
Malam yang kelam itu berlalu dengan cepat. Matahari bersinar terang di atas sana, tidak ada lagi kegelapan maupun serangan iblis pengganggu yang meresahkan warga desa. Ini mungkin menjadi kabar yang cukup mengembirakan untuk warga desa, akan tetapi senyum mereka akan luntur ketika langit sudah mulai menggelap.
Zhi Yuo menyenderkan tubuhnya pada dinding kayu yang lapuk. Tangannya sibuk membetulkan perban yang melilit secara tidak teratur. Luka gores basah terlihat jelas dari sela-sela perban yang terbuka.
Alih-alih ia melirik sosok bocah kecil yang terduduk di atas dipan, ia mengenali sosok itu.
Karena tidak ada sepatah katapun di antara mereka, Zhi Yuo menegur.
"Namamu... Shu Cao kan?".
Shu Cao, terdiam membisu sambil meringkuk. Lututnya yang kurus dipeluk erat dengan tangannya sendiri. Matanya melotot dengan pandangan kosong, kantung mata hitam memberikan kesan suram pada pandangannya. Hampir tidak berkedip, Shu Cao sudah menghabiskan air matanya selama beberapa waktu. Sekarang ia hanya bisa melamun tanpa menoleh kesana-kemari, membiarkan seluruh perban membalut pergelangan tangan dan kakinya.
"Shu Cao," Zhi Yuo memanggil lagi, "Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?".
Shu Cao tidak merespon ketika Zhi Yuo menanyakan itu padanya. Ia malah mengeluarkan suara melirih dari tenggorokannya, menjambak rambutnya sendiri dan menenggelamkan wajahnya pada lututnya yang ringkih.
Hanya ada suara isak dari Shu Cao, tidak ada satupun balasan dari mulutnya ketika Zhi Yuo menanyakan hal yang bahkan menjadi mimpi buruknya.
Tanpa bocah itu menjawab, Zhi Yuo bisa menyimpulkan sendiri setengah dari cerita kelam yang terjadi semalam.
Tepat setelah ia menyerah melawan iblis kelelawar, matahari mulai terbit. Dan ketika iblis itu pergi, ia tidak langsung pergi dari sana, melainkan terbang secara acak dan menghancurkan salah satu rumah yang ada di desa. Itu adalah rumah Shu Cao.
Iblis itu pergi, tapi tidak dengan tangan kosong setelah semalaman ia tidak mendapatkan mangsa. Ia membawa salah satu penghuni rumah, tapi Shu Cao selamat dari insiden itu.
Zhi Yuo melangkah ke arah Shu Cao, mengusap kepalanya dengan perlahan.
"Turut berduka," Zhi Yuo melirih.
Shu Cao masih terisak, menyembunyikan wajahnya yang tenggelam di sela-sela lututnya. Zhi Yuo menghela nafas pasrah, ia meninggalkan Shu Cao sendiri di dalam tempat tinggal sementara miliknya. Bagaimana pun juga, Shu Cao telah kehilangan rumahnya juga keluarganya. Warga desa menyuruhnya untuk bersinggah di rumah mereka, tapi Zhi Yuo segera membawa Shu Cao ke rumahnya.
Setelah diobati oleh tabib, ia ingin mengurus bocah itu sementara. Terlihat ekspresinya seperti orang yang mengalami trauma berat, tidak mau bicara maupun menatap mata lawan bicaranya. Pandangannya kosong melompong, itu menggambarkan ketakutan dan kesedihan secara bersamaan.
Zhi Yuo mengintip dari balik celah pintu, "Aku akan membawakan mu makan siang, diamlah disini."
Shu Cao lagi-lagi tidak menjawab, Zhi Yuo meninggalkannya untuk sementara waktu, membeli bahan-bahan untuk membuat bubur.
.
.
.
Desa masih dihebohkan dengan kejadian semalam, tapi para warga tetap menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Mereka mulai berspekulasi bahwa akan ada korban selanjutnya setelah insiden itu.
