
Sudah dua hari Zhi Yuo berlatih, selama dua hari itu pula ia menyerap energi cahaya bulan secara penuh. Dan sekarang ia telah menuai hasilnya dimana ia sekarang tidak merasakan sakit lagi ketika melakukan penyerapan energi.
Tubuhnya lebih ringan dari biasanya, dan ini termasuk perkembangan yang sangat cepat. Karena pada dasarnya Zhi Yuo sudah pernah melakukan itu, hanya saja sekarang ini raganya berbeda. Tapi itu bukanlah masalah selagi tubuh ini bisa diajak berlatih dan mempercepat perkembangannya.
Selesai dengan penyerapan energi cahaya bulan, Zhi Yuo mengambil langkah latihan selanjutnya yaitu bela diri.
Tapi karena dasarnya ia menggunakan pedang, dia jadi berfikir kembali. Sebenarnya dimana ia bisa mendapat pedang.
"Tidak usah repot-repot toh~" Zhi Yuo bergumam, dengan seringai di bibirnya ia berjalan menuju barisan hutan bambu.
Zhi Yuo memiliki tipe dalam memilih bambu, tidak mungkin sembarangan. Ini hanya untuk media berlatih, tidak masalah kalau bambunya kuat.
Bambu yang ia pilih adalah yang berukuran panjang, bisa digenggam dengan mudah, dan terbilang kuat. Akhirnya ia mendapatkan itu.
"Hah... untungnya aku sudah menyerap energi bulan yang menjadi salah satu sumber kekuatanku. Tinggal melatih kemampuan bela diriku, selesai sudah."
Zhi Yuo melangkahkan kakinya menuju padang rumput, berdiam sebentar disana untuk berkonsentrasi. Zhi Yuo menarik nafasnya dalam-dalam, menghembuskannya dengan pelan sehingga menyatu dengan angin.
Kini seluruh tubuhnya terasa ringan, terlebih ketika ia ingat dengan jelas gerakan bela diri yang ia pelajari di kehidupan sebelumnya. Entah ingatan itu memang ada atau datang dengan sendirinya tanpa ia minta.
Beberapa langkah kecil dan langkah besar, beberapa pola ayunan dari bambu yang ia genggam bagaikan menghunuskan sebilah pedang.
Zhi Yuo merasakan di dalam bayangannya, ia menggenggam MingYue dan kembali pada masa lalu.
Beberapa gerakan seni bela diri ini adalah gerakan yang paling dasar yang pernah ia pelajari. Dan dengan mudahnya ia mengingat itu semua.
Gerakan yang ia pelajari dilakukan dengan lancar, mungkin lain kali ia memerlukan beberapa target untuk dijadikan bahan percobaan.
Tidak terasa ia cukup lama mengayunkan bambunya, sedangkan langit sudah mulai menunjukan warna jingga. Zhi Yuo mengusap keringat yang mengucur dari dahinya. Berapa lama ia berlatih? Mungkin setengah hari.
Padahal ia baru saja melakukan rangkaian gerakan tahap ke dua. Seni bela diri yang ia pelajari ada 5 tahap gerakan, dan itu belum ia lakukan semuanya.
Zhi Yuo duduk di atas hamparan rumput, mengatur kondisi tubuhnya yang mulai kelelahan. Itu wajar, karena tubuh yang ia tempati sekarang adalah tubuh seorang anak remaja, terlebih lagi belum dilatih secara penuh. Tentu ini tidak sekuat dirinya yang dulu.
"Aku bosan... " Keluhnya.
Zhi Yuo akhirnya bangkit dari posisi duduknya, mengikat bambu pada punggungnya dan melangkah dengan santai menuju barisan hutan bambu.
"Jalan-jalan ke luar sebentar ah..".
.
.
.
Zhi Yuo tidak punya pilihan lain selain ia berjalan menyusuri desa lalu menuju ke arah pasar yang pertama kali dirinya datangi waktu pertama kali ada di desa ini.
Seperti biasa, keadaan pasar masih ramai walaupun sudah memasuki waktu sore hari. Maka dari itu, dari pada bosan seharian berasa di hutan bambu, Zhi Yuo memutuskan untuk berjalan-jalan di sini. Siapa tahu ada yang ia beli.
Pandangannya tertuju pada suatu kedai kecil yang menjual banyak acar. Dan salah satunya yang ia lihat adalah setoples manisan loquat. Ia jadi tergiur dan berjalan menuju kedai itu untuk membeli manisan.
