langit kamarnya, lalu menguap. 10 menit Fara bertahan dalam posisi tersebut. Sampai akhirnya di menit ke-12 dengan terpaksa Fara beranjak dari kasur untuk menuju kamar mandi.


30 menit Fara habiskan untuk bersiap. Di tubuh Fara sudah melekat seragam putih khas anak SMA. Fara membungkukkan badannya, tangannya mengambil tas ransel warna cokelat yang tergeletak di lantai. Tanpa memakainya langsung saja Fara berjalan menuju pintu.


Fara melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga. Setelah sampai di anak tangga paling bawah, segera dia memacu kakinya menuju meja makan.


Fara hanya melihat papanya saat dia sudah berada di ruang makan. Fara menarik salah satu kursi yang berjarak paling jauh dari kursi tempat papanya berada, lalu mendudukkan dirinya di sana.


Abhipraya melirik anak bungsunya yang duduk di kursi paling jauh dari tempatnya duduk saat ini. Tatapannya beralih dari Fara yang memejamkan mata ke ponsel digenggamannya. Jempol kiri Abhipraya bergerak naik-turun di layar kaca berukuran 6,2 inci tersebut. Matanya fokus membaca tulisan di sana, sambil tangan kanannya memegang cangkir berisi kopi yang sesekali diminumnya.


Sambil menunggu makanan datang, Fara memejamkan matanya. Kedua tangannya dia gunakan untuk menopang dagu. Mulutnya sesekali menguap.


Fara masih mengantuk.


Dilla berjalan pelan menuju meja makan diikuti Rere yang mengikutinya dari belakang. Tangan mereka penuh oleh wadah berisi makanan.


Dilla menaruh semangkuk besar nasi dan sepiring tumis buncis di meja makan.


Fara memperhatikan keduanya. Hidung Fara mencium berbagai aroma sedap hasil masakan mamanya. Matanya melihat piring berisi telur goreng dan tempe goreng yang diletakkan Rere di meja makan lalu disusul sepiring perkedal kentang yang masih mengepulkan asap.


Segera saja Fara membenarkan posisi duduknya dan bersiap untuk sarapan.


***


Udara pagi hari memang yang terbaik jika tinggal di kota metropolitan seperti ini. Fara sudah berada di luar rumah bersama dengan motor warna biru dan putih kesayangannya. Helm sudah bertengger manis di kepalanya. Fara sudah siap untuk berangkat menuju sekolah, sebelum telinganya menangkap suara anak kecil yang menyapa dirinya.


"Pagi, Kak Fara!"

__ADS_1


Dihadapan Fara sekarang terdapat anak laki-laki dengan seragam putih dan merah khas murid SD. Tangan anak laki-laki itu berada di atas kepala; melambai-lambai kepada Fara.


"Pagi, Io." Fara menjawab sapaan itu lalu tersenyum manis. Tangan kanannya dilambaikan kepada anak laki-laki yang dipanggilnya Io itu.


Anak laki-laki itu masih melambaikan tangannya, giginya yang tidak rapi itu terlihat saat tersenyum.


Menggemaskan!


"Pagi, Fara."


"Oh, pagi juga," balas Fara kikuk sambil tersenyum aneh kepada wanita yang baru saja menyapanya.


Anaknya sangat menggemaskan, sampai-sampai aku tak menyadari bahwa ibunya ada disamping.


Fara masih tersenyum, sambil membatin.


Mereka ini adalah tetangga baru sebelah kiri rumah Fara. Bocah laki-laki yang menggemaskan itu bernama Mario, dia masih kelas 1 Sekolah Dasar. Sedangkan wanita yang masih tersenyum kepada Fara itu adalah ibunya Mario, namanya Tante Wulan. Dia adalah single parent. Mereka baru saja pindah satu bulan yang lalu.


"Io mau berangkat sekolah dulu, Kak Fara hati-hati di jalan." Tangan kanan Mario yang bebas dari genggaman Ibunya melambai kepada Fara.


Fara ingin tertawa mendengarnya. Fara ikut melambaikan tangannya kepada Mario.


"Iya, Io juga hati-hati." Fara tersenyum manis kepada Mario. Kemudian tatapannya beralih dari Mario ke Tante Wulan.


"Kalau begitu, saya permisi."


Fara hanya memberikan anggukan untuk membalas perkataan wanita itu.


Segera saja Fara menyalakan mesin motornya, dan melaju dengan pelan.


"Dadah, Kak Fara."


Fara menolehkan kepalanya sejenak, lalu tersenyum. "Dadah, Io."