Alih-alih mendengar semua gosip dari bibir warga desa, Zhi Yuo melirik ke arah kedai bibi penjual acar, dan itu kosong. Korban dari insiden semalam yaitu bibi dari Shu Cao sendiri, jasadnya tidak ditemukan. Tapi ada sedikit jejak dari kematiannya, yaitu anggota tubuh seperti tangan dan kaki yang berserakan di antara puing-puing bangunan.
Dan itu menandakan bahwa tubuhnya telah dicabik-cabik terlebih dahulu. Dan Shu Cao melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.
Pantas saja bocah itu trauma berat.
Zhi Yuo membeli bahan-bahan untuk mereka makan siang, kemudian melihat kembali bekas kejadian semalam. Ada bercak darah yang mengering, juga kayu-kayu yang berserakan. Zhi Yuo mendengus, betapa kejamnya iblis ini.
Dia yakin bahwa iblis ini tingkatnya masih rendah, tapi tetap saja iblis tetaplah iblis, kejahatan tetaplah kejahatan. Mereka makhluk yang tidak memiliki rasa manusiawi, dunia mereka berbeda dengan dunia yang ditinggali oleh manusia. Tidak ada norma, tidak ada peraturan, mereka bertindak sesukanya seperti mereka akan hidup sampai esok hari.
Zhi Yuo langsung mengambil tindakan setelah ia menemukan sisa-sisa dari jasad bibi Shu Cao, mengumpulkannya dan menguburkannya sendirian di sebuah lahan kosong yang ada di desa.
Ketika ia menguburkan bagian-bagian itu, ingatannya kembali ke masa lalu saat dirinya masih menjadi Zhang Yuan yang lemah. Mengais tanah dengan sisa-sisa tenaganya, dan itu membuatnya terdiam beberapa saat di tempat sebelum berdoa untuk mengantarkan arwah bibi Shu Cao ke tempat yang lebih nyaman.
Ini salahnya, harusnya ia menjadi lebih kuat. Ini salahnya, harusnya ia bisa mengalahkan iblis itu.
Maka dari itu, ia akan mengurus Shu Cao untuk sementara waktu, setidaknya sampai bocah itu kembali ceria seperti biasanya. Mungkin Zhi Yuo akan pergi meninggalkannya.
Ini belum seberapa, ia akan menjadi lebih kuat lagi untuk melindungi orang-orang di sekitarnya.
.
.
.
Zhi Yuo terdiam membeku di belakang pintu. ketika ia masuk ke dalam rumah, Shu Cao tidak duduk di atas dipan lagi. Bocah kecil itu mengorek lubang telinganya dengan jari kelingking, menatap Zhi Yuo dengan sinis.
Oh, kenapa bocah itu pulih dengan cepat? Sekarang ia sudah memiliki kontak mata lagi.
Zhi Yuo memiringkan kepalanya, "Hei nak, sejak kapan kau ada disana?".
Shu Cao berdecih, "Sejak kau pergi. Wajahmu memuakkan, kenapa kau tidak pergi saja sih?!".
Perempatan urat menyetak di kening Zhi Yuo. Ia menahan amarahnya saat itu juga.
" Anak yang kasar.."
"Aku akan menyiapkan makan siang, kau tunggulah disini." Ujar Zhi Yuo sebelum meninggalkan Shu Cao beberapa langkah dari sana.
Diam di antara mereka selama Zhi Yuo memasak makanan mereka. Beras lembek yang Zhi Yuo masak seperti bubur, itu sengaja dibuat untuk Shu Cao. Bocah itu memiliki luka yang cukup banyak di tubuhnya, ia harus makan makanan yang lembut agar pencernaannya baik-baik saja.
"Kenapa kau menolongku?" Suara Shu Cao terdengar.
__ADS_1
Merasa tidak ada jawaban, Shu Cao bertanya sekali lagi.
"Kenapa kau menolongku?".
" Ya... aku tidak bisa menjelaskannya," Zhi Yuo membalas.
Zhi Yuo mengaduk bubur di dalam kuali, lalu mengambil mangkuk dan menghirupnya untuk mencicip.
