
"Bocah kurang ajar!!"
Suara dentuman terdengar jelas di sebuah ruangan. Tubuh mungil penuh luka terjatuh di atas tanah. Ia berusaha untuk berdiri, namun seluruh tenaganya sudah terkuras habis.
Suara pukulan terdengar beberapa kali disambung dengan suara rintihan tangis seorang wanita. Gubuk kayu yang rapuh itu menjadi saksi bisu atas segala penyiksaan yang sedang terjadi.
Seorang pria dewasa terus melayangkan tinjunya pada seorang bertubuh mungil yang terduduk pasrah di depan kakinya. Bagaikan hewan buas tak berperasaan, ia terus memukul tanpa ampun.
Wanita muda yang tersungkur di belakangnya mulai menghalangi aksi penyiksaan itu. Ia mengaitkan jemarinya pada pakaian yang digunakan oleh pria itu.
"Suamiku.. sudah, jangan memukulnya lagi.. ku mohon.." Rintihnya dengan air mata yang mengalir deras.
Pria kejam yang ia sebut sebagai suami itu mengabaikan permohonannya dan terus memukul sampai amarahnya mereda. Wanita muda yang ternyata adalah istrinya itu kembali menangis, ia terus memohon agar suaminya berhenti. Sementara yang menjadi target pemukulan hanya berdiam diri, mulutnya terkatup, tidak mengeluarkan suara sama sekali. Tidak ada keluhan, teriakkan, ataupun air mata.
Ini sudah biasa untuknya, anggap saja sebagai makanan sehari-hari.
Tepat beberapa waktu berlalu, pukulan berhenti. Deru nafas kasar dari pria yang memukulnya bertubi-tubi itu terdengar jelas. Sang istri yang masih menangis mulai memelankan suaranya, ia beralih pada bocah kecil yang terlihat lemah di hadapannya.
"Katakan! Apa yang kau lakukan di pasar?!" Suara pria itu menggema di telinga.
Bocah kecil itu tersungkur di tanah, ia mengangkat kepalanya dan menatap mata pria yang memukulnya barusan.
"Paman..." Ia melirih.
"JAWAB SIALAN! KENAPA KAU MEMBUAT KERIBUTAN DI PASAR?!! APA KAU TAHU PERBUATANMU ITU MEMBUATKU MALU?!!".
Pria yang ia panggil sebagai 'Paman'nya itu menarik rambutnya, matanya terbuka lebar terpaksa untuk menatap pamannya yang tengah diselimuti emosi.
"Sia-sia aku mengurusmu!".
Bocah itu menerima hantaman keras pada wajahnya sekali lagi dan itu menimbulkan jeritan keras dari istri dari pamannya.
"Hentikan! Ku bilang hentikan!"
Bocah itu tersungkur sekali lagi. Nafasnya melambat, seluruh tubuhnya remuk. Ia tidak bisa melakukan apapun. Memar dan lebam menyebar di wajahnya, satu matanya terlihat membengkak.
"Aku berkelahi karena anak itu meminta acar gratisan dari bibi. Paman tahu kan? Bibi berdagang dengan untung yang sedikit. Mentang-mentang paman berhutang pada keluarganya, dia jadi berbuat seenaknya." Bocah itu bersuara, berusaha untuk menjelaskan dengan detail mengapa ia membuat keributan.
"Lagipula itu salahmu, berhutang dengan keluarganya dan kita yang kena imbasnya. Uang yang kau pinjam habis untuk mabuk-mabukkan, tidak ada sepeser pun untuk kita." Lanjutnya.
Satu pukulan untuk yang kesekian kalinya mendarat pada wajahnya. Dan itu membuat bocah kecil itu terbatuk beberapa kali.
"Tutup mulutmu!" Paman dari bocah itu menggeram marah.
Bocah dengan wajah penuh luka itu bangkit, mulai menyenderkan tubuhnya pada dinding kayu yang mulai lapuk. Seluruh badannya terasa remuk, rasanya ia seperti ingin mati. Diam di antara mereka, akhirnya suara sang paman terdengar di telinganya.
"Kalau kau melakukan hal seperti ini lagi aku bisa saja membuangmu."
