
"Kenapa kau mau ikut denganku?!!"
Zhi Yuo rasanya ingin sekali menjambak rambutnya. Perasaan frustasi tiba-tiba datang ketika ia melihat wajah cuek Shu Cao. Bocah itu terlihat tidak mau tahu, ia menjulurkan lidah ke arah Zhi Yuo sebagai tanda ejekkan lalu pergi begitu saja.
Menepuk keningnya dengan kasar, Zhi Yuo jadi merasa bingung harus melakukan apa. Membawa seseorang dalam perjalanannya? Mustahil!.
Di sisi lain ia ingin fokus dengan latihannya lalu kembali mengembara sampai menemukan dunia bawah. Tapi di sisi lainnya pula ia merasa iba dengan Shu Cao. Bagaimana pun juga bocah itu sudah kehilangan keluarganya. Apakah desa ini akan bertanggung jawab padanya?.
"Hah... mau bagaimana lagi...?".
.
.
.
Kesibukan warga desa dalam membangun fasilitas yang telah rusak tidak bisa dihindari siang itu. Tapi Zhi Yuo termasuk pengecualian dari mereka, dia tidak ikut membantu warga desa untuk membangun fasilitas. Mereka justru melarangnya dan membiarkan Zhi Yuo untuk beristirahat.
Mereka sungguh menganggap Zhi Yuo sebagai pahlawan.
Selama dirinya menjadi Zhang Yuan, mungkin pemandangan dan sikap seperti ini sudah biasa untuknya. Tapi sekarang dia adalah Zhi Yuo, berbeda dengan dirinya yang dulu.
Zhang Yuan adalah dirinya di masa lalu, tidak dengan yang sekarang. Sekarang ia harus membangun semuanya dari awal, mengembalikan apa yang telah ia miliki sebelumnya.
Entah sudah berapa lama Zhi Yuo melamun di depan rumah tabib tua, ia akhirnya masuk ke dalam.
Tabib tua tengah meracik obat untuknya, menyapa Zhi Yuo yang baru saja masuk ke dalam. Zhi Yuo membalasnya dengan senyuman, kemudian masuk ke dalam bilik dengan maksud menemui seseorang.
"Shu Cao." Panggilnya.
Shu Cao yang sedang asik menikmati pemandangan di luar jendela, lekas menoleh ke arahnya. Mengetahui itu adalah Zhi Yuo, ia malah membuang wajah seakan tidak peduli. Dan itu menimbulkan decak kesal keluar dari mulut Zhi Yuo.
"Kau boleh ikut denganku."
Mendengar itu, terlihat Shu Cao mulai tertarik untuk menatapnya lagi. Tapi itu tak berselang lama karena Shu Cao lagi-lagi memalingkan wajahnya. Mungkin dia belum percaya sepenuhnya pada Zhi Yuo dan menganggap itu hanya candaan.
Zhi Yuo mendekatinya lalu mendelik malas, "Kau boleh ikut asalkan kau tidak menyusahkan."
Shu Cao memberikan senyum meledek. Mungkin kali ini Zhi Yuo tidak becanda, dan dirinya bisa ikut dengan Zhi Yuo mengembara.
"Baiklah, aku janji tidak akan menyusahkanmu." Shu Cao turun dari dipan, meninggalkan Zhi Yuo sendirian di dalam gubuk.
"Kalau kau menyusahkan, aku akan langsung meninggalkanmu!" -Zhi Yuo.
"Yah.. siapa yang peduli?" -Shu Cao.
.
.
.
"Tuan pendekar, sepertinya anda ingin segera melanjutkan perjalanan anda. Apa tidak ingin tinggal di sini lebih lama?".
Zhi Yuo mengikat pedang yang ia dapatkan saat bertarung melawan iblis kelelawar. Sekarang pedang itu terikat rapi pada pinggangnya. Mendengar pertanyaan dari tabib tua yang sudah merawatnya, Zhi Yuo tersenyum lalu mengangguk.
"Terimakasih sudah merawat saya selama ini." Zhi Yuo membungkukkan tubuhnya dengan segala rasa terimakasih karena berkat tabib berpengalaman ini lukanya sudah membaik.
Shu Cao menyaksikan dari balik tubuh Zhi Yuo. Ia hanya menggaruk pipinya, menunggu Zhi Yuo mengobrol dengan tabib ini.