Yah, dia cuma makan sedikit selama beberapa hari ini. Selain fokus dengan latihan, ia hanya memakan tanaman-tanaman yang tumbuh di hutan yang ia tinggali. Salah satunya termasuk rebung bambu.
Baru saja hendak menyapa penjual dan membeli manisan, Zhi Yuo malah melihat seorang bocah kecil tengah mengupas kulit loquat. Dan dia seperti tidak asing.
"Hei, nak." Zhi Yuo memanggil bocah itu.
Bocah itu yang tak lain tak bukan adalah Shu Cao, menolehkan kepalanya pada sosok Zhi Yuo.
Shu Cao menjawab dengan nada datar, "Ya?".
"Kau.. yang kemarin membuat keributan kan?" Tanya Zhi Yuo dengan jari yang menunjuk ke arah Shu Cao.
Shu Cao berdecak, "Kau tidak perlu tahu!".
Zhi Yuo memasang tampang meledek, "Aku melihat semuanya lho~".
"Heh! Dan kau orang gila yang tinggal di hutan bambu." Balas Shu Cao dengan ketusnya.
Bibi yang menjaga kedai melihat perdebatan itu secara langsung, segera melerai.
"Shu Cao, sepertinya pemuda ini terlihat seperti orang baik-baik, tidak seperti yang kau katakan."
Mendengar itu, Zhi Yuo menahan tawa mati-matian, bahkan sampai menimbulkan semburan dari mulutnya. Sementara bocah itu, Shu Cao hanya cemberut sambil mengelus pipinya yang dipenuhi oleh memar kebiruan.
"Dasar orang gila.." Bisik Shu Cao.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong aku lebih tua darimu, panggilah aku dengan lebih sopan~" -Zhi Yuo.
"Oh, ya? Dan aku lebih waras darimu." -Shu Cao.
Dengus kasar keluar dari mulut Zhi Yuo. Ia mengambil manisan loquat yang sudah disiapkan sebelumnya dan membayar untuk semua yang ia beli.
"Hei, nak. Aku kagum dengan kekuatanmu, bagaimana kau bisa berkelahi dengan orang yang lebih besar darimu?" Zhi Yuo bertanya.
Shu Cao yang mendengar itu merasa heran, "Aku cuma memukul dan menendangnya beberapa kali, tidak lebih."
Zhi Yuo mengangguk mendengar balasan bocah kecil itu. Yah... Tidak terlalu penting juga. Tapi dirinya jujur bahwa ia merasa kagum dengan Shu Cao. Entah mengapa ia merasa bocah ini agak berbeda.
"Shu Cao, hari sudah sore waktunya menutup toko."
Ketika suara bibi memanggilnya, Shu Cao lantas berdiri dan langsung membereskan dagangan yang belum sepenuhnya habis.
Tanda tanya muncul di atas kepala Zhi Yuo.
"Kenapa harus tutup sekarang?".
Shu Cao menoleh ke arah Zhi Yuo, dengan wajah cueknya ia menjelaskan.
"Ada makhluk aneh yang berkeliaran di desa kami akhir-akhir ini dan itu memakan banyak korban. Para pendekar sakti sedang menjalankan tugas mereka untuk menangkap makhluk itu, tapi sampai sekarang mereka kehilangan jejak. Makhluk itu keluar saat hari menjelang malam."
Zhi Yuo memiringkan kepalanya, menyimak penjelasan Shu Cao.
"Lalu? Wujudnya seperti apa?" Ia bertanya lebih lanjut.
"Hm... " Shu Cao tampak mengingat-ingat sebelum akhirnya ia dapat menggambarkan wujud makhluk mengerikan itu.
"Seperti kelelawar raksasa. Ya! seperti itu!".
Zhi Yuo mengernyitkan alisnya, kelelawar raksasa? Jadi makhluk yang terbang di atasnya saat ia sedang berlatih adalah makhluk itu?.
"Hei, berhati-hatilah saat pulang, atau monster kelelawar akan--" Ucapan Shu Cao terpotong sesaat ketika ia menoleh untuk menatap wajah Zhi Yuo. Tapi yang ia temukan hanyalah angin lewat, Zhi Yuo tidak ada disana lagi.
"Huh? Kemana orang itu?".
.
.
.
Para warga di desa mulai menutup pintu dan jendela rumah mereka masing-masing, sementara para pedagang di pasar mulai terburu-buru untuk segera pulang ke rumah mereka. Semenjak adanya serangan dari makhluk aneh berbentuk kelelawar raksasa itu, banyak warga menjadi panik.