Suara tapak kaki terdengar menjauh dari pendengaran bocah itu yang sekarang sudah terlalu lemah. Matanya hendak menutup sebelum suara pamannya terdengar kembali sebelum menutup pintu ruangan.
"Camkan itu! Shu Cao!".
.
.
.
"Hmm... aku tidak pernah menyangka ada tempat seperti ini..".
Jalanan setapak yang dikelilingi oleh bambu berbaris rapih. Ketika angin menerpa barissan bambu, suara seruling indah menggema. Itu seperti musik relaksasi yang menenangkan. Suara gemercik air terdengar sepanjang perjalanan setapak, menyusuri barissan bambu sampai ke paling ujung dimana itu adalah tempat yang sangat terbuka.
Hamparan rumput hijau yang luas juga pohon-pohon besar yang tertanam di sekelilingnya, menambah asri tempat tersembunyi itu. Sungai kecil mengalir dengan tenang, suara airnya yang menenangkan telinga bagaikan sebuah melodi. Sinar matahari masuk melalui celah-celah daun yang rimbun, angin berhembus sepoi-sepoi.
Terlebih lagi sebuah gubuk tua yang terlihat masih sedikit rapih berdiri di tengah-tengah padang rumput, sekelilingnya ditumbuhi oleh semak-semak belukar. Masih layak untuk ditinggali walaupun sepertinya tidak ada yang tinggal disana.
Zhi Yuo terpana ketika melihat pemandangan indah itu. Ia membawa langkahnya masuk semakin dalam ke tempat itu, rasanya sangat bersyukur masih diberi kesempatan menikmati tempat seindah ini.
Berkeliling sebentar untuk mengenalkan diri pada lingkungan, Zhi Yuo akhirnya mengambil kesimpulan bahwa ia akan melatih kultivasinya disini. Selain tempatnya yang menyatu dengan alam, dirinya juga bisa fokus berlatih karena tidak ada pemukiman di sekitar sini.
Zhi Yuo beralih pada gubuk kayu yang menarik perhatiannya semenjak ia datang kesini. Ketika ia menyentuh kayu yang digunakan sebagai penyangga gubuk, itu mungkin terbilang lapuk, tapi tidak seburuk itu. Bangunan ini masih kokoh, tidak perlu khawatir kalau terkena angin selama anginnya tidak terlalu kencang.
Zhi Yuo masuk ke dalam, mengucapkan permisi untuk mengecek apakah ada orang yang tinggal di gubuk ini. Tapi hasilnya nihil, ia tidak mendengar apapun. Padahal pintunya terbuka setengah.
Suara derit pintu terdengar sedikit mengganggu telinga. Zhi Yuo masuk ke dalam, menoleh kesana-kemari demi memeriksa adakah yang tinggal disini. Ternyata tidak ada.
Ketika sudah melangkah semakin jauh, ia baru mengetahui sesuatu. Gubuk ini sempit dan pengap, hanya ada beberapa barang di dalamnya. Ada sebuah dipan kayu berukuran kecil di pojok ruangan, masih layak untuk dipakai beristirahat. Sebuah meja kecil juga melengkapi ruangan. Kendi-kendi air terletak tak beraturan di dalam gubuk, ada sebagian yang pecah.
Zhi Yuo menggeleng, gubuk ini sungguh terlihat tidak terawat. Mungkin sudah lama ditinggalkan. Zhi Yuo merasakan sensasi hangat pada wajahnya, ketika ia melihat ke atas, matanya bertabrakan dengan sinar matahari. Langit-langit gubuk terlihat berlubang di beberapa tempat dan itu membuat Zhi Yuo berdecak malas.
"Kalau hujan bagaimana ya?"
Mau tidak mau ia harus menambalnya dengan sesuatu. Zhi Yuo harus membetulkan gubuk ini sedikit demi sedikit. Tapi ia juga tidak terlalu peduli, karena gubuk ini hanya tempat tinggal sementara.
__ADS_1
Zhi Yuo mendudukkan dirinya di atas dipan kayu, menghela nafas lelah. Ini sudah menginjak waktu siang hari, udara makin pengap dan sinar matahari semakin menyengat. Zhi Yuo ingin menyerah saja rasanya, tapi ia ingat bahwa ini belumlah seberapa.
