
Matahari mulai beranjak lebih tinggi. Orang-orang di kediaman Gu mulai menjalankan pekerjaan mereka, termasuk para pelayan.
Di pagi yang sejuk ini, Zhi Yuo dan Xie Jia mendapat tugas untuk membersihkan halaman belakang. Yan Yan memberikan mereka tugas yang cukup mudah, sementara dirinya sendiri memutuskan untuk membersihkan pakaian. Lin Mei tidak kelihatan sejak tadi, ada yang mengatakan ia sedang membersihkan diri karena rambutnya kejatuhan bangkai tikus.
Tidak ada obrolan sejak tadi antara Zhi Yuo dan Xie Jia, mereka fokus pada pekerjaan masing-masing. Tidak, mungkin hanya Zhi Yuo yang tidak fokus. Dari tadi ia terus melamun, menggaruk kepalanya sendiri, lalu celingukan kesana-kemari.
"Sebenarnya apa yang aku lakukan tadi pagi?.. ".
Xie Jia menghentikan aktivitas menyapu halaman, lalu memperhatikan Zhi Yuo dan bertanya, "Ada apa denganmu kak?".
Zhi Yuo yang mendengar itu menggeleng, walau begitu ia tidak langsung menatap mata Xie Jia yang memandangnya dengan pandangan bertanya-tanya. Xie Jia yang mendapat jawaban dari gelengan kepala Zhi Yuo, mencoba untuk tidak peduli lagi. Ia mengindikkan bahunya dan kembali menyapu.
Sebenarnya yang ada di pikiran Zhi Yuo adalah, saat ia terbangun dari tidurnya secara tidak sadar ia sedang memegang satu ekor tikus. Dilihatnya Lin Mei yang memandangnya dengan ngeri. Xie Jia dan Yan Yan terkapar di lantai dengan ekspresi shock berat. Zhi Yuo yang melihat keadaan itu secara refleks melempar tikus yang ia genggam, hendak menghampiri Lin Mei yang langsung kabur ketika ia mendekat.
Yan Yan memberinya tatapan horor, sementara Xie Jia terdiam di tempatnya dan tidak mengatakan apa-apa.
"Apa yang sebenarnya aku lakukan? ".
"Kakak Yuo, kalau kau melamun terus nanti akan mendapat hukuman dari senior Lin." Xie Jia menegur.
Zhi Yuo tersadar, ia mengedip beberapa kali sebelum mengangguk dan menggerakkan sapunya. Ia ragu untuk bertanya, tapi akhirnya ia bertanya juga karena terlalu penasaran.
"Uh... begini.. apa yang terjadi padaku setelah aku bangun tidur?".
Xie Jia yang mendengar itu terdiam beberapa saat, sempat membuat Zhi Yuo panik karena ia mengira bahwa ia baru saja membongkar identitas aslinya.
Xie Jia menaikkan sebelah alisnya, "Kamu melempar senior Lin dengan bangkai tikus,"
"Huh? hanya itu?" Zhi Yuo nampak tidak percaya.
"Hm," Xie Jia menjawab seadanya.
"Ah, syukurlah identitasku masih aman," Ada rasa lega menyelundup di hatinya.
"Aku senang karena secara tidak sengaja aku bisa memberikan sedikit pelajaran pada si senior itu, hehe." Zhi Yuo membatin dengan senang.
Xie Jia menatap Zhi Yuo dari kejauhan. Pandangannya sulit diartikan saat ia melihat Zhi Yuo yang tertawa sendirian. Bukan, ia tidak menganggap Zhi Yuo itu gila karena tertawa tanpa sebab, melainkan ia kebingungan dengan kata-kata yang diucapkan Zhi Yuo tadi pagi.
"Apa maksudnya ia selalu melindungi wanita?Padahal dia sendiri bukannya wanita? " Pikir Xie Jia.
" Xie Jia," Zhi Yuo memanggil namanya. Xie Jia menoleh dan menjawab, "Ada apa?".
Zhi Yuo menghampirinya. Saat sudah mulai dekat, ia mulai berbisik, "Karena aku masih terlalu baru disini, aku boleh bertanya padamu? Bolehkah aku tahu sedikit cerita mengenai keluarga ini?."
Xie Jia yang mendengar itu mengedipkan matanya bingung, ia memiringkan kepalanya sedikit menatap wajah Zhi Yuo yang memasang senyum konyol.
Zhi Yuo terkekeh, "Aku tidak akan memberitahunya pada siapa-siapa, aku janji."
Xie Jia berdecak, "Kamu tidak perlu memberitahunya pada siapapun semuanya juga sudah tahu."