"Aku tidak bisa meninggalkan bocah sekecil dirimu tenggelam dalam kesedihan."
Bibir Shu Cao tertutup rapat, ia membuang wajahnya. Walaupun dari tadi Zhi Yuo membelakanginya, ia tetap saja ingin menyembunyikan wajahnya sendiri.
"Ditinggal keluarga yang kita sayangi adalah yang terburuk, benar begitu?" Zhi Yuo bertanya, kemudian membalikkan badan sambil membawa semangkuk bubur panas.
"Aku pernah merasakannya, bahkan ratusan kali." Ia meletakkan semangkuk bubur di hadapan Shu Cao.
"Makan siang untukmu! Semoga kau menyukainya!".
Shu Cao mengangkat sebelah alisnya. Ia melihat buburnya, kemudian melihat Zhi Yuo yang terus tersenyum padanya. Orang ini cukup ramah walau menyebalkan. Dan kata-katanya tadi membuatnya kebingungan. Apa maksudnya kehilangan orang yang kita sayangi bahkan ratusan kali?.
Zhi Yuo kembali setelah beberapa saat dengan rebung bambu yang telah ia masak. Masing-masing makanan masih mengepul.
Shu Cao cemberut, "Kenapa aku harus memakan bubur sedangkan kau memakan rebung bambu."
"Ya, kau sedang dalam kondisi terluka jadi pencernaanmu harus dijaga. Mengerti maksudku?" Zhi Yuo menjawab sambil menunjuk Shu Cao.
Shu Cao memutarkan bola matanya malas, kemudian mengambil semangkuk bubur dalam mangkuk kayu yang terlihat tua, kemudian langsung menyendokannya ke dalam mulut.
Tidak begitu buruk. Shu Cao menyukainya, rasanya tidak tawar.
Zhi Yuo terkekeh, kemudian ikut melahap rebung bambu yang ia masak.
"Soal bibimu, tidak usah khawatir. Aku sudah memakamkannya." Ucap Zhi Yuo.
Shu Cao jadi kehilangan nafsu makannya. Ia meletakkan bubur yang mulai tandas, sinar di matanya kembali meredup. Zhi Yuo jadi merasa bersalah karena itu.
"Itu... aku bisa membawamu untuk menengok makamnya dan--".
"Monster sialan!".
Terdengar suara patah dari sendok kayu yang dipakai Shu Cao. Zhi Yuo bergidik ngeri, ia melihat wajah Shu Cao yang sudah menggelap diselimuti amarah.
"Aku akan membunuhnya...!" Shu Cao menggeram.
Zhi Yuo mendengus, "Tenanglah dulu. Aku ingin bertanya satu hal padamu."
"Tentang sayap iblis itu, apa kamu yang mematahkannya?".
Shu Cao terdiam beberapa saat kemudian berusaha untuk mengingat apa yang telah ia lakukan pada iblis itu tadi malam.
"Seingatku sayapnya memang sudah robek entah karena apa. Aku hanya menariknya ketika bibi dibawa pergi. Dan itu langsung robek."
Zhi Yuo mengangguk, mungkin itu akibat serangan yang ia berikan. Ia sempat menyerang sayap iblis berkali-kali. Entah kena atau tidak, yang pasti mungkin itu berakibat cukup fatal. Buktinya sayap itu langsung patah.
Tapi hal yang di luar logika adalah, apakah iblis itu terbang dengan satu sayap? Kenapa bisa begitu?.
"Yang pasti aku hanya melihatnya mengepakkan satu sayap." Shu Cao mengakhiri ceritanya.
Zhi Yuo menemukan satu jejak disini. Biasanya iblis seperti itu bisa beregenerasi. Itu cukup merepotkan, tapi kalau langsung dihabisi ke intinya maka akan langsung mati.
Maka Zhi Yuo harus berperang sampai akhir dengan iblis ini.
"Tenang saja, aku akan menghabisi iblis itu." Ucap Zhi Yuo dengan percaya diri.
