Legenda Pedang Bulan

Legenda Pedang Bulan
Terbongkar (2)


__ADS_3

Seketika suasana yang tadinya meriah pada pagi itu menjadi sunyi seketika. Terdengar suara bisikkan yang saling menyahut dari kerumunan para pelayan. Dan tentu saja itu membuat Nyonya Fei semakin terpojok.


"K-kau! Kenapa bicara omong kosong begitu?!" Lin Mei menegur. Jari telunjuknya mengarah pada Zhi Yuo.


Zhi Yuo menatapnya dengan pandangan dingin. Cukup merepotkan, padahal sekarang ia sedang berurusan dengan Nyonya Fei. Sementara itu Tuan Gu hanya terdiam kaku, ia tidak tahu dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Melihat tatapan Zhi Yuo saja sudah membuatnya takut untuk mengambil langkah.


Zhi Yuo mengeluarkan senyuman polos andalannya, ia mencoba untuk menjawab Lin Mei.


"Aku tidak bicara omong kosong, ini sungguhan~".


Alis Nyonya Fei menekuk tajam. Tangannya mengepal, kuku-kukunya yang tajam merobek telapak tangannya sendiri. Darah menetes dari sana. Benar, bocah ini sangat tidak beres. Padahal dia cuma pelayan baru di kediaman, tapi tahu menahu soal obat-obatan Tuan Gu.


"Oh, ya! Saya adalah pelayan yang ditugaskan untuk mengantarkan hadiah dari Nyonya Fei untuk Tuan Gu. Saya akan ambil barangnya sekarang," Ujar Zhi Yuo. Dengan cepat ia berbalik dan mengambil sesuatu tepat di belakang kerumunan para pelayan.


"Apa? " Nyonya Fei dibuat kebingungan lagi ketika bocah itu bilang ingin membawakan suaminya hadiah. Seingatnya, barang itu sekarang ada di kereta. Tapi kenapa bocah itu tahu soal hadiah itu?!.


Hancur sudah.


Nyonya Fei memanggil Lin Mei dengan isyarat kontak mata. Lin Mei menurut, dengan pelan ia berjalan menuju Nyonya Gu.


"Apa-apaan ini?! Kenapa ada pengganggu kecil saat aksi kita berjalan?!" Nyonya Gu membentak dalam bisikkan..


Lin Mei gemetar ketika mendengarnya. Dan dengan suara yang tidak kalah bergetar ia meminta maaf.


"Maaf Nyonya.. S-saya benar-benar kurang teliti..".


Nyonya Fei menghela nafas kesal, tangannya memijit keningnya sendiri. Rasa pusing menjalar begitu saja disertai dengan rasa panik.


Zhi Yuo keluar dari kerumunan dengan kotak besar di tangannya. Tidak salah lagi, itu adalah hadiah yang dipersiapkan untuk Tuan Gu. Zhi Yuo menyengir, ia menghampiri Tuan Gu dan menunduk sambil menyodorkan kotak itu.


" Silahkan diambil Tuan,"


"Lancang sekali! Apa maksudmu?!" Nyonya Fei berucap lantang. Ia tidak sanggup lagi menahan amarahnya.


Zhi Yuo memberinya tatapan polos yang dibuat-buat.


"Ah.. kenapa anda memarahi saya? Saya hanya seorang pelayan, jadi ini adalah tugas saya. Saya hanya ingin membantu saja,"


Gigi Nyonya Fei bergemeletuk. Entah mengapa, ia malah tidak bisa berbuat apapun. Ia terkunci oleh tatapan tajam Zhi Yuo.


Zhi Yuo mundur, sementara Tuan Gu membuka kotak hadiah pemberian istrinya. Seketika ia terkejut saat membukanya, dan itu membuat Nyonya Fei terkesiap.


"Fei, kamu menyiapkan ini untukku?" Tanya Tuan Gu.