"Ngantuk..." Keluh Zhi Yuo. tubuhnya bersandar pada dinding kayu yang rapuh, mencoba untuk istirahat beberapa waktu.
"Kakak... Chang Yu..." Mulut Zhi Yuo menggumam tidak jelas sebelum ia menutup matanya dengan sempurna. Entah mengapa ia terlalu lelah sekarang.
.
.
.
Suara gemersik semak-semak terdengar jelas. Zhi Yuo terbangun dari tidur lelapnya walaupun ia baru saja terpejam. Zhi Yuo mengusap sudut bibirnya, alisnya mengernyit karena mendengar suara aneh.
"Siapa itu?".
Dengan terburu-buru, Zhi Yuo turun dari dipan dan berlari ke luar gubuk. Ketika ia sampai di depan, tidak ada apapun disana sampai ia keheranan sendiri.
Zhi Yuo menggaruk kepalanya, "Apa cuma mimpi ya?".
Baru saja ia berpikir demikian, seseorang tiba-tiba datang entah dari mana berjalan menuju barissan bambu. Kebun bambu itu merupakan akses keluar dari tempat ini menuju desa. Dan Zhi Yuo melihat itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Hei kau!" Zhi Yuo menegurnya, berusaha untuk melihat siapa orang yang datang tiba-tiba itu.
Orang bertubuh mungil itu menoleh, wajah lebam penuh luka terlihat begitu saja. Zhi Yuo terkejut bukan main, ia bergegas untuk mengejarnya. Tapi anehnya orang itu yang mungkin terlihat masih anak-anak, langsung melarikan diri. Mungkin karena ketakutan.
"Itu bukannya.. bocah yang di pasar.." Zhi Yuo membatin.
.
.
.
Seorang bocah kecil berlari ke luar dari hutan bambu. Ditangannya terdapat kantung berukuran cukup besar. Ia membawanya tanpa keberatan menuju suatu tempat.
Pasar adalah tujuan utamanya. Ada seseorang yang harus ia temui di pasar. Dari kejauhan sudah terlihat kedai kecil yang mana adalah tempat bibinya berjualan.
Seorang wanita muda tengah mengaduk acar yang ada di dalam kendi. Dagangannya laris sedikit sejak pagi. Sekarang tinggal menunggu pembeli yang akan datang. Musim panas begini lebih menguntungkan untuknya yang hanya berjualan acar.
Pandangannya teralihkan pada seorang bocah mungil yang berlari ke arahnya.
"Shu Cao, dari mana saja?" Ia menegur dengan halus.
"Ah... aku lelah sekali.." Keluh Shu Cao.
"Siapa yang menyuruhmu untuk keluar siang-siang begini? Dasar anak nakal." Bibi langsung menarik telinganya, tapi itu tidak dilakukan dengan kasar. Dan itu membuat Shu Cao malah tertawa geli.
"Bibi tahu? Aku baru saja memetik loquat di hutan bambu, mereka tumbuh lebat musim ini. Aku memetiknya beberapa." Shu Cao bercerita sambil membuka kantung besar yang ia bawa, dan ternyata itu berisi banyak buah loquat yang sudah masak.
"Apa? Shu Cao.. bibi sudah bilang padamu agar tidak pergi ke hutan bambu kan? Orang-orang bilang banyak makhluk halus disana.." Raut wajah bibi terlihat khawatir.
Shu Cao malah terdiam, ia sibuk mengingat-ingat apakah ia melihat sesuatu yang aneh disana.
"Ah, aku tidak melihat makhluk halus disana satu pun. Tapi aku melihat ada seseorang keluar dari gubuk tua yang terkenal berhantu itu."
Mata bibinya terlihat sedikit melotot, "Apa? Ada orang yang tinggal disana?".
Shu Cao mengangguk, dengan wajah acuh tak acuh ia berkata, "Mungkin dia hanyalah orang gila."
.
.
.
Warna jingga mewarnai langit yang membentang luas. Awan kelabu berhamparan, menghiasi langit sore hari yang terlihat menenangkan. Angin semilir masih terus berhembus sedangkan matahari sudah mulai tenggelam ke arah barat.
