L A T T E

L A T T E
7


__ADS_3

Saat anak-anak kalian merasa genius, saat beranjak remaja kalian masih merasa hebat, saat hampir dewasa kalian dihadapkan kenyataan bahwa ada orang lain yang lebih hebat daripada kalian, dan saat dewasa kalian akan menjadi manusia biasa.


***


Nino berjalan, diikuti oleh tiga orang anak laki-laki di belakangnya.


Banyak mata yang menatapnya kagum sepanjang perjalanan menuju kelasnya. Nino yang masih duduk di bangku SMP itu tersenyum manis saat para perempuan itu menyapanya, sedangkan Perempuan-perempuan itu terlihat salah tingkah dan menjerit tertahan saat Nino membalas sapaan mereka dengan senyuman andalannya.


Nino harus bersyukur karena diberi paras rupawan yang digilai banyak perempuan, dan otak pintar sehingga banyak guru yang mengandalkannya, serta bakat bermain basket yang membuatnya disegani oleh murid laki-laki di sekolahnya.


Nino merasa puas saat semua mata itu menatap kagum kepada dirinya. Nino merasa bangga karena saat ini dia merasa berada di titik terhebat dalam hidupnya. Tidak ada celah, tidak ada yang meragukannya. Saat ini dia adalah seorang pangeran dalam dongeng yang dikagumi banyak wanita dan dihormati oleh para pria.


Tampan, pintar dan berbakat.


Nino menghentikan langkahnya, membuat langkah-langkah yang mengikuti Nino dari belakang juga ikut berhenti. Dihadapan Nino saat ini berdiri seorang perempuan yang tingginya hanya sampai dadanya. Nino tersenyum manis saat perempuan itu mengangkat kepalanya yang semula menunduk.


Nino melihat perempuan itu yang menatapnya malu-malu, napas perempuan itu pendek-pendek, tangannya saling bertaut dan bergerak gelisah, serta kakinya terus bergerak kecil tak teratur.


Sedikit imut, pikir Nino.


"Ada apa?" tanya Nino kalem.


Perempuan itu langsung salah tingkah saat suara Nino terdengar oleh indra pendengarannya.


"Itu ...." Perempuan itu semakin gelisah, dia merasa jantungnya berdegup keras dan cepat, dia khawatir jantungnya akan melompat keluar.


"Iya, kenapa?" Nino berusaha sabar. Sebenarnya dia sadar situasi seperti apa saat ini.


"Aku ingin ngomong." Perempuan itu terlihat membasahi bibirnya.


"Ngomong apa?" Nino masih tersenyum manis, tetapi dalam hatinya dia mengeluh agar ini cepat selesai.


"Emh, boleh berdua saja?" Perempuan itu menatap segerombolan anak laki-laki yang berdiri di belakang Nino.


Nino menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Dia berusaha agar tidak marah pada perempuan yang menyita banyak waktu berharganya.


Sabar, Nino. Jangan marah. Kalau marah, semua kesenangan ini akan hancur. Sabar, sabar.


"Kalian dengar kan?"


Tanpa repot-repot menoleh, Nino tahu jika teman-teman di belakangnya beranjak pergi. Terbukti dari suara hentakan sepatu yang semakin lama semakin kecil dan tak terdengar.


"Sudah, sekarang mau ngomong apa?" Suara Nino memang kalem, tetapi menuntut.

__ADS_1


Perempuan itu tersentak, bahunya bergerak ke atas, tangannya saling menggenggam dengan erat, jantungnya berdetak cepat, kakinya menekan lantai yang menjadi pijakannya.


Dengan satu tarikan napas perempuan itu berujar, "Aku menyukaimu!"


Nino tersenyum miring, sadar jika perkirannya benar.


"Maaf, tidak bisa," jawab Nino dengan nada yang dibuat kecewa.


Perempuan itu membuka matanya yang semula terpejam, wajahnya terlihat sedih. Dia sudah tahu jika Nino akan menolaknya. Sebelum dirinya memberanikan diri melakukan hal ini banyak teman-temannya yang pernah menyatakan perasaan kepada Nino memberi tahu bahwa Nino tidak akan menerima pernyataan suka mereka. Perempuan itu tahu, dia paham, walaupun begitu entah mengapa dadanya terasa berat, seperti ada tangan-tangan tak kasat mata yang meremasnya, bernapas saja rasanya susah seakan oksigen menjauh dari dirinya, kepalanya mendadak pening karena pergantian emosi yang tiba-tiba, Sekuat tenaga perempuan itu menahan diri agar tidak mengeluarkan air mata.


Diangkatnya wajah itu lalu di tatapnya Nino, bibirnya bergetar saat akan berucap, "iya, tahu kok. Aku cuma ingin Nino tahu, perasaan aku ke Nino bagaimana. Makasih sudah mau mendengarkan."


Nino tersenyum menenangkan. "Iya, makasih juga dan sekali lagi maaf."


Perempuan itu hanya mengangguk, dengan segera dia berbalik lalu berlalu meninggalkan Nino yang masih berdiam diri di tempatnya, senyum terhapus dari bibirnya, tatapannya tertuju pada lantai keramik warna putih tempat perempuan tadi berdiri. Nino mengendikkan bahu kemudian melanjutkan perjalanannya untuk menuju kelas.


"Dia nangis."