"Mungkin ini bukanlah seberapa, tapi terima lah ini." Zhi Yuo memberikan tael yang ia punya pada tabib tua. Tapi respon tabib tua sangat jauh dari dugaan, ia malah menggeleng sambil menjauhkan tael itu dari hadapannya.
"Tidak tuan, ambil saja semua tael perak ini. Perawatan saya terhadap tuan adalah sebagai rasa terimakasih karena sudah menyelamatkan desa ini."
Zhi Yuo tetap memaksa, tapi tabib tua lagi-lagi menolak. Akhirnya ia mengalah dan mengambil kembali tael perak yang tadinya ingin digunakan sebagai bayaran.
"Sekali lagi terimakasih."
Tabib tua tersenyum, namun setelah itu senyumnya pudar dan tergantikan dengan tanda tanya besar di kepalanya.
"Oh iya, mengapa Shu Cao terus-terusan di belakang anda?" Tabib tua bertanya dengan telunjuk menunjuk Shu Cao.
"Ah! Itu.. saya akan membawa anak ini bersama saya."
"Hah?!" Rasanya tabib tua akan terkena serangan jantung ketika mendengarnya.
Shu Cao berdecih malas, "Lagi pula aku bukan warga asli desa ini." Gumamnya.
Zhi Yuo mendengar itu, menganggap hal seperti itu tidak pantas untuk diungkapkan. Tiba-tiba saja Shu Cao dapat merasakan aura Zhi Yuo yang terasa menekan. Tatapan tajam Zhi Yuo juga membuatnya hampir mati berdiri.
__ADS_1
"Shu Cao.. kita akan pergi, jadi berpamitanlah dengan sopan." Nada yang dikeluarkan Zhi Yuo saat bicara seperti ingin membunuhnya. Auranya terlihat mencekam dengan pandangan mata setajam pisau. Itu membuat nyali Shu Cao menciut.
Tidak ingin terbunuh, Shu Cao lekas berdiri bersebelahan dengan Zhi Yuo. Dengan wajah ketakutan, ia membungkukkan tubuh sebagai ucapan pamit pada tabib tua yang sudah merawat mereka.
"Kalau berpamitan harus bilang apa~?" Zhi Yuo menegur dengan nada halus, namun sangat menekan.
"I-itu... kami pamit untuk pergi, tuan tabib.." Suara Shu Cao gemetar karena ketakutan.
Tabib tua yang melihat itu tertawa kaku, ia melambaikan tangannya.
"Tidak usah terlalu seperti ini, Shu Cao. Kalian, berhati-hatilah selama perjalanan. Obatnya sudah ku siapkan untuk persediaan kalian."
.
.
.
"Hati-hati selama perjalanan, pendekar!"
"Kami tidak akan melupakan jasamu!"
"Bawalah ini, jimat untuk melindungimu selama perjalanan."
"Tuan pendekar! Apa anda memiliki bekal? Ambillah manisan ini!"
Sorak-sorai warga desa mengiringinya. Zhi Yuo kewalahan dengan segala keramahan warga desa yang diberikan untuknya. Dia sudah menerima beberapa dari warga desa, tidak lebih dari ini. Banyak yang ia terima dari sini, terlebih ia juga menerima bayaran dari kepala desa sendiri.
"Ah.. ini sudah cukup. Terimakasih semuanya." Zhi Yuo mengulas senyuman manisnya, dan itu membuat beberapa remaja perempuan malah berteriak kesenangan.
Kalau dilihat-lihat, Zhi Yuo itu tampan. Terlebih dengan senyuman manis itu.
Baru saja hendak pergi dari sana dan menghindari kerumunan, dari kejauhan ada yang memaksa Zhi Yuo untuk berhenti. Setelah dilihat-lihat, itu adalah seseorang yang pernah bertemu dengan dia sebelumnya.
"An Ning..?" Zhi Yuo bergumam.
An Ning berdiri di depan kerumunan warga. Di antara suara warga yang saling bersahut-sahutan, An Ning melayangkan senyumnya untuk Zhi Yuo. Ia dengan perlahan melangkah ke arah Zhi Yuo.
"Sekarang aku percaya padamu bahwa kamu benar-benar seorang pendekar. Mungkin aku akan menyesali ucapanku kemarin." Ujar An Ning dengan senyuman yang belum lepas dari bibirnya.