Nyonya Fei melihat apa yang ada di dalam kotak, dan itu dapat membuatnya bernafas lebih lega ketika hadiah yang ia berikan untuk Tuan Gu masih utuh.


Itu benar-benar hadiahnya kan?.


Tuan Gu tersenyum ketika melihat pemberian dari istrinya itu. Setumpuk buku juga pena mahal yang dibawa dari luar kota. Dan itu cukup membuatnya terkejut sekaligus senang. Istrinya sangat tahu bahwa ia suka membaca.


"Terimakasih Fei, aku tidak menyangka kau akan--".


Ucapan Tuan Gu terputus kala ia melihat lipatan kertas terselip diantara buku-buku itu. Nyonya Fei yang tadinya merasa agak lega kembali panik. Tuan Gu mengambil beberapa lipatan kertas itu dan mengangkatnya.


" Apa ini?" Ia bertanya.


Nyonya Fei merasa tidak asing dengan kertas yang suaminya pegang. Ia dengan gemetar bertanya, "Suamiku, kau menemukan apa?".


Tuan Gu tidak menjawab, ia membuka lipatan itu yang mana ternyata adalah sebuah surat.


" Surat? Ini milikmu? Dan... Lin Mei..?"


Deg!


Entah itu adalah Nyonya Fei atau Lin Mei, keduanya sama-sama merasakan perasaan yang sama. Lin Mei merasakan jantungnya akan berhenti seketika ketika melihat semua itu. Lipatan surat yang ia tulis ada di tangan Tuan Gu! Bagaimana bisa?!.


Zhi Yuo memperhatikan mereka dari bawah sana. Tak lama kemudian sebuah seringai terhias di bibirnya.


"Silahkan dibaca, Tuan~"


"Apa yang kau lakukan?! Siapapun tangkap dia!" Nyonya Fei berteriak, membuat satu ruangan menggema.


Langkah seseorang terdengar jelas dari arah belakang, kemudian sebuah bayangan melompat ke atas hendak menerkam Zhi Yuo. Para pelayan menjerit ketakutan, mereka minggir dengan cepat demi menghindari malapetaka yang akan terjadi.


Zhi Yuo melirik ke atas, dan yang ia lihat adalah sebuah kepalan tangan yang sudah tinggal beberapa inci lagi dari wajahnya.


Brak!


"Fei! Tunggu dulu!" Tuan Gu menengahi ketika melihat kejadian yang tepat berada di depan matanya sendiri.


Lantai kayu licin nan mahal telah retak saat itu juga. Kepalan tangan menancap diantara kepingan kayu. Zhi Yuo menatap itu semua dengan wajah tanpa ekspresi. Ia memiringkan kepala ke samping, berusaha untuk melihat wajah yang tertutup rambut panjang itu.

__ADS_1


Orang itu bangkit, menarik kepalan tangan yang sebelumnya mendarat di lantai. Tubuhnya lebih tinggi dari Zhi Yuo, wajahnya tampan namun terkesan seram. Dari sudut pandang manapun Zhi Yuo beramsumsi bahwa orang ini bukanlah orang biasa.


"Kemampuan bela dirinya boleh juga, terlihat dari tangannya yang dapat menghancurkan lantai, ".


Orang itu bersiap dengan kuda-kudanya, dengan sorot mata tajam ia menatap Zhi Yuo.


" Bersiaplah, bocah kecil,"


Seketika kepalan tangan lagi-lagi tepat di depan wajah Zhi Yuo. Ini sangat cepat, tidak bisa dihitung jari. Dia memang orang berpengalaman.


Zhi Yuo menghindarinya, walaupun hampir saja ia terkena pukulan orang itu. Kalau kena, bisa saja hidungnya hancur dalam sekejap mata.


Tuan Gu yang melihat perkelahian itu berusaha untuk melerai, tapi tiba-tiba suaranya menghilang karena penyakitnya yang kambuh. Nyonya Fei membantu suaminya yang hampir jatuh, sementara ia melihat perkelahian mereka yang belum membesar.


