Legenda Pedang Bulan

Legenda Pedang Bulan
Nyonya Fei


__ADS_3

Langit gelap terbentang luas dengan bintang-bintang bertebaran menghiasinya. Keramaian malam ini tidak dapat dielakkan hampir setiap hari. Kota ini mendapat julukan tempat yang tak akan pernah mati. Pusat perdagangan bertempat disini. Lampion merah tergantung di setiap sudut jalan,toko,dan tempat-tempat ramai lainnya.


Di tengah keramaian kota yang bersinar ini,ada bangunan cukup megah yang menarik perhatian. Bagaimana tidak? Bangunan ini adalah kediaman istri dari salah satu pedagang paling kaya,pemilik hampir setiap cabang perdagangan.


Gu Fei,wanita berumur sekitar 40 tahun itu duduk dengan anggun di kamarnya. Jemari lentiknya menyisir rambutnya yang panjang. Mungkin sedikit lagi ia akan memanggil pelayannya untuk mengikatkan rambutnya. Gu Fei,walaupun ia sudah terbilang tidak muda lagi,tapi kecantikannya tetap terjaga. Tidak jauh berbeda dari dirinya yang dulu.


Ditambah hidupnya yang berkecukupan,ia benar-benar merawat wajahnya sedemikian rupa.


Ya,Gu Fei tentu adalah seorang istri yang menyayangi suaminya.


Senyuman tipis terlihat di bibir Gu Fei,ia mengambil kotak pemerah bibir di depannya,mengoleskan bubuk merah itu ke bibirnya dengan perlahan.


Salah satu pelayan masuk ke dalam,menyapa Gu Fei dengan sopan dan ramah. Gu Fei memberikan senyumannya kemudian bertanya,"Ada apa?".


"Melaporkan kepada Nyonya Fei,obat sudah dikirim sampai kediaman Tuan Gu," Pelayan berucap sopan.


Gu Fei terdiam,sedetik kemudian ia tersenyum. Senyum yang berbeda dari biasanya.


"Baiklah,terimakasih. Tolong ambilkan kertas dan pena,aku ingin menulis surat untuk Lin Mei." Suruh Gu Fei pada pelayannya.


Pelayan itu membungkuk,kemudian menyiapkan beberapa kertas,pena,dan tinta hitam seperti yang diperintahkan. Kemudian memberikan semua itu pada majikannya.


Gu Fei memegang pena dengan anggun,mencelupkannya ke dalam tinta dan menorehkannya ke atas kertas putih. Jemarinya bergerak kesana-kemari membentuk sebuah irama. Diri Gu Fei dipenuhi oleh kelembutan dan keanggunan,ia hidup sebagai seorang bangsawan maka ia harus bersikap layaknya seorang bangsawan itu sendiri.


Gu Fei selesai dengan suratnya,melipat kertas itu dan memberikannya pada pelayan.


"Berikan ini pada Lin Mei,bilang padanya sebelum aku pergi ia harus datang kesini." Ujar Gu Fei setelah memberikan surat itu pada pelayan.


Pelayan mengangguk,lalu pamit undur diri untuk memberikan surat itu pada orang kepercayaan Gu Fei untuk dibawa langsung ke kediaman Tuan Gu.


Gu Fei selesai mempercantik dirinya. Sepanjang malam ia selalu merias dirinya sendiri. Menatap cermin saja sudah membuatnya senang akan wajahnya yang tidak menua,masih terlihat cantik dan awet muda.


Tapi ada satu yang Gu Fei inginkan selain kecantikan. Dan itu masih terpendam di dalam hatinya.


Dan ada satu orang yang tahu akan hal yang ia inginkan itu.


Malam itu bulan purnama bersinar terang,terlihat jelas di antara hamparan bintang-bintang dan bentang langit malam. Gu Fei beranjak dari duduknya,menghampiri sisi jendela kamar dan menatap bulan purnama cerah itu dari sana. Ia bersenandung pelan,senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya.