Shu Cao tercengang, "Orang sepertimu? Bagaimana bisa!".
"Percayakan saja padaku."
Mungkin kali ini, niatnya benar-benar akan terlaksanakan.
.
.
.
Suara serangga malam mulai bersahut-sahutan. Langit menggelap, awan mulai menipis. Bulan purnama mulai menampakan sinarnya sepenuhnya. Ketika hal itu terjadi, seluruh warga desa bergegas untuk mengunci pintu dan jendela rumah mereka, tidak ingin malapetaka datang begitu saja.
Berbeda dengan dua orang itu, mereka memanjat atap gubuk dan menunggu sesuatu berbahaya yang akan datang.
Shu Cao bergidik, "Kau memang gila! Kenapa menyuruhku naik kesini?!".
Zhi Yuo terkekeh remeh, "Katanya kau mau menghabisi iblis itu? Kenapa takut?".
Shu Cao membuang wajahnya, bulu kuduk nya berdiri seketika. Luka di seluruh tubuhnya belum sembuh total, ia tidak dapat bergerak bebas. Sama halnya dengan orang ini, orang yang selama ini ia kira mengalami gangguan jiwa. Kenapa tekatnya bisa sebesar ini?.
"Tenang saja, ini bukan hanya dendam mu." Suara Zhi Yuo memecah angin malam.
__ADS_1
Lengkingan hewan buas terdengar dari arah belakang, kepakkan sayap juga terdengar sangat jelas. Shu Cao menoleh dengan cepat ke arah sumber suara, dan ia panik dengan apa yang akan menghampiri mereka.
"Tapi dendam ku juga."
Iblis kelelawar melesat tepat di atas mereka. Shu Cao melindungi kepalanya juga wajahnya. Ia membungkuk dengan takut, sementara Zhi Yuo mengeluarkan bambu yang sudah ia asah setengah hari.
"Baiklah~ ayo bertarung."
Lengkingan hewan buas terdengar lagi, kali ini lebih keras seperti ingin memecah gendang telinga. Shu Cao menutup kedua telinganya, memejamkan matanya sampai ia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Iblis kelelawar membuka mulutnya, hendak menjepit Zhi Yuo di antara rahangnya. Tapi itu gagal setelah Zhi Yuo mampu menunduk dan meraih kedua kakinya. Iblis itu menggeram, kehilangan keseimbangan dan terbang dengan arah yang mengacak. Sementara Zhi Yuo dibawa pergi olehnya.
"Tunggu!!" Shu Cao yang melihat itu terkejut bukan main. Ia melompat dari atap rumah, berlari mengikuti kemana iblis itu pergi membawa Zhi Yuo yang masih menggantung di kakinya.
Dari kejauhan, kegelapan menyelimuti. Di balik kegelapan itu, lima obor menyala bersamaan, berjalan dengan beriringan ke tengah-tengah desa. Mereka berjumlah lima orang, masing-masing memegang obor dan mengenakan pakaian khas pendekar. Pedang terikat di pinggang mereka.
"Bos, apa ini sudah waktunya monster itu keluar?" - Pendekar A.
"Ya, bukankah waktunya masih lama? Ini bahkan belum tengah malam." - Pendekar B.
"Sssst!! Kalian semua diamlah! Kita sudah dibayar mahal soal ini, jadi hentikanlah keluhan kalian!" - Pendekar C.
Yang paling besar di antara mereka menjabat sebagai bos. Bos dari para pendekar itu menjawab, "Ini tugas yang mudah. Kita keluar malam-malam begini sebagai pembuktian bahwa kita sudah berusaha menangkap monster itu. Tapi berilah alasan bahwa kita kehilangan jejak dan kita harus segera pergi dari desa ini."
Pendekar A membantah, "Tapi bos, apa kita bisa mendapat bayaran lebih?".
"Tutuplah mulutmu jika bicara soal uang! Kita tidak akan diberi bayaran lebih, makanya kita harus pergi dari sini dan melepas penyamaran kita. Kelamaan disini, malah menjadi masalah untuk kita!" Balas salah satu rekannya.