"Tenang saja suamiku, Ju Ran akan membereskan semuanya," Nyonya Fei menenangkan suaminya. Ia tahu, bawahan pribadinya itu pasti bisa mengalahkan Zhi Yuo. Kemampuan bela dirinya yang cukup tinggi membuatnya tidak bisa diremehkan begitu saja.


Ju Ran terus melayangkan tinju kilatnya pada Zhi Yuo. Zhi Yuo terus menghindarinya, berusaha untuk melihat celah dari orang ini. Hampir tidak ada celah, serangannya sangat rapih.


"Hm.. menarik," Zhi Yuo menarik sudut bibirnya. Saat dirinya sudah merasa terpojok, akhirnya ia menghindar ke samping hingga pukulan Ju Ran meleset sekali lagi.


"Gaya bertarungmu bagus," Zhi Yuo memuji di tengah perkelahian mereka.


Ju Ran mendengus, ia menyiapkan tenaga pada kakinya.


"Jangan menilaiku seenakmu!"


Tendangan Ju Ran melayang tepat ke kepala Zhi Yuo. Yang menjadi sasaran menghindar dengan lihai, kemudian lompat beberapa langkah ke belakang.


Ju Ran kembali menyerang, ia menggunakan kaki sebagai alat perlawanannya. Zhi Yuo terpojok sampai ke dinding, kemudian Ju Ran mengangkat kakinya sekali lagi dan mengincar leher bocah itu.


Tapi serangan mematikan itu diblokir dengan ringan oleh Zhi Yuo. Bocah itu hanya memerlukan tangan kirinya untuk menahan kaki Ju Ran agar tidak mengenai lehernya.


Zhi Yuo menyeringai lebar, "Serang aku sampai tenagamu habis!".


Ju Ran menggeram ketika mendengarnya. Zhi Yuo melompat ke atas, bahkan sekarang ia bisa mencapai langit-langit rumah. Ju Ran menyusul, dengan tangan hendak mencengkram leher Zhi Yuo dan menabraknya sampai langit-langit rumah. Tapi itu tidak berhasil.


Tepat setelah ia menggapai leher Zhi Yuo, bocah itu langsung membalas serangannya lebih sadis. Zhi Yuo mengerahkan seluruh tenaga pada kakinya. Dengan posisi keduanya yang masih melompat di udara, Zhi Yuo mengayunkan kakinya, dan menancapkannya tepat pada perut Ju Ran.


Ju Ran merasakan tekanan pada perutnya. Tumit Zhi Yuo menancap disana, dan itu membuatnya refleks terbatuk.


Gubrak!


Para pelayan menjerit ngeri ketika Ju Ran jatuh di atas lantai kayu yang keras. Kepingan lantai berserakan dimana-mana.


"J-Ju Ran?! ".


Zhi Yuo mengusap sudut bibirnya, kemudian menduduki punggung Ju Ran dengan wajah puas penuh kemenangan. Dilihatnya wajah Ju Ran yang sudah pingsan disertai dengan mulut mengeluarkan busa.


" Hei~ Lihat bocah, aku yang menang~" Zhi Yuo memiringkan kepalanya.


Ia mendekat pada telinga Ju Ran dan mulai membisikkan sesuatu.


"Teknik bertarungmu memang bagus sampai kau berani melawanku. Itu hebat, tapi perlu kau ingat bahwa aku berlatih bertahun-tahun jauh darimu,"


Zhi Yuo terkekeh melihat kondisi Ju Ran yang terkapar tidak berdaya. Zhi Yuo bangkit, merapihkan penampilannya dan memperhatikan keadaan sekitar.


"Kenapa semuanya ketakutan begitu?" Ia bertanya dengan nada tidak berdosa.


Lin Mei menjerit pelan, ia mundur ke belakang dan tidak mau melihat wajah Zhi Yuo sama sekali. Sudah trauma dilempar bangkai tikus dan sekarang ia harus melihat bocah menyeramkan itu bertarung melawan orang dewasa.