Menghela nafas panjang, Xie Jia siap untuk bercerita bahkan memberitahu sedikit yang ia tahu mengenai keluarga Gu.
"Tuan Gu adalah seorang pembisnis besar di desa, ia memiliki banyak cabang dari bisnisnya. Ia punya istri,tapi istri pertamanya sudah meninggal dan sekarang ia menikah lagi. Tapi sama sekali belum memiliki anak,"
Zhi Yuo menangguk, "Lalu?".
"Nama istrinya adalah Gu Fei, dia sering datang kesini sebulan sekali. Mereka memang berpisah rumah, dan Nyonya Fei selalu membawakan obat khusus untuk Tuan Gu setiap dia kembali kesini." Xie Jia melanjutkan.
"Oh... ternyata istri yang peduli pada suaminya." Zhi Yuo membatin.
__ADS_1
Kemudian Zhi Yuo bertanya lagi, "Kapan Nyonya Gu Fei datang kesini?".
" Ah? Dalam waktu beberapa hari lagi ia akan datang kesini." Xie Jian menjawab.
Mendengar itu membuat senyum Zhi Yuo mengembang dengan wajah tengil, "Secantik apa istrinya ya? Apakah ia akan terpesona dengan wajah tampanku ini ketika ia melihatku? ".
Ia merasa cukup untuk bertanya. Tapi ada satu pertanyaan yang belum ia tanyakan. Ya! Hanya satu.
"Xie Jia, ketika kamu baru bekerja disini apa kamu disuruh tidur di gudang?"
Mendengar pertanyaan itu membuat ekspresi wajah Xie Jia berubah. Alisnya sedikit mengkerut, dadanya terasa sesak. Ia berusaha untuk bercerita mengenai hari pertama ia bekerja disini.
"Aku.. pernah berada di gudang itu selama satu minggu. Ketika berada disana aku.. merasa kedinginan dan kesepian, setiap hari hanya diberi makanan sisa.." Suaranya terdengar bergetar saat bercerita.
Xie Jia menggenggam gagang sapu dengan erat.
"Aku.. akhirnya diberikan kebebasan. Aku tidak bekerja di kediaman Tuan Gu, tapi aku bekerja untuk menjadi bawahan para pelayan. Kediaman pelayan terpisah dengan tempat Tuan Gu. Kalau salah sedikit dalam bekerja, aku.. aku bisa di pukul--".
"Jangan cerita lagi," Zhi Yuo memotong dengan nada datar. Ia menatap Xie Jia dengan tajam, "Jangan paksakan dirimu untuk membuka suatu hal yang membuatmu mengingat rasa sakit."
Xie Jia refleks menghentikan ceritanya. Entah mengapa ia merasa panik dan secara buru-buru menceritakan rasa sakitnya sendiri.
Zhi Yuo tersenyum, menepuk kepala Xie Jia.
"Selama ada aku, aku pastikan Lin Mei tidak akan memukulmu."
Xie Jia terkejut, dengan pandangan takjub ia menatap sosok Zhi Yuo yang menjulang lebih tinggi daripada tubuhnya yang kecil. Xie Jia membalas dengan senyuman manisnya, ia merasa tertolong dan terlindungi sekarang.
"Kak Yuo, kita harus membereskan ini sekarang karena nanti siang Tuan Gu ada rapat." Xie Jia mengambil kembali sapu yang semula ia pegang.
Zhi Yuo mengangguk, beralih pada sapunya juga dan mulai membersihkan dedaunan kering yang jatuh. Tapi pandangannya teralihkan pada sesuatu di atas dahan pohon.
Xie Jia menghampiri, kepalanya ikut menengadah ke atas. Belum beberapa menit kemudian ia berteriak senang, "Itu sarang burung! Pasti disana ada anak-anak burung yang baru menetas!".
Xie Jia melompat dengan senang, rasanya ia ingin mengambil sarang itu di atas sana. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa melakukan itu.
Induk burung keluar dari sarang, suara cicitnya terdegar sebelum ia mengepakkan sayapnya dan terbang. Tapi ia tidak menyadari bahwa sarangnya sendiri terhempas karena tekanan dari tubuhnya.
Xie Jia menjerit saat sarang berisikan burung-burung kecil itu melayang di udara bersiap menyentuh tanah. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menutup matanya sendiri agar tidak melihat kejadian apa yang akan datang.
Sementara Zhi Yuo yang melihat hal itu langsung mengambil tindakan. Secara refleks ia mengangkat sapunya, kakinya terbuka membentuk kuda-kuda. Dengan satu gerakkan, ia menghunuskan gagang sapunya ke depan. Gerakkan tadi sangat cepat, seperti memecah angin.