Selain karena korban yang kian hari makin meningkat, tindakan para pendekar sakti yang bertugas pun belum memperlihatkan hasil. Warga pun semakin resah.
Ketika semua orang sedang sibuk dengan urusannya, di balik barisan bambu juga rimbunnya pepohonan, seseorang tengah duduk di atas atap gubuk.
Pandangannya tak luput dari sekitarnya. Setiap desir angin menembus kulitnya, tapi ia tidak goyah dengan itu. Ia mengatur nafasnya, tetap menaruh pandangan waspada. Ketika ia mendongak ke atas, cahaya bulan tidak lagi terlihat. Bulan purnama telah tertutup sempurna di hamparan langit malam.
Alis Zhi Yuo menekuk, ia tidak bisa menyerap energi sekarang. Tapi ia tidak peduli tentang itu, yang ia pikirkan sekarang adalah...
Sesuatu yang bahkan sangat ia benci.
Suara mengaum terdengar dari belakangnya, cukup jauh dari jaraknya sekarang. Zhi Yuo bangkit tanpa menoleh ke belakang, angin semakin menderu dari segala arah seiring dengan sesuatu yang melintas terbang di belakangnya.
Zhi Yuo menarik bambu dari punggungnya, mengayunkannya ke belakang dengan tenaga penuh.
Target yang ia serang malah menghindar dengan lincahnya, suara kepakkan sayap terdengar jelas malam itu.
Mata semerah darah dapat dilihat langsung oleh Zhi Yuo. Makhluk itu terbang lebih tinggi darinya, tapi Zhi Yuo tidak panik sama sekali.
Satu hentakan kaki membuat Zhi Yuo melompat setinggi makhluk itu. Sekali lagi Zhi Yuo menggunakan bambunya, menghunuskannya di udara mengarah pada makhluk itu.
Makhluk raksasa bersayap itu menghindar lagi, kali ini sepertinya ia tidak mau berurusan dengan Zhi Yuo, melainkan ia pergi dari sana dengan kecepatan tinggi.
Dan itu mengarah langsung menuju desa.
Zhi Yuo mendarat dengan sempurna di atas tanah. Dengan tangan yang masih menggenggam senjatanya, ia berlari kencang ke arah target. Ia harus bergerak cepat sebelum makhluk itu memakan korban.
.
.
.
__ADS_1
"Sial!" Zhi Yuo berdecak.
Sekarang dirinya berada di tengah-tengah desa. Tanpa pikir panjang, Zhi Yuo langsung melompat ke atas atap rumah warga. Ketika ia melihat suasana desa dari atas, itu seperti tempat yang mati. Sunyi, hanya ada suara angin.
Dan harusnya suasana seperti ini memudahkannya untuk menemukan jejak makhluk aneh itu.
Suara mengaum terdengar lagi, kali ini lebih keras bagai memecah angin.
Zhi Yuo bersiap dengan senjata yang ia pegang, sejauh mata memandang ia bisa melihat pergerakan makhluk itu walau sekarang dilahap oleh kegelapan.
Makhluk itu keluar dari tirai kegelapan malam, dengan kecepatan yang gila ia hendak mencengkram Zhi Yuo dengan cakarnya.
Zhi Yuo menunduk untuk menghindari cakar yang hendak merobek pundaknya itu. Dengan sekali hentakan, Zhi Yuo mengarahkan bambunya ke arah sayap iblis menyeramkan berbentuk kelelawar itu.
"Dia lebih besar dari yang ku duga." Zhi Yuo meringis dalam hati.
Sayapnya saja tidak mudah untuk di robek. Terlebih Zhi Yuo sudah lama tidak mengayunkan senjatanya.
Iblis kelelawar mengeluarkan suara melengking, sampai rasanya Zhi Yuo ingin menutup telinga saat itu juga.
Ketika ia merasa akan ada sesuatu yang berbahaya, Zhi Yuo langsung menancapkan ujung bambunya ke tanah dan melompat menjauh.
Iblis kelelawar mengepakkan sayapnya lagi, kali ini lebih lebar. Ia memamerkan taringnya, siap untuk menyantap Zhi Yuo.
Tentunya Zhi Yuo bertahan sebisa mungkin ketika iblis kelelawar itu menyerangnya secara bertubi-tubi menggunakan sayapnya yang lebar. Dan ketika sayap itu mengepak, rasanya seperti ada angin besar yang bisa saja membuatnya terpental jauh.