Zhi Yuo terkekeh mendengarnya, "Tidak perlu menyesali itu. Lagi pula aku akan pergi, apa yang kau lakukan di sini?".
Senyum An Ning perlahan mulai menipis. Ia merogoh saku pakaiannya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana.
Zhi Yuo melihat telapak tangan putih An Ning yang mana terdapat sebuah benda kecil. Kulitnya putih gading, mengkilat terkena sinar matahari. Corak berukiran seperti bunga menghiasi kulitnya, disertai dengan tali berwarna hijau di atasnya.
"Apa ini?"
"Giok, aku memberikannya untukmu." Jawab An Ning.
Bibir Zhi Yuo melengkung membentuk senyuman. Ia mengambil giok putih gading itu dari telapak tangan An Ning, mengangkatnya untuk melihatnya lebih jelas.
"Bagaimana? Indah bukan?" An Ning bertanya dengan wajah berseri-seri. Melihat ekspresi Zhi Yuo, ia yakin bahwa Zhi Yuo menyukai hadiahnya.
Bibir Zhi Yuo melengkung, membentuk senyuman. Kekeh kecil keluar dari mulutnya.
"Ya, sangat cantik dan indah seperti dirimu, Nona An Ning~".
Wajah An Ning seperti terbakar ketika mendengarnya. Pipinya memerah bagai udang rebus. Ia melempar pandangannya kesana-kemari karena gugup. Kenapa Zhi Yuo bisa menggodanya dengan mudah?!.
Zhi Yuo melirik ke arah An Ning yang sekarang sudah salah tingkah. Ia tertawa ringan, melambaikan tangannya.
"Aku akan menyimpan baik-baik pemberianmu ini. Terimakasih atas hadiahnya."
An Ning mengangguk cepat, ia melambaikan tangannya balik.
"Hati-hati di perjalanan."
Zhi Yuo mengangguk, mengajak Shu Cao yang ada di belakangnya untuk memulai perjalanan. Warga desa mengiringi kepergian mereka dengan sorak-sorai yang belum usai. Wajah mereka memancarkan kegembiraan, melepaskan seorang pendekar dengan bocah kecil bernama Shu Cao untuk melanjutkan perjalanan.
Zhi Yuo melambaikan tangannya ke arah warga desa sebagai ucapan perpisahan. Ia mendapatkan pengalaman baru di kehidupan barunya di sini. Pertama kalinya di kehidupan keduanya, ia mengalahkan iblis. Maka dari itu ini adalah batu loncatan pertamanya.
"Tunggu saja, Huo Luan! Aku akan mengalahkanmu..! ".
Huo Luan, adalah nama raja iblis yang sampai sekarang nama itu masih teringat di benaknya. Rasa semangat bercampur dengan rasa dendam bergejolak. Niatnya sudah jelas, sedikit lagi ia akan memporak-porandakan dunia bawah!.
Sekali lagi, sang legenda akan turun ke neraka!.
.
__ADS_1
.
.
Sejauh mata memandang, hanya ada jalanan setapak yang berpasir. Beberapa batu tajam juga menghiasi jalan. Abu tipis yang disebabkan oleh pasir bisa saja mengganggu pengelihatan, tapi angin di sini tidak bisa dibilang buruk. Di sebelah kanan-kiri jalanan menjorok ke bawah dengan ketinggian beberapa meter. Di bawah, terdapat banyak rumah warga, lebih tepatnya desa yang ditinggali Shu Cao bisa terlihat secara keseluruhan dari atas sini.
Zhi Yuo berdecak kagum, rasanya ingin menatap barisan rumah warga itu lebih lama lagi. Tapi waktunya tentu terbatas, terlebih ia membawa Shu Cao.
"Apa maksudmu bukan warga asli desa ini? Desa seindah ini bukan tempat kelahiranmu?" Zhi Yuo bertanya dengan wajah masih terkagum-kagum dengan keindahan desa.
Shu Cao tidak membalas pertanyaannya, justru dia dengan cuek berucap, "Bisakah kau berjalan lebih cepat?".
Alis Zhi Yuo sedikit mengernyit. Ada apa dengan bocah ini? Dia terlihat lebih sensitif.
"Jangan terburu-buru, aku masih ingin menikmati pemandangan di sini."