Zhi Yuo mengangkat kepalanya, menikmati hembusan angin sore. Ini adalah waktu yang paling ia sukai, sangat menenangkan. Mungkin ia bisa menikmati ini dulu sebelum ia kembali berlatih saat malam tiba. Zhi Yuo merenung, apa nanti malam adalah bulan purnama sempurna? Kalau saja nanti malam adalah bulan sabit, apakah ia masih bisa berlatih dengan leluasa?. Karena ia menyerap energi cahaya bulan secara penuh, apalagi ia berlatih dari awal lagi.
"Kok telingaku gatal terus ya?" Zhi Yuo terus menggaruk daun telinganya yang terasa gatal sejak tadi. Entah mengapa ia memiliki firasat bahwa ada yang sedang membicarakannya.
Menghela nafas lelah, Zhi Yuo akhirnya memilih untuk masuk ke gubuk sambil menunggu malam tiba. Perutnya terasa lapar karena ia belum makan sejak tadi pagi, tapi ia menghalau semua rasa lapar itu.
.
.
.
"Hmm... Aku agak lupa mengenai mantra yang ku gunakan dulu.."
Terlihat Zhi Yuo ada di dalam gubuk, hanya diterangi dengan cahaya dari obor yang ia bawa, terlihat ia sedang menulis sesuatu di atas kertas.
__ADS_1
Kertas-kertas tipis bertebaran, di atasnya tertoreh tinta bertulisan tidak beraturan. Sementara Zhi Yuo terus menggaruk kepalanya yang bahkan tidak gatal sama sekali.
"Ini aku terlahir kembali tapi kenapa setengah ingatanku hilang semua!!" Teriaknya frustasi.
Zhi Yuo akhirnya menyerah dengan apa yang ia kerjakan. Kertas terakhir sudah di tangannya, kini sudah bertuliskan sebuah mantra yang sulit untuk dibaca orang awam. Tapi karena itu adalah tulisannya sendiri, Zhi Yuo mengerti maksud dari mantra yang ia tulis.
"Yasudahlah, jalani saja." Zhi Yuo benar-benar menyerah. Ia membaca mantra yang ia tulis. Pada bait pertama, ia benar-benar mengingatnya, tapi untuk mantra berikutnya ia tidak ingat sama sekali.
"Nanti juga ingat sendiri, mungkin.. . Oh! Satu bait mantra ini bisa membantuku dalam berlatih!".
Setelah dirasa cukup lama ada di dalam gubuk, Zhi Yuo memutuskan untuk memeriksa keadaan luar. Dan yang ia dapatkan adalah....
" Gelap."
Ya, ini sudah malam dan waktunya cocok sekali untuk berlatih. Untungnya dia sudah memilih tempat yang cocok untuk itu.
Zhi Yuo ke luar gubuk dengan kertas mantra di tangannya. Ia mulai berjalan menjauh dari gubuk, menyusuri hutan yang terlihat gelap di bawah dedaunan yang rimbun.
Banyak rintangan yang harus dihadapi, seperti ranting kayu, tanah yang berlumpur, dan sebagainya. Tapi Zhi Yuo tidak peduli tentang itu dan tetap berjalan menuju tujuannya untuk berlatih.
"Ini dia!"
Suara sungai terdengar jelas di telinga. Gemercik air terdengar menabrak batu, alunan suara serangga malam juga bersahut-sahutan. Zhi Yuo menyingkirkan semak-semak belukar di hadapannya, dan itulah yang ia lihat.
Sebuah sungai jernih, walau tak terlalu besar tapi airnya mengalir cukup deras. Sinar rembulan terlihat jelas, menerangi daerah sekitar sungai. Hanya ada sedikit pohon ketika memasuki area ini, jadi sinar rembulan bisa terpantul jelas di air sungai yang jernih.
Tak jauh dari sana terdapat sumber darimana air mengalir. Sebuah air terjun kecil, gemercik airnya tidak terlalu banyak. Hanya saja ada beberapa batu yang cukup besar di sekitarnya, dan itu terbentuk seperti tangga. Sinar rembulan juga menerangi tempat itu dengan jelas, dan itu membuat Zhi Yuo tertarik untuk melakukan latihan disana.