Langkah Nino terhenti saat telinganya mengangkap suara yang berasal dari arah depan. Refleks Nino menegakkan kepalanya. Dihadapannya saat ini berdiri seorang gadis dengan rambut yang diikat di belakang menyerupai ekor kuda.


"Sejak kapan ada di sini?" tanya Nino sinis.


Namanya Fara. Tetangga satu kompleks sejak kepindahan Nino sebulan yang lalu di rumah barunya. Umur mereka yang sepantaran dan didukung juga oleh fakta bahwa mereka bersekolah di sekolah yang sama serta belajar di kelas yang sama pula membuat terbangunnya suatu hubungan yang bernama pertemanan.


Sebenarnya pertemanan ini terjadi tanpa sengaja, mengalir begitu saja dan tiba-tiba, dan tidak tahu siapa yang memulai.


Karena kejadian itu, semakin hari mereka semakin dekat. Dari yang hanya berangkat bersama saat tak sengaja berpapasan menjadi berangkat bersama dari rumah Fara dengan Nino yang menjadi penjemputnya. Mereka juga kadang pulang bersama jika Nino sedang tidak ada ekskul atau kegiatan sekolah lainnya.


Nino senang berada di dekat Fara. Dia nyaman. Walaupun awalnya Nino merasa kesal karena Fara tidak pernah menatap kagum kepadanya. Ingin sekali Nino mendapati ekspresi terpesona Fara yang melirik malu-malu kepadanya. Namun, sepertinya mustahil.


Fara tidak pernah mempertanyakan dirinya yang berlagak hebat di depan banyak orang. Dan yang lebih penting Nino bisa melakukan apa saja semaunya saat dihadapan Fara. Nino bebas bereskpresi dan menunjukkan semua sifat yang berlawanan dengan sifatnya selama ini di hadapan banyak orang di sekolahnya. Seperti saat ini.


Nino menatap sinis perempuan dihadapannya, menunggu jawaban dari Fara.


"Dari perempuan itu bilang suka sampai selesai," jawab Fara apa adanya.


"Enggak baik tahu, nguping pembicaraan orang." Nasihat Nino kepada Fara


"Kalau begitu lain kali aku lewat saja, sambil pura-pura enggak lihat."


Nino tersenyum lebar akan jawaban Fara, entah mengapa terlihat menggemaskan walaupun Fara mengatakannya dengan wajah datar dan dengan nada tanpa emosi.


"Mau ke mana? Sebentar lagi masuk." Nino bertanya penasaran saat tanpa aba-aba Fara berjalan melewati tubuhnya. Tinggi Fara yang mencapai dagunya membuat Nino tidak perlu repot menundukkan kepala.

__ADS_1


Tanpa menoleh kepada Nino yang berada di belakangnya, gadis itu menjawab, "toilet." Lalu berlalu meninggalkan Nino.


Nino menatap punggung itu, dia tersenyum lebar.


Dia itu benar-benar sesuatu.


***


Nino masuk ke dalam kelasnya yang sudah seperti kapal pecah. Banyak ransel yang berserakan di lantai, kursi tidak berada pada tempat yang seharusnya, serta suasana kelas yang ramai oleh obrolan penghuninya.


Nino memukul papan tulis putih yang tergantung di tembok depan kelas, membuat semua perhatian tertuju kepada dirinya. Seketika suasana kelas yang ramai menjadi sepi.


"Belajar sendiri, guru-guru sedang rapat—"


Belum selesai Nino berkata, suasana kelas langsung riuh oleh sorakan.


Nino selaku ketua kelas kembali memukul papan tulis sebanyak dua kali.


"Jangan berisik." Nadanya penuh intimidasi, membuat semua orang yang mendengarnya seketika mengecilkan volume suaranya.


"Terima kasih atas perhatiannya." Terakhir diberikannya senyuman manis yang membuat para betina lemas dibuatnya.


Nino berjalan menuju bangku miliknya. Dia menampar paha seseorang saat tiba ditujuannya.


Kaki yang semula berada di kursi itu seketika turun, bekas injakan sepatu tercetak jelas di sana. Nino menepuk pelan kursi miliknya yang kotor oleh sepatu orang lain. Setelah dirasa bersih, Nino mendudukkan dirinya.


"Sakit, No," gerutu laki-laki yang ditampar pahanya.


"Salah siapa taruh kaki sembarangan," jawab Nino sinis.


"Salah kursinya." Laki-laki ber-name tag Bayu itu membalas.


"Mana ada," ucap Nino tak terima.


"Ada." Bayu selaku teman sebangku Nino tak mau kalah. "Kursinya kosong, menggoda untuk diinjek." Lanjutnya.


"Bisa gitu?" Nino bertanya kepada Bayu dengan nada pura-pura penasaran.


"Bisa," jawab Bayu lantang.


Nino sudah tidak ada minat untuk menanggapi perkataan Bayu. Nino tidak menghiraukan laki-laki disebelahnya yang saat ini sedang berjongkok di kursi sambil mulutnya terus mengoceh tidak jelas.


Nino lebih memilih tenggelam dengan pikirannya. Sepanjang perjalanan dari ruang guru menuju kelasnya dia terus memikirkan Fara. Saat itu otaknya membawa dia kepada kejadian beberapa tahun lalu. Dan sekarang otaknya membawanya kepada kejadian yang baru-baru ini terkadi di koridor. Tanpa sadar Nino tersenyum tipis.

__ADS_1


Menggemaskan ya?


***


__ADS_2