Tidak ada suara yang ditimbulkan dari Shu Cao, dan itu membuat Zhi Yuo jadi tambah yakin bahwa Shu Cao menyimpan masalah. Mungkin ini berkaitan dengan kematian keluarganya. Bagaimana pun juga Shu Cao masih menyimpan trauma.
"Ayahku meninggal sejak aku kecil, dan aku tidak pernah bertemu ibuku." Shu Cao bersuara dan itu membuat Zhi Yuo tidak bergeming.
"Dia adalah prajurit kaisar. Ayahku meninggal setelah berperang, kemudian seluruh kerabatku tidak ada yang mau menerimaku. Hanya bibi yang ingin menerimaku dan membawaku pindah ke desa ini. Pamanku sangat membenciku."
"Paman setiap hari memukul ku, entah itu aku membuat kesalahan atau tidak. Dia seorang pemabuk, dan itu membuat bibi dan aku kesulitan dalam menghadapi amarahnya."
"Aku ingin pergi dari desa, dengan maksud melupakan semua kenangan buruk dari pikiranku."
Zhi Yuo terdiam setelah mendengar itu. Pikirannya terbang ke masa lalu. Dimana tubuh Zhang Yuan kecil meringkuk kedinginan di balik tumpukan jerami. Seorang wanita tiba-tiba datang di depan wajahnya yang kecil, mengusap pipinya yang gembul kemudian berucap dengan perih.
"Harusnya kamu tidak merasakan penderitaanku ini, Zhang Yuan. Andaikan kamu tidak lahir, mungkin hidupku dan hidupmu tidak akan seperti ini.."
Deg!
"Hei, Zhi Yuo!"
Zhi Yuo tersadar dari lamunannya, dengan cepat ia menoleh ke arah Shu Cao yang memanggilnya.
Bocah itu menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa?".
Zhi Yuo yang mendengar itu lekas menggeleng, "Tidak apa-apa! Ah, maksudku... cerita hidupmu hampir sama denganku. Ya, kita sama-sama mengalami masalah sejak kecil."
Shu Cao memiringkan kepalanya dengan wajah bingung, "Memangnya ada apa denganmu?".
"Tidak banyak jika kau mendengar kisahku. Hanya saja, aku dijual keluargaku menjadi budak, terlebih aku punya kelainan mental. Yah, seperti itu." Zhi Yuo menceritakan mengenai dirinya di kehidupan kedua ini.
Shu Cao berdecak, "Sudah ku duga, kau itu tidak waras."
Zhi Yuo hanya membalas itu dengan tawa. Walaupun Shu Cao terlihat seperti bocah yang mudah terbawa emosi, tapi ketika dia diajak becanda seperti ini malah lebih menyenangkan. Yah.. mungkin bocah ini bisa menjadi teman seperjalanannya.
"Kau tahu? Waktu kecil aku selalu memakai baju wanita!" -Zhi Yuo.
"Hentikan! Kau membuatku jijik!" -Shu Cao.
Mereka tertawa bersamaan. Entah mengapa suasana seperti ini membuat Zhi Yuo jadi teringat dengan teman-temannya selama belajar di sekte. Menjadi murid tingkat menengah, Zhi Yuo sering sekali bolos kelas, jadi ia menghasut teman-temannya untuk ikut membolos.
Mereka berjalan-jalan bersama keluar dari sekte dan menikmati waktu seharian tanpa terikat aturan. Tapi ada konsekuensi yang harus mereka tanggung, yaitu dihukum oleh kakak seperguruan.
Ah.. kenangan yang indah. Zhi Yuo jadi sedikit sedih membayangkannya.
"Teman-teman, kalian sedang apa di sana? tenang saja, aku akan membalaskan semua dendam kalian."
.
.
.
"Kau yakin ini jalannya?"
"Ini memang jalan ke luar desa, tapi aku tidak pernah melewati tempat ini."
Suara serangga juga burung-burung menggema di telinga. Jalanan setapak yang kering dan berbatu perlahan telah tergantikan dengan serabut akar pohon yang mencuat dari tanah. Tali pohon yang berwarna hijau tua menjuntai sampai ke tanah. Batang pohon yang berjajar memiliki ukuran yang besar. Kegelapan menyambut mereka dari sana.
"Ini..." Shu Cao bergumam dengan takut.
"Hutan.. besar perbatasan.."
.
.
__ADS_1
.
-Bersambung-