"Baiklah, mari kita sambut cahaya bulan ini~".
Zhi Yuo menapakkan kakinya disana, di atas batu yang paling besar ia memutuskan untuk berhenti.
Ia duduk bersila, menarik nafas dalam-dalam hingga membawanya pada ketenangan. Suara gemercik air cukup bagus untuk relaksasi, tidak mengganggu sama sekali.
Zhi Yuo mengangkat kepalanya, hingga seluruh inci wajahnya terpapar sinar bulan. Ini saatnya!.
Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan, Zhi Yuo siap untuk memulai latihannya.
"MingYuo.." Sebuah gumaman terdengar dari mulutnya.
MingYuo, adalah nama pedangnya dahulu. Pedang itu abadi di dalam dunia bawah demi menunggunya kembali. Bukankah ia sudah berjanji akan mengalahkan raja iblis? Maka ia harus menepati janjinya.
Zhi Yuo menutup matanya, memejamkannya erat-erat dan berusaha untuk fokus pada setiap mantra yang ia hafalkan. Cahaya bulan terus memaparnya, hingga energinya perlahan-lahan menyerap ke dalam raga Zhi Yuo.
Awalnya tidak ada yang terjadi, seolah energi bulan yang terserap ke dalam tubuh Zhi Yuo terasa seperti angin sejuk. Tapi lama kelamaan Zhi Yuo merasakan sensasi terbakar pada kulitnya.
Keringat dingin bercucuran dari keningnya, tapi Zhi Yuo tidak mau menyerah sampai sana. Ia terus fokus, merasakan bagaimana pori-pori kulitnya terbuka paksa hanya untuk menyerap energi cahaya bulan.
Tangannya gemetar saat rasa sakit benar-benar menyelekit sampai ke ubun-ubun. Zhi Yuo merasakan kepalanya seperti ditarik oleh sesuatu. Jiwanya meronta-ronta di dalam sana. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Tidak masalah.. sedikit lagi selesai.. ".
Zhi Yuo tahu, awalnya memang terasa sakit. Tapi ketika ia sudah terbiasa, rasa sakit itu sudah bersahabat dengan tubuhnya dan malah memberikannya energi lebih yaitu kekebalan. Jadi sebisa mungkin ia akan bertahan dari rasa sakit.
Ini adalah kultivasi, ia sudah pernah merasakan itu.
Awan tiba-tiba bergerak, menghalangi cahaya bulan yang menyinari tubuhnya.
Zhi Yuo membuka matanya dengan terburu-buru, nafasnya benar-benar tidak beraturan. Ia hampir saja mati oleh rasa sakit yang disebabkan oleh energi bulan, tapi itu bukanlah masalah.
Yang menjadi masalah adalah, tubuhnya kelelahan, sangat kelelahan sampai Zhi Yuo ambruk setelah semua itu selesai.
"Sekarang aku begitu lemah.."
Suara desiran angin terdengar jelas. Zhi Yuo perlahan menutup kedua matanya, membiarkan tubuhnya ini beristirahat walaupun hanya sebentar.
Tak terasa aliran darahnya mulai menghangat. Dan itu berarti ia berhasil menyerap energi sampai masuk ke tubuhnya, memberinya kekuatan, dan itu sangat berguna untuknya.
Tanpa Zhi Yuo sadari, sepasang mata merah mengawasinya dari balik dedaunan. Geramman terdengar dari sana, cukup pelan seperti dengkuran.
Ketika rembulan sudah hampir tertutup sepenuhnya hingga cahaya yang ia timbulkan sedikit, makhluk itu pergi dari sana. Bentangan sayapnya yang lebar memberikan kesan mencekam malam itu.
Zhi Yuo menyadarinya ketika sesuatu terbang menjauh dari tempatnya berlatih. Bentuknya tidak begitu jelas karena makhluk itu terbang terlalu jauh.
Pertanyaan yang sama muncul di benaknya ribuan kali. Sebenarnya makhluk apa itu?.
.
.
.
-Bersambung-
__ADS_1