"Tunggu! Apa itu?!" Salah satu dari mereka menunjuk ke atas.
Dan mereka melihatnya, monster kelelawar itu terbang dengan membawa seseorang di cengkramannya.
"Semuanya! Menghindar!!"
Iblis kelelawar kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh dengan sangat keras. Rumah-rumah di hadapannya hancur, teriakkan para warga terdengar jelas saat iru, mereka keluar dari rumah dengan perasaan panik.
Zhi Yuo bangkit, ia terlempar cukup jauh dan menelan pasir. Zhi Yuo membuang pasir yang ada di dalam mulutnya, mengusap sudut bibirnya, kemudian melangkah ke arah iblis kelelawar yang perlahan bangun di antara puing-puing rumah.
Zhi Yuo melirik ujung bambunya, ada darah yang menetes dari sana. Ketika ia melihat ke arah iblis kelelawar, perut tengahnya berlubang cukup besar. Itu dikarenakan dirinya yang menancapkan bambu ke perut iblis itu selama ia berada di dalam cengkraman.
Iblis kelelawar mengeluarkan suara melengking yang sangat mengganggu pendengaran. Bayi juga anak-anak kecil menangis ketika mendengarnya.
Zhi Yuo berdecih, "Berisik!".
Kemudian ia melompat dengan satu hentakkan, mengarahkan ujung bambunya ke arah iblis itu.
"Suara mu membuatku muak!".
Sebelum pertarungan berlangsung, warga dibuat bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Akhirnya Shu Cao keluar dari kegelapan, ia berteriak memanggil warga yang berkumpul.
Shu Cao memberikan instruksi pada para warga agar bersembunyi di hutan bambu. Warga desa mengikutinya tanpa pikir panjang, mereka berjalan beriringan mengikuti Shu Cao.
Iblis kelelawar hendak meluncur ke arah kerumunan, tapi Zhi Yuo lekas menghalanginya.
"Jangan menyentuh manusia!"
Teriakkan sakit terdengar dari iblis kelelawar saat Zhi Yuo menusuk ujung kepalanya dengan bambu. Zhi Yuo menggeram, ini cukup keras, kulitnya keras sekali.
Iblis kelelawar terbang dengan kalut, Zhi Yuo masih menancapkan bambunya pada kepala iblis. Ia kesulitan mencabut bambunya dari sana, darah iblis kelelawar sangat kental sampai benda saja menempel disana.
Di tengah kesulitannya, Zhi Yuo akhirnya berhasil mencabut bambunya. Tapi na'as, ketika ia baru saja mencabutnya, sayap iblis kelelawar menghempaskannya hingga ia terlempar ke bawah.
Zhi Yuo kehilangan kontak dengan tanah, ia telah terbang cukup jauh di atas punggung iblis kelelawar. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ia terlalu kaget dengan tindakan itu.
Iblis kelelawar memutar arah terbangnya, melesat maju ke arah Zhi Yuo sambil membuka mulutnya.
Wajah Zhi Yuo mendingin, apakah ia akan mati dua kali? Apakah ia akan gagal?.
"Kakak... aku akan mati.."
Suara pukulan terdengar jelas di telinganya bagai imajinasi. Zhi Yuo dapat melihat wajah kakak seperguruannya saat itu.
"Makanya sering-seringlah berlatih dasar bodoh!!" Teriak kakak seperguruan ketika memarahinya di sekte.
Zhi Yuo tertegun ketika mendengar itu. Senyumnya mengembang saat itu juga. Jarak iblis kelelawar semakin dekat, Zhi Yuo menyiapkan gerakan yang tidak terduga.
"Baiklah, siapa takut!"
Ujung tombak bambu Zhi Yuo menusuk tenggorokan iblis kelelawar. Zhi Yuo berhasil membidik tenggorokan iblis itu, sengaja memasukkan ujung tombaknya sehingga mereka terjun ke bawah.
"Ini adalah hasil kerja kerasku kak!".
.
.
.
__ADS_1
-Bersambung-