Sarang burung mendarat dengan sempurna di atas gagang sapunya. Nasib burung-burung kecil yang ada di dalam sarang terselamatkan.
Zhi Yuo menghela nafas lega. Tadi itu ia melakukannya tanpa sadar, detak jantungnya berpacu dua kali lipat.
Xie Jia membuka matanya, mendapati posisi Zhi Yuo yang tengah menghunuskan gagang sapunya untuk menyelamatkan sarang burung itu. Posisinya jelas seperti sedang menghunuskan senjata.
Xie Jia terpana sebentar, sebelum akhirnya ia tersadar dan mengambil sarang burung di atas gagang sapu.
"Burung-burung kecil, apa kalian baik-baik saja?" Xie Jia nampak khawatir.
Zhi Yuo mengelap keringat yang mengucur di keningnya. Gerakkan tadi itu memang karena refleks, tapi ia sudah berkeringat begini padahal hanya dengan melakukan gerakkan itu.
"Berarti ilmu bela diriku masih ada, walaupun sedikit tapi aku bisa melatihnya." Zhi Yuo berkata dalam hati.
Ia baru saja mengambil tindakan kecil itu, tapi melihat tangannya sudah berkeringat membuatnya tersadar bahwa ia sudah lama tidak mengasah kemampuan bela diri ataupun berpedangnya. Di tambah dengan tubuh baru yang ibaratnya masih terlalu lemah. Ia harus melatih tubuh ini agar sesuai dengan dirinya yang dulu walaupun tidak seratus persen sama.
"Kakak Yuo, tadi itu keren sekali." Xie Jia memuji dengan takjub.
__ADS_1
Zhi Yuo menaikkan sebelah alisnya, "Apanya yang keren?".
"Posisimu seperti sedang memegang senjata, apa kamu pernah belajar berpedang sebelumnya?" Xie Jia bertanya dengan penasaran.
Zhi Yuo gelagapan, ia bingung harus menjawab apa.
"Ah.. tidak, itu.. Ayahku dulu bisa berpedang, dan itu sedikit diwariskan padaku.. "
Sungguh karangan yang sangat berantakan. Walaupun begitu, Xie Jia terlihat senang dan bersemangat.
"Kalau begitu aku mau diajari olehmu! Boleh kan?" Xie Jia memohon dan itu membuat Zhi Yuo kewalahan menghadapi sifat kekanak-kanakkan Xie Jia.
"Baiklah, kapan-kapan. Sekarang ayo kembalikan sarang burung ini ke tempatnya."
Xie Jia mengangguk, tapi kemudian ia bertanya, "Caranya bagaimana? Aku tidak bisa memanjat."
Zhi Yuo berfikir sejenak. Kemudian ia menemukan ide dan mulai berjongkok, "Naiklah ke pundakku."
Mendengar itu membuat Xie Jia kaget, "Eh? Harus begitu?".
Zhi Yuo memberikan pandangan malas, "Katanya tidak bisa memanjat, lalu harus pakai cara apa lagi?."
Karena tidak ada pilihan lain, Xie Jia lekas naik ke punggung Zhi Yuo dengan ragu-ragu. Zhi Yuo mulai berdiri, sementara Xie Jia mempertahankan keseimbangannya.
"Maaf kalau aku berat.. " Xie Jia berucap dengan pelan.
Mendengar itu Zhi Yuo terkekeh, "Kamu ringan, jangan khawatirkan hal itu."
.
.
.
"Senior Lin, ada kabar baru dari Nyonya Gu Fei."
Lin Mei membalikkan punggungnya menghadap salah satu pelayan.
"Ada apa?".
Pelayan itu membungkuk dan berkata, "Nyonya Gu Fei akan mempercepat jadwal berkunjungnya, mungkin dalam waktu tiga hari ia akan sampai disini."
Lin Mei terdiam, tak lama kemudian ia tersenyum mendengar kabar ini.
"Aku senang mendengarnya, Apakah Nyonya Gu Fei akan mengirimkan obatnya lebih cepat?" Ia bertanya dengan nada yang terdengar gembira.
Pelayan itu menjawab, "Ya senior, obatnya sudah di perjalanan."
Lin Mei tersenyum, "Baiklah, kalau sudah datang beri tahu aku."
Pelayan itu membungkuk sekali lagi dan pamit untuk pergi. Sementara ia meninggalkan Lin Mei sendirian. Lin Mei menatap warna kolam ikan yang jernih, senyum misterius mengembang di wajahnya.
"Saya sangat menantikan kedatangan anda, Nyonya Gu Fei."
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-