Zhi Yuo berusaha untuk tenang, mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Ia hanya perlu menjaga jarak, iblis ini bergerak dengan acak dan ceroboh. Biasanya kalau begini, ada banyak celah disetiap serangannya.
Iblis kelelawar meluncur lagi ke arahnya. Ini dia! Zhi Yuo bisa membaca serangannya. Dengan percaya diri dan penuh dengan kekuatan, Zhi Yuo memblokir serangan yang diberikan padanya dan menyerang balik dengan lihai.
Iblis kelelawar mulai kewalahan, ia menjauh beberapa meter dari sana.
Sementara Zhi Yuo tidak mengambil serangan lebih dulu. Ia mengusap darah yang mengalir dari pipinya yang tergores, tapi itu bukanlah masalah lagi sebelum akhirnya iblis kelelawar kembali menyerangnya.
Zhi Yuo siap dengan kuda-kudanya. Lagi-lagi serangan iblis ini mudah terbaca. Tapi itu benar-benar di luar ekspetasinya ketika iblis itu mengubah arah terbangnya menjadi membelok ke kanan secara cepat. Dan itu membuat Zhi Yuo belum sempat bereaksi lebih.
"Sialan--"
Tubuh Zhi Yuo terpental ketika iblis kelelawar itu mendorong tubuhnya dengan cakarnya. Dan itu berhasil membuat Zhi Yuo malah terlempar sampai hutan bambu. Itu cukup jauh dari tempatnya tadi.
Zhi Yuo terbatuk beberapa kali, tubuhnya sekarang menabrak kumpulan pohon bambu yang sekarang ada beberapa yang patah akibat tubuhnya yang menabrak dengan keras.
Baru saja hendak mengambil nafas untuk menenangkan diri, iblis kelelawar meluncur dari atas sana.
Zhi Yuo secara refleks masuk ke dalam kumpulan bambu, melindungi dirinya walaupun ia tahu itu tidak banyak berguna.
Iblis kelelawar masih saja berusaha mengejarnya, dan Zhi Yuo merangkak semakin dalam untuk menghindari gigi taring berlendir itu.
Dan ada hasil yang ditimbulkan ketika iblis kelelawar itu tersangkut di antara banyak bambu. Tidak berhasil meraih Zhi Yuo, akhirnya ia pergi dengan sendirinya, mundur dengan cepat dan pergi dari sana.
Zhi Yuo mengatur nafasnya yang bahkan mau habis. Rasanya ia akan mati dua kali ketika melihat kerangka pohon bambu yang berserakan di hadapannya. Zhi Yuo keluar dengan perlahan, menyusuri jalanan setapak yang dibuat oleh iblis kelelawar sendiri.
Tubuhnya lecet dan penuh goresan akibat batang pohon bambu yang tajam. Ketika ia keluar dari kumpulan pohon bambu, sinar matahari mulai terlihat dari arah timur, menunjukan hari mulai pagi.
Harusnya iblis itu sudah pergi. Zhi Yuo terduduk, merasa lelah dengan perkelahiannya semalaman penuh.
Tapi itu tidak berlangsung lama ketika sebuah keramaian tiba-tiba muncul tidak jauh darinya, tepatnya di sebuah rumah. Para warga berkumpul disana dan itu menarik atensi Zhi Yuo.
Zhi Yuo berusaha untuk bangkit, ia berjalan dengan tertatih ke arah kerumunan itu. Dan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa di hadapannya serpihan dari gubuk tua berceceran di mana-mana.
Zhi Yuo makin masuk ke dalam kerumunan, ia berdiri paling depan di antara para warga, dan ia melihat semuanya.
Darah berceceran di mana-mana, kerangka rumah yang sudah hancur, juga seorang bocah laki-laki yang sudah berlumuran darah.
Walaupun tubuhnya dipenuhi dengan darah, ia tetap berdiri tegap. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Dan sebuah sayap kelelawar yang terletak di sebelahnya.
Bocah itu menoleh ke arah Zhi Yuo dengan pandangan dingin. Ada sirat kemarahan di matanya. Dan itu membuat Zhi Yuo terkejut bukan main.
"Shu... Cao... ?".
.
.
.
-**Bersambung-
__ADS_1
Haiii! Happy New Year untuk semuanya ya!❤ Semoga di tahun ini kita bisa melangkah lebih baik lagi, berdoa yang terbaik untuk tahun ini❤. Selamat datang 2023 dan selamat datang perjalanan baru**~.