Zhi Yuo mendengus, tidak mempedulikan lagi orang-orang yang menganggapnya menyeramkan. Ia kembali pada Nyonya Fei yang memandangnya dengan pandangan panik sekaligus ketakutan. Terlebih ketika ia melihat suaminya yang tengah membaca surat rahasianya dengan Lin Mei.


Tangan Tuan Gu tak lagi bisa menggenggam lembaran kertas yang ia baca. Ia lemas ketika mengetahui apa yang sudah ia temukan dalam surat mereka berdua.


"S-suamiku.." Nyonya Fei memanggil Tuan Gu, menghampirinya dan menggenggam tangannya.


"I-itu semua.. aku bisa menjelaskannya! itu.. itu semua bohong! Aku bersumpah--".


" Bersumpah untuk apa? Mau mengumpat dari kesalahanmu dengan kata-kata 'sumpah' mu yang belum tentu benar itu?".


Nyonya Fei beralih pada Zhi Yuo. Ia menunjuk bocah itu dengan air mata yang sudah tidak dapat ditahan lagi.


"KAU! JELASKAN APA MAU MU! MEMFINTAHKU DI DEPAN SUAMIKU SENDIRI! TIDAK TAHU MALU!!"


Tepat setelah Nyonya Fei membentak, ruangan kembali sunyi. Isak tangis Nyonya Fei memenuhi ruangan. Zhi Yuo yang mendengar itu lantas mengangkat kepalanya lebih tinggi.


"Oh... begitu ya? Mau bukti lebih jelas lagi?".


Zhi Yuo menoleh ke belakang. Tepat di pintu keluar, dua orang berdiri disana. Yan Yan menatap pemandangan di depannya dengan perasaan campur aduk.


Nyonya Fei yang menangis, Tuan Gu yang menunduk, Lin Mei yang mengumpat di belakang, juga kerumunan pelayan yang entah mengapa ekspresi wajah mereka terlihat sangat membingungkan.

__ADS_1


Di tengah kebingungannya, seorang anak muda di sebelahnya menegur.


"Anu.. nona, kapan kita akan masuk?"


Yan Yan tersentak kaget, ia jadi lupa bahwa ia sedang membawa orang kesini.


"Ah, iya! S-silahkan masuk tabib Shan,"


Yan Yan mengucapkan permisi terlebih dahulu. Mereka berjalan beriringan, menuju hadapan Tuan Gu. Yan Yan menangkupkan tangannya dan menunduk sebagai tanda hormat, tapi Tuan Gu tidak menggubris itu sama sekali.


Yan Yan tahu, terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan disini. Ia menyuruh tabib muda yang ia bawa kesini untuk menghadap Tuan Gu langsung, sementara dirinya menghampiri Zhi Yuo.


"Apa yang kau lakukan?!" Yan Yan berbisik dengan nada kesal keluar dari mulutnya.


Zhi Yuo tidak menjawabnya dengan kata-kata, ia hanya menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, menandakan bahwa Yan Yan harus diam.


Yan Yan terkesiap, ia membiarkan Zhi Yuo menghampiri tabib muda Shang seorang diri. Kini keduanya menghadap pada Tuan Gu dan Nyonya Fei.


"Mari kita lihat apakah ini adalah fitnah," Zhi Yuo menepuk pundak tabib muda Shang yang bahkan tidak terlalu jauh tinggi dibanding dirinya.


"Berikan obatnya, tabib Shang," Zhi Yuo menyuruh. Tabib itu mengangguk, membuka tasnya dan mengambil sebotol obat yang mana membuat semua orang terkejut setengah mati.


"Lihat ini," Zhi Yuo mengangkat botol obat itu di udara, menunjukannya pada semua orang yang ada disana.


"Nyonya Fei, apa anda kenal dengan obat ini?"