Gu Fei adalah sosok yang anggun dan lembut,bahkan selama hidupnya ia hampir tidak pernah marah. Benar-benar sosok yang sempurna di mata orang-orang. Bahkan Tuan Gu sangat mencintainya.


Gu Fei tidak mempermasalahkan kalau dirinya adalah istri kedua dimana istri dari Tuan Gu sebelumnya sudah meninggal karena sakit keras. Di saat-saat tua Tuan Gu yang sudah mulai rapuh dan sakit-sakitan,ia mengirimkan banyak budak yang dijual murah untuk menemani Tuan Gu selayaknya seorang anak.


Itu dikarenakan ia tidak bisa menemani suaminya dari dekat. Mereka berpisah tempat tinggal.


Gu Fei menyandang marga 'Gu' setelah sah menjadi istri Tuan Gu. Padahal sebelumnya ia bermarga 'San'. Dan sekarang marga 'San' disandang oleh anak angkatnya dengan Tuan Gu.

__ADS_1


Pintu kamarnya diketuk secara tiba-tiba. Gu Fei sedikit terkejut,kemudian ia kembali tenang ketika melihat siluet putra angkatnya berada di depan pintu.


San Tian,anak angkat keluarga Gu. Ia tersenyum tipis di wajahnya yang tampan,kulitnya seputih persolen. Ia memberikan senyum tipis pada Gu Fei.


"Ibu,apakah anda sibuk?.." Ia menyapa Gu Fei dengan sopan sebagai seorang anak.


Gu Fei menggeleng,ia melambaikan tangannya menyuruh San Tian masuk. San Tian menurut,ia melangkah masuk mendekati ibunya.


"Putraku yang manis,untuk apa kau kesini malam-malam begini?" Gu Fei bertanya, sedikit terkekeh dengan tangan mengelus kepala putranya yang sekarang bahkan lebih tinggi darinya.


"Tidak,aku hanya bingung. Kenapa anda mengirimkan banyak surat ke kediaman ayah? Tidak seperti biasanya." San Tian menjawab.


Gu Fei tertawa ringan,ia mengelus pipi San Tian dengan lembut.


"Aku hanya mengirimkan obat untuk ayahmu. Ia semakin sakit dari hari ke hari,jadi aku membawakannya obat dari kota ini. Kau tahu kan bahwa obat-obatan disini manjur?" Gu Fei menjelaskan sambil terkekeh gemas melihat kelakuan putranya.


San Tian,di umurnya yang ke 17 tahun ini ia tinggal dengan Gu Fei. Alasannya ia tidak ingin ikut Tuan Gu itu karena ia tidak terlalu dekat dengan ayahnya. Jadi ia lebih memilih ikut dengan ibunya.


San Tian tumbuh menjadi lelaki tampan yang dikelilingi banyak gadis muda di sekitar tempat tinggalnya. Tapi ia tidak memikirkan itu sama sekali.


Perawakannya tinggi dan tampan. Ia juga cerdas di semua bidang. Di tambah ia juga menjaga adab dan sopan santunnya pada siapa saja. Ini akibat didikan dan lingkungan yang mempengaruhinya sejak kecil.


"Besok aku akan pergi dua hari lagi mengunjungi ayahmu. Besok Lin Mei akan datang menjemputku dan ia mengunjungiku besok malam. Apakah kamu merindukannya?" Gu Fei bertanya dengan lembut.


Gu Fei tertawa,"Sepertinya kau lupa siapa Lin Mei. Dia adalah senior pelayan di kediaman Gu."


"Apakah kamu menyukainya?" Gu Fei bertanya lagi,kali ini ia terlihat serius.


San Tian mengedipkan matanya beberapa kali,merasa heran sekaligus bingung dengan apa yang dipertanyakan ibunya.


San Tian menghela nafas panjang,"Ibu...aku belum memikirkan hal itu. Aku ingin terus belajar sampai aku bisa meneruskan bisnis ayah."


Gu Fei yang mendengar itu terdiam,senyumnya seketika pudar. Tapi sedetik kemudian senyum itu kembali lagi. Ia mengacak rambut putranya dengan gemas.