***


Fara melepaskan helm. Dia bernapas lega, karena tidak ada lagi yang akan menghalangi angin untuk memberikan kesejukan di kepalanya.


Fara turun dari motor. Sambil berjalan pelan Fara memasukkan kunci motor ke tas ransel yang sebelumnya sudah dia pindahkan di depan perut.


Bertepatan dengan tertutupnya resleting kantung tempat Fara menaruh kunci motornya, dirinya tanpa sengaja menabrak seseorang. Kepala Fara yang semula menunduk langsung terangkat.


"Ah, maaf enggak sengaja," ucap Fara kepada seorang laki-laki yang ditabraknya.

__ADS_1


"Iya." Setelah mengatakan itu, laki-laki itu langsung berlalu meninggalkan Fara.


Fara menatap punggung yang semakin menjauh, lalu mengendikkan bahu. Segera Fara memacu langkahnya untuk menuju kelas.


Fara mendapati kondisi kelasnya yang sudah ramai. Maklum hari ini hari Senin yang berarti upacara bendera.


Fara berjalan menuju bangku di baris ketiga pojok samping tembok. Fara melihat tas bewarna ungu di kursi sebelah, tanda jika teman sebangkunya sudah datang.


Fara tidak peduli pemilik tas warna ungu itu berada di mana. Fara menaruh tasnya di atas meja, lalu direbahkannya kepalanya di atas sana.


Nova melihat bangku di sebelahnya sudah terisi oleh seseorang. Segera saja Nova menghampiri Fara. Nova memegang bahu kiri Fara, lalu mendorongnya dengan tidak sabaran.


"Fara, jangan tidur! Habis ini upacara." Nova berucap kepada Fara yang masih menenggelamkan kepalanya di meja.


Fara mengangkat kepalanya. Tangan kirinya terangkat untuk menutup mulutnya yang menguap, lalu tatapan datar dia berikan kepada Nova yang tersenyum lebar.


Mereka berdua diam. Tidak ada yang berniat memulai pembicaraan.


Fara tidak ada minat untuk berbicara, karena dia lupa membawa air minum dari rumah. Fara tidak ingin merasa haus. Dia akan membeli air minum saat selesai upacara nanti.


Nova yang biasanya berisik saat ini juga diam. Tidak ada hasrat ingin berbicara, setidaknya untuk saai ini. Nova masih merasa tidak enak kepada Fara atas kejadian kemarin, ditambah Fara yang terlihat seperti biasanya. Setidaknya tunjukan ekspresi marah kepadanya, agar Nova tidak terlalu menyesal.


"Fara, kamu masih marah karena kemarin aku enggak datang? Kalau begitu, maaf." Suara Nova yang kecil, semakin kecil saat mengucapkan permintaan maaf.


Fara menatap Nova yang memasang raut wajah menyesal. Sebenarnya Fara sudah tidak peduli dengan kejadian itu. Karena bagi Fara jika masih marah kepada Nova tidak ada untungnya. Hal itu juga akan mengotori hati Fara lalu berujung sia-sia. Nova juga sudah meminta maaf dan terlihat sangat menyesal. Fara merasa itu sudah cukup.


Namun, sepertinya diamnya Fara memiliki arti lain bagi Nova.


"Benaran marah ya, Fara maafin aku dong." Nada suara Nova merajuk. Alisnya hampir bersatu. Fara juga dapat melihat kerutan di dahi Nova.


"Hm." Fara manatap Nova yang tiba-tiba kembali tersenyum.


"Makasih Fara, nanti aku traktir deh. Janji!"


Fara merasakan remasan tangan kanan Nova yang berada di bahu kirinya


Fara tersenyum senang. Tangannya dengan segera memukul pelan tangan Nova yang masih meremas kuat Bahu miliknya.


Nova tersadar. Segera dia menyingkirkan tangannya dari bahu Fara. Nova hanya bermaksud meyakinkan Fara bukan menyakiti Fara.


Seketika Nova langsung sibuk bercerita tentang alasannya karena mengingkari janji yang Nova buat. Sesekali kata maaf keluar dari bibir merah muda miliknya.


Fara hanya diam mendengarkan sambil sesekali mengangguk. Walaupun Nova sudah memberitahunya kemarin lewat chat, setidaknya suara Nova itu membuatnya tetap sadar dan membantu mengurangi rasa kantuk yang melanda Fara.

__ADS_1


Perbincangan itu terus berlanjut. Sampai bunyi bel tanda dimulainya upacara bendera terdengar.


***


__ADS_2