Nyonya Fei tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menunduk di sebelah suaminya. Matanya memerah penuh amarah, giginya bergemeletuk sampai ia menggigit bibir bawahnya sendiri. Darah mengucur dari sana, sehingga menyebabkan bibir mungilnya yang sudah dipoles oleh pemerah bibir jadi tambah merah.


"Tabib Shang, bisa jelaskan bahan-bahan apa yang terkandung di dalam obat ini?" Zhi Yuo bertanya.


Tabib muda Shang mengangguk, ia mengeluarkan selembar kertas dari tas yang ia bawa lalu membacanya dengan lantang.


"Setelah diperiksa, obat ini adalah obat herbal yang berfungsi untuk memperkuat kekebalan tubuh. Tapi ada beberapa zat berbahaya yang ditemukan di dalam obat. Terutama dosis racun yang cukup tinggi, ini bisa menyebabkan kerusakan organ penting seperti jantung dan paru-paru,"


Nyonya Fei tambah terisak ketika mendengarnya. Tiba-tiba saja Lin Mei maju untuk membantah.


"Apa-apaan kau?! Berani datang kesini tanpa izin, Jangan-jangan kau itu tabib palsu!"


Tabib muda Shang menganga lebar ketika mendengar ucapan Lin Mei. Perempatan urat menonjol di keningnya.


"Hei, nona! Aku ini benar-benar tabib tahu! Lihat saja apa yang ada di dalam tas ku! Jangan menuduh sembarangan dong!" Tabib muda Shang membantah balik, ia membuka tasnya dan menyodorkannya pada Lin Mei.


"B-bagaimana aku bisa percaya padamu?!"


"Tanya saja pada ayahku! Dia tabib ternama di desa!"


Lin Mei tidak bisa lagi untuk melawan. Sekarang ia teralihkan pada Nyonya Fei yang berlutut pada suaminya. Pandangan Tuan Gu kosong, ia kehilangan senyumnya yang hangat dan hanya bisa menatap lantai yang dingin.


"Jangan.. jangan dengarkan mereka.. kumohon..." Nyonya Fei meremas pakaian Tuan Gu, tangisnya semakin menjadi-jadi.


"Fei.." Tuan Gu memanggilnya.


"Aku tidak menyangka, ternyata selama ini kamu tidak senang akan pernikahan kita,"


Nyonya Fei menatap wajah suaminya itu dengan air mata yang bahkan sudah melunturkan riasan wajahnya.


Senyum hangat namun dipenuhi rasa sakit tampak pada wajah Tuan Gu.


"Sepertinya aku terlalu jahat padamu, maafkan aku Fei,"


Ia bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Nyonya Fei begitu saja.


"S-suamiku! Tunggu! aku... aku bisa menjelaskan semuanya!".


Tuan Gu menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang demi melihat wajah istrinya.


Lalu ia tersenyum, "Fei, mungkin kita harus menjalani kehidupan masing-masing,".


Suara Nyonya Fei yang memanggilnya tak lagi dihiraukan, Tuan Gu teguh pada pendiriannya untuk tetap pergi dari sana. Petir menyambar, Nyonya Fei menjerit bersamaan dengan kilatan petir yang menyertai. Hujan turun deras, menemani air mata Nyonya Fei yang terbuang habis. Tangisan pilu masih terdengar jelas.


Zhi Yuo terpaku disana. Menatap Nyonya Fei yang masih menangis tersedu-sedu. Kemalangan menimpa wanita itu. Tapi ini adalah kejahatan yang harus diungkapkan.


Zhi Yuo mengepalkan tangannya. Xie Jia hampir mati karena racun itu, dan ia masih ingin membunuh Tuan Gu hanya karena alasan ia tidak mencintainya sama sekali.


"Hah..." Zhi Yuo menghela nafas pelan.


"Kisah cinta yang mengenaskan,"


.


.

__ADS_1


.


-Bersambung-


__ADS_2