"Baiklah,lakukan saja sesukamu. Tumbuh menjadi anak baik sudah membuatku bersyukur." Ujar Gu Fei disertai dengan candaan.


"Sekarang tidurlah,besok kamu harus belajar lagi."


.


.


.


Keesokan paginya,kediaman Gu di hebohkan oleh tuan rumah yang semakin sakit. Ia tidak bisa beranjak dari tempat tidur karena merasakan kakinya kram luar biasa. Di tambah tadi malam ia muntah tiba-tiba.

__ADS_1


Para pelayan berkumpul di kamar Tuan Gu,beberapa dari mereka mengurus Tuan Gu yang panas tinggi.


Di saat para pelayan berkumpul,dua bocah tengil itu mengintip dari balik pintu. Zhi Yuo merasa aneh,kenapa kondisi Tuan Gu malah semakin menurun. Sedangkan Xie Jia memikirkan sebuah rencana.


Ya,mereka niatnya ingin mencuri makanan.


Para pelayan makan di ruang makan khusus pelayan. Mumpung sekarang masih pagi dan semua pelayan disibukkan dengan Tuan Gu,lebih baik mereka mencuri beberapa makanan dari ruang makan.


Zhi Yuo menyipitkan matanya,"Ku rasa sudah aman. Ayo,kita ke ruang makan,"


Xie Jia mengangguk,mereka mengendap pergi dari sana menuju ruangan makan para pelayan. Sesampainya di sana,seperti yang mereka duga bahwa banyak sekali makanan yang tertata di meja. Ada roti dengan acar,sup,nasi,dan sebagainya.


Xie Jia seketika ingin sekali meneteskan air liurnya karena tergiur. Ia memberi instruksi untuk mengambil makanan. Zhi Yuo mengangguk,ia membiarkan Xie Jia mengambil makanan yang ia suka dan rencananya mereka akan memakannya di gudang bersama.


Xie Jia menyiapkan kain yang ia bawa dan memasukkan beberapa roti dan membungkus beberapa acar. Sementara Zhi Yuo menoleh kesana-kemari memastikan keadaan aman.


Merasa keadaan sudah aman karena semua orang sedang sibuk,Zhi Yuo menuju ke salah satu lemari di ruang makan. Niatnya adalah satu.


"Nah,aku sudah menduganya akan ada disini,"


Zhi Yuo menemukan apa yang harus ia cari. Botol obat Tuan Gu. Tapi ini tampak berbeda dari kemarin malam dan itu membuatnya mengeluh. Walau begitu,ini hampir mirip dan semakin meyakinkan Zhi Yuo bahwa itu adalah botol obat bekas Tuan Gu yang sudah habis.


Zhi Yuo membuka botol obat dan mengintip isinya. Masih ada sedikit bubuk disana dan ketika dihirup aromanya seperti...


Seperti sampah.


"Hueeeek!"


"Kak Yuo!" Xie Jia panik seketika ketika melihat Zhi Yuo hendak muntah.


Xie Jia menghampiri Zhi Yuo dan menanyakan keadaannya. Zhi Yuo menggeleng dan menjawab bahwa ia tidak apa-apa,hanya mual setelah mencium isi botol yang ada di lemari.


"Maksud Kakak Yuo botol obat Tuan Gu?" Xie Jia bertanya dengan wajah polosnya.


Zhi Yuo terdiam,perkiraannya benar. Ini adalah obat Tuan Gu. Sisa sedikit bubuk di dalamnya.


"Benarkah? Baunya benar-benar tidak enak.." Zhi Yuo terbatuk beberapa kali.


Xie Jia mengangguk,"Ya..itu adalah obat pemberian dari istrinya. Obatnya semakin bau dari hari ke hari entah mengapa."


Zhi Yuo mengernyitkan alisnya saat itu juga. Pikirannya kalut ketika mendengar penjelasan dari Xie Jia.


"Sebenarnya..apa yang ingin dilakukan istri Tuan Gu?".


Bersambung!

__ADS_1


__ADS_2